Wawancara,
05/01/2009

Muhammad Ali, Ph.D : “Kolonialisme Tak Selalu Berdampak Negatif Bagi Islam”

Pengaruh mereka tidak selalu negatif. Tidak sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan oleh sebagian kalangan muslim saat ini bahwa kemunduran Islam dikarenakan pengaruh kolonialisme di masa silam. Makanya saya berusaha untuk merekonstruksi sejarah Islam Indonesia di masa kolonialisme dengan cara melihat masalah itu dari berbagai aspeknya. Tidak hanya dari aspek ideologis, tetapi juga aspek praktis dan aspek institusional.

05/01/2009 08:16 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (33)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

None sense. omong kosong kalo kolonialisme itu ada sisi sisi positifnya bagi Indonesia. Yang nanamnya Kolonialisme atau penjajahan ya pasti membuat rakyat sengsara.

#21. Dikirim oleh setiawan  pada  23/02   11:06 AM

Islam mempunyai mitos. “bahwa orang islam adalah sebaik-baik umat dan 4JJ l berjanji akan mewariskan bumi ini untuk umat islam(AQIDAH ISLAM/ yakfur thogut mukmin billah)”. maka dari itu demi tegaknya aqidah islam yang benar harus disertai penjagaan yang kuat. apa penjagaan yang kuat itu, ISLAM menjadi sebuah NEGARA yang berdasarkan AL QURAN dan AL HADIST.
ALLOHUAKBAR…ALLOHUAKBAR…ALLOHUAKBAR…

#22. Dikirim oleh OM  pada  28/02   10:22 AM

penjajahan adalah penjajahan,penghinaan dan penistaan terhadap kaum lemah,jadi nggak usah dicari-cari lah hal-hal baik yang terkandung didalamnya,karena itulah nenek moyang kita bertaruh nyawa untuk merdeka,belanda dan jepang itu menganggap bangsa kita ini lebih rendah daripada binatang,sehingga bisa dirampas hak2nya,diexploitasi dan segala macem bentuk aniaya lainnya,jadi untuk apa dicari2 sisi baiknya,kepengen dijajah lagi?

#23. Dikirim oleh jann martin  pada  02/04   06:44 PM

penjajahan itu tidak slalu mengandung hal yg negatif pada negara jajahan misalnya waktu indonesia dijajah oleh jepang,mskpun rakyat indonesia merasakan kesengsaraan yang amt luar biasa akan tetapi pada saat kedudukan jepang bangsa indonesia diajari cara berperang melalui skolah skolah khusus,meskipun pada saat rakyat indonesia hanya dijadikan objek pemanfaatan oleh jepang untuk peramg asia raya akan tetapi dengan adnya itu timbullah rasa nasionalisme yang kuat pada rakyat indonesia sehingga menjadi boomerang oleh pihak jepang,ibaratnya senjata makan tuan bagi jepang sendiri

#24. Dikirim oleh m.fandik  pada  18/04   03:51 AM

memang benar, segala keterpurukan rakyat berawal dari kolonialisme.jadi memang apa sisi baik dari kolonialisme?!!!.dan apa keuntungan dari kolonialisme?!!! selain telah berhasil memecah belahkan umat Islam….........
ayo bangkit terus kaum muslimin, rapatkan barisan. buka mata hati dan pikiran kita. kembalilah kepada jalan Allah. kita jangan meneruskan perjuangan kolonialisme, tapi teruskan perjuangan rasulullah SAW dan khulafaur rosyidin….
ALLAHU AKBAR….

#25. Dikirim oleh boenzha  pada  01/05   09:39 AM

kolonialisme tetap kolonoalisme. islam tetap islam. semuanya tidak dapat disatukan.di ibartkan seperti air dengan minyak. pokonya mustail deh….! kalo islam dan kolonialisme itu akan bersatu.allau akbar!!

#26. Dikirim oleh ade  pada  01/05   09:56 AM

@hila
anda keliru kalo membuat pertanyaan kayak gitu.
tak ada kolonialisasi spiritual dan budaya dari agama2 besar. apa pengertian anda tentang kolonialisasi? apa fungsi agama2 besar diturunkan?

bukankah spiritual dan budaya tersebut bagian dari agama2 besar?

kalo menurut anda itu agama menjajah adat istiadat itu baru tepat, tapi lebih tepatnya memberi pilihan alternatif. kalo soal politisasi yang berkembang, itupun wajar. filsafat yang memasuki ranah adat sebuah wilayahpun menggunakan politisasi2 juga..

#27. Dikirim oleh frank  pada  07/05   12:41 AM

@frank

Saya keliru? Ya, mungkin! Tetapi pengalaman pribadi saya membuktikan bahwa agama-agama besar telah melakukan kolonialisasi spiritual terhadap sebagian besar umat manusia di dunia ini. Saya memberi contoh agama Katolik karena saya beragama katolik. Ketika agama Katolik disebarkan di kampung saya; sebagian besar kepercayaan dan ritual lokal ditindas dengan cara merendahkan dengan pernyataan-pernyataan seperti “.....menyembah berhal….” melanggar ajaran agama Katoli…,  dll…”. Orang yang masuk agama katolik didesak untuk meninggalkan kepercayaannya sebab dianggap bertentangan dengan agama Katolik.

Dewasa ini gereja mulai sadar bahwa sebenarnya kepercayaan dan ritual lokal membawa misi yang sama.Gereja katolik sekarang mengenal adanya inkulturasi dimana sebagian tradisi spiritual lokal diadopsi ke dalam tradisi gereja.

Ingat ketika kita berbicara “AGAMA” itu berati tidak terlepas dari dua hal utama, yaitu KEPERCAYAAN AKAN ALLAH dan KEBUDAYAAN. Contohnya cara bersembayang atau ritual dalam setiap agama merupakan tradisi doa masyarakat di mana agama itu lahir.

hila

#28. Dikirim oleh hila  pada  11/05   12:42 PM

Saya tidak bermaksud mengulas panjang lebar, dan hanya memberikan dua catata singkat saja.
1. Dampak positif dan negatif pasti ada dalam hal apapun jika hendak dicari. Pengertian inti dari kolonialisme adalah penjajahan dan menjajah. Hal inilah yang memayungi kesuluruhan nilai utuh kolonialisme dan bersifat negatif. Dampak positifnya tertutup oleh nilai pokok (besar, utuh) sifat negatif itu. Oleh karena nilai utuhnya yang negatif inilah maka kolonialisme diruntuhkan atau ditolak.
2. Menyatakan bahwa jika tidak ada kolonialisme maka tidak akan ada ini dan itu yang positif, ini namanya berandai-andai sehingga sangat tidak patut untuk cara sebuah ulasan ilmiah. 
3. Terkait dengan pertanyaan yang diajukan Hila, kita harus konsekuen, konsisten dan relevansinya terhadap konsep, definisi dasar, dan latar-belakang atau sejarah kolonialisme ataupun kolonisasi. Kesemuanya ini satu kesatuan yang utuh sehingga tidak pada tempatnya kita menariknya ke sana ke mari, termasuk mempertanyakan agama-agama besar bentuk kolonisasi spiritual. Anda mungkin akan beralasan kita ‘kan menilik dari konsepnya. Jika ini iya, maka justru yang namanya konsep itu bersifat spesifik, karena utuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. Semoga kita tidak konyol karena ngawur. terimakasih. (bs)

#29. Dikirim oleh Bambang Subiyakto  pada  10/12   04:03 PM

agama dan kolonialisme tak bisa dipisahkan, runtutan satuan kehidupan dan akhir sebuah proses terbentuk sebuah kaum agamis ditengah kolonialisme.yang terjadi…
agama terbentuk dan tertata adanya sebuah moralisasi dan edukasi yang panjang melaui kolonialisme

#30. Dikirim oleh alvine  pada  06/05   03:09 PM

Salam…Islam tidak diajar menjajah, mohon fahami betul makna “kolonialisme”.Dari kalimat tersebut, sudah menyimpan arti tunggal, yang mengacu kepada “kekerasan”. Nabi hijrah ke Madinah bukan untk menjajah, tapi ini adalah perinta Allah, dan untuk mneyelamatkan akidah yang hampir punah di tangan penyiksa kafir…Segera fahami benar,,hal ini….ketahuilah kolinialisme, pijakan dasarnya adalah Darwin sosial, yang menghancurkan yang lemah….

#31. Dikirim oleh BI  pada  17/07   11:28 PM

Jika ada seorang penjual barang menawarkan barangnya kepada masyarakat yang sudah memakai barang serupa tapi kurang bagus mutunya…setelah proses pengenalan yang dalam, tawar menawar ...lalu si pembeli cinta terhadap barang tersebut…apakah berarti itu penjajahan si penjual terhadap ppenjual barang lama…umpamanya, seorang pedagang celana kepada masyarakat yg hanya biasa dengan koteka..

Jika seorang agamawan mewartakan agamanya kepada sebuah kaum lalu kaum itu menerima setelah dialog ma’rifat mereka, lalu timbul mahabbah dan merekapun beragana secara ikhlas…apakah itu penjajahan ? entah kalau anda masih memandang bahwa ajaran islam dulu disebarkan umar oleh pedang..?

#32. Dikirim oleh sufigoblog  pada  26/05   03:21 PM

Saya kira Sdr Mohammad Ali Ph.D agak ngawur cara pandangnya yang melihat aspek positif-negatif kolonialisme. Itu mah hanya cara fikir common sense. Tidak tampak sedikut pun argumen scientificnya. Dudukkan dulu apa itu kolonialisme. Dengan kacamata apapun tidak ada aspek positifnya bagi yang dijajah. Jika ada dampak positifnya,itu namanya faktor’kebutulan’ tak terduga, dan tak dikehendaki kaum penjajah sejauh mengganggu kepentingan utamanya: ya penjajahan itu sendiri. Dalam sejarah ada “faktro” kebetulan. Yang dinamakan positif oleh Doktor kita itu ialah faktor kebetulan,tapi dia alpa dengan konsep kolonialisme sbg sebuah proses penguasaan orang asing thd negeri jajahannya hanya utk satu tujuan: ya eksplopitatif (SDA dan SDM) untuk keuntungan negeri penjajah. Efek sampingan yang positif bisa ditolerir sejauh tdk mengganggu tujuan utamanya,ya eksploitasi itu sendiri, dengan wakak kolonial diskriminatif, menciptakan ektrgantungan, ketidak-adilan atau pun dengan cara menindas. Kalau negeri yang sdh merdeka tetap memimiliki watak kolonialisme tsb., itu pun tetap kolonial namanya. Hanya saja “neokolonialisme”, penjajahan oleh banga sendiri. Contoh nyata hari ini ialah penjajahan Jakarta thd Tanah Papua, gan.

#33. Dikirim oleh alam bedanken  pada  06/11   01:02 AM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?