Editorial,
31/08/2008

Kritik atas Argumen Aktivis Hizbut Tahrir

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Maslahat bersumber dari konteks sosial. Jika dalil agama bertentangan dengan konteks sosial, maka konteks harus didahulukan di atas teks agama. “Mendahulukan” di sini, dalam pandangan Thufi, bukan berarti membatalkan dan menganulir sama sekali dalil agama. Sebaliknya, konteks sosial dianggap sebagai “pentakhsis” atau spesifikasi dan “bayan” atau menerangkan teks atau dalil agama yang ada.

31/08/2008 11:25 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (207)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 3 dari 11 halaman < 1 2 3 4 5 >  Last ›

Sebuah kritik yg sangat tajam shg kita tahu proyeksi Hizbut Tahrir dalam konteks dalil keagamaan telah terjadi deviasi yg signifikan. Benar2 mencerdaskan mas Ulil…terus berkarya demi kecerdasan spiritual umat muslim.

#41. Dikirim oleh Yaris Saputra  pada  10/09   01:22 PM

Bung Ulil , terimakasih anda telah memberikan suatu pandangan. Saya berharap , teman - teman JIL dan siapa saja yang melakukan dakwah atau apapun namanya tidak terbawa oleh emosi yang pada akhirnya membawa pada suatu fase pemaksaan kehendak.
Kita sebagai manusia bisanya hanya memberi pencerahan ataupun masukan ,masalah pencerahan itu diterima atau ditolak itu sudah bukan wewenang dari kita, itu merupakan wewenang dari Allah. Bukankah setan juga di beri kewenangan dari Allah untuk menggoda manusia ?

#42. Dikirim oleh Ivan  pada  11/09   07:46 AM

Buat rekan - rekan di JIL khususnya Kang Ulil, mungkin bisa buat bahan penelitian mengenai kerajaan - kerajaan Islam yang ada di Nusantara ini. Bagaimana keberadaannya saat ini ? Kerajaan mana saja yang masih eksis ? Mungkin bisa membantu Kang Ulil dalam berpikir mengenai apakah sistem khilafah cocok di bumi Nusantara ?

#43. Dikirim oleh Ivan  pada  11/09   07:57 AM

- kok pd repot. hukumnya kan sdh jelas, masalah ibadah dan akhlak ya ikuti konteks ajarannya, sedang masalah duniawi ya silakan diatur sendiri. soal ngatur negara? ya silakan atur sendiri. gitu aja ko repot!
- negara kita pancasila, kalo kita mau kita bisa saja sholat & puasa sepuasnya, tak ada gangguan kan? tapi nyatanya kita males2an & ibadahnya tdk komplit. tanya kenapa? tentu bkn krn lambang garudanya.
- tanya pada sodara2 kita yg tinggal / kuliah di negara2 kafir, kalo mereka mau mereka bisa saja sholat & puasa sepuasnya, tak ada gangguan kan? tapi klo nyatanya pada males2an & ibadahnya tdk komplit. tanya kenapa? tentu bkn krn hdp di negara kafir
- tanya pada sodara2 yg tinggal di negara2 arab, apa di sana tak ada diskotik, film porno, dan musik metal? tanya kenapa?

artinya, tanpa harus bernafsu menguasai dunia, kita sebenarnya jg bisa ibadah sepuasnya to? kalopun tetep ndablek ibadahe ya memang krn orangnya aja yg gak bener, jgn nyalahkan setan ato barat lah. kaya anak kecil aja, dikit2 ngadu.

trus kalo sdh terwujud kilafah tsb, apa ya kamu langsung pada rajin ibadahnya?

#44. Dikirim oleh ismail  pada  11/09   10:29 AM

Maaf saya cuma mau tanya, ntar kalo negara kilafah berdiri semua barang yang buatan barat ato nonmuslim harus dimusnahkan?

Kalo emang Tuhan cuma sayang ama umat tertentu saja, kenapa orang2 kafir diberi kelebihan dalam mencipta, ada yang bisa bikin listrik, bikin piring makan, kain, internet, kacamata dsb.
Dan dipakai oleh semua orang tanpa lihat suku dan agamnya.

Kenapa Tuhan menciptakan hujan dan panas kepada setiap orang yang benar maupun oang yang tidak benar.

Kenapa Ada kebudayaan yang bermacam-macam didunia ini, apa jadinya jika orang di jepang berjilbab semua, apakah ada yang salah dalam ciptaan Tuhan tentang kebudayaan.

#45. Dikirim oleh Tjeng Yusup  pada  12/09   02:24 AM

Kalo cuma theory doank sih , doktrin negara komunis jauh lebih bagus drpd teori negara khilafah. Theory sih bagus-bagus saja. Prakteknya hancur babak belur.
Orang2 yang begitu mendukung negara khilafah ataupun memimpikannya hanya sekelompok kodok UTOPIS yang cuma bisa bernyanyi krok..krok..krok…  Kenapa nga kasih gelar nabi ke stalin atau lenin saja, toh cita-cita mereka tidak kalah mulia drpd ide negara khilafah.
Ahhhh… apa sih bagusnya negara berdasarkan agama, emang menjamin penduduknya masuk surga.

#46. Dikirim oleh abubakar  pada  12/09   08:59 PM

asswrwb,betul bang ulil saya sependapat bahwa sejarah khilafah memang tidak bersih dari noda korupsi dan dosa politik.ga ada jaminan sebagai wadah islam rahmatan lil ‘alamin.tapi yg patut saya acungi jempol,HTI berani “bermimpi”,anda dan JIL tidak berani sama sekali.Sungguh berat menanggung amanat melaksanakan agama Islam ini ( apalagi kalau dilihat dari tekstualis ),yg akan menjadi Islam sepertinya tidak populer,tidak lincah dan tidak akomodatif terhadap modernisasi dan isu-isu global.Tapi kita bisa memilih,kita punya timbangan yaitu Qur’an dan Hadist dengan tafsir yang paling moderat sekalipun ( tidak tafsir bebas ) untuk menentukan mana yang bener dan mana yang salah,mana yang tepat dan tidak tepat untuk kemajuan / keselamatan ummat. Bolehlah kita pake HP buatan Finlandia atau Britania Raya karena kita ga mampu buat,tapi untuk “memasukkan” fakta sosial sebagai pertimbangan penetapan hukum dalam Islam ( saya yakin anda sangat menguasai teori konstruksi sosial Barat )saya pandang sangat gegabah,memandang Islam hanya dari fenomena sosio-politik saja.Suka atau tidak suka,Islam kita punya wajah keras terhadap upaya penghancuran ide-ide dasar ketauhidannya,prinsip-prinsip aqidah dan syariah.Islam memandang dunia adalah ladang berbagi rezeki dengan siapa saja.agama apa saja,suku dan negara mana saja,hidup berdampingan dengan damai.Tapi tidak dengan berbagi kebenaran seperti yang anda dan pendukung anda telah lakukan.Disitulah bedanya anda dengan HTI,anda berbagi kebenaran dengan sekuler dengan mengkhianati ISlam,HTI memperjuangkan kebenaran…

#47. Dikirim oleh dahlan  pada  13/09   04:09 AM

sebuah aturan itu semuanya pasti mengikat orang yang menganutnya….

#48. Dikirim oleh pahlev  pada  13/09   04:26 AM

Assalamu alaikum wr wb
gini ya Bang, kalau misalnya HTI benar-benar menginginkan islamisasi Indonesia (Aplikasi syariat Islam), terus terang saya sangat tidak setuju mengingat Indonesia multi-kultural (terdiri dari banyak daerah yang memiliki budaya masing-masing), kalu hal itu terjadi budaya atau kebudayaan Indnesia akan hilang secara sengaja atau pun tidak, karena di negara kita budayanya sebagian kurang serasi dengan syariat Islam itu sendiri, ya kita lihat saja budaya apa kira-kira yang kurang pas. tapi saya teringat akan kalimat ushul fiqh yang berbunyi “al’urfu hukmun” kira-kira begitu. dari kalimat itu sudah jelas bahwa teks akan mengikuti konteks yang ada. akan tetapi bagaimana kalau budaya itu sudah benar-benar di luar batas, katakanlah budaya itu sangat tidak manusiawi dan sangat jauh dari teks Qur’an dan Sunnah, apa masih berlaku katakata budaya sebagai spesifikasi dari agama (teks Qur’an dan Sunnah)?  terima kasih

#49. Dikirim oleh M. SauQi  pada  13/09   03:46 PM

60 tahun lebih kita merdeka, tapi semakin hari semakin terpuruk. Saya rasa tidak ada salahnya kalau islam liberal, islam sekuler, islam nasionalis, islam feminisme etc yang sudah diberi kesempatan sejak awal merdeka untuk memimpin dan mengatur rakyat indonesia untuk mengalah dulu. Sudah saatnya “islam” kita gunakan sebagai dasar untuk mengatur negeri ini.Kadang-kadang dengan cara berpikir simple kita akan dapat menyelesaikan semua masalah negeri ini. Konsepnya Al qur’an, contoh pelaksanaannya ikuti Muhammad SAW. Orang-orang dengan cara berpikir seperti mas ulil sudah sangat mendominasi negeri ini sejak lama. Tapi ternyata belum bisa membawa kebaikan untuk negeri ini.

#50. Dikirim oleh imam  pada  14/09   02:17 AM

Buat Tjeng Yusup,
Kalau nanti HT menjadi pemimpin dunia dengan konsep khilafah dan hukum Islamnya, maka akal hanya boleh digunakan untuk memahami Al Quran dan Al Hadits, karena diharamkan memahami fenomena budaya (yang menurut mas Ulil berkembang sekan-akan tanpa batas), kita tidak boleh menggunakan tehnologi yang diciptakan barat/kafir. Dan seorang khilafahnya akan memimpin dan mengunjungi rakyatnya dengan menggunakan onta atau kuda untuk mengejar perempuan yang tidak pakai jilbab dan orang-orang yang tidak sholat kalau mendengar adzan, paham…....???

#51. Dikirim oleh iwan  pada  14/09   07:22 AM

Salam Pembebasan,
Buat saudara-saudaraku yang masih konsisten terhadap ‘isu daulah Islamiyah’, mohon untuk melakukan studi historis. Mengapa Ali ra matinya dibunuh? mengapa jenazah Muhammad saw ‘terlambat’ dikebumikan? semua karena kepentingan politik kan? Formalisme Islam bukan solusi, tolong jangan gadaikan Islam untuk kepentingan politi-kekuasaan sesaat,
suwun.

#52. Dikirim oleh Muhammad Fakhrial Aulia  pada  15/09   01:46 AM

Belajar pada tewasnya 21 orang pengantri zakat di jatim.

Pertama, ini membuktikan bahayanya orang yg beribadah tanpa mempelajari aspek sosial. Mungkin pak haji gofur hanya berpikir ,“Jika saya berzakat kewajiban saya sbg muslim sudah lunas, dan jika saya kerjakan di bulan ramadhan pahala saya berlipat, dan jika saya bagi tgl 15 pertengahan puasa ganjarannya berlipat pula, dan jika orang berduyun-duyun ke rumah saya maka mulia pula keluarga saya…dan target surga di depan mata..” tak ada yg salah dr pemikiran ini.

Kedua, dia sama sekali tak memikirkan aspek sosial krn menurutnya tak ada hubungannya dg ibadah dan pahala, bahwa nafsu mencari ganjaran dg cara seperti itu sangat berbahaya. Akhirnya banyak yg tewas, dan coba anda pikirkan nasib keluarga yg ditinggalkan? atau malah anda berpikir “ah mereka mati syahid?” jadi no problem, kan tujuannya ibadah.

Ketiga, pak haji gofur kurang percaya dg sistem & lembaga amil? oke, tapi kenapa tidak langsung terjun ke masyarakat secara spontan ke daerah yg membutuhkan saja? sehingga tdk terjadi konsentrasi masa? wong pembagian BLT yg disuport pemerintah & aparat saja memakan korban. Atau jangan-jangan yg pak haji pikirkan cuma…“yg penting ibadah titik, peduli amat sama orang2 fakir yg pasti dekat sama kekufuran”

Keempat, aspek sosial jelas sangat2 wajib dipelajari dan diperhatikan dlm setiap ibadah. dan itu sudah dilakukan oleh orang2 sebelum kita dijaman internet ini, contohnya para wali, nabi, dan rasul. bukankah setiap wahyu itu datang diawali tdk secara ‘jatuh’ dari langit tetapi setelah ada kejadian lalu rasul mendapat wahyu.

#53. Dikirim oleh azzam  pada  17/09   12:08 AM

Kalau kita cermati, sebenarnya pemahaman tekstualis atas berbagai teks agama, Alquran maupun Alhadits, tak hanya terjadi pada masalah khilafah. Banyak hal juga masih sentral teks. Dan, celakanya ini menjadi pemahaman yang nyaris tak tersentuh. Misalnya terkait dengan ayat-ayat pernikahan. Mungkin, kawan-kawan JIL juga perlu memberi respons soal teks lain yang banyak sekali bertentangan dengan kondisi sosial (konteks) yang ada. Suwun

#54. Dikirim oleh ahmad taufiq  pada  17/09   03:06 PM

Assalamu Alaikum Wr. Wbr.  Saudara (I) intinya adalah bagaimana hukum-hukum Allah ( Hukum syariat) bisa ditegakkan dipermukaan bumi ini tanpa memilah dan memilih. Mari semua kembali kepada Al-Qur’an karena al-qur’anlah petunjuk teknis kita dalam berbuat

#55. Dikirim oleh Anwar  pada  18/09   08:11 AM

sebagai orang awam jujur aja gw bingung masalah kilafah…
yang dimaksud kilafah itu apa sih?trus parameternya sebuah kilafah itu apa?
apakah kita pernah punya kilafah?klo pernah tahun berapa terakhir kali kita punya?

#56. Dikirim oleh dendy  pada  18/09   10:41 AM

Teori Hisbut Tahrir dengan seorang Khilafah, maka umat Islam akan menjadi satu internasional, sebenarnya telah ada diciptakan Allah, yaitu Ahmadiyah, sebagaimana Katholik didalam kristiani setelah umat Yahudi Musa. Teorinya memenuhi Al Baqarah (2) ayat 87 yang sama dengan a sesuai Al Fath (48) ayat 29 dan Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14, ialah sifat tunas injil Nasrani dari tanaman sifat Taurat Yahudi dan berlaku sampai kiamat, sedang tunas sifat Nasrani Nuh dari tanaman Adam asal-usul agama Buddha sesuai Maryam (19) ayat 58 dan tunas sifat Injil Nasrani Luth dari tanaman sifat Taurat Ibrahim asal-usul agama Hindu sesuai Al Hajj (22) ayat 43 yang kesemuanya terdukung oleh Ali Imran (3) ayat 31,32,33,34, artinya semuanya sifat Kabil/Taurat/Yahudi membunuh sifat Habil/Injil/Nasrani, sesuai Al Maidah (5) ayat 27-32, sampai kiamat artinya sampai hari habis gelap terbitlah terang berderang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257, sampai datangnya yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan ialah Hari Takwil Kebenaran Kitab 100 tahun setelah Ahamadiyah pada era globalisasi di Indonesia sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53. dan Hari Al Quran dijadikan dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44 atau Hari Al Quran disempurnakan pewahyuannya, berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh Soegana Gandakoesoema memenuhi Thaha (20) ayat 114,115. Artinya datangnya Hari Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22, atau Allah menyempurnakan kondisi dari agama disisi Allah adalah Islam menuju kepada Agama Allah dari dahulu kaffah sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208 dan An Nashr (110) ayat 1,2,3 dan berbondong-bondong masuk menjadi satu Agama Allah.
Teori pelaksanannya baca Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”, dengan lampiran “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” Penulis: Soegana Gandakoesoema, Penerbit: GOD-A CENTRE.
Buku tersebut tersedia ditoko buku K A L A M
JL. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120, Telp. 62-21-8573388.   
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#57. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  18/09   07:48 PM

wah diskusinya seru banget….yang satu pro khilafah yang satu kontra khilafah….kalau menurut saya yang orang awam…..selama indonesia merdeka selama 63 tahun ya gini2 aja…malah semakin kisruh…..yaa kenapa tidak dicoba aja model khilafah yang bersumber dari islam sendiri…siapa tahu lebih baik….toh bentk kekhalifahan itu sendiri pernah ada…bukan hanya dongeng atau mimpi

#58. Dikirim oleh ummuhumaira  pada  19/09   10:01 AM

ASs
Semua yg terjadi di muka bumi ini atas ijin ALLAH, runtuhnya khilafah Islamiyah pun atas ijin allah, karena allah tdk menghendaki tiran, dan praktek2 anti sosial yg di terapkan secara sistematis dlm khilafah Islam benar2 melampaui batas, sehingga Tuhan pun mencabut mandatnya. Kalau sekarang sekelompok orang ingn bernostalgia ke zaman lampau untuk mendirikan khilafah itu, sama saja mengulang kesalahan yg sama untuk ke-dua kalinya. tidak ada satu ayatpun dlm Al-Quran yg menyerukan berdirinya khilafah Islamiyah. Pendapat saya Khilafah itu adalah Bid’ah yg tidak perlu untuk dijalankan.

#59. Dikirim oleh M. RIZAL  pada  20/09   06:18 AM

Negara Khilafah yg ingin dibangun oleh HTI, menurut saya cuma sekedar igauan orang2 yg maaf kurang ber-akal sehat, mimpi di siang bolong kalau itu mau mereka wujudkan disini. Alasannya dr persepektif saya sederhana aja, : Dibawah Nabi dan dua Khalifah Pertama, Abu Bakar dan Umar, keutuhan negara dan solidaritas ummat itu menyatu dan nyata, khalifah ketiga, keutuhan negara, sudah goncang, begitupun masyarakatnya, sedangkan dibawah Ali negara dipecah-belah, begitu juga masyarakatnya.
Tetapi setelah itu dimulai pd pemerintahan Umayyah dan selanjutnya ,menurut saya itu sudah bukan lagi instrumen Islam, ia memiliki tujuannya sendiri dan mempertahankan kepentingan “pribadi” mereka sendiri, apalagi seperti yg kita tahu itulah awal mula munculnya sekte-sekte dalam agama ini yg saling merasa benar. Hampir semua pemerintah tersebut bersifat sektarian, nah kalau HTI memang bermimpi menghidupkan kembali Sistem Khalifah akan mengacu ke sekte yg mana, dari begitu banyak sekte yg ada saat ini. Memang ada adagium “dlm islam tdk ada perbedaan antara agama dan negara” (apakah ada dasar hukumnya ?) , pertanyaannya apakah masih relevan dgn kondisi saat ini yg menganut paham negara bangsa. Silahkan HTI mewujudkan itu mudah-mudahan bisa terwujud!Walaupun menurut saya itu hanya omong-kosong penganut sekte HTI saja. Tidak ada yg wajib diikuti Kecuali Allah dan Rasul-Nya, walaupun saya tahu, HTI pasti mengatakan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah juga. Cuma pesan saya janganlah membuat kekacauan di negara ini dengan merusak para pemuda-pemudi muslim yg mungkin awam dalam masalah agama mereka, Kasihanilah Mereka, biarkan mereka ber-Islam dgn budaya yg mereka miliki, bukan dgn cara berpikir Impor semodel HTI ini, negara ini sudah repot ngurusin fundamentalis lokal semacam penyembah Kartosuwiryo dgn NII-nya. Bertaubatlah wahai pengikut HTI, sesungguhnya ALLAH SWT itu Maha Penerima Tobat. Wassalam

#60. Dikirim oleh Danny  pada  21/09   10:44 PM
Halaman 3 dari 11 halaman < 1 2 3 4 5 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?