Soheib Bencheikh: Kita Perlu Desaudinisasi Islam
Oleh Redaksi
Secara umum, perkembangan Islam di Prancis saat ini berjalan sehat. Namun menguatnya corak Islam yang ideologis dan puritan juga cukup mengkhawatirkan. Diperlukan desaudisasi Islam agar mereka lebih mampu menyesuaikan Islam dengan kultur Prancis. Demikian pendapat Dr. Soheib Bencheikh, mantan Mufti Marseilia yang kini sedang merintis French Institute for Islamic Science, dalam kunjugan 10 harinya di Indonesia, kepada Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Sabtu (25/11) lalu.
Komentar
Saat selesai membaca wawancara dari pihak JL dan Bung Soheib, saya langsung menerawang bila saja sekitar 30-40% muslim Indonesia memiliki pandangan seperti beliau, saya gak kebayang deh bagaimana hebatnya Indonesia.
Perkembangan misionaris Nasrani di negeri ini merupakan sumber dari segala bencana pertikaian horizontal antar agama. Tanpa pandang kemanusiaan, segala upaya dilakukan dengan mengeksploitasi kemiskinan, kebutuhan umat muslim. Tak hanya satu pihak yang wajib toleransi, namun saling toleransi, bagaimana mungkin anda mengharapkan suatu kedamaian terwujud bila salah satu pihak masih saja melakukan tindakan semena-mena dengan menjustifikasi pemyebaran agama? JIL merupakan bentuk lain dari orientalis yang berkedok Islam karena ketidakmampuan pengikutnya tuk bersikap sekuler sebagaimana nenek moyangnya.
seperti permasalahan ini bukan hanya berkutat pada islam, melankan pada muslim. contoh di perancis merupakan persoalan migrasi, yang nota bene permasalahan nasional suatu bangsa yang maju. para migrasi cenderung mempertahankan pola budaya,sosial dan interaksi yang mereka bawa dari negeri asal dan itu juga dipengaruhi juga dari latar belakang pendidikan imigran, terlebih lagi imigram tersebut berasal dari asia dan afrika yang memiliki budaya khas tersendiri.dari segi sosiologi dan psikologi, manusia akan merasa aman, nyaman, tentram bila ia hidup dalam susana yang familiar dengannnya. sama ketika orang china membangun pecinan di negara2 dimana mereka tinggal, panguyuban dusun dan desa, apakah ini bermsalah? permasalahannya bukan pada agama, baik ia seorang muslim, nasrani, budha, hindu atau apalah namanya, pointnya terletak dari kemampuan pribadi2 ini berinteraksi pada masyarakat setempat dan kemampuan masyarakat setempat untuk menerima dan menghormati perbedaan pribadi imigran. harus ada timbal balik sikap antar keduanya, sehingga apa yang biasa kita jargon2kan di negeri ini “saling toleransi"dapat berlaku juga disana.
Terasa sekali, orang yang diwawancari ini ber-pendidikan tinggi, semua ucapan-nya “BERISI”. Tidak asal njeplak. Menurut saya, pengalaman hidup beragamanya di Perancis seperti yang telah diceritakan dalam tulisan ini perlu disebarluaskan melalui media lain-nya. Sehingga bisa menjadi contoh yang baik untuk kehidupan beragama di sini yang cenderung makin dibawa ke arah pemahaman artificial saja.
hehehehe.. emang kita ini masih manusia biasa ya, kadang lucu, kadang sulit dipahami, kadang masih suka nyalahin orang lain. Gimana enggak, lha Perancis yang notabene diakui di dunia sebagai salah satu pencetus demokrasi kok malah nyasar ke Indonesia untuk mencoba mencari jawaban atas apa yang sedang terjadi di Perancis. Negara kita yang katanya “Tidak demokratis” kok malah kehidupan KEBERAGAMAAN dan KEBERAGAMANNYA dipandang bagus oleh Soheib, yang juga berasal dari Saudi Arabia. Sangat ironis kalau mas buronan misionaris lalu menarik garis yang kurang relevan dengan menjustifikasi agama tertentu. Lho kok gitu?? lha disadari atau tidak, diakui atau tidak, kasat mata atau tidak, semua agama punya misi menyebarkan ajarannya dengan bermacam-macam istilah. Ada yang menamakannya misionari, dakwah, pencerahan, dll, dst. harus jujur juga disadari bahwa kadang manusia salah dalam mengimplementasikan tugas ini dengan bermacam-macam ekses. jadi ya nggak adil juga sih kalo lantas menyalahkan agama lain. Coba kita jujur juga dengan keadaan sekarang, terutama kalo kita mau bicara minoritas dan mayoritas. Ketika pada posisi mayoritas, biasanya yang merasa mayoritas akan menuntut hak-hak yang lebih karena kemayoritasannya. Tetapi, ketika berada pada keadaan minoritas, yang minor juga akan meminta kesamaan hak dan diakui keberadaannya. jadi, ya lebih baik terbuka aja dengan keadaan ini. Saya kira pemikiran Soheib sangat bagus karena dia, yang orang Saudi Arabia, bisa dan berani mengatakan hal-hal seperti yang dia yakini, misalnya desaudinisasi. Agama sekarang harus bersifat global dan tidak bisa diklaim sebagai milik masyarakat tertentu, dan Soheib ingin mengatakan hal tersebut. Sama halnya dengan bahasa Inggris yang tidak bisa diklaim sebagai milik orang inggris lagi. Bahasa itu menjadi milik dunia. Ya pasti aja sih, agama beda dengan bahasa dan mungkin nggak bisa atau nggak boleh diperbandingkan. Tapi siapa sih yang bisa menghentikan globalisasi? Mas BM bisa? Jadi, saya sih masih melihat dan merasa bahwa manusia itu emang makhluk yang lucu, kadang sulit dipahami, kadang masih suka nyalahin yang lain. Namanya juga manusia, kan???
——-
Saya sependapat dengan Mr.Shoheib, tentang keislaman seseorang tidak perlu dilihat dari symbol tapi yang penting adalah perilakunya yg islamy. Kita harus ingat zaman Nabi Muhammad ketika masih hidup untuk identitas golongannya belum ada KTP (Kartu Penduduk) tapi orang akan tahu ia Muslim yaitu ketika melihat perilakunya yang baik, sopan dan wajahnya yang cerah siap menolong. Harus diingat juga ketika Islam masuk ke Indonesia ,agama pendududk lokal saat itu Hindu,Budha dan animisme. Mengapa Islam bisa menjadi agama mayoritas di Indonesia?... Saya kira orang lokal saat itu melihat penganut islam lebih baik dari mereka. Sebagai contoh seorang pengembara Cina yang namanya I’Tsing menerangkan bahwa ia melihat perbedaan antara orang Islam dengan yg non Islam saat itu dari perilakunya yg intlek dan budaya bersih. Orang Islam katanya sudah pakai sendal, perempuan pakai baju yang menutup dada dan bermuka bersih( mgkin mandinya pakai sabun). Oleh karena itu bila kita ingin menyiarkan Islam saya kira bukan dengan katanya dan katanya tapi tunjukkan perilaku yang santun dan sympatik. Perkuat diri dengan pengetahuan dan ekonomi.
nilai keimanan seseorang tidak terletak apa yang dia pakai tetapi apa yang dia perbuat. Bagaimana mungkin mengajak orang pindah ke agamanya, kalau ternyata perbuatannya banyak merugikan orang lain? Apa hebat agama yang dianut seseorang, kalau penganutnya sendiri tidak mampu meningkatkan rasa aman, adil, jujur, melindungi yang lemah, dan sebagainya?
Komentar Masuk (7)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)