Editorial,
01/10/2006

Kultur Takfir

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran.

01/10/2006 09:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

‘kultur takfir’ dalam sejarah umat Islam merupakan institusionalisai dari ‘rasa ketidak-sukaan’ akan ‘yang lain’. ‘tafsir’ resmi, menjadi justifikasi atas nama otoritas. dan kekuasaan menjadi pembenar, untuk melakukan pemaksaan penafsiran tunggal.

itulah persoalannya, ketika keniscayaan keberagaman penafsiran harus diterjemahkan satu versi.

dalam budaya Arab sendiri budaya ‘takfir’ lahir, karena penafsiran ekslusive. Bahwa mereka yg berbeda, mereka yang berpendapat lain sebagai ‘the other = the hell’. atau sesuatu ‘yg bukan kita/golongan kita’. maka saat mengklaim bahwa ada satu pendapat maka yg tak berpendapat sama = kapir.

kata ‘takfir’ menjadi lebih serem karena menjadi idiom agama untuk menuduh mereka yg berbeda sbg ‘yg lain’ dan harus diperangi. walau pada awalnya ini hal biasa yg digunakan untuk mengidentifikasi tentang yg bukan kita.

sebelum menjadi idiom agama, takfir sebetulnya sama saja dgn   ungkapan ‘eh elu kaga bener, elu bukan genk guwa”.

#1. Dikirim oleh sirojudin mursan  pada  04/10   05:11 AM

Saya tidak habis pikir, mengapa karakter islamnya orang-orang Arab harus dipaksakan untuk diterapkan pada islamnya orang indonesia. padahal Indonesia itu bukan Arab, dan islam itu sama sekali tidak identik dengan Arab. Islam memang turun di negeri unta, akan tetapi islam untuk seluruh alam yang pasti memiliki kultur berbeda. Penerapan perda-perda syari’at islam yang akhir-akhir ini melangit di bumi Indonesia saya lihat lebih cenderung adanya gejala meng-Arabisasi islam di Indonesia, karena yang diusung bukan substansi islam yang rahmatan ‘alamin, tetapi lebih mengarah pada teori-teori wahabisme yang sebenarnya di negeri asalnya paham ini mulai tergeserkan oleh rasionalitas para intelektual muslim. Islam (al-qur’an dan al-hadits) menurut saya, tidak ubahnya sebuah idea moralitas dan spiritualitas yang bersifat abstrak, dan manusia diberi akal untuk menterjemahkan idea itu dalam wujud kemaslahatan umat mansuia secara menyeluruh, dan itu sebenarnya yang telah dicanangkan oleh Rasulullah pada periode Makkah. Saya yakin, dengan sendirinya teori tafkir yang sering muncul di kalangan penganut islam lambat laun akan hilang dengan perkembangan kecerdasan keberagamaan masyarakat kita.

#2. Dikirim oleh Mustahdi  pada  05/10   02:11 PM

Saya sependapat dgn Sdr Mustahdi. Karena jika kita amati sejarah masuknya Islam ke Nusantara yg notabene tidak melalui pertikaian berdarah adalah oleh karena inkulturasi bukan meng-impor dari Arab. Maka dgn demikian bisa kita pahami kentalnya inkulturasi ini terutama di daerah Jawa. Dan ini pulalah yg menjadi prinsip kalangan NU dan juga Gus Dur (GD). Maka kalangan NU pun lebih setuju menerima keadaan plural NKRI dan dasar negara Pancasila, sekaligus men-tranformasikan nilai2 ke-Islam-an ke dalam budaya, bukan pemaksaan ke dalam institusi kenegaraan.

Pendekatan yg jauh berbeda dilakukan terutama sejak dekade 1990-an dimana ada sekelompok ummat Islam yg mungkin masih terbawa mimpi2 NII atau DI/TII dan masih berkeinginan utk mewujudkan sebuah negara teokratik di bumi Indonesia dalam sebuah formalisasi syariah. Konsekuensinya tentu saja segala “gentlement agreement” dalam pendirian negara ini menjadi mentah.

Yg terjadi justru ummat Islam skrg jauh lebih mementingkan simbolisme keagamaan demi sebuah kepentingan jangka pendek kelompok tertentu drpd memikirkan hal2 esensial.

Misalkan di Aceh dgn penerapan hukum syariat dimana yg terjadi ada elemen2 sipil ikut melakukan “policing action” (aksi polisi) dalam menyetop wanita2 yg memakai celana jeans misalnya atau ngusi orang pacaran drpd berpikir bagaimana membentuk sebuah pemerintahan yg bersih, efektif dan efisien. Logika2 ironi inilah yg digunakan oelh kalangan2 sektarian yg sedang euforia di negeri ini melakukan pembodohan2 dlm pemahaman keagamaan. Kenapa ? Karena tujuan akhir mereka bukanlah urusan spiritual melainkan KEKUASAAN, ya kekuasaan itulah jawabannya. Kekuasaan ujung2nya adalah “uang”. Well, it all comes back to money, isn’t it ?

Merdeka !!!
——-

#3. Dikirim oleh Johan  pada  06/10   09:11 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?