Kontradiksi dalam Cara Berpikir Abu Bakar Ba’asyir
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling konsisten mengikutinya.
Komentar
Ciri-ciri penganut Islam fundamental tuh kalau sudah kepepet pendapatnya pasti kembali ke alam gaib ; Surga, neraka, akhirat, setan, iblis, bidadari, malaikat, dsb. Kalau tidak kepepet, yang namanya studi-studi tasawuf (nota bene mempelajari kegaiban) pasti diharam-haramkan. Hal itu tidak akan ditemui pada penganut islam liberal yang lebih menghargai perbedaan. Tapi saya pikir-2 lagi, mungkin dengan menegakkan hukum islam atau syariat islam atau jihad ala teroris mereka pikir entar mati otomatis bisa ketemu bidadari. Terus yg liberal tidak bisa ketemu bidadari atau malah dipanggang di neraka. Waduh, saya tambah pusing. Kata teman saya (yang atheis), kalau kita dipanggang di neraka, seberapa besar ntar panggangan dan tungkunya, terus yang manggang siapa, pusing pusing…
Assalammualaikum
Sudah ada 46 komentar, satu pihak memberikan dukungan atas penggunaan akal didasarkan akal yang diberikan Allah, di lain pihak menhujat.
Bukankah Religion itu di turunkan melalui hati nurani mengharapkan kedamaian dan kesejukan dalam menghirup udara kehidupan. Tidak ada satu agama yang yang menganjurkan kebencian dan menghentikan kehidupan sesorang.
Allah yang menguasi semesta alam (yang belum terjangkau oleh akal seberapa luas), dan tidak pernah ada satu kitab sucipun menginformasikan bahwa di planet luar yang di sono itu ada kehidupan yang merekapun menyembah Allah. Jadi yang sekarang selalu diributkan adalah Allah menurut pikiran manusia saja, lebih sebelnya menurut kata dewek.
Jadi marilah kita berbesar hati akan renungan buah pikir seseorang yang mengutarakan kesejukan dan kedamaian kehidupan bersama. Marilah kita gunakan energi untuk kemajuan bangsa, sehingga dalam kita merenung tidak dengan perut kosong, otak seadanya, istirahat/tidur nyaman.
Sekian, mohon maaf atas ketidak tauanku.
Wassalam
H. Bebey
Essay singkat yang cukup baik Mas Ulil, tampaknya saya tidak perlu berkomentar lebih lanjut karena sudah tersampaikan di ulasan sebelumnya ![]()
Assalamualaikum Bung Ulil yang selalu banyak dikomentari artikel2 artikelnya.
Sampean jangan ngritik thok dunk, kasih solusi yang solutif gitu. Argumen, data, dan logika sampean memang (kebanyakan) masuk akal. Tapi kalo sampean terus2an jadi kritikus an sich, jangan2 ntar malah nasib sampean kayak Syekh Jenar (versi Abdl Munir Mulkhan, Zoetmulder dsb). Bahwa Jenar tu dianggap “sesat”, karena ngajarkan ilmu yang belum waktunya diajarkan. Ngritik Bintoro of Demak, yang kadung jadi rezim.
Gitu ja. Maaf kalo saya gak pinter kasih argumen yang logis, ayas hisam rajaleb. Moga Allah ngasih rahmat berupa petunjuk buat pean. Amin.
Organisasi Islam garis keras model MMI,Hizbut Tahrir teriak2 pengin menegakkan khilafah Islamiyah,Organisasi Islam yang katanya moderat para elit ulamanya sibuk berantem menyalurkan syahwat politiknya,trus kpn mereka mau ngurusin umat Islam yang makin miskin& terbelakang?kalo dipikir lagi bnr cara alm.Pak Harto dlm memberlakukan organisasi2 yang katanya Islami ini begitu masuk ranah politik langsung dibabat biar ulamanya ngurusin umat n gag mikirin perut dan kekuasaannya sendiri
kalo gak sama-sama pedes, kayaknya gak bakal dibaca nih artikelnya… Seru..!!
Saya sependapat dengan dengan Bung Ulil bahwa kita harus menggunakan akal sehat dalam beragama. Karena memang itulah kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain. Bahkan anjing pun mampu berpikir walau hanya skala kecil. Geli juga mendengar doktrin yang justru membungkam akal pikiran ![]()
Jadi, tidaklah seharusnya agama itu malah menyempitkan sudut pandang dan mengkerdilkan pikiran manusia. Agama seharusnya membuat orang mau mempergunakan akalnya dengan baik dan benar.
mang ulil memang pintar,berargumen dengan bukti-bukti yang konkret,tapi boleh dong sekali-sekali berpikir dengan mengedepankan iman bukannya akal. oke….
ba’asyir menghancurkan islam dari dalam dan mencoreng islam di mata dunia
bravo JIL
Saya lucu juga rasanya ngebaca beberapa komentar yang ada! Tulisan Bung Ulil ini semata mengkritik pola pikir manusia yang beragama Islam, bukan mengkritik Islam.
Tapi beberapa komentar justru memposisikan seolah Bung Ulil sedang mengkritik Islam!
Sungguh cara berkomentar yang aneh!
” kalo ga tau tentang islam ga usah ngomong deh yang kalian tau cuma nyalahin kesalah oranglain coba antum liat diri sendiri,
Mas Ulil….teruskan perjuanganmu…krn dr JIL-lah aku melihat wajah ISLAM yang ‘RAHMATAN LIL ALLAMIN” sesungguhnya.
Ulil Abshar,analisis yang tajam, menohok ke jantung.kritik yang amat pedas. Memang umat Islam harus lebih banyak belajar dan membuka cakrawala pemikiran Islam dan tidak melulu ikut-ikutan tanpa belajar dan membuka diri dengan dunia luar.
Dari seluruh sejarah islam (mulai jaman nabi sampai para sahabatnya) yang kita ketahui terkandung nilai ajaran dan nilai tradisi.
Dari dulu tiap faksi dlm Islam mempertentangkanya. faksi salafi lebih besar nilai ajaran daripada nilai tradisi (mungkin perbandingan 70:30), faksi modernis mungkin sebaliknya (30:70)
yang jelas semua itu adalah islam, semangatnya adalah persatuan bukan saling ejek apalagi saling perang
Asal jangan 100:0, itu berati kita harus time travel pada jaman nabi
aslm..
kalian semua bisanya mengomentari,membanding-bandingkan orang…,cobalah kalian semua introspeksi diri kalian….,sejauh mana kalian mendalami berbagai disiplin ilmu..baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan teknologi,sekali lagi jangan hanya bisa soal ini itu,..yang penting berpikirlah bagaimana cara orang Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ekononmi,IPTEk dll..,INGATLAH WAHAI TOKOH-TOKOH pelajari ilmu2 dasar karena hal itu sangat penting jangan hanya bisa sesumbar saja,coba amalkan IPTEK anda untuk negeri tercinta INDONESIA,jangan kalian saling caci memaki…..
Ass.wr wb.
PODO “BENERE” :
Mas Ulil bener, Ustdz Abu juga tidak salah, kalau diukur pake ukuran bajunya masing2.
SILATURAHIM
Mas Ulil, aku punya usul ya. kalo enggak salah mas kan sangat demokratis to? Bisa enggak JIL minta Ustdz Abu untuk nulis di web ini, biar kita para pembaca bisa menikmati sajian “lain” selain suara JIL. Pasti Rame, berantem dan pokrol? Pastilah.. Percuma ? Tidaklah…Yang jelas tanpa silahturahim, kapan bisa: saling jabat tangan, saling pegang bahu, kan tujuannya memajukan, membangun umat Islam biar jadi rahmatan didunia to semuanya ?
KOMENTAR MIRING
Komentar miring ttg mas Ulil dan Usadz Abu, ya bener2 aja, ini kan demokrasi, tapi gak ada gunanya. Gak ada solusi bersama, adanya cuma dengki dan permusuhan gak ada ujung lorongnya. Bahase Inggrisnya… ngrebutin pepesan kosong, cuma bikin rumput bergoyang doang.
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa…..
“Ya ALLAH Puasa ini untuk-MU, untuk melindungi ruh yang Engkau titipkan di kalbuku,sucikan jiwa kami, ajari kami keikhlasan” Amien.
Wass.
Ada kelompok yang menganggap semua sesat kecuali dia, ada kelompok yang mengatakan ga ada yang sesat di dunia ini (termasuk yang membolehkan anaknya kawin dengan ibunya sendiri. karena sesuai dengan HAM.
boleh juga cara berpikir mas Ulil..jeli juga…tapi ini bukan berarti saya membenarkan karena untuk membenarkan perlu membaca secara lebih runut tulisan mas Ulil dan kejadian Abu Bakar Ba’asyir keluar dari MMI.
demokrasi memang membutuhkan kesabaran..tapi sekaligus ketegasan..sangat tegas dan harus mau mengakui apabila pendapatnya ternyata kurang pas dikemudian hari.
tidak perlu saling hina-ejek-bunuh-memurtadkan karena yang paling benar cuma Allah SWT…tul nggak kawan-kawan.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya pertama kali masuk ke site JIL jadi mohon maaf bila komentar saya ada yang tidak tepat.
Dalam setiap perbedaan pasti ada pelajaran baru. Masalahnya di negeri tercinta kita ini masih banyak anggapan bahwa Islam adalah Arab dengan argumen bahwa Al Qur’an di turunkan dengan bahasa tersebut maka selain (budaya) Arab adalah tidak islami. Sehingga bila ada orang yang berbicara dengan pendekatan budaya lain otomatis akan dianggap kafir. Celakanya ulama2 sekarang sudah mulai meninggalkan akulturasi budaya yg dirintis para wali dan saudagar2 muslim dalam memperkenalkan Islam di nusantara ini dan dengan serta merta berusaha memaksa agar budaya Arab dijadikan legitimasi kemusliman seseorang.
Andai saja Rasullulah bukan orang Arab tetapi orang Jawa, Andai Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Melayu, Andai komunitas muslim terbesar ada di Amerika dan Indonesia ini mayoritas adalah non muslim dan kita lahir di Indonesia dan sayang ini hanya seandainya.
JIL bila saya lihat secara prinsip mungkin memiliki tugas untuk melatih nalar seorang muslim tetapi (maaf) bila memakai kata Liberal maka persepsinya (untuk saudara2 muslim yang baru belajar Islam) berarti Amerika yg berarti juga kafir. ada sebuah situs yang kebetulan memuat hal tersebut diantaranya tulisan saudara2 kita di http://www.hudzaifah.org. Saya pun tidak akan menyalahkan mereka. Tugas saudara2 yang mendapatkan hidayah Allah SWT dengan ilmu yg dimilikinya untuk membuka pikiran saudara2 yg masih berkutat pada pemikiran Islam is Arab dan Arab is real Islam. Untuk kata Liberal please ganti misalnya Islam The Truth (seperti judul buku ya hehehe). Sukses untuk Saudara2 di JIL. Allah selalu bersama kalian.
Komentar Masuk (152)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)