Editorial,
31/08/2008

Kritik atas Argumen Aktivis Hizbut Tahrir

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Maslahat bersumber dari konteks sosial. Jika dalil agama bertentangan dengan konteks sosial, maka konteks harus didahulukan di atas teks agama. “Mendahulukan” di sini, dalam pandangan Thufi, bukan berarti membatalkan dan menganulir sama sekali dalil agama. Sebaliknya, konteks sosial dianggap sebagai “pentakhsis” atau spesifikasi dan “bayan” atau menerangkan teks atau dalil agama yang ada.

31/08/2008 11:25 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (207)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 11 halaman 1 2 3 >  Last ›

Meski agak membingungkan tetapi cukup mencerahkan. Beruntunglah orang yang mau melihat tanda2 kebesaranNya.
Jangankan konteks sekarang, konteks dahulupun bisa berbeda. Interpretasi sahabat atau murid Rasullullah bisa berbeda terhadap Qur’an, maupun hadis, maka muncullah sekian banyak golongan, yang memang golongan itu sudah ada sejak jaman nabi.Sebagai pengikut utama Nabi pasti debelakang mereka juga ada sejumlah pengikut lagi. Semacam kelompok kelompok(kabilah).
Di sinilah pentingnya “komunikasi langsung” dengan Allah dan Rasulnya untuk mencari kebenaran.Ruang inilah yang selama ini tertutup dan jarang dibuka.Kecuali yang berkaitan dengan keputusan -keputusan sosial. Selama situasi sosial menerima, tidak ada yang dipaksa, tak ada diintimidasi, jadi lah apa yang kita sebut norma/konvensi/atau hukum. Bukankan Allah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Salam

#1. Dikirim oleh abu kusuma  pada  04/09   02:23 PM

Aku setuju banget dengan pendapat anda bung.Sering2 aja buat pencerahan.

#2. Dikirim oleh ahmad asy syaukani  pada  04/09   04:42 PM

kritik ini men-disclosure fakta ekstrimisme islam sebagai yg memusuhi sejarah…dengan demikian, menjadi muslim dng perspektif ekstrim (semisal HTI) berarti menempatkan diri sbg musuh dari dunia-hidup…sekaligus terasing darinya. Alih-alih memakmurkan dunia dengan khilafah, justru yg akan terjadi adalah permusuhan abadi dengan sejarah karena sejarah itu sendiri takkan pernah bisa diprediksi kapan berakhirnya… Saya kira hukum yg baik adalah wahyu yg menyejarah, atau semacam ‘zeitgeist’, yakni kesadaran akan keniscayaan sejarah yg tak bisa diingkari, yg muncul dalam kerangka memperbaiki yg kurang/tidak/belum terwujud dari fundamen kekinian kita…so,bukan hukum namanya jika malah mengalienasikan person/subjek moral dari kekiniannya…dari dunia-hidup’nya. Allah al-Haqq a’lam….

#3. Dikirim oleh tijany  pada  04/09   07:01 PM

Dari kenyataan yang ada dapat kita simpulkan, sesuai dengan hadis nabi, sebenarnya sedikit sekali orang Islam yang sebenarnya (banyak yang mengaku agamanya Islam tapi menginjak-injak sendiri ajaran agamanya / munafik) itulah yang harus dikritik atau di koreksi bukan ajarannya yang memang harus begitu.  Kalau kita balik lagi kita lihat fakta, sudah ada bangunan masjid yang berarsitektur klenteng, tapi adakah klenteng berasitektur masjid, ini kan menunjukkan mereka yang memiliki prinsip hidup klenteng lebih kuat memegang prinsipnya dari pada yang berprinsip masjid.  Sudah tahu begitu kuatnya prinsip mereka, malah sekarang banyak yang membelanya, artinya yang membela itu yang termasuk sama prinsipnya (tidak punya pendirian) alias munafik, ya itulah fakta kualitas umat Islam, jadi yang begilah kenyataannya sedikit sekali orang-orang yang benar-beanr beragama islam (berprinsip Islam), makanya kenyataan dunia sekarang ini semakin rusak (kata mereka semakin maju, alias membangun padahal sebenarnya mereka merusak Baca Global Warming, solusinya tidak lain adalah hidup sederhana sebagai acuan utama dari akhlak mulia, makanya ada hadis tanda kiamat adalah hamba sahaya yagn berlomba mendirikan bangunan yang tinggi, kenyataannya yagn mempraktekkan ajaran ini adalah orang hindu di Bali, kita umat islam sendiri menginjak-injak ajaran agama kita sendiri, dan masih banyak ajaran lainnya yang kita tidak mengimaninya).
Kembali ke pokok inti ajaran agama Islam dan sebenarnya juga merupakan inti semua agama samawi di dunia. Dapat kita lihat dari nama kitab suci Islam sendiri: Bacaan Mulia.  Mulia disini bukan kemuliaan seperti yagn anda maksudkan seperti kemuliaan Raja Firaun (Banyak kekuasaan dan harta bendanya seperti bangunan,seni, budaya dan bahkan persenjataannya, begitu juga Kemuliaan Raja Romawi atau Kemuliaan Bahu Jahal atau Abu Sofyan, tapi kemuliaan seperti nabi Musa, Isa dan Muhammad SAW, yaitu Kemuliaan Akhlak. Sebagaimana Sabda beliau Tidaklah aku di utus untuk menyempurnakan kemuliaan Akhlaq.  Itulah prinsip semua agama yang benar.  Jadi dari situ kita bisa melihat prinsip agama mana yang benar yang bisa menjadi kompas bagi kita untuk mengarungi kehidupan dunia ini. Inilah sebenarnya yagn bisa menanggulangi ancaman terbesar penghuni planet bumi ini atau yagn disebut Global Warming.
Kalau kita menerapkan ajaran agama Islam yang murni (dengan yakin dan benar-benar mempraktekkannya) itulah yagn bakal pantas mendapat gelar Rahmatan Lil Alamin, dan itulah sebenarnya solusi dari ancaman global Warming.
Tapi kalau kita yang hanya mengaku beragama Islam tapi prinsip yagn di ambil dan kelakuan yagn dilakukan sama dengan orang yang tidak percaya agama Islam atau munafik, ya keadaanya seperti saat ini, yang namanya Islam rahmatan lil alamin gak bakal terwujud.

Jadi intinya agama adalah akhlak - takwa - moral - akal sehat - yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, itulah yagn menjadi sentra agama islam.  Namun memang pada setiap tubuh manusia, didalamnya ada setannya (terbuat dari api kalau sekarang namanya energi yang bertugas menyesatkan manusia).

Manusia yang tersesat pikirannya, seperti anda yang terpukau dengan kemewahan yang anda anggap kemuliaan dunia adalah manusia yang tersesat oleh bujukan setan yang memang menjadi tugasnya sampai akhir zaman.
Makanya dalam Islam sudah diberikan resep agar tidak tergelincir atau tersesat oleh bujukan setan yang merusak (tapi dalam pandangan orang munafik dan kafir adalah membangun, padahal merejka itu merusak) ya harus dilaksanakan amal iabdahnya (karena itulah yagn bisa menangkal energi setan yagn cenderung menyesatkan manusia dari jalan yang benar.  kalau hanya dipelajari saja tidak ada efeknya, tapi harus di jalani seperti minum obat kalau dibaca resepnya saja yang tidak berpengaruh tapi jkalau diminum dengan benar sesuai resep(atau dilakukan) itu akan berperngaruh (hidup adalah perbuatan) itulah yang berpengaruh.
Untuk itu kita harus kembali kepada prinsip agama islam yang sudah diringkas sendiri dalam hadis atau dikenal dengan Islam, iman dan Ihsan. Itulah Trilogi Kemuliaan Akhlaq, dengan Trilogi Islam itu, dipastikan setan pasti terbelenggu dan sempit jalannya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar (fitrah) yang rahmatan lil alamin, sehingga ancaman kerusakan dunia tidak bakal terjadi, mudah-mudahan, amin.

#4. Dikirim oleh mukhtar effendi  pada  05/09   03:38 AM

Sangatlah menarik ketika kita mengamati fakta-fakta sosial yang terjadi disekitar kita dan kemunculannya yang kadang kala bertentangan dengan hukum-hukum agama menurut saya juga merupakan hukum Tuhan yang akan selalu ada mengiringi peradaban manusia sampai kapanpun, jadi tidak perlu takut mendahulukan fakta-fakta sosial yang selalu berubah-ubah sebagai landasan hukum, karena sejarah kehidupan manusia itu sendiri juga telah membuktikan hal-hal tersebut. Justru agak aneh dimata saya, ketika dalil-dalil hukum agama harus dipaksakan sehingga justru menjauhkan umatnya dari realita sosial yang ada, dan akibatnya hukum-hukum agama menjadi kelihatan naif dan janggal, dan akhir kata sebagai orang awam sebuah pertanyaan selalu muncul dibenak saya yaitu apakah apakah jalan ke syurga hanya bisa ditempuh dengan dengan agama yang kaku dan tidak peduli pada keadaan sosial…........?

#5. Dikirim oleh Alfi  pada  05/09   05:32 AM

Assalamu alaikum.
Mas Ulil sekali lagi memberi pencerahan….. Fakta mengatakan bahwa tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Disana terkandung arti didunia ini ada banyak budaya dan tatanan sosial sebanyak bangsa/suku yang ada. Tantangannya adalah sebagai muslim kita bisa membuat islam masuk dalam suatu bangsa/suku dan tatana sosial dengan tetap menghargai budaya, tatanan soaial di tempat dimana islam berada

#6. Dikirim oleh Abu Sulthan  pada  05/09   09:15 AM

menurut pendapat saya, pandangan ulil justru yang keliru bahkan sangat keliru…
kita ambil contoh fakta sosial, sepeda motor bisa dijalankan dengan bahan bakar campuran bensin dan minyak tanah(supaya irit)... fakta sosial mengatakan sepeda motor tetap bisa jalan akan tetapi bagaimana dengan kondisi mesin kendaran tersebut jika terus menerus menggunakan bahan bakar camouran, tak perlu saya jawab karena setiap pemilik kendaraan yang membaca aturan dari parbrik (buku petunjuk) pasti tahu jawabnya.

pertanyaannya , bisakah fakta sosial tersebut mengesampingkan teks dalam buku petunjuk kendaraan????

tanya kenapa??

#7. Dikirim oleh aidam  pada  05/09   09:37 AM

Sering kita lihat baleho HTI “Saatnya khilafah memimpin dunia….”.

Menurut pendapat saya sebuah slogan yang tidak realistis, bahkan cenderung menipu. La mo memimpin dunia itu modalnya itu apa? Semangat dan doa? Bahkan Allah SWT saja menasehati kita, bahwa usaha dan doa harus seimbang. Doanya HTI dan umat ISlam mungkin sudah cukup bahkan berlebih, tapi la kok masih kalah sama barat. KArena apa….ya udah jelas karena usaha kita kurang.

Usahanya apa? Usaha adalah hasil jerih payah kita secara fisik dan mental dan bersifat materialis. Untuk ini diperlukan otak yang cerdas.

Semangat dan doa membutuhkan hati, sedangkan usaha membutuhkan otak yang cerdas.

Slogan HTI diatas jika ditujukan kepada umat muslim saat ini dapat digambarkan sebagai ngojok2i (basa indonesianya apa ya ini), orang pesantren didesa2 yang minim pengetahuan umumnya untuk menjadi teroris.

Logikanya sederhana saja. Memimpin dunia diartikan mereka secara sederhana yaitu menguasai. Menguasai dunia kalo tidak pakek kekerasan lantas pakek apa? Jadilah mereka teroris, karena otaknya sudah nggak nyandak.

Usaha yang cerdas dapat kita lakukan..yaitu dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini satu2nya jalan untuk menang melawan hegemoni barat dan US.

PErtanyaan selanjutnya…bagaimana kita menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yang saat ini dikuasai oleh barat dan US. Jalan satu2nya (nggak ada deh jalan lain) ya..harus baek2 sama mereka.

Ibaratnya umat ISlam ditodong ditengah hutan, sedangkan kita gak punya senjata selain doa. Silakan pilih wahai HTI. KAlo anda memilih bunuh diri karena kebodohan anda sendiri…ya silakan, tapi jangan rayu2 rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia dari dulu sudah pintar memilih, yaitu memilih memperkuat diri menimba ilmu pengetahuan dan teknologi (seperti yang diperjuangkan oleh NU dan Muhammadyah)

#8. Dikirim oleh cogito  pada  05/09   10:39 AM

saya sependapat dengan hal yg telah diuraikan. saya sungguh antusias jika masalah “muamalah” ditelaah secara rasional, karena menyangkut sosialbudaya, bahkan peradaban yg senantiasa mengalami perubahan. bagaimanapun cita-cita kawan2 di HT juga perlu apresiasi, sebagaimana cita-cita kawan2 di “Islam liberalis” ini. perlu diperhatikan, kalau “obyek” kesemuanya itu adalah masyarakat/umat. maka setiap bentuk cita-cita bisa di-manifestasi-kan, bila umat sepakat dengan nilai2 yg ditawarkan tadi. sederhana saja, mana yg bisa memberikan banyak manfaat bagi umat, nilai2 itu-lah yg akan dipegang dan diterima.

#9. Dikirim oleh mahmudbudi  pada  05/09   11:00 AM

Banyak penyimpangan, kekejaman yang terjadi saat konsepsi khilafahan diterapkan, bisa jadi disebabkan oleh kesalahan manusiawi penegak hukum syariat (pemerintah) dan bukan kesalahan dari tataran konsep syariat itu sendiri dan ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam penolakan konsepsi kekhilafahan, melainkan hanya dapat diambil pelajaran atau hikmah saja terhadapnya sebagai fakta sejarah. Argumentasi kewajiban penegakan khilafah, salah satunya, disandarkan pada kaidah ushul ma la yatimul wajib ila bihi fahuwa wajib; dengan menyadari bahwa kewajiban utama ummat Islam adalah ketaatan terhadap hukum syara yang hanya bisa secara mayoritas diterapkan melalui suatu institusi yang dapat menerapkan secara praktis hukum2 syara, maka kekhilafahan sebagai satu-satunya institusi tersebut menjadi wajib untuk didirikan kembali.

#10. Dikirim oleh crtitique  pada  05/09   11:32 PM

Bung Ulil,

Kalau sudah bicara HTI, saya cenderung untuk melihat dari konteks politik. Untuk itu, guna mencapai tujuan politik yang bermuara pada kekuasaan, maka orang bisa saja menggunakan kendaraan tertentu untuk mencapai tujuan tersebut.

Nah, kebetulan mereka menemukan kendaraan tersebut berupa ajaran Islam, yang harapannya di masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam ini akan mendapat dukungan atas tujuan politik mereka yaitu mendirikan negara Islam di Indonesia atau minimal penerapan syariat Islam menggantikan hukum yang ada (meskipun mereka mengaku atau merasa sebagai gerakan non politik).

Bagaimana pendapat anda Bung Ulil ?? Tolong respon ya.

#11. Dikirim oleh Abun  pada  06/09   05:29 AM

Mas Ulil,
Kenapa bisa mashlahat bersumber dari konteks sosial? Kalau ada dalil agama yang bertentangan dengan konteks, kenapa mashlahat bersumber dari konteks sosial?
Kita punya al qur’an dan hadits sebagai sumber pegangan hidup yang menyelamatkan. Mestinya, sosiallah yang harus mengikuti ajaran agama, karena agama (utamanya al qur’an dan hadits) adalah sumber kebenaran mutlak. Yang bertentangan dengan alquran dan sunnah, dialah yang harus dikalahkan. bukannya jika kamu ikuti kebanyakan orang maka akan menyesatkanmu? Pantaskah orang yang melihat minta tuntunan kepada orang yang buta?
Wallohua’lam.

#12. Dikirim oleh taufik  pada  06/09   08:51 AM

Saya justru baru tahu, kalo HTI ternyata punya fikiran seperti itu, setelah baca artikel ini.. Dari atas sampai bawah, kalo memang kenyataannya seperti itu, BUKANNYA MALAH JUSTRU HTI YANG LEBIH BENAR ?? YAA KAAN ? HTI LAH YANG LEBIH BENAR ! GIMANA SIH MAS ULIL ? JANGAN2 SALAH KETIK NIH MAS ULIL.

#13. Dikirim oleh AREK NDIWEK JOMBANG  pada  06/09   09:42 AM

mas ulil kyaknya harus tahu hukum wajib, haram, dan mubah dalam islam, masa salah satu contohnya mahar

#14. Dikirim oleh firmanazwir  pada  06/09   10:27 AM

Saya yakin bila syariat Islam diterapkan di Indonesia secara murni dalam arti Indonesia menjadi negara islam yang dipimpin oleh ulama spritual, maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut :
1. Hak-hak perempuan akan dihilangkan dan setiap perempuan akan dipaksa menggunakan atribut2 agama sekalipun mereka menolak
2. Hak2 beribadah dan hak hidup kaum minoritas yang berasal dari penganut agama2 selain muslim (kristen, hindu, Budha, dll) akan dihilangkan secara sistematis.
3. Akan terjadi diskriminasi hukum dimana bila ada dua orang yang bertikai dan salah satunya non muslim, maka yang non muslim akan “dikalahkan”
4. Akan terjadi penangkapan dan penghukuman sewenang-wenang karena tidak adanya pengawasan / control terhadap kekuasaan yang absolut yang mengatasnamakan Tuhan / Alloh itu sendiri
5. Bangsa Indonesia akan semakin terbelakang karena setiap orang akan dipaksa untuk melihat setiap masalah dari sudut pandang Islam
6. Penutupan tempat2 ibadah non muslim akan semakin gencar dan mungkin disertai dengan pertumpahan darah
7. Kemunafikan akan semakin merajalela di masyarakat (dari luar kelihatan putih namun di dalamnya busuk)
8. Kebebasan dalam berbicara dan berpendapat akan hilang
9. Tayangan2 televisi pasti akan dibatasi hanya yang sesuai dengan ajaran syariat saja
10. Kekuasan mutlak pada satu orang yang menjadi wakil Tuhan sangat berbahaya karena tidak ada control
11. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang karena setiap orang akan didorong untuk masuk pesantren daripada kuliah di tempat sekuler
12. Semakin banyak warga indonesia yang akan cripple akibat hukuman potong tangan / kaki dimana belum tentu mereka bersalah, dan mereka pada akhirnya akan menjadi beban negara
13. Hukum akan menjadi milik orang2 yang “membela agamanya”
14. Hilangnya akal sehat
15. Provokasi2 akan merajalela terutama untuk menghancurkan musuh2 Islam (AS, Yahudi, Kristen)
16. Bangsa Indonesia akan menjadi anak kecil, dimana yang menjadi cirinya adalah, bertindak dahulu, hajar dahulu, berpikir belakangan, urusan lain belakangan.
17. Bendera merah putih akan diganti bulan sabit
18. Semua atribut2 yang ada di jalan akan diganti tulisan2 arab
19. Lagu kebangsaan, UUD45 akan diganti dengan alquran
20. Bangsa Indonesia akan “diseragamkan” jadi bhinneka Tunggal ika akan dihilangkan
21. Tidak ada lagi kebebasan pers
22. bersambung

#15. Dikirim oleh arfat  pada  06/09   01:00 PM

islam liberal memang selau bersandar pada sesuatu yang konstektual.saya juga tidak tau bagaimana konsep saudara ulil tentang konstektual dan tekstual sehingga selalu dengan landasan progresifitas, bahwa fakta sosial bisa di elaborasi menjadi sesuatu yang yuridis dalam islam.sejujurnya saya malas berkomentar..karena bagi saya islam adalah agama yang sempurna.jadi tidak perlu di kontradiksikan dengan fakta-fakta sosial dan budaya.bung ulil perlu belajar lagi memahami bagaimana kedudukan konstektual dan hubungan nya dengan tekstual.jangan hanya asal berargumen

#16. Dikirim oleh abdillah rifal  pada  06/09   04:18 PM

dalil agama sebagai rujukan menyelesaikan kemaslahatan yang perlu penafsiran dengan dukungan berbagai disiplin ilmu.

#17. Dikirim oleh Mohamad Taufik  pada  07/09   09:44 AM

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hehehe…antum omong banyak banget Abdallah. Contoh Khilafah dalam Islam cuma 5 yakni Kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz. Selebihnya kerajaan yang mengaku kekhilafahan. Daripada banyak dalil dalam polemik antum, mending pakai 1 dalil yakni Jika Allah dan Rasul telah menetapkan satu hukum mengapa kita ambil hukum lain. Kekhilafahan adalah sunah Khulafaur Rasyidin yang Nabi memerintahkan kita mengikuti sunah itu. Btw ana bukan anggota JIL. Jadi jangan asal cantumin nama ana sebagai anggota JIL, mudah2an bukan trik baru ya. Ana orang Islam.
Ana ada hadiah untuk Abdallah, novel Jalan Cinta Darussalam terbitan Lingkar Pena. Di novel itu ana muat perang pemikiran antara JIL dan seorang sufi garis tengah. Semoga manfaat.

#18. Dikirim oleh Harlis Kurniawan  pada  07/09   11:11 AM

Tulisan mencerahkan saya. jarang ada orang berani mengkritik dan mengoreksi dengan penjelasan detil dan menyakinkan seperti itu. terkadang umat kita hanya terbuai dengan suara keras Khilafah, khilafah, pokoknya itu, titik! Tapi apa yang terjadi, disharmoni dan kekerasan merebak.katanya mereka haram kekerasan, tetapi kekerasan kata-kata terhadap pihak HIH! Wasalam

andri

#19. Dikirim oleh andreyd  pada  07/09   05:29 PM

Apa yang Kanda Ulil katakan ada benarnya,,
karena kita melihat hari ini bahwasannya hidup berdampingan dan Heterogen itu adalah sebuah Realita yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Banyak orang yang Sampai hari masih memiliki kefanatikan yang berlebihan sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangian negara Indonesia.
menurut pandangan saya pribadi , Masyarakat Indonesia hampir sebagian besar masih “penasaran” dengan ” Yang mana sih agama yang benar? Pasti agama yang ku Anut” tetapi tidak pernah mempertanyakan ” Bagaimana sih cara menjalankan Agama dengan Benar?” Karena kita tau bersama orang yang Beriman, Berilmu dan beramal pasti menghargai kemajemukan karena perbedaan itu seperti pelangi, warnanya merah, kuning, hijau dan kita semua menyadari bahwa Pelangi itu Indah.
Artinya Berbeda itu adalah sebuah rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita untuk saling melengkapi.
Dan kaitan pendapat saya adalah, Konteks sosial yang dibicaran Kanda Ulil berkaitan dengan Kemajemukan Masyarakat di Indonesia ini.
Kita semua harus bersama-sama mulai untuk menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang belum tentu sepaham dengan kita. jadi kita harus menerima bahwa Manusia itu adalah Makhluk yang Nisbi…

#20. Dikirim oleh azwar  pada  07/09   08:18 PM
Halaman 1 dari 11 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?