Klipping,
02/02/2009

Kontra-terorisme Raja Abdullah

Oleh Saidiman

Jika semangat revolusioner dan terorisme itu semakin besar, maka yang akan dirugikan bukan hanya target-target teroris di luar Arab Saudi, melainkan juga adalah Arab Saudi sendiri. Saat ini, Arab Saudi, selain Israel, adalah sekutu utama negara-negara Barat di Timur Tengah. Amerika Serikat bahkan menempatkan pangkalan militernya di Arab Saudi, ini pulalah yang memicu gerakan protes masyarakat Islam Wahhabi Saudi sendiri.

02/02/2009 07:53 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (38)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

saya lebih suka islam ala indonesia yang moderat dan santun. Namun ternyata banyak kalangan yang pro wahabbi dan anti wahabbi, yang tidak kalah kerasnya. Seolah-olah aliran Wahabbi ini jahat sekali. Sebenarnya apa itu aliran Wahabbi? kenapa banyak yang membenci aliran ini? apakah bom2 yang meledak di dunia ini termasuk di indonesia adalah produk wahabbi? saya membaca sejarah perang dari Yesus Kristus lahir hingga Jalur Gaza ini tidak terlalu banyak bom yang dibuat oleh wahabbi, bila dibandingkan bom dalam perang dunia, perang dingin dan terakhir bom curah israel di Gaza. Banyak pula orang US merasa bahwa bom WTC adalah bomnya CIA, terbukti bom gedung FBI yang tadinya dituduhkan kpd islam ternyata orang US sendiri pelakunya. Maka hitunglah jumlah bom dan pelakunya sebelum menuduh orang indonesia sebagai pelaku bom bali atau bom natal. saya merasa orang indonesia apapun agamanya adalah santun.

#1. Dikirim oleh isa  pada  02/02   09:15 AM

Sebagai seorang muslim saya punya beberapa pertanyaan menarik, dan harus dijawab dengan jujur oleh kita sendiri sebagai umat muslim, :

1. Dari seluruh agama yang ada di bumi, kenapa hanya umat muslim (agama islam) yang paling sering membuat kerusuhan dan keributan atas nama agama, atau menjadikan agama sebagai dasar untuk menjustifikasi kerusuhan itu sendiri.

2. Menyambung pertanyaan nomor 2 diatas, apa ada “sesuatu” yang salah atau minimal diinterprestasikan secara salah dalam kitab suci kita oleh saudara-saudara kita sesama muslim.

3. Fakta yang ada memang tidak bisa dibantah bahwa beberapa gerakan (atau kerusuhan) di Indonesia dan juga di banyak negara lainnya, dikompori oleh saudara-saudara kita para umat muslim. Sekedar menyebut beberapa diantaranya, al. Darul Islam dibawah pimpinan Karto Suwiryo dan Kahar Muzakar, Peristiwa Priok yang dikomandoi Amir Biki CS, Pemboman Bali oleh Amrozy CS, Gerakan Moro di Philipina, Kerusuhan di Thailand Selatan dll. Saya melihat agama-agama lain tidak pernah atau paling tidak jarang umatnya melakukan kerusuhan-kerusuhan semacam itu.

Kita sebagai umat muslim harus jujur menjawab dan mencari solusi atas semua pertanyaan saya diatas, jangan menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut dengan lagu lama yang sudah basi, seperti itu adalah rekayasa Barat, untuk melawan agenda kristenisasi dari Barat dll, jangan melulu mengkambing hitamkan negara Barat. Faktanya dari jaman dulu kerusuhan banyak timbul sebelum negara-negara Barat tersebut eksis seperti saat ini. Contoh dari 4 kafilah yang pernah ada di Dunia Islam, hanya 1 orang kafilah yang mati secara wajar, 3 lainnya mati dengan terpaksa, alias dibunuh oleh orang muslim sendiri. Mari kita menjawab secara jujur semua masalah ini. Saya yakin tidak lama lagi kerusuhan-kerusuhan dalam skala yang lebih besar berpotensi timbul, karena bibit-bibitnya sedang disemaikan dengan bersemangat oleh Abu Bakar Baasyir di Pesantren Ngruki Solo. Lihat saja nanti, apakah statement saya terbukti atau tidak.

#2. Dikirim oleh Jafar Umar Thalib  pada  02/02   10:29 AM

Ahhhh… terorism cuma sekedar istilah…yang boleh dimaknai apa saja oleh yang buat dan yang baca istilah terorism….. pembantaian Yahudi di gaza oleh sebagian muslim dianggap terorism bahkan ‘The real terorism”... tapi bagi tentara Israel ....hehehe ...meneketehe itu adalah bentuk terorism….katanya ... itu mah tindakan bela diri ....katanya….. Duh ...masa cuapan Raja Saudi perlu diacungi jempol…. toh Hakekat dan Fenomena nyata dari terorism aja belum menjadi satu makna hakiki yang universal dan tidak berversi-versi….. kalolah terorism bukan “istilah” multi interpreter… yang tidak bisa dimaknai seenake-dewe…. maka istilah Terorism udah pasti masuk dalam vocabulary Al-Qur’an sejak jaman rasululloh…

#3. Dikirim oleh kabayanist  pada  02/02   11:24 AM

Tak ubahnya seperti gerombolan tikus-tikus di sebuah rumah yang besar dan kaya raya yang tak lagi mendapat tempat, lalu kemudian mereka pindah dan menyebar ke rumah-rumah lain dan bersarang di sana, beranak-pinak dan membuat kekacauan di mana-mana, berharap suatu hari akan mempunyai cukup banyak pasukan tikus untuk menggempur rumah yang pertama.

Menyedihkan sekali para teroris ini!

#4. Dikirim oleh Serpi  pada  02/02   06:02 PM

Assalamualaikum.
Bapak Saidiman, terimakasih atas penjelasan yang penting ini, sehingga kami bisa lebih objektif melakukan komentar dalam politik agama.
Ada ungkapan jelas di sini, semua orang yang terlibat teror di Mekah itu, berumur lebih dari 15 tahun dibunuh semuanya, dengan demikian untuk sementara duri telah dicabut, tapi duri yang lain masih menguasai polapikir mereka, yang karena kekuatan uang, diimport ke Indonesia.
Mudah2an setelah kita mengetahui informasi ini diharapkan masyarakat tergugah, jangan mau dikadali terus. Kita mempunyai budaya sendiri yang lebih manusiawi dibandingkan dengan mereka. Semua itu ujung-ujungnya adalah mengarahkan masyarakat tetap miskin dan bodoh, jangan melek, sehingga mudah diatur, dengan harapan masalah perut/duit dan si ujangnya dapat terus surviva.

Wassalam. H. Bebey

#5. Dikirim oleh H. Bebey  pada  03/02   02:29 AM

sudah sepantasnya raja Saudi, Abdullah bin Abdul Azis bin Saud, kontra terorisme.
karena Islam adalah agama “rahmatan lil alamin”, maka harus menyebarkan akhlaq yang mulia.
kita wajib berperang atau melakukan terror kalau kita diperangi [QS Al Hajj (22) ayat 39].
dulu sebelum Islam kuat, walaupun dianiya tidak diijinkan perang, tetapi setelah kuat baru diijinkan berperang bila kita dianiaya.
salam

#6. Dikirim oleh mr.dayson  pada  03/02   04:43 AM

Saya merasa orang-orang yang sangat bernafsu dengan kekuasaan dan kemudian memakai embel-embel agama inilah (baca: islam) yang telah mengkerdilkan islam. islam dipasung dalam bentuk ideologi, dalam bentuk “negara”, dalam bentuk “juklak” bagaimana orang berpakaian, berpenampilan dan seterusnya. Islam memang universal dan berlaku sepanjang zaman, tapi apakah dalam bentuk ideologi yang “baku”, “negara”, cara berpenampilan yang “standar” dan seterusnya sebagaimana yang kita pahami selama ini? TIdak adakah ruang bagi ide Islam semata-mata sebagai nilai-nilai dasar yang bersifat universal dan tidak mentolerir keangkuhan manusia dan segala manifestasinya, terutama keangkuhan manusia dalam keberagamaannya? Terus terang Islam versi “main stream” selama ini telah membentuk saya menjadi orang yang angkuh, self-righteous kata orang bule. dan kalau tidak salah, angkuh adalah tirani dalam arti yang sebenarnya. jikalau saya andaikan tirani sebagai “thaghut” seprti yang disebutkan dalam Alquran, bukankah tanpa sadar kita telah mendurhakai Sang Maha Sempurna?

#7. Dikirim oleh ariyanti palupi  pada  03/02   07:42 AM

Lama lama wahabi akan terbentur dg ediologinya sendiri…
Wahabi methode dakwahnya menghalalkan segala cara…
Mereka benci terhadap sufi padahal dia salah memahami sufi atau tasawuf…
Mereka tidak percaya akan berkah…
Mereka menjaga sunah nabi keterlaluan sehingga kesan nya kaku dan gampang meneriakkan kufur,syirik dan bid’ah..
Mereka menyimpulkan nabi Muhammad saw adalah manusia biasa,sehingga kesannya beliau tidak jauh beda dengan Muhammad yang lain…
Mengaku mengagungkan dan mengikuti pemahaman ibnu taimiyah dan ahmad bin hambal,tapi ternyata pendapat yang tidak cocok dg hawa nafsunya tidak mereka patuhi..
Merasa paling benar sendiri, sehingga mudah ingkar terhadap paham lain dg tanpa klarifikasi terlebih dahulu…
Penjauhan terhadap wanita lain muhrim keterlaluan sehingga kesan nya jijik melihat wanita lain tapi ternyata dibelakang….
Maaf aku menulis ini karna aku tahu sendiri… Meski aku skrg sedang study disaudi/makkah tapi guru2ku bkn dari golongan mereka.
Trims.
Wallahu a’lam..

#8. Dikirim oleh Maulana  pada  03/02   10:48 PM

Arab saudi telah menggali kuburnya sendiri, sikap cemasnya pada invasi irak atas kuwait dapat merembet ke negrinya dengan mengundang tentara AS untuk menjaga negrinya pada akhirnya membawa implikasi dan konsekwensi berbahaya di mana arab saudi harus mendukung propaganda AS yang anti islam dengan program anti terorisme itu juga dengan kebijakan AS yang tidak bijak yakni pro israel yg nyata2 biangnya teroris, sehingga Arab saudi semakin melegitimasi penjajahan dan penjarahan israel atas palestina

#9. Dikirim oleh Hizburrahman  pada  04/02   02:15 AM

Salah satu doktrin dari JIL yang sangat saya dukung adalah ketegasan sikap dari JIL yang tidak akan mencampuradukan antara agama (islam) dengan politik. Sayang keberanian sikap JIL tersebut belum diikuti oleh sebagian besar para ulama Islam. Jadi kalau JIL jelas-jelas memisahkan antara agama dengan politik, maka para ulama kita bersikap sebaliknya yaitu sangat gemar mencampuradukan agama (islam) dengan politik. Jadi selama kesenangan campur mencampur antara agama (Islam) dengan politik itu dilakukan, maka selama itu pula kita sebagai umat muslim akan menyaksikan keributan-keributan yang mengatasnakamakn agama (Islam). Semuanya akan berpulang kepada kita semua para umat muslim, apakah untuk selamanya keributan dan stigma negatif terhadap Islam itu akan tetap terjadi??

#10. Dikirim oleh Raja Abdulah  pada  04/02   09:35 AM

Parah nih Arab Saudi, ngakunya negara “islam”, tapi diam saja melihat Palestina digempur Israel. Kapan nih negara2 Islam mau bersatu?

#11. Dikirim oleh Febrianti  pada  07/02   06:20 AM

Terorisme pada mulanya berarti tindakan kekerasan—disertai dengan sadisme—yang dimaksudkan untuk menakuti-nakuti lawan. Akan tetapi, dalam Kamus Adikuasa, terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan oleh negara-negara atau kelompok-kelompok kecil. Pembunuhan tiga orang Israel di Lanarca adalah terorisme, tetapi pembantaian Sabra dan Satila adalah “pembalasan” atau “tindakan mendahului” (preemptive). Mengapa bisa begitu?
Dalam buku karangan, Chomsky ” maling teriak maling” mencoba menjelaskannya dengan sangat atraktif. Melalui serangkaian contoh—yang dapat membuat Anda jengkel dan marah—dia menghimpun sejumlah kata atau ungkapan yang terkait dengan terorisme, yang maknanya telah disimpangkan di panggung politik internasional.
Dengan bahasa yang lugas dan tajam, Chomsky tak segan-segan menyebut AS dan Israel-dua negara yang disebutnya dipimpin oleh “dua komandan teroris terkemuka dunia”—sebagai pelaku penyimpangan makna tersebut.
Lebih dari itu, dengan standar ganda yang digunakannya dalam berbagai kasus, semisal tudingan terorisme atas Sudan, Libya, dan Iran, Amerika dicap oleh Chomsky sebagai “kekuatan teroris utama di dunia”.

#12. Dikirim oleh zainal  pada  09/02   10:51 AM

Teroris itu adalah Orang-orang yang punya bom, roket tetapi tidak punya pesawat. Jadi kalau punya bom dan roket terus punya pesawat dan dipakai buat membunuh begitu banyak korban ga mau disebut teroris…kacau…

#13. Dikirim oleh Ed  pada  11/02   01:47 AM

Mas Zainal,
Saya rasa, itu karena Bush dan kroninya sangat terbius oleh tesis benturan budaya karangan Huntington hingga menganggap tindakan menyerang negara atau kelompok yang “berbahaya” sebagai tindakan “preemptive”, dan mereka membenarkan itu. Kita bisa lihat sendiri akibatnya, konflik tidak berhenti, bahkan membuat dendam semakin akut. Huntington memang sudah terlanjur mencuci otak milyaran manusia di bumi ini dengan tesisnya yang jahat dan berbahaya, tapi kita jangan sampai ikut-ikutan mencuci otak kita sendiri dengan membebek pada tesis Huntington yang hanya mengandalkan konflik itu. Konflik dalam segala bentuknya, termasuk konflik dalam diri yang menganggap orang lain sesat atau kafir berdasarkan ukuran kita yang fana dan terbatas ini, juga harus kita waspadai. Jangan-jangan kita telah ikut membenarkan tesis Huntington itu tanpa kita sadari.

#14. Dikirim oleh ariyanti palupi  pada  13/02   05:15 PM

Memisahkan Agam dan Politik sama dengan mengkebiri ajaran Islam.
Bila kita mencermati sumber asal Agama Islam, yakni Quran, disertai Hadist Nabi yang Shohih lagi mulia, Sirah Sahabat yang harum, Pendapat Ulama’ Ulama’ baik Salaf maupun khalaf yang jujur pada agamanya, bila itu semua kita terima secara hati bersih tanpa hawa nafsu disertai kejujuran dan pikiran yang cermat maka tidak akan ada tempat bagi orang yang berpendapat bahwa agama dan politik pisah.
Islam tidak akan membiarkan kedzoliman duduk nyaman di wilayah politik, dan hal itu tidak akan bisa diatasi dengan tausiyah dari mulut ke mulut, karena kedzolimman di wilayah politik sudah melembaga.
Wallahu a’lam

#15. Dikirim oleh Muslim Moderat  pada  14/02   12:06 AM

Kekuasaan memang menggiurkan,org berbuat apa sj untuk mendptkannya.Sptnya raja saudi pertama berkolaborasi dgn imam wahab hanyalah untuk merebut kekuasaan di madinah & mekkah dr Turki usmani.Dgn menggunakan agama tentu sj akan mendpt banyak dukungan dr umat Islam.Dan tetap sj demi kekuasaannya sendiri dia bersedia bekerja sama dgn amerika.Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Tahu,Para raja di timur tengah akan dimintai pertanggungjawaban atas kelakuan mereka.hrsnya ini yg mereka pikirkan…

#16. Dikirim oleh ekoji  pada  14/02   02:37 AM

Kontra teroris Raja Abdullah, bukanlah bermaksud memerangi terorisme yang sebenarnya, tapi untuk bekerjasama dengan raja teroris yakni amerika dan israel. kalau Arab Saudi memang bermaksud memerangi terorisme, mestinya melawan teroris Zionis yahudi yang didukung amerika di jalur gaza. Atau mungkin pembantaian ribuan manusia di jalur Gaza, bagi Raja Abdullah dan para penghianat lainnya bukanlah tindakan teroris dan kejahatan atas kemanusiaan? Marilah berfikir jernih dan obyektif. Apakah kejahatan kemanusiaan

yang dilakukan umat non Islam tidak masuk sebagai tindakan terorisme? Apakah memang terorisme itu hanya ditujukan kepada Islam? Jika demikian halnya, berarti terorisme memang dirancang hanya untuk memerangi Islam, bukan untuk memerangi kejahatan atas kemanusiaan. Wajar jika kemudian banyak kelompok (Islam) yang terpaksa melakukan kontra terorisme. Sepanjang amerika dan sekutunya masih terus memaksakan kehendak kepada negara (umat)lain, maka sepanjang itu pula akan selalu ada kelompok-kelompok perlawanan, meski pemerintah dan pemimpinnya menjadi boneka amerika.

Tanggapan Untuk Jafar Umar Thalib

- Sebagai seorang muslim saya punya beberapa pertanyaan menarik, dan harus dijawab dengan jujur oleh kita sendiri sebagai umat muslim, :

1. Dari seluruh agama yang ada di bumi, kenapa hanya umat muslim (agama islam) yang paling sering membuat kerusuhan dan keributan atas nama agama, atau menjadikan agama sebagai dasar untuk menjustifikasi kerusuhan itu sendiri.

+ Anda sendiri harus menjawabnya secara jujur, atas dasar apa anda berkesimpulan bahwa umat islam paling sering membuat kerusuhan dan keributan atas nama agama? Apakah anda juga sudah meneliti faktor-faktor yang menyebabakan terjadinya kerusuhan itu? 

- 2. Menyambung pertanyaan nomor 2 diatas, apa ada “sesuatu” yang salah atau minimal diinterprestasikan secara salah dalam kitab suci kita oleh saudara-saudara kita sesama muslim.

+ Kalau anda seorang muslim, anda tidak patut meragukan kebenaran dan kesempurnaan Kitab Suci Al-Quran. Allah SWT Berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam menjadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah: 3)
Memang ada perbedaan mashab dan juga interpretasi, namun saya yakin itu bukan itu yang menjadi pemicu terjadinya “keributan”

- 3. Fakta yang ada memang tidak bisa dibantah bahwa beberapa gerakan (atau kerusuhan) di Indonesia dan juga di banyak negara lainnya, dikompori oleh saudara-saudara kita para umat muslim. Sekedar menyebut beberapa diantaranya, al. Darul Islam dibawah pimpinan Karto Suwiryo dan Kahar Muzakar, Peristiwa Priok yang dikomandoi Amir Biki CS, Pemboman Bali oleh Amrozy CS, Gerakan Moro di Philipina, Kerusuhan di Thailand Selatan dll. Saya melihat agama-agama lain tidak pernah atau paling tidak jarang umatnya melakukan kerusuhan-kerusuhan semacam itu.

+ Anda harus mendalami dulu akar masalah terjadinya perlawanan dari kelompok DI/TII, termasuk Gerakan Moro di Philipina dan lain-lain. Sepertinya anda perlu membuka kembali lembaran sejarah, mungkin lembaran tentang perang salib, kerusuhan Ambon dan Poso, kerusuhan di kalimantan, Gerakan RMS, Gerakan OPM, kasus pemurtadan dan penghinaan terhadap islam dan terakhir kerusuhan di Medan yang menyebabkan Ketua DPRD Sumut meninggal dunia. Dari semua kejadian itu dilakukan oleh umat non muslim dan bahkan umat islam yang jadi korban. Jadi lihatlah masalah secara komprehensif dan obyektif.

Kita tidak bisa menafikan bahwa ada sejumlah fakta keterlibatan Barat dalam beberapa kerusuhan. Juga tidak bisa dipungkiri bahwa agenda kristenisasi yang didukung Barat banyak meresahkan masyarakat.

Saya tidak mengerti maksud anda soal “4 kafilah yang pernah ada di Dunia Islam, hanya 1 orang kafilah yang mati secara wajar, 3 lainnya mati dengan terpaksa, alias dibunuh oleh orang muslim sendiri”.
Yang anda maksudkan kafilah itu apa dan siapa serta dibunuh oleh siapa? Kalau maksud anda adalah khalifah, maka sebaiknya pelajarilah secara mendalam sebab-musabab dan siapa dalang dibalik pembunuhan itu.

Saya lebih kagum dan hormat kepada Abu Bakar Baasyir di banding orang yang bergelar Kyai Haji, tapi bicara dan tindakanya plin-plan, ambisius dan sombong.

#17. Dikirim oleh adit  pada  14/02   11:13 AM

begitulah politik kekuasaan:
tidak ada kawan yg abadi,
tidak ada faham yg abadi,
yg abadi adalah kepentingan untuk berkuasa

#18. Dikirim oleh dedy muller  pada  15/02   03:49 AM

Soal agama dan negara. Masalahnya adalah, pemimpin negara tak mencerminkan ketaatan kepada Tuhan. Zaman Rasulullah hingga sahabat, setidaknya periode Sahabat Umar bin Khaththab, keduanya bersatu. Ketaatan pemimpin negara dengan Tuhan adalah yang diutamakan. Nah, sesudahnya, secara perlahan negara dan agama mulai berpisah. Penyebabnya adalam dalam diri manusia itu sendiri, hawa nafsu. Sehingga negara tunduk pada ketentuan manusiawi. Maka lalu, negara menjadi terpisah dengan agama. 
Perdebatan tentang hal ini demikian panjang, sepanjang sejarah umat manusia sejak Islam muncul. Hingga 3 khalifah (bukan khalifah) berakhir dengan darah. Lembaran hitam sejarah Islam, tapi sekaligus lembaran cemerlang. Artinya dalam panggung dunia, manusia selalu menampakkan kedurhakaannya. Pelajaran adalah, semua akan mempertanggungjawabkan amalnya di depan Sang Khalik, Pencipta.
Dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin, Imam Ghazali mengingatkan adanya ‘Ulama Su’, ulama jahat yang tandanya merunduk-runduk ke penguasa negara.
Ulama hasan, yang baik, tidak merunduk-runduk kepada penguasa, jadi diluar lingkaran kekuasaan. Maka, lalu, muncullah perbedaan yang kian tajam antara keduanya.
Bila JIL memimpikan pemisahan agama dan negara, sejauh negara seperti itu keadaannya, mungkin maksudnya untuk memperoleh kejelasan. Jangan nafsu ingin berkuasanya di negara didasarkan pada agama sebagai topangannya.
Jatuh bangunnya dinasti, mengikuti hukum sunnatullah. Bagi yang berniat lurus hanya menghadapkan wajah kehadirat-Nya, Allah Maha Tahu, dan itulah yang dijanjikan selamat.
Yang dilaknat adalah menyerang dengan membabi buta kelompok lain atau menghantam kelompok lain tanpa alasan yang hak. Janganlah kalian mencerca kelompok lain, yang jangan-jangan kelompok yang kalian cerca itu lebih baik dari kalian.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan pada hari akhirat, bicaralah yang baik, atau diam.

#19. Dikirim oleh isoelaiman  pada  16/02   04:22 AM

saya tidak mengatakan “terlambat” itu lebih baik daripada tidak sama sekali, setidaknya yang dilakukan Putra Arab Saudi itu akan memberikan harapan baik sekaligus “ancaman” terhadap ruanggerak “petrodollar” untuk sebuah ‘misi’ yang sudah lama tersalurkan akan menumbuhkan virus mematikan pada keluarga Arab Saudi sendiri, Bin Laden. aura politik simpati dan tebar toleransi adalah salah satu bentuk yang harus diketahui dan dimengerti dunia ‘Islam’, terlebih interpol Indonesia yang kerjanya tidak punya independensi terhadap negeri ini. kabarkanlah mereka kaum ‘Awam’ yang selalu menjadi korban.

#20. Dikirim oleh ochidovsky  pada  16/02   07:21 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?