Ramadhan Pohan: Kini, Tragedi 9/11 Jadi Berkah Terselubung
Oleh Redaksi
Tragedi 11 September tak selamanya menghadirkan petaka. Meski komunitas muslim di Amerika sempat merasakan perlakuan diskriminatif pasca-tragedi itu, tapi kini ada efek domino yang menghinggapi seluruh lapisan masyarakat Amerika untuk memuaskan rasa kuriositas mereka tentang Islam. Kini, setelah dua tahun tragedi yang menyayat hati itu berlalu, Islam menjadi “komoditas spiritual” paling laris di negeri Paman Sam.
Komentar
Apa yang disampaikan Bapak Pohan melalui artikel ini sangat melegakan, tentang berkah terselubung dan tentang keadaan sebenarnya menurut beliau di Amerika Serikat, sehingga prasangka negatif “su’udhon” dapat luntur baik dari pihak muslimin maupun non-muslim. Alhamdulillah.
Assalamualaikum WW,
Yth. Pak Pohan Yth. Pak Redaktur JIL
Komentar saya hampir sama dengan Sdri.T Wulandari, namun untuk afdol-nya dan agar artikel Pak Pohan betul-betul melegakan alangkah lengkapnya apabila biodata Pak Pohan boleh diketahui.
Horas Pak Pohan. Saya juga oraang Medan, dan saya juga punya teman yang sama dengan Pak Pohan 35 tahun yang lalu.
Wasalam wr. wb.
M. Nasir
Redaksi
Mas Nasir, berikut ini segelintir CV yang dikirim ke redaksi. Name : Ramadhan Pohan Born : December 06, 1966 in Pematang Siantar, Indonesia Education : - University of Indonesia, Faculty of Politics and Social Sciences, Department of Politics (Bachelor, BA), 1992, Depok, Indonesia. B.A. Thesis: The Consensus Politics: The Policy Strategy in Hawke Government in Australia (1983 - 1990), Depok 1992. - Semeseter in Washington (SIW) at Graduate School of Political Management (GSPM) at George Washington University (GWU), Washington, DC (Fall 2002). I earned a grade of A- in the Skills Practicum (3 credits) for Political Management, and earned a grade of B+ in Electoral and Legislative Process (3 credits). Current Position: - Journalist of “Jawa Pos” Daily Newspaper, Surabaya, Indonesia (1990-now) Mas Nasir, kalau Anda masih kurang yakin apakah Ramadhan Pohan yang satu ini teman Anda atau bukan, silakan Anda kirim email ke .(JavaScript must be enabled to view this email address) (Yang bersangkutan sudah ngepos kembali di Washington DC. Terima kasih.
Saya setuju banget dengan apa yang Bang Pohan tuliskan mengenai Islam di Amerika pasca 9/11. Bagaimana Bush sendiri sebenarnya tidak membenci Islam, tercermin dari kedatangan ke Islamic Center, War againts Terrorism not Islam, dll. Juga pengakuan bahwa lobi kaum Yahudi cukup kuat di Amerika dan ini juga merupakan pengetahuan yang biasa di Amerika ini.
Cuma saya hanya ingin menambahkan bahwa walaupun kepala negaranya mengatakan Islam agama perdamaian, tetapi pelaksanaanya di bawah tidak demikian. Sering law enforcement nya melakukan tindakan yang tidak berkenan terhadap kaum muslim, bahkan terakhir kejaksaan mereka sudah mulai mengakui bahwa banyak terdapat human rights violation pasca 9/11. Memang sosialisasi tentang Islam harus tetap di perjuangkan, sehingga kata-kata Islam fundamentalis, Islam radical, Islamic extremist, dan Islam Islam yang menurut mereka JELEK. Bisa terimbangi dengan yang damai, teduh, dan jauh dari kekerasan.
Sejauh ini menurut penilaian saya Bang Pohan melakukan tugas sebagai seorang muslim tidak diragukan lagi, teruskanlah. Ajaklah yang lain biar dunia kaum muslim di Amerika lebih baik lagi. Amien.
Faisal (Adik dari Agus Budiman)
Saya sampai saat ini masih sangsi atas sikap baik pemerintahan Bush terhadap Islam. Kesangsian saya ini didasarkan beberapa kasus yang secara tidak langsung mendiskriditkan umat Islam, di antaranya: menurut laporan CAIR, salah satu organisasi Islam tersbesar di US, kasus pelecehan terhadap umat Islam semakin hari semakin menigkat, bahkan sekalanya sudah mulai meluas ke beberapa State, dulunya hanya terkonsentrasi di state-state tertentu saja.
Masih segar di ingatan kita, tentang adanya Special Registeration bagi 25 negara, di antara 25 itu hanya satu negara yang tidak berpenduduk mayoritas Muslim, yaitu Korea Utara. Korea Utara masuk dalam daftar itu, karena secara idiologis mmemang sudah bersebrangan. Setelah beberpa hari dikeluarkannya kebijakan ini, ada banyak tanggapan, komentar bahkan kritikan terhadap kebikan itu, inti dari semua itu menyatakan bahwa kebijakan itu sangat diskriminatif, Presiden Megapun turut menyatakan itu.
Dengan banyaknya kritikan atas kebijakn itu, White House mengeluarkan tanggapan, bahwa kebijakan itu akan dikenakan pada seluruh negara tanpa terkecuali dan akan diurut, memang secara kebetulan yang masuk pada ururan pertama adalah negara-negara Muslim, tapi apa yang terjadi, ternyata kebijakan itu hanya mentok di 25 itu alias tidak dilanjutkan kenegara-negara lainnya, alasan tidak dilanjutkannya sangat politis. Oleh kerana itu tenyata dibalik kebijakan itu ada hiden mission, dan kita bisa membacanaya. Kemudian terkait dengan artikel tersebut jangan-jangan itu hanya lip service belaka.
Pokoknya ini politik. Hey kamu-kamu yang yang illegal, silakan ikut section 245(i) agar kamu-kamu bisa dapat permanent resident setelah booom 9/11….Wait !!!! Maaf yaa, saya pending programnya dan silakan registrasi dan silakan pulang atau dipulangkan…..jadinya yaaa pagi tempe sorenya menjadi dele ( kedelai )
Pokoknya ini politik, siapa tahu, tahun depan ganti presiden dan ganti peraturan atawa program lagi.
Pokoknya ini politik…Lha wong belum ketahuan siapa dalang sesungguhnya kok malah nyerang Iraq dan akibatnya tarif bis dan metro subway menjadi naik, maka dari itu pokoknya ini politik.
Dari wawancara saudara Pohan, memang ada sedikit pandangan yang berbeda, walaupun kita berdua tinggal di Amerika. Pandangan mayoritas orang Amerika pada agama pengikut agama Islam lebih banyak pertanyaan dari pada pengertian. Ini disebabkan karena tidak ada organisasi Islam baik di Amerika maupun di luar negeri yang dengan berani mengutuk teror 9-11, yang dilakukan oleh sebagian besar warga negara Saudi Arabia.
Walaupun sudah dibuktikan dengan Videonya Osama Bin Laden sendiri yang menyatakan bahwa organisasi Al Qaeda yang menabrakkan kapal terbang ke WTC, masih saja banyak masyarakat Islam baik di Amerika dan di Indonesia yang memberikan opini, bahwa Al Qaeda meneror Amerika disebabkan karena politik Amerika di Timur Tengah yang anti Islam, kecongkakan Amerika di luar negeri, dan pada budaya Amerika yang materialistis. Ditinjau dari segi keamanan Amerika, baik dari Al Qaeda maupun orang Islam yang tidak setuju dengan tindakan Al Qaeda, tidak pernah belajar sejarah Amerika. Amerika tidak pernah perang didalam negeri kecuali perang saudara, dan tidak pernah diserang secara mendadak kecuali oleh Jepang pada Pearl Harbor sebelum perang Dunia Kedua, dan WTC 9-11.
Amerika amat sensitif pada keamanan negaranya, sehingga kalau diserang secara mendadak tanpa alasan, Amerika akan bangun dan akan menghancurkan penyerang. Ini pernah dikatakan oleh Admiral Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, yang pernah menjadi Atache Angkatan Laut di Washington DC, sebelum pulang ke Jepang: Jepang telah membangunkan raksasa yang sedang tidur. Skala penyerangan WTC memang amat keji, dan kita pengikut agama Islam harus waspada, bahwa kalau para pemimpin agama Islam baik di pesantren, di Mesjid, partai2 politik berdasar agama, harus menentukan sikap yang tegas. Para pemimpin harus mawas diri, apakah dengan jalan teror, agama Islam akan menjadi maju, atau malah mundur dengan pesat.
Sepanjang pengetahuan saya sebagai pengikut agama Islam, agama yang saya anut hampir setengah abad bukanlah didasarkan kekerasan, kebencian pada satu golongan atau kebencian pada agama lain. Agama Islam menjadi kuat sebagai landasan untuk menuju ke acherat, dengan kebajikan dan kebaikan. Nah, kalau para pemimpin agama kita selalu mencurigai Amerika, karena Amerika harus menjaga keamanan negaranya, kita juga harus mulai melihat akibat dari tindakan teror yang dilakukan oleh golongan radikal, yang mungkin menjadikan agama kita disorot dengan kaca mata yang hitam. Ini adalah tabiat manusia, bahwa kalau kita berteman dengan golongan yang mau mengebom dan meneror, kita sendiri dianggap sebagai penyokong yang diam (silence supporters).
Walaupun saya sendiri yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di Amerika tidak merasa saya dapat diskriminasi karena saya beragama Islam, walaupun saya bekerja di pemerintah Amerika selama ini, ingin memberikan sokongan pada saudara Pohan, bahwa kalau dia pergi Sholat Jumat di Mesjid2 di Washington DC atau di Virginia, polisi Amerika mengatur lalu lintas dan memperbolehkan kita markir di rumput pinggir jalan yang biasanya dilarang untuk mobil parkir disana. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa baik pemerintah maupun penduduk sipil menghormati kita yang menjalani ibadah. Kita juga tidak harus menyerahkan kepada Amerika untuk membasmi teroris yang telah mengotori agama Islam, namun harus diselesaikan secara musyawarah oleh para pemimpin Islam dari seluruh penjuru dunia yang harus dihadiri leh para pemimpin atau ulama, Ayatolah, kyiai dan pemimpin partai politik beraliran Islam. Kalau pertemuan ini tidak bisa dilaksanakan karena perpecahan antara Shiat, Sunni dan sekarang timbul Wahabiisme di Saudi Arabia, kita akan gagal untuk menyatukan agama kita sendiri, atau negara2 lain yang tidak berkempentingan dengan agama Islam akan memaksakan kita untuk menyelesaikan persoalan kita sendiri.
We have no choice, either we are united or follow with the flow, which the US will lead. Saudara Pohan pasti mengerti bagaimana jalannya pemerintah demokrasi yang dipraktekan di Amerika. Salah satu ciri dari demokrasi adalah mengeritik diri sendiri atau mengeritik organisasi sendiri. Apakah agama Islam sudah siap untuk mengeritik diri sendiri? Di Iran sudah mulai ada demonstrasi di jalanan pada pimpinan Islam yang menguasai negara 30 tahun. Sekarang dimulai oleh PM Khatemi untuk mengeritik negara mereka sendiri: It will be very painful, but the end result will be the best for the country, Islamic religion and the people of Iran. All eyes will see Iran as the next generation of modernization of Islam or the destruction of it. Lets the time will tell. Untuk saudara Pohan, selamat bekerja, dan terima kasih untuk email anda.
Untuk pembaca, mohon maaf dengan tulisan bahasa Indonesia, karena sudah 30 tahun saya tidak menggunakan bahasa Indonesia secara tertulis.
Rio Adianto, President, Indonesian Security Information Service.
——-
Komentar Masuk (6)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)