Editorial,
08/08/2008

Kontradiksi dalam Cara Berpikir Abu Bakar Ba’asyir

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling konsisten mengikutinya.

08/08/2008 11:04 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (152)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 8 halaman 1 2 3 >  Last ›

Membaca esai Mas Ulil ini membuat pemahaman agama saya bertambah luas sekaligus lebih mendalam. Pola pikir kaum puritan/salafi spt Ba’asyir memang semakin menyempit dan akan mengkerdilkan ajaran Islam yang adaptif dan akomodatif thd setiap kemajuan zaman.

#1. Dikirim oleh Yaris Saputra  pada  11/08   05:51 PM

Setujuuuuuuuuu Buangeetttt Mas Ulil, Biar pada melek semua.

#2. Dikirim oleh Nurcahaya  pada  12/08   04:41 AM

Saya sangat setuju sekali dengan artikel ini, biasanya orang-2 yang sikapnya seperti itu akan cepat hilang ditelan masa…

#3. Dikirim oleh wira_sumita  pada  12/08   04:54 AM

Tulisan kang Ulil kali ini seperti membuka lembaran lama tentang “pertentangan” antara kang Ulil dengan para pendukung wahabi diindonesia. Saya berharap diskusi ini terus berlanjut, ada tanggapan dari pihak lain sehingga pencerahan bisa terus berjalan. Bagaimana saudara Basyir, ada tanggapan ttg tulisan kang Ulil ???. Kami butuh pencerahan.

#4. Dikirim oleh Abu Sulthan  pada  12/08   05:58 AM

INILAH CARA BERFIKIR YANG ADIL:

A. Cara berfikir Sdr. Ulil Abshar-Abdalla:
1. Yunus (10) ayat 100: SEKULARISME (AKAL)
2. Al Kahfi (18) ayat 29: LIBERALISME (BEBAS)
3. Al Baqarah (2) ayat 148: PLURALISME (DAMAI)
4. An Nisaa (4) ayat 1, Al Hujurat (49) ayat 13: MODERATISME (SALING MENGERTI).
5. An Nahl (16) ayat 125, Al Isro (17) ayat 28, Al AnKabut (29) ayat 46: CARA DAMAI MENYELESAIKAN PERSELISIHAN PERBEDAAN PERSEPSI AGAMA.

B. Cara berfikir Abu Bakar Ba’asyir dan sebangsanya, menurut hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad, hujjah kitab suci-Nya:
1. AT TAUBAH (9) AYAT 97: ORANG-ORANG ARAB ITU LEBIH SANGAT KEKAFIRANNYA DAN (LEBIH SANGAT) KEMUNAFIKANNYA, dan lebih wajar apabila mereka (ORANG-ORANG ARAB) tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya (An Nahl (16) ayat 125, Al Isro (17) ayat 28, Al Ankabut (49) ayat 46). Dan Allah Maha Mengetahui (SIAPA ORANG ARAB dan siapa orang Indonesia pribumi asli yang berbudi luhur sejak nenek moyangnya) lagi Maha Bijaksana (terhadap Ulil dan bangsa Indonesia tidak divonis Allah oleh At Taubah (9) ayat 97).
Pertanyaannya yang aneh adalah: MENGAPA PRIBUMI YANG BERBUDI LUHUR MAU SAJA MEMBEBEK SEPERTI KERBAU DICUCUK HIDUNGNYA OLEH Abu Bakar Ba’asyir, Habib Muhammad Rizieq Syihab, dan sebangsanya, sesuai dengan argumentasi ayat-ayat tersebut diatas yang terkuat dari kitab suci-Nya.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3.

#5. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  12/08   07:00 AM

Sebuah kritik yang berbobot.Saya rasa mayoritas umat Islam di tanah air juga tidak sepakat dengan dikhotomi Islam Vs Modernisasi spt yang dikampanyekan kaum radikalis. Saudara-saudari Muslim sendiri harus mempelajari sejarah mereka dan menyadari bahwa justru Islam lah yang ‘memulai’ modernisasi. Modernisasi yang ‘islami’ akan membawa hal-hal yang positip baik kepada agama Islam maupun kepada wajah modernisasi itu sendiri.Jalan mundur ke ‘periode awal’ itu hanya mimpi dan ilusi, yg kadang diimingi hadiah ‘surgawi’. Lebih baik realistis! Tingkatkan pendidikan dalam segala aspek, agar SDM semakin ‘bermutu’. Di atas fundamen manusia-manusia yang berkualitas itulah sebuah agama atau iman yang berkualitas akan kokoh juga!

#6. Dikirim oleh Hozman Flahirad  pada  12/08   07:24 AM

Konstruksi pemikiran yang dikedepankan mas Ullil ini kayaknya perlu disosialisasikan secara luas. Agar umat Islam tidak terpuruk dalam taqlid buta dan menuhankan dogma- dogma agama. Tanpa rasionalitas religius yang tajam, umat Islam hanya menjadi korban peradaban. Ajaran Islam yang maha agung ini semestinya dikemas dalam format yang lebih civilized dan mampu menjawab tantangan zaman.  Orang- orang semacam Abu Bakar Baasyir dan kawan2 sangat potensial untuk medekonstruksi kesejatian ajaran Islam yang cinta damai….

#7. Dikirim oleh Heryanto  pada  12/08   11:42 AM

Kalau anda katakan Ust. Abu Bakar Baasyir dan MMI adalah salafy, maka jelaslah bahwa pengetahuan anda tentang salafy sangatlah dangkal. Belajar lagi mas. Jangan2 saat anda menggunakan istilah salafy, aswaja, syiah, sunni, sururi, assyairiah, dll, anda sendiri tidak paham makna dan pemahamannya.

#8. Dikirim oleh Lutfi  pada  12/08   11:53 AM

Nabi ga di kubur selama 3 hari…??
makasih atas informasinya mas ulil…
berfikir dengan nuansa terbuka begini memberikan nilai tambah….

#9. Dikirim oleh Ali Akbar  pada  12/08   01:38 PM

1. Segolingan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka sebernya tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. ( Ali Imran : 69)
2. Hai Ahli kitab mengapa kamu mengingkari ayat2 Allah padahal kamu mengetahui kebenarannya. (Ali Imran : 70)
3.  Hai Ahli kitab mengapa kamu mencampuradukan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahui. (Ali Imran : 71)
4. Segolongan lain dari Ahli kitab berkata pada sesamanya “ Perhatikanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang2 yg beriman (sahabat-sahabat rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka orang2 mukmin kembali pada kekafiran. (Ali Imran : 72)
5. Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan ada yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkita, supaya kamu menyangka yang dibacanya sebagian dari Alkitab, padahal itu bukan dari Alkitab dan mereka mengatakan ‘ia yang dibacanya itu dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta kepada Allah, sedangka mereka mengetahui. (Ali Imran : 78)
6. Dan janganlah kamu campuradukan yang Haq dengan yang Bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang Haq itu sedangkan kamu mengetahui ( Albaqarah : 42)
7. Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri dari kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab, maka tidakah kamu berfikir? ( Albaqarah : 44)

#10. Dikirim oleh Lokita  pada  12/08   04:31 PM

sdr ulil dan Soegana Gandakoesoem,

pemikiran anda berjalan di atas Al-Quran & As Sunnah nabi. itu pemikiran yg salah. Al-Quran & As Sunnah harus di atas pemikiran. Arti nya kita harus berpedoman terhadap kedua hal tersebut. Banyak ayat2 Al-Quran menyuruh kita untuk mencari pembuktian kebenaran nya. Jadi Akal ikut Al-Quran & As Sunnah jangan di balik Al-Quran & As Sunnah ikut Akal. Pencarian ayat-ayat Al-Quran & As Sunnah di kaitkan jangan di potong-potong ambil semau yang Anda Sukai.Itu namanya Korupsi.

Wassallam

#11. Dikirim oleh dody  pada  13/08   05:45 AM

semoga makin banyak orang yang berpikiran seperti mas ulil sehingga islam menjadi kelihatan ramah

#12. Dikirim oleh muhlutfie  pada  13/08   04:51 PM

Abu Bakar Ba’asyir(ABB), Saya tdk sepenuhnya sependapat dgn cara berpikir mas Ulil, Tapi mengenai kelompok atau cara berpikir semodel ABB itu juga berbahaya karena mungkin dia akan mengangkat dirinya sendiri sebagai imam jama’ahnya, selanjutnya terserah anda???. Mau dijadikan gaya salafi atau apalah istilahnya, yg jelas pengikutnya kasihan juga harus ikut pemikiran si ABB ini. Setelah dicuci otak jangan-jangan dijadikan “teroris gaya baru”. Karena kata saktinya “SESUAI AL QUR’AN dan SUNNAH”, dan tunduk patuh pada IMAM ABB. Ya wajar Ummat Islam umumnya menyalahkan sesuatu diluar dirinya atas ketidakberdayaannya dalam persaingan global saat ini, dan ujung-ujungnya “NII juga booooo”.

#13. Dikirim oleh Danny  pada  13/08   10:14 PM

abu bakar tu orang munafik…kalu dy punya otak n pake nurani knapa dy dukung tu para pengebom bali,,pake otak donk,,kalau lu pade dukung tu amrozy cs, sama aja lu mengungkapkan bahwa islam itu agama pembantai,,,membunuh dengan alasan agama itu ajaran islam kah??,,kalau kw membunuh mereka sama aj lu seperti mereka yg kafir,,ustad kalau ngomong di tv pake otak y jangan pake IQ Jongkok…ingat ,,,MEMAHAMI ALQURAN HARUS MEMPERTIMBANGKAN KONTEKS!!! KARNA SEKARANG BUKAN LAGI ZAMANNYA BUNUH-MEMBUNUH….GOBLOK…..!!!!!

#14. Dikirim oleh ahmad hamid  pada  13/08   10:20 PM

bro pade baca ne kasusu ye..
1. July 25, 2008 - Seorang Muslim meninju istrinya di tempat parkir, sampai mematahkan hidungnya dan berceceran darah, karena si istri melepaskan jilbabnya karena alasan ‘kepanasan’ saat berlibur di Marseilles. Si suami dikenakan hukuman penjara yg ditangguhkan 18 bulan oleh pengadilan.

Nassakh Ali, Muslim 30 thn asal Aljazair, masih membungkam di tahanan.

Sang istri tidak menuntut kompensasi dan hanya ingin ‘pulang kembali ke
Lille dan mengadakan refleksi diri.’ (http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=27040)

2.  Aliansi lembaga swadaya masyarakat anti politisi busuk di Mataram, Control (Center for Electoral And Parliament Monitoring and Analysis) menerima pengaduan tiga santriwati yang mengalami pelecehan seksual oleh seorang ustad calon legislatif (caleg) nomor urut jadi dari sebuah partai Islam di kota Mataram ( http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/nusatenggara/2004/03/08/brk,20040308-06,id.html)

#15. Dikirim oleh mamad  pada  13/08   10:36 PM

gusys baca ini y…(buat para ustad bajingan )
sikap atau akhlaq adalah modal luhur yang akan dijunjung suatu pesantren, dimana mana!!! hampir seluruh pesantern mengklaim seperti itu,, tapi apa yang terjadi dengan pesantern kita selama 2 tahun kebelakang, kebobrokan akhlaq sedang terjadi coy, alumni bandung persis 76 angkatan 2005 atau bisa kami sebut “Alba 05 persis76” telah melakukan penelitian 6bulan terakhir, memberikan tesis bahwa selama 2 tahun kebelakang ternyata masyarakat santri asrama sudah banyak yang terjerembab masalah narkoba, dan minuman keras serta pelecehan seksual,, kondisi ini membawa dampak buruk terhadap pesantren kita dimata masyarakat, saya risih melihat fenomena semacam itu,, ketika pesantern kita mengagungkan fasilitas yang diberikan tapi keadaan akhlaq santri sekarang yang sedang terjadi tidak sesuai dengan visi pesantren kita. apakah itu pesantren kita???? pertanyaan besar muncul…....,,sikap ustad yang super cuek dan cenderung membiarkan, apakah itu seorang pendidik???? ataukah hanya menumpang kerja yang tidak memperdulikan santrinya mau seperti apa,, sisten yang ada pun harus di rekonstruksi ulang demi mewujudkan visi pesantern kita,, kalo kita ukur, berapa para alumni yang siap terjun ke masyarakat hingga saat ini??? hanya bisa teritung oleh jari, bos!!! akan dikemanakan alumni itu???? pengayom masyarakat atau hanya boneka masyarakat belaka dengan predikat “pesantern persis”,, mari kita sama sama memberikan kritik oto kritik serta masukan tentang kurikulum dan penataan stratak pengasuhan pesantren!!!! siapa yang mau ikut kita “Alba 05 persis76..(lebih lengkap——->http://www.persistarogong.com/web/viewthread.php?toid=20&taid=10&fid=20)

#16. Dikirim oleh mamad  pada  13/08   10:42 PM

Untuk kalian para pemuja Abu Bakar Ba’asyir and his gank, kalian terlalu lama berislam dengan “kacamata kuda”. Dunia pikir antum hanya seluas pandangan kuda. Lurus, karena memang alternatif lain tertutup-gelap. Makanya, ente lalu terkaget-kaget saat orang-orang macam Ulil mengajukan pikiran alternatifnya. Ente pun, seperti biasa, menyebut dia sesat, kafir, korup dan lalu memaksanya bertobat. Juga, kalian para pengagum Ulil sak konco-koncone, tetaplah berpikir kritis. Jangan serta-merta membebek setuju, kagum, lalu memamah-biak ide-ide dia. Sadarilah, Ulil itu lewat ide-idenya justru ingin ente itu bersikap kritis dan tetap selalu merawat nalar sehat. Termasuk kritis ke dia! Berendah hatilah dalam berislam, wahai saudaraku. Kebenaran di tanganmu hanyalah kepingan cermin besar kebenaran yang Tuhan punya, ketahuilah orang lain juga memiliki kepingan dari cermin yang sama. Jadi, jangan saling menusuk dengan kepingan kaca itu. Jangan saling menegasi. Saling berkontestasilah secara terhormat! Semoga degan begitu Allah berkenan mempertemukan ente semua, juga Ulil dan Ba’asyir, denganku di surga. Allahu Akbar!

#17. Dikirim oleh Aula Tubtu Min Wahhabi  pada  14/08   08:21 AM

. ..wahai sodara sebrowsing,sudilah kita check upkan dulu penyakit WAHN (penyakit cinta dunia +takut MATi)kita. Sterilkan dulu virus2 sekulerism dalam kita.Perbedaan adalah indah,masalah furu` jgn sampai menjadi perpecahan manusia2 Indonesia khususnya.
*sodara Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3,Pertanyaannya yang aneh adalah: MENGAPA MUSLIM YANG BERBUDI LUHUR MAU SAJA MEMBEBEK SEPERTI KERBAU DICUCUK HIDUNGNYA OLEH Ulil Abshor ABDOLO (tahi mata),Gus Dhor (buta mata &hati;) dan sejenisnya??
Mari kita tempatkan Qur`an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW diatas akal dan okol.Terimakasih

#18. Dikirim oleh mas fallon  pada  14/08   04:04 PM

Ulil, kalo anda ingin tahu pemikiran Abu Bakar Ba’asyir, mbok klarifikasi dulu. bukankah orang bodoh itu suka berbicara tanpa bukti.
Anda “bersatu” karena
- dasarnya anda tidak suka islam tegak.
- Anda suka mencela sahabat
Tidak semua perpecahan menunjukkan kerapuhan. tidak semua jumlah masa yang besar menunjukkan kejayaan.
jayanya umat tergantung konsistennya terhadap syariat Islam. tunggu tanggal mainnya kamu yang terbunuh atau kami yang syahid. pengusung syariat Allah dari dulu tetap ada sampai sekarang dan yang akan datang. Anda harus Ingat, Khilafah telah lama menguasai bumi. hanya sebentar saja ia menghilang, pasti kan kembali.

#19. Dikirim oleh Rozaq  pada  14/08   07:23 PM

benar berani berpikir kritis memang mencerahkan, tetapi berani berpikir obyektif justru tidak menyenangkan. tidak banyak orang mampu berfikir kritis sekaligus obyektif, termasuk didalamnya Ulil. berpikir kritis terhadap kayakinan atau idiologi “lawan” halusnya mereka yang berbeda, memang mudah seperti kata pepatah “gajah di pelupuk mata tidak terlihat tetapi kuman diseberang lautan terlihat”, tetapi berpikir kritis terhadap idiologi sendiri adalah hal yang mustahil.beberapa kritik yang ditulis Ulil diantaranya memang benar, sayapun mengakui. tetapi ada beberapa kritik ulil yang tidak akurat, seperti konsep masyarakat yang didirikan Nabi di Madinah. secara formal Nabi tidak pernah mendeklarasikan daulah atau negara, tetapi melihat konsep dasar negara seperti adanya teritorial, penguasa dan umat (rakyat) yang diatur secara formal dengan adanya otoritas perintah yang ditaati telah menunjukkan bahwa umat yang dibangun Nabi telah sepadan dengan konsep negara saat ini. begitu pula ijma’ sahabat terhadap pentingnya memilih kepemimpinan pasca Rasulullah, walau secara teknis mereka masih berijtihad untuk memilih siapa pengganti Rasul, menunjukkan bahwa eksistensi umat Islam dengan kepemimpinannya seperti itu telah menjadi bagian agama. ulil tentu bisa membayangkan apa jadinya apabila Islam saat itu tidak dikawal dengan institusi politik? terkait persoalan kedaulatan, secara mendasar sangat jelas perbedaan anatara sebuah sistem yang dibangun berdasar kedaulatan rakyat dan kedaulatan Alloh. dalam sistem yang berdasar kedaulatan rakyat, kriteria kebenaran adalah pada suara mayoritas. produk hukum atau tata nilai apapun selama telah disepakati secara mayoritas maka ia telah menjadi kriteria kebenaran yang legal. meskipun sangat bertentangan dengan nilai2 lain, seperti naluri biologis maupun nilai2 moral keagamaan. ambil contoh yang lagi marak, kawin sesama jenis. menurut sistem demokrasi, seperti telah banyak berlaku di negara-negara kiblat Ulil, perkawinan tersebut sah apabila diikuti atau diterima secara mayoritas. padahal secara biologis saja, hal itu sangat bertentangan dengan fungsi dari perkawinan itu sendiri yaitu memelihara kelangsungan spesies manusia. apalagi kalau diukur dengan kriteria agama.sementara dalam sistem yang berdasar kedaulatan Alloh, yang menjadi kriteria kebenaran adalah ketentuan-ketentuanNya. meskipun ketentuan itu sangat tidak disukai manusia seperti Ulil dan konco-konconya.disinilah saya-pun tidak bisa menafikan kebaikan dari demokrasi yaitu secara teknis prosedural bukan pada filosofinya. terutama pada peran kontrol masyarakat terhadap berlangsungnya kekuasaan. persoalan itupun saya tidak perlu silau dengan konsep-konsep ulil yang tidak pernah kritis ketika mengimpor dari Barat. karena sejarah Islam telah memberikan dasar-dasar keteladanan yang luar biasa, sampai-sampai pranata sosial saat itu tidak mampu meneruskan karena terlalu modern dan jauh dari kebiasaan yang telah ada, seperti pengakuan Robert N Bellah yang sering di kutip Cak Nur.
saya tidak percaya apabila Ulil mampu berpikir kritis sekaligus obyektif, bukankah selama ini kekritisan itu hanya tertuju pada lawan-lawan idiologi Ulil? saya tunggu kalo ulil mampu membuktikan…..........

#20. Dikirim oleh Alf_ant  pada  15/08   11:34 AM
Halaman 1 dari 8 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?