Buku,
04/04/2003

Kritik Atas Jilbab

Oleh Nong Darol Mahmada

bk_kritik_jilbab.jpgPandangan yang mengatakan bahwa jibab itu tak wajib bisa kita baca di buku ini. Bahkan Al-Asymawi dengan lantang berkata bahwa hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab atau h

ijâb itu adalah Hadis Ahad yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Buku ini, secara blak-blakan, mengurai bahwa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in, menurut Al-Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.

04/04/2003 18:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (152)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 8 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulisan anda ini semakin menunjukan kedangkalan cara berfikir anda.

Seluruh tanggapan yang masuk akan melalui proses editing di meja redaksi IslamLib.com. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.(DI MANA LETAK KEMERDEKAAN BERFIKIRNYA, CURANG NIAN !!!!)

Redaksi:

Proses editing ini kami lakukan untuk menghindari komentar-komentar yang menebarkan fitnah dan kebencian. Website ini kami buat sebagai ajang pencerdasan, arena debat yang konstruktif, bukan caci maki yang tak berkesudahan. Terima kasih.

#1. Dikirim oleh beendoen  pada  20/06   09:06 PM

Benar sekali bahwa hijab bukanlah berasal dari Islam seperti yang Anda katakan. Saya sangat setuju atas apa yang anda katakan itu.  Yang perlu mendapat sedikit sorotan adalah bahwa bukan hanya Islam yang berasal dari Allah, dan bukan hanya Muhammad yang menjadi utusan-Nya, nabi sebelumnya pun mengemban apa yang Allah titahkan.

Nah, dari sini bisa kita lihat bahwa dari dulu hingga sekarang, dari Adam hingga Muhammad hukum yang berlaku itu saling terkait dan ada korelasinya satu sama lain, yaitu sama-sama “aturan dari Yang Esa” pun dengan adanya jilbab ini. Islam, Nasrani atau pun Isa, Muhammad dan bahkan nabi yang lainnya pun hanya menjlankan Sunnatullah, yang notabene berasal dari Allah. Semuanya hanya sebatas pembawa “amanat” hal ini yang perlu mendapat sorotan dari apa yang anda kemukakan.

Yang selanjutnya, Anda benar kembali bahwa Islam hendak menghapuskan budaya perbudakan, namun menurut anda apabila dengan adanya ketetapan jilbab maka tak akan hilang perbudakan itu dengan kalimat yang Anda tulis, “masih mempertahankannya dalam strata masyarakat Islam misalnya dalam perbedaan berpakaian di atas”. Dalam keadaan diatas bahwa kedudukan budak dan wanita merdeka terkenai ketetapan yang berbeda secara keadaan hukum sosial dan kemasyarakan saat itu. Ada sisi dan jalan lain yang disentuh oleh Islam dalam meniadakan perbudakan dalam tatanan masyarakat saat itu.

Saya kira cukup sesingkat ini dan silahkan penulis konfirmasikan melalui japri jika ada tanggapan balik. Salam Reformasi

Redaksi:

Untuk keperluan japri, silahkan hubungi penulis Nong Darol Mahmada di .(JavaScript must be enabled to view this email address)

#2. Dikirim oleh azkaa imaduddin  pada  22/06   09:06 PM

Mudah-mudahan Allah Swt membuka mata hati Anda semua dan kembali ke jalan yang lurus. Amin.

Redaksi:

Terima kasih atas doa dan perhatian Anda.

#3. Dikirim oleh izzatul -ulya  pada  23/06   01:06 AM

Assalamualaikum wr. wb

Agama (dan penafsiran ketentuan-ketentuannya) seharusnya dipandang sebagai kemutlakan relatif. Artinya klaim kebenaran penafsiran dari seseorang atau kelompok tertentu tentang satu ketentuan dalam agama bisa mutlak bagi dirinya/kelompok tersebut, tapi menjadi relatif ketika dihadapkan kepada orang/kelompok lain yang tidak sepaham. Jangankan tentang jilbab, klaim eksistensi dan keesaan Tuhan dari kelompok-kelompok agama pun bisa menjadi relatif bagi orang atau kelompok atheis.

Di dalam Alquran dinyatakan: “la ikraha fiddin”,  juga “lakum diinukum waliadin… tidak ada paksaan dalam agama, bagimu agamamu dan bagiku agamaku….

Penghormatan terhadap perbedaan adalah salah satu tema sentral ajaran Islam. Oleh karenanya, kelompok kelompok penentang “jilbab” (atau pengibar Islam liberal secara umum) tidak sepantasnya menghakimi kelompok-kelompok pro-jilbab sebagai kelompok kolot, bodoh, tidak maju, dan perlu dilawan habis-habisan—-karena itu hak mereka yang harus dihormati selagi mereka tidak memaksakan kehendak. Begitu juga sebaliknya, kelompok-kelompok yang pro-jilbab tidak perlu terlalu bersemangat menghujat kelompok-kelompok yang anti jilbab, itu juga hak mereka selagi mereka tidak ngotot, sok modern. Lagian, maju mundurnya agama Islam tidak semata mata ditentukan oleh jilbab, tidak didikte oleh pemikiran liberal (yang kecendrungannya only for the sake of liberalism—-tanpa kerangka metodologis yang memadai kalau tidak mau dikatakan ngawur….hanya didasarkan pada suka dan tidak suka).

Coba kita lihat Malaysia, praktek dan pemahaman agama mereka tidak kurang konservatif dan letterlijk dibanding kita di Indonesia, toh mereka lebih maju dari kita. Banyak sekali perempuan-perempuan Malaysia yang berjilbab tapi pemikirannya sangat progresif, dan banyak sekali perempuan perempuan Indonesia yang berpakaian minim, bahkan anti jilbab, tapi tidak berprestasi, hanya menjadi pelengkap penderita dari pembangunan.

Silakan ditanggapi.

Wallahu’alam Abdurrahman Syebubakar

#4. Dikirim oleh ABDURRAHMAN SYEBUBAKAR  pada  24/06   05:06 AM

Salam

Buat Mbak Nong yang mulia

Tidak ada kesalahan Mbak Nong menampilkan pikiran dan idenya tentang jilbab. Sah-sah saja dan secara ilmiah perlu dan penting. Ada yang menarik dan perlu dibaca sekaligus dipahami perihal makna jilbab.

Semoga Mbak Nong berkenan membaca buku “Jilbab” karya Murthadha Muthahhari. Secara logis, bukankah bagus, jika hati yang tulus dan akhlak yang bijak, dibalut dengan pakaian penutup yang menjaga dan melindungi kesucian hati. Meskipun orang yang berjilbab tidak semuanya memiliki hati yang jernih, atau sebaliknya bukan berarti orang yang tak berjilbab semuanya berhati jelek (hati konteks di sini akhlak).

Bukankah indah dan memesona, pribadi muslimah yang anggun dan mulia akhlaknya dibungkus jilbab? Emang simbol kadang bisa berbohong. Orang berjilbab bisa jauh lebih bejat dari yang tidak berjilbab. Bahkan sebaliknya. Secara jelas wacana jilbab adalah pilihan. Mana yang banyak manfaat buat sang pemakai. Silakan dia memilih.

Jika boleh memberi apresiasi, orang bisa malu melakukan akhlak jelek karena dia berjilbab, walaupun tahap iman seperti ini dalam tataran rendah, tapi jilbab bisa mencegah dan membuat orang malu untuk melakukan akhlak jelek. Walaupun tak menutup kemungkinan ada orang berjilbab yang tak malu melakukan kejelekan. Kalau boleh membandingkan mana yang jauh lebih baik, berjilbab dan berakhlak baik, tidak berjilbab dabn berakhlak baik. Keduanya baik, tapi Anda bisa menilai ada salah satu yang baik. Walaupun Tuhan tidak menilai dari sisi jilbabnya.

Sebenarnya Islam ingin memberikan tawaran yang baik dan mulia bagi muslimah. Wajar, Mbak Nong menancapkan argumen, jilbab hanya budaya bahkan tradisi Arab yang berkembang dari kolot dulu.

Saya ingin tanyakan kepada Mbak Nong, lalu maknanya apa jika sholat harus menggunakan mukena? Apa pula maknanya hadis-hadis Rasul tentang batasan aurat selain muka dan telapak tangan?

Bukan diri merasa paling benar. Mbak Nong terlalu bersemangat ‘berfatwa’ tidak ada jilbab dalam Islam. Sebagai orang moderat, Mbak Nong mestinya berimbang dalam menyajikan wacana ilmiah. Bukan sebuah tawaran, dan pembantaian tentang jilbab, tapi sebuah paparan, apa dalil jilbab dan apa dalil tidak berjilbab. Biar orang yang memilih manfaat jilbab berdasarkan kepercayaan. Walaupun saya tahu statemen Mbak Nong datang dari para wanita berjilbab yang merasa diri paling sholeh hingga ‘membantai’ wanita yang tak berjilbab.

Biarkan mereka memlih. Tolong uraikan argumen jilbab vs non jilbab secara gamblang. Ini mestinya keluar dari Mba Nong. Jadi bukan hanya menyerang jilbab. Ok, terima kasih.

Redaksi:

Kami akan forward saran Anda kepada email penulis, Nong Darol Mahmada.  Terima kasih atas komentar Anda.

#5. Dikirim oleh Tito  pada  25/06   08:06 AM

Semoga…... buku ini bisa memberi “pencerahan” kepada pihak-pihak tertentu.

Saya merasa gejala yang buat saya aneh. Ada anak teman yang bersekolah di sekolah mahal, mengatakan bahwa dia tidak ingin punya istri seperti ibunya, karena ibunya tidak berjilbab. Saya jadi merinding bahwa ada anak yang jadinya menganggap ibunya tidak ada nilainya. Lalu apakah wanita Islam yg tidak berjilbab jadi tidak ada nilainya? Bagaimana kalau pekerjaannya adalah penari tradisional jawa yang harus berbusana dan bersanggul Jawa? Apakah penari tradisional seperti itu tidak ada nilainya ? Jadi saya sangat berharap semoga buku ini bisa kembali membuka ruang bebas yang sepertinya semakin sempit.

Dan Cilegon

#6. Dikirim oleh nuri kusumawardani  pada  25/06   02:06 PM

Surah 33, Al Ahzab Ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surah 24, An Nuur Ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah , hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.  Surah 61, Ash Shaaff ayat 8:

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.

#7. Dikirim oleh Imam Muslih  pada  26/06   07:06 AM

Assalamu’alikum Buat Nong DM

Hanya dengan angin segar dari pendapat Al-Asmawi, lalu Mbak Nong telah melahirkan sebuah buku “Kritik terhadap Jilbab”? Padahal belum tentu kritik-kritik tersebut cukup kuat dalil-dalilnya. Implikasi dari buku itu sangat kuat bagi wanita yang masih labil dengan jilbab, bahkan bagi yang masih ragu dengan jilbab seakan-akan mendapat justifikasi untuk berargumentasi. Pikiran-pikiran yang lebih kepada sensasi atau paling tidak interes yang dijadikan pembenaran.

Kiranya kehadiran dan publikasi buku itu dipertimbangkan lagi.

Terimakasih

Ozi-Pekanbaru

Redaksi

Mas Ozi, sekali lagi, kami informasikan bahwa buku “Kritik atas Jilbab” adalah buah karya Muhammad Said al-Asymawi, seorang juris dan intelektual muslim dari Mesir. Posisi Nong Darol Mahmada adalah editor dari buku Asymawi setelah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal. Karena Nong yang telah menyunting buku tersebut, Nong lantas membuat kata pengantar yang dapat Anda akses melalui website ini. Jadi, dalam edisi bahasa Arab, buku ini telah terbit. Soal mempertimbangkan untuk mempublikasikan buku Asymawi ini jelas faktanya bahwa buku tersebut telah masuk pasaran. Akan lebih baik, Anda membeli buku “Kritik atas Jilbab” itu, lantas Anda dalami isi dan materinya. Mungkin Anda akan mempunyai penilaian lain jika telah tuntas membaca seluruh kandungan buku Asymawi ini. Maaf jika tanggapan ini berbau “promosi,” tapi penilaian Anda mungkin akan jauh lebih fair setelah Anda selesai membaca bukunya. Terima kasih atas sarannya.

#8. Dikirim oleh ramzi  pada  27/06   09:06 PM

Kata pengantar Mbak Nong sangat menarik untuk diikuti. Saya secara jujur menyatakan ada beberapa point yang dapat disepakati, tapi ada hal yang harus di berikan catatan yang kiranya berupa pertanyaan atau apalah namanya. Dalam al-Qur’an perintah untuk menutup aurat merupakan instruksi dan itu harus dilaksanakan. Persoalannya adalah bagaimana cara menutup aurat itu yang jadi permasalahan.

Jilbab bagi bangsa Indonesia merupakan pilihan, kendatipun hal itu masih menyisakan perdebatan. Terlebih konsep menutup aurat dijustifikasi dengan janji dan ancaman. Sehingga itu kritik terhadap konsepsi ini penting dilakukan. Apalagi realitas kita sekarang menunjukan trend pemakaian jilbab yang pada intinya untuk menutupi aurat justru memakai “jilbab metal” yang memberikan nuansa pamer terhadap lekuk dan bentuk tubuh yang dinyatakan sebagai aurat. Tentunya ini merupakan ambivalensi perilaku kita.

Kadang penafsiran baku terhadap keharusan pemakaian jilbab lebih berupa sensasional ketimbang substansi terhadap prilaku tersebut. Sementara itu dalam intitusi keagamaan Islam pun sepertinya menjadi kelaziman sosial bahwa jilbab merupakan manusia muslim yang taat dalam beragama dan sangat identik dengan Islam. Sementara prilaku sosial mereka kadang kala tak menampakan baik itu kesalehan sosialnya maupun individu.

Ironisnya, beberapa kasus seringkali terjadi bahwa pemakaian jilbab merupakan gari pemisah yang sangat tegas antara perempuan yang taat beragama dan tidak taat dalam beragama. justifikasi sosial seperti itu pun harusnya dilakukan pembedahan secara konkret dan tuntas.

Benar, jilbab tidak selamanya merupakan identitas keagamaan tapi merupakan budaya. Analoginya barangkali seperti ini, Islam tidak mengajarkan atau memberikan perintah konkret bahwa laki-laki Islam ketika melaksanakan sholat harus memakai sarung tapi karena adanya pengaruh hindu dan budha ketika pertama kali Islam masuk ke nusantara maka jadilah pemakaian sarung sebagai ‘atribut’ sosial umat Islam dalam melakukan ibadah.

Kendatipun demikian, saya masih berpendapat bahwa menutup aurat adalah hal penting yang harus dilakukan karena sejarah “perlindungan” seperti yang dilontarkan Mbak Nong, juga masih berlaku terhadap bangsa perempuan Indonesia.

Pemerkosaan, pelecehan seksual dan perbuatan semacamnya masih begitu menggema dibumi Indonesia yang bagi saya itu harus dieliminir dengan menutupi aurat yang dapat menimbulkan libido kaum lelaki.

#9. Dikirim oleh emiliya  pada  01/07   01:07 AM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah setelah saya membaca artikel tentang kritik atas jilbab, saya menjadi lebih mengerti bahwa jilbab tidak wajib digunakan. Dari sini dapat saya simpulkan bahwa kaum wanita tidak perlu lagi menggunakan mukena ataupun kerudung ataupun jilbab ketika sholat. Cukup berpakaian rapi saja. Mudah-mudahan bisa saya diterapkan di rumah atau di tempat lain. Entah pemikiran dari Mbak Nong memang realistis atau emosional karena yang namanya teori tak selamanya valid.

Kepada JIL, mohon email saya di dibalas atau dicantumkan di situs ini. terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

#10. Dikirim oleh agus yulianto  pada  02/07   02:07 AM

Saya sependapat dengan Mbak Nong, bahwa jilbab bukanlah suatu kewajiban, dan jilbab sudah dipakai oleh masyarakat Arab sebelum Islam turun. Jadi, menurut hemat saya, jilbab adalah sebuah tradisi dari masyarakat Arab, sampai kemudian Islam turun.

Salam

#11. Dikirim oleh hendra wedhaswara n  pada  10/07   03:07 AM

Setelah membaca artikel tersebut, ana mendapatkan satu kesimpulan yang sangat menggelikan bahwa jika memakai jilabab bagi wanita adalah suatu budaya dan bukan merupakan suatu kewajiban. Ternyata kita lebih bodoh dan dungu dari wanita-wanita jahiliyah. Hanya orang yang tidak beriman yang menyatakan demikian atau orang munafik yang sukanya memutarbalikkan fakta. Tidak ingatkah ketika kisah ketika turun ayat yang memerintahkan menutup aurat bagi setiap perempuan yang sudah baligh di zaman Rasullulah yang dengan bersegera mereka menutupkan kain di sekujur tubuhnya, tak terkecuali istri-istri Rasulullah yang sangat mulia.

Wanita-wanita sekarang tidaklah lebih agung daripada istri-istri Rasulullah. Jadi bagaimana bisa mereka merendahkan istri-istri Rasullah tersebut serta Rasullah dengan secara tidak langsung mengatakan bahwa Rasullullah itu bodoh dengan menyuruh istrinya menutup aurat dengan jilbab. Bagaimana bisa mereka disamakan dengan wanita-wanita jahiliyah sedangkan Rasulullah diutus oleh Allah untuk menyampaiakn risalah yang baru, yang jelas sekali berbeda dengan yang telah ada (jahiliyah). Semoga Allah menangguhkan adzabnya kepada Anda. Sesungguhnya adzab Allah sangatlah pedih maka dari itu bersegeralah bertobat.

#12. Dikirim oleh fatimah az- Zahra  pada  13/07   01:07 AM

Bismillah, semoga Mbak Nong diberi kesehatan oleh Allah dan masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertaubat. Sebelum anda telat bertaubat maka cepatlah bermunajat pada Allah dan bertaubatlah dengan taubatan nasuhah.

Maaf saya tidak bisa kasih komentar karena saya tahu kalau saya berkomentar, maka anda malah akan bangga dengan apa yang telah anda lakukan. Tapi saya hanya menyuruh anda untuk cepat-cepat taubat. Ingat adzab Allah itu sangat pedih. Syukron.

#13. Dikirim oleh abdullah al-ajmy  pada  13/07   10:07 AM

Bagaimana ya? Ana bingung ada yang mendiskusikan apakah jilbab itu wajib atau nggak. Bagi yang mendukung jilbab itu nggak wajib, ana mau tanya sebatas mana “kepatutan umum” pakaian yang sopan bagi wanita? Kalau di beberapa negara Barat, pusar kelihatan atau belahan dada terlihat itu termasuk masih sopan. Kalau di masyarakat pedalaman Kalimantan atau di Afrika sana, nggak pake bra juga sopan lho…... Jadi tanya domir aza deh…... perlu nggak wanita itu ditutup auratnya kayak pake jilbab….

#14. Dikirim oleh muhammad jalal at tasiky  pada  13/07   01:07 PM

Saya salut dan mendukung sekali pemikiran-pemikiran seperti Mbak Nong ini. Sudah saatnya umat Islam di Indonesia ini diajak berpikir untuk lebih mendalam dalam mencernai ayat-ayat al-Quran. Toh segala beda pendapat akan bermuara pada kemajuan umat Islam dan pemahaman beragama Islam dengan lebih baik.

Sekali lagi salut Mbak, dan saya tunggu karya-karyanya selanjutnya.

Wassalam

Ahmad Faisal

#15. Dikirim oleh Ahmad Faisal  pada  14/07   10:07 PM

Astaghfirullah, telah jelas perintah Allah Swt untuk menutup aurat (kepada orang beriman: laki dan perempuan). Namun ternyata masih saja ada orang yang sengaja membelokkan maknanya. Batasan aurat bagi perempuan telah jelas, yakni seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa muka pun termasuk pada aurat wanita.

Maka alasan apakah yang mendasari seseorang untuk mengingkari perintahNya. Seorang muslim akan mendasarkan quran dan hadist sebagai pedomannya. Saya sepakat dengan akhi abdullah al-ajmy, agar mbak nong segera bertaubat sebelum azab Allah menimpa kita. Astaghfirullah, saya pun belum masuk dalam lingkupan orang yang bertaqwa. Tapi, marilah kita sama-sama mencoba dan berusaha untuk meraih ridhaNya. Semoga Allah mengampuni dosa kita.

#16. Dikirim oleh virdausy  pada  15/07   07:08 AM

Assalaamu’alaikum

Artikel Saudara sangat menyesatkan umat Islam. Semoga Allah mengampuni saudara dan memberi petunjuknya kepada Anda.

Wassalaamu’alaikum

#17. Dikirim oleh jundullah  pada  16/07   08:07 AM

Assalamualaikum wr. wb.

Kalo nggak salah perintah menggunakan jilbab terdapat dalam Alquran surah Al-Ahzab, namun saya lupa nomor ayatnya. Silakan cari sendiri mudah kok carinya.

Timbul pertanyaan bagi apakah saudara Nong Darol Mahmada berani mengingkari perintah Allah Swt atau barangkali mempunyai penafsiran yang lain tentang ayat tersebut. Jadi jelas jilbab bukan hanya budaya dalam Islam tapi perintah Allah Swt. Terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

#18. Dikirim oleh junaidi  pada  19/07   06:07 AM

Assalamualaikum Wr Wb

    Saya kaget sekali ketika membaca tulisan anda saya, sampai ingat hadits Rosulullah shallahu alaihi wasallam: yang kira-kira artinya: “Paling beraninya kalian berfatwa dia adalah yang paling berani terhadap api neraka.”

Redaksi:

Maaf hadis versi bahasa Arab Anda tak terekam dalam kiriman email Anda. Kami hanya memuat terjemahan yang anda kirim.

#19. Dikirim oleh AM Lazuardi  pada  19/07   02:07 PM

Saya sangat awam tentang Islam, apalagi JIL. Tetapi semenjak saya mulai sholat kira-kira 2 tahun yang lalu saya mulai belajar sedikit tentang Islam.

Mbak Nong Darol….

Saya dengar bahwa apabila kita mengajarkan sesuatu yang salah dalam beragama maka kita akan mendapatkan dosa juga dari orang yang terpengaruh oleh nasehat atau pendapat kita.

Orang-orang di JIL saya lihat pinter-pinter. Sekolahnya saja tinggi-tinggi malah banyak dari pesantren juga. Makanya sulit buat saya untuk mendebat mereka sehingga untuk membuktikan apakah pendapat Mbak Nong itu benar hanyalah satu jalan, yaitu kalo saya sudah mati. Nanti saya tanya sama malaikat yang nanya saya di alam kubur karena pasti pernyataan malaikat itu benar. Wajar sebab dia tidak punya interest apa-apa dan hanya tunduk pada Allah Swt.

Mbak…  Bayangkan apabila pernyataan mbak itu benar maka orang-orang yang belum pake jilbab tidak berdosa tapi yang sudah pake jilbab-pun tidak berdosa. Wong mereka nggak melanggar apa-apa perintah Allah SWT kok.

Tapi apabila pernyataan mbak ternyata keliru. Masya Allah, seluruh dosa orang yang terpengaruh tulisan mbak akan ngumpul di pundak Mbak. Besarnya waduh hitung sendiri deh. Ngeri mbak… siksa Allah itu pedih.

Jadi secara matematis mbak pasti rugi. Sebelum rugi besar saya usul saja buat Mbak Nong untuk banyak-banyak istigfar dan jangan lupa sholat 5 waktu ya mbak.

Wassalam

saya akan senang apabila mbak memberi tanggapan ke e-mail saya

#20. Dikirim oleh Abdul Rochim  pada  21/07   03:07 AM
Halaman 1 dari 8 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?