Kritik Hermeneutika Al-Quran
Oleh Redaksi
Akhir-akhir ini kelompok Islam liberal rajin mengintroduksi berbagai artikel yang berisi dekonstruksi atas metode tafsir yang telah mapan dalam sejarah ilmu tafsir. Metode tafsir para Ulama Salaf (Ahlussunnah) dianggap klasik dan tidak kontemporer, sehingga banyak pesan ayat Al-Quran terpasung oleh penafsiran tekstual. Sementara konteks peradaban menuntut adanya berbagai penyesuaian signifikan.
Komentar
Bismilahirrahmanirrahiim.
Tiada tuhan kecuali ALLAH Yang Maha pelindung dari tipu daya setan yang terkutuk.Dan Tiada tuhan kecuali ALLAH Yang Maha Pembimbing kita kejalan yang lurus atau benar.
Kita melihat masarakat islam pada umumnya sangat terbelakang dan juga sering terjadi pembunuhan2 sesama muslim atas nama agama islam.
Sedangkan kita sudah meyakini bahwa ajaran2 islam itu adalah membawa;peace, tolerensi, kasih sayang, hidup yang harmonis dengan bermacam agama dan bangsa...atau peaceful “Society” yang sejahtera.
Tapi kenyataan dilapangan jauh dari apa yang di gariskan oleh Al Quran dan sunnah Rasul. Dimana kesalahan2nya ini?
Dari pengamatan saya “The trouble with Islam Today” adalah;
1.Ulama2, usztad2 dan islamic Scholars suka memberikan “Judgment” atau mengadili keyakinan orang lain, keyakinan saudara2nya atau tetangganya dengan menge-cap atau memberi label ajaran sesat-menyesatkan, munafik, khafir, anti sunnah, menodai islam, dan merusak islam dari dalam.
Inilah macam tuduhan2 yang di lontarkan kepada golongan2 islam yang berbeda dengan mereka. Langkah selanjutnya adalah untuk meng-haram kan atau melarang golongan2 tersebut untuk menjalankan aktivitasnya dlm masarakat.
Apa yang akan terjadi kemudian? Sudah tentu golongan2 islam yang di haramkan tidak tinggal diam, akan memberikan perlawanan untuk exist dengan bermacam cara. Maka terjadilah permusuhan sesama muslim, dan kemudian masarakat islam menjadi pecah, tidak bersatu,ada yang Pro dan Kon.Bahkan permusuhan ini bisa menjadi luas sampai kepada peperangan dan saling bunuh membunuh seperti kita lihat di Saudi,Iraq,Afganistan, Pakistan, Indonesia dll
Kenapa ini terjadi? Karena tidak mentaati perintah ALLAH ini dibawah ini;
ALLAH berfirman;
Do not judge your brother’s faith, you will be not judged.
For with what judgment you judge, with the same measure, it will be measured back to you.
Why do you judge your brother’s faith? Who do you think you are to judge other,
We all stand before God’s judgment hereafter. God made laws, and only God can judge people’s faith.
If you act like wild animal, banning, hurting, harming and biting, watch out, then one another will destroy one completely.
If you hates your brothers, you are in darkness, walk in darkness, do not know where are going, because the darkness has blinded your eyes…and then you will fall into misery.
So, do not judge someone, you will be not judged, love each other, and
Respect differences and respect each other. Life is lovely, and wonderful.
Kalau kita perhatikan umat Kristen yang terdiri dari ratusan Sekte2 krsiten dapat hidup damai dan harmonis dlm perbedaan2 , sehingga mereka bersatu dalam membangun masarakatnya yang sejahtera.
Sebaliknya umat islam bukan bersatu untuk membangun masarakat Rahmatan lil’alamin, tapi satu sama lain saling hancur menghacurkan, seperti kehidupan binatang liar sebagaimana ALLAH peringatkan di atas itu.
Kesimpulan; Masalah/ trouble di dalam masarakat islam sekarang ini adalah karena ulama2, usztad2 dan islamic scholar tidak saling hormat menghormati perbedaan2 yang terjadi dalam masarakat islam dalam memahami atau menafsirkan2 al quran dan hadits2.
Sesungguhnya kalau ada golongan2 yang ingin pecah dari golongan yang mampan dan untuk berdiri sendiri, tidak ada tanggung jawab ulama2 dan usztad2 tapi semua diserahkan kepada ALLAH swt untuk mengadili keyakinan beragama yang benar dan salah.
Sesungguhnya orang orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadapat mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanya lah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.QS.6:159.
As for those who divide their religion and break up into sects, thou hast no part in them in the least: their affair is with Allah: He will in the end tell them the truth of all that they did.
Untuk kita bisa kembali menjadi masarakat rahmatan lil’alamin, masarakat teladan, haruslah kita semua mentaati peringatan2 ALLAH diatas itu yaitu respect difference and respect each other...love one another...we are born to love God and people.Do not we?
Semoga observation saya ini ada manfaatnya bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum wrwb
http://latifabdul.multiply.com/journal/item/315
Untuk mas Latif…
Sebetulnya kalau anda pernah di pesantren (asumsi saya sih anda bukan dari pesantren, maaf kalau ternyata salah). Mungkin tidak akan menemui hal-hal yang anda kemukakan diatas. Intoleransi, Menang sendiri, takfir ilaa ghairihi, ini Insya Allah tidak terjadi di pesantren. Sebab metodolgi pengambilan ijtihad dalam Jurisprudensi Islam (Baca Ushul Fiqih) maupun Ushul tafshir diajarkan secara mendatail di pesantren.Saya setuju dengan anda, bahwa kita seyogyanya menhormati pemikiran orang lain dalam perbedaan ijtihad Hukum maupaun penafsiran ayat. Akan tetapi, menurut saya, penghromatan itu haruslah kepada usaha yang dilakukan dalam berijtihad itu. Bukan semata-mata hasilnya. Artinya kalau memang menurut saya -misalnya- tafsir anda itu salah dalam proses ijtihad anda. Maka tentu proses itu bisa saya kritik bukan? sebagai sebuah budaya inetelktual yang terbangun dengan begitu indah sejak jaman para sahabat dulu? Nah, proses kritik ini, tentu memerlukan garis pijakan yang sama. Dasar metodologi yang sama, yang sudah menjadi kesepakatan umum para ulama. Sebab analogy-nya, bagaimana mungkin seorang montir mobil akan mengkritik seorang ahli bangunan?? Karena memang metodolginya berbeda.Nah, dalam paparan diatas. yang disorot adalah penggunaan metodologi penafsiran yang keluar dari kelaziman dan kesepakatan ulama tafsir dalam memahami konteks ayat. Jadi inilah rupanya titik ketidak sinambungan itu. kalau saja metode penafsirannya sama, maka Insya Allah kita akan menghormati ijtihad itu sebagai sebuah upaya intelektual yang berguna. kalau toh ada kesalhannya, bisa dikritik dan disempurnakan lagi, tapi sekali lagi tentunya dengan standar metodologi yang sama Yah, semoga ini bisa menjadi tambahan ilmu buat kita semua, dan diri saya pribadi khususnya…
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)