Muhammad Ali, Ph.D : “Kolonialisme Tak Selalu Berdampak Negatif Bagi Islam”
Pengaruh mereka tidak selalu negatif. Tidak sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan oleh sebagian kalangan muslim saat ini bahwa kemunduran Islam dikarenakan pengaruh kolonialisme di masa silam. Makanya saya berusaha untuk merekonstruksi sejarah Islam Indonesia di masa kolonialisme dengan cara melihat masalah itu dari berbagai aspeknya. Tidak hanya dari aspek ideologis, tetapi juga aspek praktis dan aspek institusional.
Komentar
Yang sebenarnya berlaku dalam hal aspek positif dari kolonialisme terhadap ummat islam (bukan “Islam”) adalah efek reduktif dari kelengkapan nafsiah ummat islam…. penjajahan dalam bentuk apapun adalah dimotori oleh faham reduksionisme… makanya seakan tak ada satupun bangsa eropa yang tidak sempat menjajah kaum2 yang lebih holistik tatanan hidupnya…. jangankan terhadap penganut ajaran islam sebagai tatanan paling holistik di muka bumi… terhadap dunia ketimuran pun (asia-red) yang notabene lebih holistik tatanannya dibanding barat, yang notabene dibangun melalui millah reduktif….maka serta merta kaum ketimuran mengalami penjajahan barat…. Kembali kepada efek reduktif….inilah yang kemudian menimbulkan klaim adanya “berkah” dari penjajahan…. mengapa demikian?... jawabnya marilah kita kembali pada fenomena manusia yang dalam al-Qur’an sering diibaratkan/dianalogikan dengan wadah “nafs”.... jikalau secara umum “wadah” dari suatu manusia itu kapasitasnya 10 kg dengan komponennya sebanyak 10 item…maka dapat diungkapkan kenapa reduksionisme dianggap lebih baik dalam arti yang sempit, sebagai berikut :
Manusia reduksionist dapat diibaratkan sebagai manusia yang mendewakan 5 item saja dari komponen nafsiah suatu manusia….maka dapat diukur nilai dari masing itemnya adalah 2kg… berbeda dengan manusia yang menganut faham holisme yang minimal mengusung 8 item nafsiah misalnya….maka nilai dari masing-masing item dalam wadah penganut holisme adalah 1,25 kg saja….tentu lebih kecil dibanding nilai item dalam manusia reduksionist… jadi jika diukur dari nilai itemnya ...maka secara pandangan manusiawiah…. nilai item dari manusia reduksionislah yang lebih unggul ( 2 kg dibanding 1,25 kg dari penganut holisme. Misalnya saja 5 item manusia reduksionist tersebut adalah masing-masing : rasionalitas… adversitas…psiko-motoris…. afeksi…kognisitas dan survivalitas ...maka secara empiris “rasionalitas” kaum reduksionis akan lebih besar dibanding kaum holistik…. maka tidak heran jika kemudian muncul penilaian adanya aspek positif dari praktek penjajahan yaitu dalam bentuk pendidikan…. karena pada dasarnya pendidikan yang dimaksud tiada lain adalah meningkatnya nilai item rasionalitas dari eks-kaum holistis yang bisa jadi terwujud dengan cara menghilangkan tiga item lainnya yang biasa terdapat pada kaum holistik misalnya ..aspek transendensi… mistisius… dan spiritualitas. Maka manusia-manusia yang dianggap lebih unggul hasil dari praktek penjajahan, sejatinya adalah manusia reduksionist yang telah menghilangkan beberapa aspek nafsiahnya sehingga aspek2 yang tersisa menjadi lebih besar nila1nya dalam satu ukuran kapasitas wadah yang sama. Inilah mode “fatamorgana”....Secara sempit maka reduksionisme sekilas seakan menawarkan keunggulan dan daya tarik lebih baik….walaupun sebenarnya semu…. sebab fitriah dari seorang manusia yang dikehendaki islam dan ajaran holisme lainnya adalah keutuhan untuk menjaga dan mengisi nafsiahnya dengan 10 item…. agar manusia lebih siap menghadapi berbagai tahapan hidup dan suatu kehidupan setelah mati yang telah menjadi sunatulloh…. taruhlah dari hasil penjajahan maka manusia2 reduksionist menjadi digjaya dalam rasionalitasnya… tetapi serta merta dia terseok-seok karena kehilangan item trandensius, mistisitas dan spiritualitas dalam dirinya yang harusnya terdapat pula dalam satu sosok bersama dengan 5 item lainnya termasuk rasionalitas itu sendiri… Maka manusia reduksionist dapat saja unggul dalam aspek lahiriah… tetapi sekaligus menderita dalam aspek2 ruhiah… juga unggul dan aspek keduniawian…tetapi sangat compang-camping dalam menempuh kehidupan setelah meninggalkan keduniawian…. Dan Islam adalah pemelihara nilai fitroh dari manusia… ajaran islam adalah ajaran holisme ....dalam Islam tidak perlu menghilangkan 5 item untuk “hanya” mencapai nilai 2kg dari nilai komponen reduksionist… tetapi Islam memberi guidence untuk menggemgam 10 item sekaligus kemudian membesarkan kapasitas nafsiah menjadi 20 kg…. jd walaupun itemnya tetap berjumlah 10 maka pada wadah dengan kapasitas 20 kg ...maka masing-masing item bernilai 2 kg (seperti layaknya manusia reduksionist) tetapi memiliki keunggulan 5 item dibanding manusia reduksionist yang tidak bisa “mengamalkan” keutuhan dinul islam akibat mereduksi 5 item lainnya tersebut…. BEWARA THE REDUCTIONISM
sejarah kolonialisme sudah bervolusi menjadi hal yang lebih mematikan, tapi sayang para ahli agama tak mau mendialogkan secara sistematis, relevan dan tentu aktual. apa hal yang begitu ‘awam’ untuk semua kalangan, terutama bangsa yang-maaf-agak bodoh, tak lain sekali lagi tak bukan adalah bisnis SENJATA…bisnis ini telah dimonopoli mereka, dilindungi negara (baik demokrat, sosialis, liberal atau feodal), bisnis SENJATA telah melibas sekat-sekat agama. tragedi Palestina adalah kemenagan untuk SENJATA Israel, tepukan Amerika, bisik-bisik Rusia, kedipan Iran, ocehan Prancis dan masih banyak kisah SENJATA dari berbagai negara. bisahkah Jaringan Islam Liberal membahas tuntas dari berbagai cara tentang SENJATA???
menarik membaca tulisan diatas, jika portugis,belanda dan inggris tdk pernah datang ke Indonesia, Mungkinkah ada negara yg bernama NKRI?
Mungkin itu yg dinamakan hukum keseimbangan : setiap hal yg negatif selalu ada imbangan positifnya, vice versa.
Assalamu’laikum Wr.Wb.
Menarik sekali wawancara di atas dan memang benar bahwa kolonialisme tidaklah harus diartikan negatif. Jika kita perhatikan, istilah kolonialisme itu sendiri bukanlah berarti penjajahan tapi lebih merupakan keinginan seseorang atau kelompok untuk selalu mencari tempat yang lebih baik untuk menjalani kehidupan.Dengan kata lain secara umum kolonialisme pada hakikatnya dimiliki setiap manusia karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menginginkan tempat hidup yang layak bagi diri dan atau keluarganya.Bahkan ALLAH dalam Al-Qur’an telah memerintahkan manusia untuk hijrah dalam rangka mencari tempat kehidupan yang lebih layak ( An Nisaa ayat 97.) Bukankah ALLAH juga telah memerintahkan Adam As untuk mengkolonisasi bumi ?Bukankah Rasulullah sendiri juga telah diperintahkan untuk hijrah ke Madinah dan melakukan kolonisasi di sana ?.Namun tentu saja kolonialisme juga dapat berekses buruk apabila disertai niatan untuk menindas rakyat setempat dan atau merusak lingkungan tempat kolonialisasi di lakukan.Dari uraian di atas, jelas kolonialisasi dalam sudut pandang Islam sendiri bukanlah sesuatu yang dilarang melainkan sesuatu yang dianjurkan agar tercapai derajat kehidupan yang lebih baik.Hanya saja dalam konteks ini yang dilakukan adalah kolonialisasi konstruktif bukan destruktif.ALLAH dengan tegas melarang siapapun berbuat kerusakan di muka bumi dan akan dikategorikan sebagai orang munafik apabila melakukannya ( lihat ayat-ayat tentang orang-orang munafik dalam bagian awal surah Al Baqarah ).Seorang muslim adalah seorang yang akan selalu membawa rahmat dimana dan kapanpun dia berada.
Wallahu’alam
@kabayanist yang paling benar,
sudah lama saya ikuti komentar ada, selalu saja mengacu ke reduksionist, holisme dll, jikalau anda sangat merasa terjajah oleh barat, bukankah kata2 ‘reduksionist’, ‘holisme’ dan masih banyak lagi itu berasal dari bahasa barat? (walaupun saya juga ga tau bener ga istilah2 yang sejauh ini cuman anda yang sebut2).
dan tak jarang pula anda berbahasa inggris, bukankah itu berarti anda mengakui bahasa dari barat tsb?
tapi satu hal yang menarik, anda sepertinya tidak memusuhi non-muslim selama mereka juga tidak memusuhi muslim? terkadang saya tidak mengerti, sebegitu sulitnya kah untuk mengakui bahwa manusia didunia ini plural dan tidak sama antara satu sama lain? satu agama saja mempunyai beberapa aliran, satu keluarga saja bisa berbeda. semoga kita semua bisa hidup damai berdampingan ![]()
-seorang non-muslim.
Pada dasarnya dalam perkebangan sejarah manusia selalu terjadi pergeseran budaya. Arus pergeseran tersebut terjadi tidak disebabkan ada atau tidak adanya kolonialisasi oleh para penjajah barat.
Apabila pola pendidikan pesantren atau pola pendidikan dan keorganisasian islam dipengaruhui oleh kebudayaan barat. tentunya hal tersebut sangat wajar terjadi dan saya rasa bukan sesuatu yang luar biasa atau terlalu menarik untuk dijadikan kajian.
Tapi melihat roh dari wawancara tersebut saya lebih merasakan aura bahwa keberadaan islam liberal yang berkiblat ke pola pemikiran barat yang liberal adalah apresiasi dari kemajuan yang ditinggalkan kolonialis
Kalau maksud dari wawancara yang didiskusikan ini adalah demikian. saya bisa mengatakan bahwa anda salah. kenapa ?
Karena kolonialis hanya merubah atau mempengaruhui sistem yang bersifat duniawi / muamalah dengan aturan yang tidak lebih baik bahkan mungkin lebih buruk dari ajaran islam
demikian dari saya di http://myrazano.com
dengan post ” Mukzizat dalam Mukzizat Al-Quran “
Dalam katagori ” Mengenal Al-Quran Dengan Logika “
Terimakasih
wassalam
Seandainya Portugis yang sangat anti Islam tidak masuk ke Indonesia, tentu tidak ada Fatahillah, tentara Indonesia yang cukup kuat untuk mengusir mereka. Kalau Fatahillah menang terus, mungkin Jabar-Jakarta masih seperti Aceh yang ingin merdeka sendiri.
Semua ada plus dan minus.
Amerika besar karena perang. Eropa bersatu karena ada Nazi dan kemudian Komunis. Cina sekarang kuat karena pernah lama menderita. Jepang jadi negara ekonomi paling kuat setelah dibom Amerika. Kita berharap Palesatina, Hamas kelak akan menjadi bangsa yang besar setelah lama tertindas Israel.
hehehe…terimaksih atas cekikan (pujian) minoriwati dengan menyebutkan paling benar…. bahasa adalah alat…and the behind the gun adalah jurus untuk memanfaatkan alat tsb…tentunya sebisa mungkin memberi manfaat… pengusungan reduksionist…holisme ...ujungnya adalah suatu pendekatan untuk suatu fenomena plural di alam fana ini….yang tak seharusnya berakhir dalam bentuk musuh-memusuhi dan hal semisalnya… semisal kata “mike tyson” adalah sileher beton… benarkah demikian?... tentu pada masa jayanya adalah demikian.. tapi lihatlah secara holistik (melalui faham holism) apakah mungkin ketika memasuki usia kakek-kakek..mike tyson tetap si leher beton?...atau mungkinkah ketika bayinya mike tyson adalah si leher beton?... maka hanya ungkapan kaum reduksionist lah yang memunculkan ungkapan mike tyson is leher beton….karena mereka melihatnya hanya pada fase ketika mike tyson sedang digjaya…. Nah hal semitsal analogi tersebutlah yang menjadi sebab kenapa banyak orang muslim se-sholeh apapun tiba2 bisa menjadi seorang biadab tanpa tara dengan meledakkan bom di bali… intinya karena mereka melihat keburukan non-muslim hanya pada keburukannya… bukan dipandang secara utuh bahwa berbagai keburukan dari non muslim sejatinya terjadi karena mereka tidak mengikuti proses yang dijalani oleh para muslim yang sholeh tersebut…. tentu ada pula non muslim yang benar2 jahat seperti israel… seibarat kata pada masa ini holisme dijadikan millah kaum muslimin…maka serta merta mereka akan bersatu padu walau berbeda kabilah untuk menghempaskan israel sehancur-hancurnya….dan tidak membeda-bedakan diri atas pembeda batas dan idiologi suatu negara yang sejatinya hal itu terjadi karena prinsif nasionalism yang ditebarkan zionisme…. mudah sekali sekiranya faham holism walau harus ditempa melalui proses panjang…dijadikan pijakan sebagian ummat manusia…. walau dimata manusia nilainya bisa jadi lebih rendah karena harus ditempuh melalui mencurahkan perhatiannya kepada seluruh aspek hidup yang dihadapi tanpa memilah-milah secara rigid… Teladan suci Holism adalah rasululloh SAW ...beliau adalah pengusaha sukses yang kaya raya ...yang dapat berzakat sedemikian besarnya tapi diakhir hidupnya tak secuilpun warisan harta bagi anak cucunya….jawabnya adalah karena harta hasil jerih payah dibelanja pada beragam dan berjuta aspek kemaslahatan…coba bandingkan dengan pengusaha kecil kampung rambutan yang dapat omzet lima ratus juta kemudian membelanjakan omzetnya tersebut hanya pada dua aspek saja yaitu barang dagangan dan ongkos produksi..maka sisa usahanya pasti dirasakan melimpah ruah…. yakinlah
Terima kasih kang kabayan atas penjelasannya. Mengaku berkeyakinan tentulah harus yakin dgn apa yg disebut keyakinan tsb, hanya saja tidak perlu membawa agama atau kaum lain dan menghina mereka, bukankah memuji-muji sesuatu tidak harus disertai dengan menjelek-jelekkan dan/atau menghina-hina yang lain?
salam damai ![]()
Muhammad Ali, Ph.D : “Kolonialisme Tak Selalu Berdampak Negatif Bagi Islam”
Sangat tragis bahwa “Kolonialisme Tak Selalu Berdampak Negatif Bagi Islam” Kolonialisme adalah Kolonialisme tetap dan pasti berdampak Negatif.
Kolonialisme memicu Anti-Kolonialisme(Perlawanan), peristiwa-peristiwa seperti Serikat islam,Fatahillah,Eropa Besatu,Semua itu dampak dari Anti-Kolonialisme(Perlawanan)bukan dari Kolonialisme itu sendiri. ” Allah tidak akan merubah sutu kaum sebelum kaum tersebut merubahnya” Serikat islam,Fatahillah dan lain-lain adalah hasil perlawan .
Eropa bersatu adalah bentuk perlawanan terhadap Nazi Jerman.
Dampak Kolonialisme adalah Kerugian Materil, Ketimpangan Hukum-politik-sosial , Pemaksaan Kehendak, Penderitaan secara fisik.
Dampak Anti-Kolonialisme(Perlawanan) adalah : Kelompak-kelompok organisasi perlawana, perlawanan secara fisik-Hukum-politik-sosial dan kemenangan bahkan kemerdekaan.
Kolonialisme dan Anti-Kolonialisme(Perlawanan)adalah dua kata dan makna-kata yang berbedah.
mohon dicatat: “Diseluruh buku sejarah diseluruh dunia Kolonialisme tercatat tidak mempunya dampak positif tetapi Anti-Kolonialisme(Perlawanan)lah yang mempunyai dampak Positif yang besar.
Wassalam Wr. Wb
Moh. Arment
Saya rasa kabayanist juga tidak tahu apa yang dia katakan sendiri. Saya tidak akan berlaku seperti orang yang intelektual dan tahu akan segala hal tapi yang paling saya benci adalah kemunafikan. Jangan sampai kita terjebak dengan idiom NATO (No Action Talk Only). Karena peradaban dunia dan agama bukan berkembang dengan kata-kata tapi oleh suatu perbuatan yang dapat mengubah dunia dengan kebaikan. Dan itu sedang dan akan dilakukan oleh orang-orang yang mengerti tentang perbedaan dan keterbukaan.
May Freedom Be With Us!
Kawan kawan JIL, aku salut n ndukung perjuanganmu.
Bebaskan agama dari segala kekerasan, kebencian, permusuhan.
Tuhan selalu memberkatimu. GBU
Yang jelas kolonialisme juga yang membuat orang-orang kita bisa mengenal dan mempraktekan unsur-unsur budaya modern seperti bahasa teknologi dan lain-lain. Tanpa kolonialisme orang-orang seperti Sukarno atau Sahrir paling kenal bahasa Jawa atau melayu.
Jangan lupa tanpa kolonialisme kemungkinan kita itu masih seperti orang aborigin atau maori di New Zealand yang gak maju-maju.
Dan kolonialisme terjadi juga akibat mendurnya kualitas iptek, budaya, dan ekonomi umat Islam karena terlalu terdorong ke hal-hal kebatinan yang tidak rasional. Ujungnya-ujungnya hanya menyalahkan kolonialisme secara membabi buta.
pendapat Bpk mohammad ali ada benar dan juga ada salahnya. mungkin dari sisi positif bahwa kolonialisme membuat colonialised menjadi cerdas karena merasa inlander dan harus mengejar ketidakmampuan dengan kecerdasan para kolonial. dari sis negatif kolonialisme adalah “ketertindasan” colonialised walaun bpk muhammad ali dengan bahasa yang halus mengatakan bahwa Kolonialisme mengatur aspek hukum,pendidikan dan lain-lain.
yang terlupakan dari Bapak Muhammad ali adalah konsep “keadilan”.. yang namanya dijajah teori apapun pasti second-line tidak mungkin jadi presiden, menejer dan lain-lain. malaysia jadi besar juga setelah merdeka.
bapak mahammad ali haru membedakan kepemimpinan modern seperti sistem konstitusional dan pemerintahan seperti presiden, senat,—dengan sistem pemerintahan cultural yang sudah hidup di
masyarakat seperti raja dan lain-lain.
olehnya, hasil dari kolonialisme juga ada dua,—pertama positif seperti Bapak yang sudah lulus Doktor dengan segala gelar yang dimiliki sehingga asumsi bapak tentang kolonialisme adalah positif. pertanyaannya adalah dapatkah bapak mengangkat orang-orang yang tidak mampu melanjutkan studi sehingga dapat menikmati kepositifan kolonialisme seperti bapak.Kedua hasilnya negatif.. masyarakat menjadi inlander dan yang bersekolah menjadi priyayi.. mereka terjajah lagi oleh mereka yang berpendapat dan menikmati kepositifan kolonialisme.
jadi menurut saya mencermati pendapat bapak muhammad ali tentang kepositifan kolonialisme mengakibatkan kolonialisme baru dari berbagai bidang.. karena penikmat kolonialisme jarang berfikir untuk mengangkat saudaranya yang colonialised..produk ini tanpa akhir jika pendapat bapak muhammad ali terus dikembangkan tanpa direserve secara ilmiah.. pertanyaannya adakah pemikiran bapak muhammad ali merupakan bentuk dan konsep kolonialisme baru dalam bidang intelektual? atau perlu postcolonialisme untuk memahami konsep kolonialisme intelektuam bapak muhammad ali.. kita memang dalam perdebatan yang terbuka dan anggun demi ebebasan berfikir dan bukan dalam “cengkraman” dan “penindasan” ideologi manapun. terimakasih.. mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Islam ataupun orang Eropa yang masuk ke indonesia kan sebenarnya sama-sama kolonialis. Hanya beda waktu datangnya saja. Dan mungkin beda pendekatannya, meskipun keduanya tujuannya sama, yaitu mencari sumber bahan untuk perdagangan, maupun untuk perbudakan manusia. Peperangan yang terjadi tak beda dengan peperangan memperebutkan harta karun, atau cewek molek bahenol nerkom, subur makmur bernama Nusantarawati. Jadi ketika bentrok antara raja2 lokal yang didirikan oleh pendakwahIslam, urusannya sebenarnya siapa duluan yg datang di wilayah koloninya. Ide saling mempertentangkan Islam vs Kolonialis Eropa,menuut saya keliru dna kurang tepat. Jadi dikotomi itu hanya untuk pemilahan akademis saja, hanya untuk mempertajam posisi masing-masing di atas panggung sejarah. Salah satu produk kolonialisasi baik bertopeng dagang maupun agama akhirnya sama saja, yaitu membalikkan perahu pengetahuan seperti dalam kisah sangkuriang. Jadi tentu jangan heran kalau setelah sekian ratus tahun rakyat yang dikoloninya masih tolol2 baik dalam beragama maupun dalam menggali ilmu pengetahuan negerinya sendiri, apalagi sejarahnya yg gak karuan. Itulah salah satu ciri kolonialisasi yang masih membekas, memory cleansing, lingkaran perbudakan terselubung, dan tentu saja yang mengkoloni 7 langkah lebih makmur dari yg dikoloni. Kecuali mereka yang mantuk2 bekerja sama dengan baik dengan tuannya.Kalau kelak kolonisasi memberikan dampak positif, itu perlu waktu lama sekali, misalnya 200 tahun setelah dikoloni dan dihisap habis isinya, dan orang2nya yg disiapkan untuk mewarisi watak kolonialis telah cukup matang (cob anda periksa produk hukum indonesia kan masih banyak buatan kolonis). Jadi menguntungkan setelah dibuntungi habis2san, diambil harta karunnya habis2san. Itupun harus diingat, orang Eropa membela rakyat koloni setelah terjadi revolusi pemikiran di negara asalnya terutama setelah revolusi perancis. Lantas bilang “ia yah kami perlu bales budi”. Tapi terlambat sudah, mental masyarakat sudah terlanjur ambrol dan berjiwa dobol.
betul yang diungkapkan itu. sebetulnya islam sendiri justru sejak awal kelahirannya bernuansa sangat kolonialis. penaklukan-penaklukan negara-negara di luar jazirah arabia jelas merupakan praktik kolonialisme. jelas bahwa daerah coele-syria dan yordania sebagai taklukan pertama - adalah daerah yang telah berdaulat dan tidak pernah melakukan serangah ke selatan (orang coele syria dan yordania hampir tidak punya tentara karena direpresi kekaisaran romawi). penyerbuan lebih lanjut oleh dinasti fatimiyah ke daerah-daerah koloni yunani (afrika utara) jelas merupakan kolonialisme juga. lebih parah lagi kolonialisme tersebut menghancurkan sama sekali jejak peradaban yunani yang telah dikembangkan di daerah tersebut. penyerbuan iberia jelas merupakan kolonialisme (bukankan kerajaan spanyol sudah ada sejak berabad-abad sebelumnya?)
lebih parah lagi dengan turki: asia kecil yang berperadaban yunani demikian maju - dihancurkan sama sekali hingga saat ini hampir tidak bersisa. betul-betul sisi gelap kolonialisasi islam.
bagaimana indonesia? setali tiga uang. apa yang telah dilakukan demak pada majapahit? budaya majapahit hancur sama sekali - hingga kini dilupakan orang. bagaimana dengan penjajahan kesultanan gowa-tallo terhadap kesultanan bone? bagaimana penjajahan kaum pidari terhadap orang-orang batak? bagaimana penjajahan kesultanan ternate terhadap orang-orang papua di kepala burung? sebetulnya kolonialisme tidak berhubungan dengan agama tertentu - tapi nafsu serakah orang-orang tertentu!
Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, a.l. jantan-betina; kiri-kanan; atas-bawah; baik-buruk; salah-benar dsb.
Jadi tentu saja apapun pasti punya dua sisi yg berbeda tergantung bagaimana seseorang menyikapinya, termasuk masalah Kolonialisme.
Bagi mereka yg berpihak atau turut diuntungkan oleh keberadaan kolonialisme pasti akan mengatakan “positif” dan mereka yg dirugikan atau bersimpati pada kelompok yg tercabik-cabik akibat kolonialisme pasti menentangnya.
Yang pasti, tanpa harus melibatkan agama apapun, bangsa Indonesia dan seluruh anggota PBB secara legal menyatakan menentang Kolonialisme, artinya, kolonialisme lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. that simple
Assalamu’alaikum wr.wb.
Benar,setiap negatif pasti ada nilai positif,tinggal kita mau mereduksi kata itu atau tidak,jika mampu maka kita akan menjadi lebih baik,jika tida negeri ini dan umumnya umat islam akan terus ada dalam keterpurukan.
salah satu hikmah dari kolonialisme di indonesia adalah munculnya pancasila dan produk hukum yg sangat islami,dan saya yakin pancasila adalah sebuah sistem ultra modern yang ada saat ini…alasanya?
Sepertinya tidak ada yang positip dari kolonialisme dan imperalisme didunia ini, semua menguntungkan pihak penjajah. Mungkin kalau bangsa indonedsia tidak dijajah sudah lebih maju dari sekarang. Sistim pendidikan islam tidak lebih jelek dari sistim pendidikan barat,ternyata sistim halakah lebih efektif dimana setiap guru hanya menangani beberapa orang murid dan ada interaksi secara pribadi antara guru dan murid. Dan pendidikan ini sekarang sedang dikembangkan dimana murid berkumpul secara halakah hanya beberapa orang ditangani oleh satu guru dalam situasi yang tidak begitu formal.
Sistim pendidikan ( cara berpikir ) islam ternyata yang mengilhami dunia barat menuju jaman reanisanse karena sebelumnya terbelenggu oleh pemikiran dogmatis agama, dimana dalam sejarah banyak ilmuwan yang dihukum bakar oleh kaisar romawi karena menentang dogma agama, seperti yang mengatakan bahwa bumi bulat dan banyak yang lainnya.
Sepertinya penelitian anda dilihat dari kacamata dunia barat tetapi itu sah-sah saja. Umat islam indonesia bahkan dunia tidak mengenal alquran dan hadist adalah perbuatan yang sitimatis dari para kolonialisme. Padahal alquran dan hadist adalah pertunjuk bagi orang islam bahkan seluruh manusia untuk dapat hidup selamat didunia dan diakherat, salah satu contoh dalam sistim ekonomi cara alquranlah yg lebih tepat daripada cara kapitalis. Prinsip ekonomi islam adalah “bukan riba,prinsip bagi hasil dimana transparasi, kejujuran dan keadilan yang diterapkan , ada ayat yang mengatakan didalam hartamu terdapat harta orang lain “. Dalam sistim hukum ( contoh hukuman mati )apabila ahli waris ada yang memaafkan siterdakwa bebas. Sampai sekarangpun umat islam berpendapat bahwa yang perlu tahu alquran dan hadist cukup para oarang yang disebut ulama.
Sehingga kenyataan sekarang alquran oleh sebagian besar umat islam indonesia bukan dijadikan petunjuk hidup tetapi dijadikan mantra. Dimana ayat2 alquran dibaca dengan hitungan tertentu untuk mendapatkan sesuatu cita2. Sampai2 terjadi mau ujian negara murid bukan diberi/diperintahkan belajar malah sebelum ujian diadakan yasinan bersama. Padahal ayat dialquran mengatakan alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak merobah nasibnya sendiri. Orang ingin kariernya baik bukan bekerja dengan profesional, malah pergi ke ustad minta bacaan apa yang harus dibaca.
Jadi memang kita umat islam perlu merobah cara pandang dalam hidup harus dengan petunjuk alquran, jangan alquran dijadikan bacaan mantra tetapi dijadikan petunjuk dalam segala aspek kehidupan. Pasti dan yakin apabila umat islam menjadikan hukum-hukum alquran dalam mengatur kehidupan disegal bidang kita akan hidup adil,makmur, aman, sejahtera, selamat dunia akherat sesuai janji alloh ” apabila penduduk suatu negeri beriman semua akan saya turunkan rahmat dari langit dan dari bumi”. Kesimpulannya tidak ada yang positif buat islam dari kolonialisme, semuanya penindasan dan budaksisasi.
Mungkin agak keluar dari topik diskusi ini tetapi saya ingin melontarkan satu pertanyaan untuk kita semua.
BUKANKAH AGAMA-AGAMA BESAR DI DUNIA INI ADALAH BENTUK KOLONIALISASI SPRITUAL DAN BUDAYA DI MUKA BUMI INI?
hila
Komentar Masuk (33)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)