Kritik Nalar Teologis
Oleh Novriantoni
Dalam batas tertentu, nalar teologis memang melegakan. Nampaknya itulah yang diinginkan Abduh dan mereka yang disebut pembaru Islam. Hanya saja, dia juga melenakan, lalu membuat kita tak sadar diri. Saya kira, sudah saatnya kita pelan-pelan meninggalkan nalar basa-basi seperti ini, sekalipun dia cukup membesarkan hati. Kita lebih perlu untuk rendah hati, sekaligus tidak merasa rendah diri.
Komentar
Selama Islam adalah interpretasi manusia terhadap ayat-ayat Allah, maka selama itu pula Islam bisa salah. Nilai salah ini dikaitkan dengan olah budi manusia. Pernyataan Muhammad Abduh tersebut tidak bisa dikatakan bahwa dia selalu membenarkan Islam. Pernyataan tersebut lebih menunjukkan pemahaman Muhammad Abduh terhadap ayat-ayat Allah yang biasa disebut al-Quran.
Mungkin saja Muhammad Abduh mendapatkan pemahaman atau interpretasi al-Quran yang lebih baik sehingga dia dapat berkata seperti itu. Hal ini tidak berbeda dalam dunia fisika misalnya, di mana seorang fisikawan dapat saja mengklaim pemahamannya yang paling benar selama dia dapat menjelaskan fenomena yang ada dengan pemahamannya tersebut secara konsisten. Yang patut disayangkan adalah pemahaman yang mengabsolutkan dan menolak kritikan ketika pemahamannya tersebut bertolak belakang dengan kenyataan.
Menarik sekali apa yang diucapkan oleh Muhammad Abduh ini. Hal ini menandakan bahwa Islam sebenarnya sangat luas, tidak hanya dibatasi oleh tempat, ruang, waktu, suku, adat, budaya, dan bahasa. Islam adalah pencerminan dari Allah Yang Maha Luas. Jadi jika kita memandangnya secara satu sudut pandang saja, atau dari segi tertentu saja. Sangat sayang kiranya, karena di dalam Islam terdapat pengetahuan yang sangat luas.
Jadi memang betul, jika kita kurang luas dan arif dalam memandangnya serta mempelajarinya, maka kualitas seperti apa yang akan kita dapat, kualitas manusia seperti apa yang ada pada kita, ini sudah banyak terbukti di negeri kita ini yang mayoritas beragamanya adalah Islam. Ini bukan berarti menyalahkan umat Islam di negeri ini. Marilah kita melihat diri kita sendiri, apakah sudah benar kita ini, kesalahan sebiji sawi, jika itu terdapat pada orang lain, kita akan jeli sekali melihatnya, tetapi kesalahan sebesar balok di depan pelupuk mata, kita tidak bisa melihatnya. Pemahaman-pemahaman dari mutiara-mutiara yang ada pada Islam masih perlu kita gali lagi.
Memang kadang kita hanya melihat dari sisi kita saja, kitalah paling benar, kitalah paling hebat, orang lain salah. Padahal dalam kenyataannya kitalah justru yang membingungkan, tapi orang lain yang kita pandang salah, sesat, kafir, tidak mengenal Allah, tidak beragama dll, malah mempunyai hukum yang lebih baik serta mempunyai tenggang rasa dan menghormati hak-hak manusia lain.
Nah karena Islam itu Luas , maka sebenarnya Islam sangat cocok sekali dengan hal-hal yang menyangkut kebaikan dan kebenaran yang ada di dunia ini. Namun penggalian nilai-nilai agama yang ada ini, saya kira, bukan hanya dialami oleh Islam saja, agama-agama lain pun jika tolok pandangannya masih berkutat pada pembenaran menurut dirinya sendiri, tanpa mau menggali lebih dalam lagi, pastilah kualitas manusia yang lucu lagi kita dapat.
Jadi saya kira jika pendalaman agama-agama tidak pada kebenaran yang sebenarnya (kebenaran sejati dari pelajaran agama itu sendiri), malah agama itu seolah-olah bisa menjadi monster yang menakutkan. Contoh terjadinya konflik Ambon, Poso, Bom Bali, dll. Agama hanya akan dipakai untuk kepentingan-kepentingan yang malah jauh dari kebenaran agama itu sendiri.
Marilah kita coba cari kebenaran sejati lewat firman-firman yang telah diturunkan di dunia ini.
Salam Sekian
Tolong deh tunjukkin satu saja ajaran Islam yang ‘salah’ tersebut! Mohon disertai dalilnya, baik dari Qur’an maupun sunnah shahihah.
Saya sepakat Islam adalah ‘dinul kaffah wasy syumliyah’, agama yang lengkap dan menyeluruh. Ini sesuai dgn firman Allah sendiri. Tak ada ‘modernisasi’ dalam Islam, Islam sudah modern sejak diturunkannya. Tentang shalat dan puasa misalnya, sejak dulu begitu.
Yang ada adalah pembaharuan dalam pemikiran, kebudayaan, keilmuan, dsb. Di situlah letak ‘rahasia’ dan fleksibilitas hukum Islam. Adapun pendapat atau klaim bahwa agama Islamlah yang diridlai Allah, itu kan berdasarkan wahyu. Silakan dicari sendiri. Agama tidak bisa disalahkan karena kesalahan pengikutnya. Jadi, ketika saya bilang: Islamlah yang paling benar, paling diridlai Allah Swt. mohon jangan diartikan: akulah, kamilah, kitalah… bla bla bla. Sedang utk kasus Ambon dan Poso, biangnya sapa sih?
Sekian. Maaf kalau ada salah ucap.
Kebetulan saya kemarin membaca Jawa Pos pada halaman Kajian dan saya baca bagian yang kelihatan menarik. Yaitu pada kolom Refleksi dengan judul Kritik Nalar Teologis. Sejujurnya saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Mr. Mahathir Muhammad tentang perkembangan umat Islam dewasa ini.
Saya cuma ingin mengajak semua umat Islam untuk mau jujur merenungi sejarah mulai Al-Quran diturunkan hingga sekarang ini. Prestasi apa sih yang telah kita perbuat hingga mengahasilkan sesuatu yang bisa dinikmati oleh seluruh umat manusia ? Tidak perduli oleh bangsa apa saja, dan agamanya apa saja. Mari kita jujur mengakui bahwa hampir tidak satupun negara didunia ini yang belum menikmati hasil karya saudara-saudara kita yang non-Moslem.
Silakan dihitung apa saja yang ada di ruangan kita saat ini. Mulai dari listrik, lampunya juga, mobil, pesawat terbang dan pesawat telpon, dan segala macam penemuan yang bisa kita nikmati bersama ini, ternyata bukan karya muslim! Bahkan komputer yang kita hadapi sekarang ini adalah bukan karya kita?
Malah kita sekarang sudah memperoleh gelar non formal sebagai kaum teroris! Apa yang bisa kita banggakan saat ini selain bisa merakit bom?
Maaf mungkin pendapat saya sudah sangat keterlaluan. Tapi semua ini karena saking cintanya jiwa ini kepadamu wahai umat Muhammad. Mari kita renungkan dengan segala kebesaran jiwa.
Sedari mula saya prejudice terhadap artikel Sdr. Novriantoni yang berjudul “Nalar Teologis” ini. Setidaknya tesis terakhir yang diajukannya malah ternyata membenarkan dugaan saya.
Saya kurang mengerti betul korelasi apa yang dipakai oleh Sdr. Novriantoni dalam mengukuhkan bahwa instrumental Islam sebagai sebuah agama yang ‘das sollen’ sangat memaknai kreativitas intelektual seseorang. ‘How measure can explain that?’
Apa yang saya pahami dari lontaran ‘Abduh adalah hanya penekanan universalitas nilai-nilai Islam. Sejauh apa yang dikonsumsi Barat sebagai ‘the way of life’ mereka tidak bertentangan dengan nalar teologis Islam, maka itulah sejatinya Islam. Konsepsi semacam ini tidak perlu kita asumsikan sebagai menohok Islam.
Pertanyaan saya untuk Sdr. Novriantoni, ‘apa yang Islam telah kontribusikan terhadap kehidupan intelektual Anda selama ini?’ Saya sendiri malah lebih suka untuk menegasikan pertanyaan tersebut. ‘Apa yang telah saya kontribusikan untuk kemajuan Islam?’
Berarti, di sini masalahnya adalah kreativitas. Kreativitas Einstein misalnya, sama sekali tidak berhubungan dengan nilai-nilai teologis yang dianutnya. kreativitas [dan bukan nalar teologis] dalam hal inilah yang menghasilkan produk-produk. Penggugatan kemandulan Islam terhadap produk-produk semisal mobil, komputer, motor, handphone, radio, televisi… saya pikir ini lucu sekali. ‘What the relation is?’
Terakhir, kesan saya… yaa kalo IQ-nya yang memang jongkok ya sulit kita mencapai modernitas itu…
sekian, salam.
Sebenarnya Islam itu tidak salah dan tidak menghambat kemajuan. Yang salah dan menghambat kemajuan itu adalah manusia itu sendiri.
Nah sekarang kita ingin bertanya kepada mereka yang berkenaan, baik mereka itu seorang pemimpin atau pun seorang individual. Kalau kita tahu bahwa sekarang ini kita mundur lantaran ajaran yang salah, apakah reaction kita terhadap society.
Seharusnya kita mesti mengambil langkah langkah yang positif. Setiap action itu pasti ada reaction lantas kita perhatikan apa resultnya nanti, apakah membawa perubahan yang baik atau sebaliknya.
Masyarakat Islam sekarang sudah sampai masanya untuk belajar Quality Control. Apa amal kita seharian menghasil kan quality atau sebaliknya baik dalam hal-hal ibadat, perkerjaan, pelajaraan, dan lain sebagainya.
Kita mesti punya satu konsep, yaitu setiap masalah mesti ada solusinya. Mindset kita harus ditukar dari pesimistik kepada optimistik. Insya Allah saya yakin umat Islam akan mencapai kemajuan.
Wassalam Sa’at Bin Mohamed Singapore.
Islam tetap necis, kudus, atau tidak, saya kira, bukan permasalahan yang terlalu penting untuk diperbincangkan. Yang terpenting adalah merasionalisasikan Islam tanpa terkungkung oleh otoritas apapun, sehingga akan memunculkan greget untuk berkreativitas mencari kebenaran, menampilkan wajah Islam yang sesuai di segala waktu dan tempat. Tentunya yang dimaksud kebenaran di sini, bukanlah acuan nilai tetapi lebih bersifat tatanan realitas.
Tulisan sdr. Novriantoni “Kritik Nalar Teologi” rasanya lebih tepat dilihat sebagai kampanye budaya kritik terhadap doktrin, teori atau ajaran Islam, yang memang bisa dikatakan kurang atau bahkan tidak ada. Sudah saatnya terjaga dari pemikiran yang meninabobokan kita, merasuk dalam pikiran dan terejawantahkan dalam perilaku keberagamaan. Pemikiran yang masih dilingkupi doktrin dogmatis akan membuat manusia semakin teralienasi dari realitas, tanpa sedikitpun menoleh pada sejarah, dan biasanya disertai dengan dalih membela keotentikan ajaran Islam. Dalam prakteknya lebih terkesan menuhankan ajaran dan memutlakkan kebenarannya. Semestinya
Islam dilihat sebagaimana kenyataannya dalam sejarah. Tanpa mengerdilkan kenyataan dari kebenaran, seolah-olah kebenaran teralienasi dari kenyataan. Cara pandang seperti ini dapat diawali dengan memandang si pelaku ajaran, dalam hal ini manusia -–juga sebagaimana adanya—sebagai makhluk yang menjalani kehidupan dengan segenap kesenangan dan kegetirannya, keberhasilan dan batu sandungannya, kelebihan dan kekurangannya, keburukan dan kebaikannya, sebagai makhluk yang menjalankan keislaman sesuai dengan kondisi dan latar belakangnya, yang juga harus berangkat dari keinginan kuatnya untuk menjalankan agama sebaik-baiknya.
Melalui cara pandang ini pula, kita melihat Islam sebagai “benda” yang memroduksi peristiwa dan sejarah, membentuk kepribadian para elit politik, elit agama, pemikir dan secara umum pemeluknya. Semua itu adalah kenyataan Islam, dan bukan hakikat Islam. Karena hakikat Islam tak bisa diperoleh secara final, tetapi berubah-ubah dan berwarna-warni sesuai dengan budaya, lingkungan, dan kondisi objektif. Hakikat dan kebenaran Islam adalah ajaran Islam yang memberikan tempat terhadap realitas kehidupan.
Oleh karena itu tidak ada pembicaraan mana yang benar dan salah dalam konsep hubungan antar ajaran dan pengamalan praksis. Karena antar keduanya ada proses pembentukan yang saling bergantian yang menyebabkan sesuatu tidak bisa dipikirkan dan dikaji tanpa sesuatu yang lain. Dalam suatu masyarakat beragama —yang merupakan interaksi dialektis antar keduanya—, rasanya kurang tepat jika kita hanya menganggap salah penganut agama, tanpa mengoreksi doktrin dan ajaran agama. Untuk selanjutnya dilakuakan dekonstruksi dan rekonstruksi.
Dalam arti tidak hanya membaca dan memahami teks terbatas pada apa yang dibicarakan oleh teks, tetapi melihat dan mencari apa yang terlewatkan dari teks tersebut, lalu ditransformasi dan dianalisa dengan perangkat analisa dan metodologi yang relevan. Sehingga Islam tetap cantik sekaligus elegan. Karena Tuhan telah rela Islam menjadi agama kita.
Salam
Pemahaman pluralisme teologis telah banyak menyesatkan masyarakat awam. Oleh karena itu perlu dikaji lagi agar tidak memberi pengaruh negatif. Bagi saya Jaringan Islam Liberal (JIL) merupakan alat bagi kaum kafir yang memusuhi Islam. Oleh karena itu, segeralah bertaubat.
Saya sependapat dengan Saudara Ronal. Kita, sebagai umat Islam, nggak boleh dong memutuskan suatu hal, yang berkaitan dengan agama, meskipun cuma pemikiran, apalagi yang agak menyimpang, tanpa IJTIHAD lebih dulu. Saya yakin penulis tidak melakukan itu. Menurut hemat saya, kalau seseorang mau berpendapat, apalagi yang menyangkut masalah umum yang mendasar, nggak selayaknya cuma main-main.
Apa penulis, dan pemikir yang mengemukakan pendapatnya, sudah benar-benar dapat memahami seluruh isi Al-Qur’an? Nggak yakin tuh.
Assalammualaikum.wr.wb,
Ajaran Islam tidak salah, hanya karena sistem pengajaran dan cara pengajarannya yang membuat ajaran tersebut kurang dapat di resapi oleh umat. Sehingga menurut saya, kita harus memperhatikan kualitas dalam pengajaran daripada kuantitasnya sehingga ajaran Islam dapat lebih membumi di negara-negara Islam terutama Indonesia. Sehingga nanti kita akan melihat lebih banyak Islam di Indonesia.
Wassalammualikum.wr.wb,
Muhammad Islam
Manusia dilebihkan Allah dari mahluk lain dengan karunia: Emajinasi, Nalar dan Self Conciousness, dengan kelebihan ini manusia pantas dijadikan khalifah diatas bumi, ayat Allah pertama adalah “Iqro bismirobbika” artinya baca - gunakan nalar dan emajinasi dengan tidak melupakan self conciousness (bismirobbika) dalam menangkap gejala dan proses disekitarmu dalam rangka missi sebagai khalifah di bumi. Dunia ini berubah berproses waktu dan tempat dengan sendirinya budaya manusia juga, ini sunnah Allah, maka dengan :“iqro’” menggunakan 3 karunia Allah tadi manusia dipercaya menangkap dan mengelola perubahan2 dunia, dan pantas menjadi khalifah fil ardhi sepanjang jaman. Saya setuju doktrin Islam maupun amalan2 nya terus menerus di “Iqra’” kan sesuai proses waktu dan tempat tanpa melunturkan nilai2 religiusitasnya, mengapa tidak. Dengan begini akan terasa Islam itu benar2 “hudan linnaas” dan “rahmatan lil aalamiin”. Faisal Haq, 29/10/03 Jakarta Allohu a’lamu bissawaab.
AlQuran tidak diturunkan untuk suatu masa dan suatu ruang, tapi melintasi sepanjang masa dan seluruh ruang. Bisa jadi ada firman Tuhan untuk masa kita atau diruang kita, kita “menganggapnya” keliru tapi untuk lain masa dan lain tempat menjadi benar. Bukankah nalar manusia yang kita agung-agungkan terus bergerak dan berevolusi?. Sesuatu yang kita anggap irasional pada saat ini menjadi sangat rasional pada lain waktu, seiring dengan berubahnya nalar kita. Dan ternyata logika manusia sangat dipengaruhi oleh paradigma dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika Ptolemy mengatakan bahwa bumi merupakan pusat tata surya, semua orang menerimanya sesuai dengan logika dan paradigma pada masa itu. Ternyata Galileo melalui risetnya meruntuhkan pandangan tersebut. Untuk masa sekarang menjadi sangat aneh dan tidak nalar bagi kita jika masih ada yang berpandangan seperti Ptolemy. Demikian halnya dengan beberapa pandangan Newton yang mekanistik dilumpuhkan oleh relativitas Einstein. Tidak semua ayat Tuhan bisa dipahami oleh sebuah otak anak manusia. Untuk memahaminya butuk waktu dan banyak otak. Perlahan-lahan banyak perkembangan Ilmu Pengetahuan mulai membuka tabir ayat-ayat Ilahi. Imam Ali pernah berkata ” satu ayat Tuhan mempunyai ribuan makna”. Galilah makna itu.
Terus terang saya sangat terkesan dengan hadirnya situs JIL ini, pengenalan Islam yang selama ini saya dapat- atau boleh dikatakan demikian- selalu memandang semua sisi dunia dari segi ’ Syari’at ’ , padahal menurut saya Islam lebih jauh memandang ke depan, Islam lebih jauh memandang ajaran Al Qur’an lebih dari sekedar ’ KUHP’, Al Qur’an bukan saja sebagai petunjuk tetapi sebagai seberkas cahaya dikegelapan, sekarang tergantung kita….pelita sudah ditangan..akankah tetap diam ditempat..??? Atau maju melangkah dengan pelita Al Qur’an..???
“... Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui apa yang disembah. Akibatnya dikalahkan martabat hidupmu. Jika didunia ini engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, maka engkau seperti menyumpit burung. pelurunya hanya disebarkan, burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia” ( Syekh Siti Jenar :Suluk Wujil bait 12 - 13 )
Keegoan kita dalam menyikapi sejarah menjadikan kita sombong dan menjauh. Bacalah Sirah Nabawiyah!
Bacalah fase-fase Islam dari mulai dikenalkan, ditawarkan, ditentang, diperangi, dan seterusnya.
Bukankah Hukum-hukum semisal larangan khamr tidak ditentukan di awal fase?
Bukankah Iblis pertamanya seorang yang beriman?
Islam itu “way of life”. Akhlaq adalah ruh aktualisasinya! Siapa yang sudah dibelokkan jalannya?
Ane prihatin dengan hadirnya JIL. Pemikiran yang dengan “dalil” ijtihad, tetapi merusak permaslahan yang baku dam Islam. Penafsiran dengan seenaknya, dengan alasan Islam adalah agama yang mudah. jangan dipermudah. JIL terus mempermudahkan semua persoalan, sehingga dalam penafsiran dibuat agar orang “mudah” bertindak. Padahal Islam sudah mengatur semua.
Saya pernah membaca dan berdiskusi kepada salah seorang yang menurut saya tahu lebih banyak dari saya dalam hal agama Islam. Kita perlu merunut lagi sejarah pengkodefikasian Al-Qur’an. Sejarah telah mengatakan bahwa, pengkodefikasian al-kitab dari berupa lembaran-lembaran (mushaf) menjadi sebuah kitab utuh, tidak selancar yang diperkirakan.
Di waktu pemerintahan Utsman, agar terjadi penyamaan dalam al-kitab, maka ada beberapa al-qur’an dari beberapa sohabat yang dimusnahkan. Dan yang dimusnahkan itu adalah yang tidak sejalan dengan mushaf utsmani. Jadi ada beberapa ayat al-qur’an edisi sohabat nabi yang lain tidak tereksplorasi hingga sekarang.
Jadi ada beberapa kemungkinan, ayat yang kemungkinan besar benar terbakar pada waktu jaman utsmani. Itu hanya dari segi sejarah pengkodefikasian al-qur’an, masih belum dari segi tafsir yang berbeda-beda. Menurut saya pembahasan ini perlu pendiskusian yang berlanjut dari para ulama. Kalaupun itu tidak sepaham, hargailah perbedaan pendapat dari segi tafsir maupun yang lainnya sebagai rahmat bagi umat.
Firman yang diturunkan dari Allah ke Muhammad tidak melalui Jibril tidaklah mungkin salah. Yang kemungkinan salah adalah dari Nabi ke Sahabat, selanjutnya ke Tabi’in, terus ke Tabi’in-tabi’in, dan seterusnya hingga saat ini.
subhanallah…Maha suci ALLAH dr segala prasangka buruk dr makhluknya..mengomentari komentar dr sodara taufik..Sungguh sangat isronis bila seorang muslim berpendapat seprti itu..tentang pembukuan al quran..bahwa ada pemusnahan kitab dari edisi sahabat lain…itu bukanlah redaksi yang berbeda ayat..tetapi logat ato cara pengucapan..dan mushaf usmanipun telah menjadi ijma` shabat di kala itu, bahwa mushaf tersebutlah yang paling valid…Jika di andai-andaikan..sungguh segala sesuatu yang di andaikan akan rusak, padahal para sahabat ..juga ulama setelah itu telah sepakat terhadap masalah itu, bukan cuma mengekor tetapi telah melalui proses yang ketat.
Mengenai perbedaan adalah rahmat, sebenarnya tidak ada hadist yang shohih yang menjelaskan hal tersebut (hadist ttg itu hadist dhoid) justru yang shohih mengatakan bahwa perbedaan itu adalah bencana..JIka secara logika saja, yang namanya pedoman hidup itu tenulah sesuatu yang baku..jikalau tidak, bahwa pedoman hidup seperti penafsiran sendiri sendiri..yah percuma saja di adakan pedoman hidup..jika memang berpikiran demikian..sama aja , meremehkan ALLAH, karena ALLAHlah yang menurunkan pedoman hidup tersebut.
Tentang wahyu…yang di katakan ada kemungkinan kesalahan dr Muhammmad ke para shahabat..SUNGGUH SANGAT IRONIS, sebagai umat muhammad sangat tidak pantas berkata demikian. Muhammad sebagai penyampai wahyu di katakan bisa saja salah menyampaikan sama aja MERAGUKAN MUHAMMAD SEBAGAI UTUSAN ALLAH…sungguh hal tersebut bisa mengakibatkan pelakunya keluar dr iman islam..
——-
Ikut nimbrung aja mengenai islam. Ada salah satu kebenaran tentang islam yg cocok dengan ilmu science.
coba kita pikirkan tentang ” Malaikat “
knp Malaikat cocok dengan ilmu modern ?
sebab malaikat diciptakan dari cahaya
Lantas mengapa kalau dari cahaya ?
salah satu contoh “malaikat mungkar” yang bertugas menanyakan seseorang di alam kubur mengenai segala perbuatannya semasa hidup di dunia.
coba pikirkan satu malaikat dapat melaksanakan tugas tersebut, sedangkan pada satu hari saja ratusan atau bahkan ribuan orang yg meninggal pada saat bersamaan, apakah malaikat mungkar tidak kebingungan tuh.
kita kembalikan pada al-Quran yg menyatakan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya, menurut para ahli iptek Kecepatan cahaya dalam sebuah vakum adalah 299.792.458 meter per detik (m/s) atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h) atau 186.282.4 mil per detik (mil/s) atau 670.616.629,38 mil per jam (mil/h). tetapi ini hanya dasar dari teori iptek tentang kecepatan cahaya.
sumber iptek dapat dilihat dari :
1. http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi? fenomena&1172921459;&1;2. http://www.angkasa-online.com/13/12/fenomena/fenomena1.htm
bahkan cahaya pun dapat menembus ruang ( contohnya penggunaan satelit ) ato bahkan waktu.
jadi ga perlu repot2 malaikat mungkar dalam melaksanakan tugasnya, karena dia diciptakan dari cahaya dan otomatis mempunyai karakter dan kecepatan cahaya ato bahkan lebih pada hakikatnya.
Komentar Masuk (19)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)