Khotbah Jumat Nasruddin Khoja
Oleh Hamid Basyaib
Nasruddin Khoja adalah alim besar tapi ogah berkhotbah. Berulang kali aparat muspika, juga para tomas (tokoh masyarakat), memintanya berkhotbah di masjid jami setempat. Tapi akhirnya ia menyerah. Apa yang terjadi ketika ia akhirnya jadi berkhotbah?
Komentar
Apa ada ulama yang seperti itu ? Tanpa mau mengingatkan kepada mereka yang tahu tapi tak melaksanakan dan menghabarkan kepada mereka yang belum tahu tak kala diminta, jika ini hanya sebuah perumpamaan yang anda buat ( Penulis ) anda menciptakan suatu kondisi dimana ulama tidak peduli lagi dengan umat apa mereka kira mereka bisa masuk dalam ridho allah sendiri - sendiri, kita tahu banyak ulama sekarang seperti cerita tadi tapi bukan suatu hal yang mulia, tanpa mau menyampaikan kebaikan kepada umat walau sepatah katapun. Hanya Allah yang tahu tak ada satu manusiapun melebihi pengetahuan Allah
Ass,wr,wb.
Terkadang suatu masalah yang sudah kita fahami bila dbahas ulang dapat menambah keyakinan & kekuatan, bila jengkel karena sudah tahu, sedalam apakah & sejauh mana pengetahuan tentang suatu masalah?.
Mungkin saja pengetahuan itu akan bertambah karena banyaknya pengulangan dari membaca maupun mendengar, bukankah kita sudah tahu rasanya makan nasi dan munum air, tetapi selalu di ulang-ulang pada menu yang sama maupun yg berbeda.
Belajar mendengar adalah sesuatu yang membutuhkan kesabaran, demikian pula seorang Ustadz, cara menyampaikannya memerlukan kemasan baru yang lebih berbobot, walaupun harus menghunus ayat dan hadits yang sama.
—-//——
——-
Mungkin, tulisan tersebut hanya sebuah perumpamaan. Ummat saat ini memerlukan figur yang baik dalam menyampaikan nasihat dan hidupnya penuh dengan keteladanan dengan pemikiran yang islami. pemikiran yang tidak mengakali ayat dengan pikiran kita yang dangkal. Ulama yang benar-benar mengikuti alquran dan assunnah. Jadi, tidaklah benar bila seorang ulama benar-benar seperti yang diungkapkan dalam artikel di atas. Yang benar adalah adakalanya ulama menggunakan sistem klasikal adakalanya ulama hanya menjadi sebagai fasilitator. Tentu, hal ini disesuaikan sengan situasi dan kondisi serta tempat di mana ia berdakwah. Wallahu’alam.
hebat sanagat hebat ada orang seperti itu. saya jadi sangat ingin jika saya sholat jumat minggu depan di kotbah kan oleh beliau..
Komentar Masuk (4)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)