Editorial,
22/12/2008

Lia Aminuddin dan Problem Penghapusan Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Dengan demikian, agama baru tak boleh bersikap angkuh dengan menganulir ajaran agama sebelumnya yang telah menjadi keyakinan para pengikutnya sejak lama. Seperti halnya Lia yang tak boleh sewenang-wenang menghapus agama Islam, maka begitu juga ulama Islam tak boleh memvonis secara sepihak terhadap agama yang tumbuh sebelumnya. Injil tak bisa diadili dengan menggunakan Alquran, misalnya, karena konteks yang melatari kehadiran dua kitab suci itu jelas berbeda.

22/12/2008 05:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (97)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 5 halaman 1 2 3 >  Last ›

Bung Ghazali

Awalnya melihat judul editorial anda, sangat menarik dan simpatik.  Perkiraan saya anda akan menyidang ‘agama’ Lia ini versi JIL, ini baru ok, karena yang dibela semua agama yang telah lama eksis di tanah air ini. Namun lagi-lagi, seperti biasanya, penonton harus dikecewakan karena ujung-ujungnya adalah Islam lagi yang anda ‘sikat’ dengan meminjam kasus fenomenal Tante Lia ini. Anda menyamakan Islam dengan ‘agama’ Lia dalam hal penghapusan thd agama-agama sebelumnya.  Tolong jujur sedikit Bung, baca Al-Qur’an baik-baik, tak ada ayat yang secara deklaratoris berbunyi seperti ‘wahyu’ Tante Lia itu memberangus agama-agama sebelumnya, yang ada malah ayat lakum diinukum waliyadiin (surah alkaafirunn), yang memberi hak hidup terhadap agama-agama lain.

Yang mengherankan, kenapa anda malah membela keyakinan yang menganiyaya (baca: ‘agama’ Lia)daripada keyakinan yang teraniyaya (baca: Islam)???  Mari berkaca pada kehidupan normal keseharian sesuai public decency Bung!!

#1. Dikirim oleh alar  pada  22/12   08:09 AM

“maka begitu juga ulama Islam tak boleh memvonis secara sepihak terhadap agama yang tumbuh sebelumnya. Injil tak bisa diadili dengan menggunakan Alquran”

saya sependapat dengan kutipan pernyataan bapak diatas.
harap bapak juga katakan kutipan tersebut diatas kepada para misionaris nasrani yang bergerak memurtadkan umat muslim dan agama lain di kabupaten2 dengan kedok misi kemusiaan. sehingga kita “SALING” toleransi.

#2. Dikirim oleh Moon Child  pada  22/12   08:24 AM

Bagi saya, tak penting menanggapi apa yang telah dikatakan oleh Lia ‘Edan’ Aminudin tersebut. Buat apa menanggapi kalimat dari orang se-Edan itu yang tidak jelas asal usulnya. Hanya buang-buang energi umat yang kini sedang ghirah dengan penerapan Khilafah Islamiah dan Syariah demi kemajuan Islam dan umatnya tersebut. Tidak perlu mengutip segala perkataan Si Edan tersebut seperti mengutip ayat-ayat suci, toh siapa dia? Dan kita tak merasa Islam telah dihapus oleh siapapun, karena siapa sih Si Edan itu? Nggak penting. Dan tempat si Edan itu bukan di LP harusnya di RSJS (Rumah Sakit Jiwa Sekaliii). Yang penting tegaknya Daulah Khilafah. Allahu Akbar !!!

#3. Dikirim oleh Rachman Fauzi  pada  22/12   08:50 AM

Sesungguhnya orang yang selalu bercengkrama dengan seekor gajah pasti akan mengetahui seluk beluk dan keutuhan fenomena gajah….dia tidak akan terpalingkan barang secuilpun tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan gajah…. beda halnya dengan orang (berfaham reduksionisme) yang hanya tahu tentang gajah dari dongengan…cerita….gambar….rekaman video…atau tulisan-tulisan tentang gajah. Holisme adalah suatu faham antiteses dari reduksionisme yang dapat dinisbatkan kepada orang yang berpandangan utuh tentang segala sesuatu….seperti dimitsalkan dengan gajah maka fenomena holistik dari gajah hanya dapat diketahui dan difahami oleh orang yang selalu bercengkrama dengan gajah setiap waktu…. Nah demikian pula dengan agama….maka fenomena holistik tentang agama hanya dapat difahami oleh orang yang mengkaji…memahami…mengamalkan dan menyebarkan dan aktivitas2 lainnya yang berkaitan dengan ajaran agama tersebut. Keuntungan bagi seseorang yang berpandangan holistik (holisme) adalah dia dapat membedakan mana yang benar2 asli dan palsu…. taruhlah orang yang selalu bercengkrama dengan gajah ...tiba2 dalam suatu kesempatan dia disodori gading gajah dan yang menyodorinya tersebut mengklaim bahwa gading itu adalah gajah… Orang tersebut pasti akan terpingkal-pingkal walaupun seseorang yang menyodorkan gading gajah tersebut terus berkeyakinan penuh bahwa itulah benar2 “gajah” menurut pandangannya….. Nah terkait dengan fenomena Lia Aminudin….dialah orang seibarat yang menyodorkan gading gajah kemudian meyimpulkannya bahwa itulah gajah….. so pasti orang yang tidak pernah atau jarang bercengkrama dengan gajah “bisa” mempercayainya bahwa itulah benar2 “gajah”. Bolehlah bahwa fenomena kenabian selalu diawali dengan fenomena ghuroba (orang2 yang dianggap aneh)... tetapi fenomena ghuroba adalah suatu proses awal yang kemudian diikuti dengan pembumian suatu “agama” yang bersifat universal dan diterima oleh kesatuan nalar-pikir-mistis-trandensius tanpa paksaan dan rekayasa sama sekali. Bukan hanya sekedar dibandingkan secara terpilah-pilah dan serampangan…. Lia aminudin sekarang dianggap ghuroba… maka secepat kilat orang reduksionist mengkonklusikan dia akan membumikan agama baru atau pembaharu…. kalau diterima oleh orang yang tidak atau kurang bercengkrama dengan agama…maka besar kemungkinan fenomena ghuroba dari Lia aminudin akan ditelan mentah2 sebagai proses awal lahirnya agama baru atau pembaharu agama “usang”....... pendek kata kenapa fenomena nabi palsu…atau lia aminudin menjadi perhatian khalayak???.... suatu faktor penentunya adalah faham reduktionisme telah benar-benar dijadikan sebagai akar tumbuhnya masyarakat modern…. sehingga kebanyakan ummat dijaman ini tidak sensitif lagi untuk dapat membedakan mana sesuatu yang “asli” dan mana yang “palsu”..... Kabayan sendiri saat ini terpingkal-pingkal ketika lia aminudin meyodorkan gading…. kemudian lia aminudin menyatakannya bahwa itulah gajah yang “benar-benar” gajah….. tak ada yang akan terpengaruh dengan semua ke-PD-an lia aminudin tersebut…. selain orang-orang reduksionist….atau istilah awamnya KEBLINGER…..

#4. Dikirim oleh kabayanist  pada  22/12   10:39 AM

Menurutku Lia Aminuddin tidak usah ditanggapi sungguh2. Biarkan burung berkicau, kita tetap minum kopi dan melahap pisang goreng dengan nikmat.
Justru kalau kita terlalu serius menanggapinya, atau kita menembak burung tsb, Lia akan menjadi seperti Yesus: melegenda sebagai martir.

(Komentar ini pun sebetulnya tidak perlu dibuat)

#5. Dikirim oleh Asep Sofyan  pada  22/12   02:57 PM

walau bagaimanapun sejarah telah mencatat 14.000 kepalsuan data bible, apakah anda tidak tau sejarah ketuhanan yesus kristus? kapan yesus jadi tuhan? apakah agama masehi yang dibawa isa almasih seperti sekarang ini? kenapa muncul aliran protestanis yang dipelopori oleh martin luther? kenapa muncul aliran ortodok di mesir yang ajarannya berbeda dengan kristen di indonesia?
ayolah mulai berfikir secara aqli dan qalbi, buka mata lebar2, kan anda sendiri yang mengatakan kembali ke aqal, aqal yang manakah yang anda gunakan? aqal tempe kah? atau tahu kah? atau aqal yang sehat?

#6. Dikirim oleh Muhammad Ridwan Al-Jufrie  pada  22/12   03:59 PM

Saya pikir tidak perlu terlalu mengancam dan merasa terancam dalam kasus ibu Lia Aminuddin, karena perkembangan Islam dan agama-agama yang lain telah mencapai pada keyakinan dan kemampanan tersendiri oleh masing-masing umat serta keagamaan itu sendiri sebagai satu sistem.
Kalau ketidakpuasaan dari Ibu Lia dan pengikutnya terhadap agama yang ada serta menyampaikan itu dalam pewahyuan dan publikasi yang terbatas—besar ketika diadukan salah satu pemuka agama dan masuk berita media—sebenarnya perlu dipahami keberadaan mereka. Keinginan untuk meyakini sesuatu adalah hak bahkan menyatakan iman kepada orang lain adalah hak, apabila kita memahami ini, maka pernyataan iman seseorang terhadap orang lain dapat dipandang sebagai satu tawaran atau alternatif. Untuk itu yang ditawari—apalagi ini suatu keyakinan—tidaklah mudah untuk menerima begitu saja suatu keyakinan orang lain, karena faktor keyakinan pribadi itu sendiri, sehingga dia bisa menolak karena tidak sesuai dengna nalar keyakinannya, sehingga tidaklah perlu tersinggung dan membawa ini pada hukum formal. Menyeret kewenangan negara untuk hal-hal yang privat sebenarnya memboroskan waktu dan membawa kita pada pencerminan seberapa besar keyakinan iman kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Mari kita melihat halini sebagai satu gejela di masyarakat yang merasa perlu pembaruan secara pribadi saja.

#7. Dikirim oleh Agustinus Telaumbanua  pada  23/12   05:56 AM

apapun yang anda katakan saya pikir tidak akan ada pengaruhnya dengan ajaran lia eden apalagi islam. bahkan tak menyentuh pagar keduanya apalagi masuk kedalamnya.
saudara muqsith
penjelasan anda telihat agar loyo tidak seperti biasanya. kalau mau menghantam itu yang tegas dong. saya melihat tulisan anda itu laksana seorang pemuda yang memegang pedang yang tajam namun tangannya menggigil terus karena ketakutan; tidak tahu harus diayunkan kemana pedang itu dengan benar (masih penuh ragu-ragu).
malau saya katakan anda tidak yakin dengan islam/ lia eden 100 persen, tidak juga
atau mau saya katakan anda yakin dengan islam 100/lia eden persen tidak juga

menurut saya dalam setiap tulisan anda, saya selalu melihat kegigilan dan keraguan anda yang seolah-olah tak bisa disembunyikan bagi “mata” yang dapat melihat. anda teperangkan dalam jebakan keraguan yang tak berujung dan seolah-olah sulit keluar dari sana.

semoga doa saya ini dimakzulkan oleh TYME
Amin

#8. Dikirim oleh akrom  pada  23/12   10:35 AM

Lia aminuddin sebetulnya cuma setingkat dengan dukun perempuan yg ada di kampung saya, seorang perempuan yg tdak mengerti apapun tentang masalah agama tapi jika ada yg memasuki tubuhnya dia jadi terlihat begitu pandai. Menurut pengakuannya kadang yg masuk adalah arwah wali songo, kadang tuan Abdulqadir jilani, kadang Muhammad SAW, kadang Jibril as si roh kudus itu bahkan yg lebih fantastis adalah kadang Tuhan yg memasuki dirinya. Dia bisa berbicara dg suara, dialek dan bahasa yg berbeda, bisa menerangkan tafsir quran seluas2nya dan macam2 keanehan lagi. Begitu pula yg terjadi dg Lia edenudin, menurut salah seorang mantan pengikutnya Lia sebetulnya tidak mengerti apa2 masalah agama tp jika dirinya sedang extase dan kemasukan arwah, entah itu mengaku jibril atau siapa, Lia mendadak jadi mengerti banyak hal dan bisa menafsiri Alquran. jadi Saya lebih suka menganggap Lia hanya sebagai dukun yg tersesat jalan yg semakin lama semakin tersesat dan perlu segera di selamatkan.

Terlalu besar jika membandingkan apa yg di lakukan Lia adalah seperti apa yg telah di lakukan yesus terhadap agama yahudi, dan apa yg telah di lakukan Muhammad SAW terhadap agama kristian. sebab apa yg telah di lakukan ke 2 orang itu telah berhasil merubah sebuah peradaban ke arah yg lebih baik sementara apa yg telah di lakukan Lia hanya menambah keruh suasana Indonesia saja di tengah kekeruhan yg begitu panjang mewarnai negeri ini.

#9. Dikirim oleh Fatur rafael  pada  23/12   11:52 AM

Assalamualaikum.
Bpk Abd Moqsith G, anda begitu bijak mengulas masalah keyakinan ibu Lia.
Apa yang bpk ungkapkan, semua dapat disimak dari buku sejarah, cuma tidak semua orang mengerti dan mau tahu, dan dapat menyajikan seperti apa yang saya baca, yang dikemukakan bapak itu.
Alangkah baiknya, apa bila tulisan itu dikirimkan ke media, seperti tempo, kompas, ataupun yang lain, sehingga masyarakat bisa baca, bukan hanya JIL saja.
Wassalam   H.Bebey

#10. Dikirim oleh H. Bebey08  pada  24/12   02:59 AM

Repot amat sih ngurusin Lia yg “maybe looks crazy”. Mau bubarin agama kek atau bubarin Partai Golkar dan PDIP biarin aje.Nggak usah repot2

#11. Dikirim oleh Nurcahaya  pada  24/12   04:16 AM

Pembaca yang beriman,

Kecendrungan membenarkan agama sendiri dan menyalahkan agama lain pernah kualami pada masa mudaku. Ketika itu saya selalu percaya bahwa agamaku adalah agama yang paling benar dan agama lain adalah agama yang salah atau menyesatkan. Saya bahkan terkadang terpikir bahwa mereka yang tidak seagama dengan saya akan masuk neraka. Tentu saja semua penilaian ini berdasarkan kacamata kedangkalan pemahaman saya terhadap agama secara umum, khususnya agama saya.

Saya lalu mencoba untuk belajar agama lain, berdialog dengan orang lain baik yang sama agama maupun yang berbeda agama. Saya juga sering melakukan monolog dengan nurani saya. Dalam hal ini terjadi dialog antara akal saya dan nurani saya sendiri. Dari pengalaman-pengalaman ini saya berusaha keluar dari agama dan kepercayaan saya dan melihat semua agama dan kepercayaan dari luar, baik agama saya dan agama-agama lain. Dalam posisi ini saya menemukan bahwa agama hanyalah ALAT untuk mencapai TUJUAN dan bukan merupakan TUJUAN.  Jadi agama dalam hal ini merupakan JALAN menuju ke SURGA. Jadi tidak hanya satu jalan melainkan banyak jalan.

Saya menjadi yakin bahwa setiap agama mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan kemaslahatan Umat manusia dan alam semestanya serta memuliakan Yang Maha Esa. Jadi sepantasnya umat beragama melihat sesama umat baik yang beragama berbeda maupun yang beragama sama merupakan mitra dalam usaha untuk mencapai tujuan di atas. Tak ada gunanya menyalahkan agama lain. Karena kita selalu cendrung menggunakan ajaran agama kita untuk menghakimi agama orang lain.

Menurut saya orang yang selalu menyalahkan agama lain atau selalu mencurigaikan umat agama lain adalah orang-orang yang belum menyerap sari murni dari ajaran agamanya. Mungkin pengetahuan keagamaannya tinggi - menghafal semua ayat-ayat kitab suci - selalu berdoa tetapi jiwanya belum menyelami kedalaman samudra inti ajaran agamanya sehingga selalu takut tergoda oleh orang lain. Imannya bisa goyah hanya karena kehadirang agama lain dan bahkan merasa terancam karena orang atau dia akan lari dari agamanya sendiri.  Orang yang hidupnya penuh curigai-takut dan dengki adalah orang yang hidupnya masih jauh dari SURGA alias KEBAHAGIAN.

Hila

#12. Dikirim oleh Hila  pada  24/12   08:58 AM

Adalah hak Lia untuk mengklaim ajarannya sebagai yang paling benar dan yang lain salah, seperti hak orang lain untuk mengatakan Lia SALAH dan punya dia yang benar. Karena Lia sangat minoritas dan mengancam mayoritas, maka ia pasti tidak berdaya diserang secara hukum, maupun fisik. Islam juga akan terancam di Amerika kalau ajarannya mulai mengancam masyarakat mayoritas di sana.
Namun masalah keyakinan tidak bisa disederhanakan. Tidak ada keyakinan bagi mereka yang setengah-setengah. Karena itu sebagai keyakinan Islam harus menyatakan dia yang paling benar, atau dia yang meluruskan agama lain yang mulai melenceng. Kita penganut Islam percaya bahwa ajaran Rasulullah Muhammad SAW adalah BENAR dan datangnya dari ALLAH SWT, tuhan jagat raya kita. Ini agama terakhir, dan alhamdulillah tidak pernah ada agama besar ( agama yang diyakini oleh miliaran manusia) lagi setelah ISLAM. Inilah sebuah bukti kongkrit dan sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan sampai saat ini.

#13. Dikirim oleh Ali Salim  pada  24/12   10:24 AM

Bapak Moqsith yang saya hormati,
Saya mencoba memahami terhadap tulisan anda tentang Lia Aminuddin tersebut.
Saya cukup sependapat dengan tulisan anda di atas,, walaupun masih banyak hal2 lain yang memerlukan analisa lebih rinci tentang pendapat anda.
Namun,yang membuat saya tertarik dengan kalimat anda “agama baru tak boleh bersikap angkuh dengan menganulir ajaran agama sebelumnya yang telah menjadi keyakinan para pengikutnya sejak lama”... yang penting tidak membuat agama baru lain atau agama lama lainnya, tidak merasa dilecehkan,pokoknya,,, toleransi dan berjuang terus membawa kenyamanan dan keadilan bagi semua.
yang penting adem-adem saja, & mau belajar untuk bisa hidup saling bermanfaat..

#14. Dikirim oleh Afi  pada  24/12   05:10 PM

Assalamu Alaikum w.w.
Untuk mempertahankan keyakinan tentu seseorang akan seperti sedang bela-diri, waspada menghadapi gerak tipu lawan-lawan yang akan menggoyahkan kuda-kuda. Tetapi Lia Eden itu tidak sedang bela-diri, dia malah menjadi pihak yang sangat agresip, main sikut tendang ke-segala arah. Ini suatu fenomena kenekatan yang harus dipelajari.

#15. Dikirim oleh usuprat  pada  24/12   09:30 PM

Sdr Ghazali

Mungkin anda lupa bahwa dunia ini sudah padat dengan AGAMA2 yg biasanya muncul dibeberapa negara
yg sedang berkembang, baik itu ekonominya atau akal manuasianya.Cukup sudah, manusia tidak perlu agama baru lagi ( sayang akalnya koq cuma mikirin agama baru ), alangkah lebih baik dan bermanfaat jika kemampuan meng ANALISA dan hasil jerih payah belajar anda, digunakan untuk berdakwah yg lebih arif dan berguna untuk semua masyarakat.
Sangat setuju dengan Rahman Fauzy, Lia perlu periksa kondisi jiwanya.

#16. Dikirim oleh H.Jufri  pada  25/12   12:41 AM

Golden Rule :
“Apa yang kamu tidak suka orang lain berbuat terhadap dirimu, jangan lakukan terhadap orang lain”

Laksanakan perintah ini, maka dunia akan damai tentram.

Kalau tidak mau dihina, jangan menghina
Kalau tidak mau dipukul, jangan memukul
Kalau tidak mau ajarannya dihina dan dicari-cari kesalahannya, jangan menghina dan cari-cari kesalahan ajaran orang lain.

dst dst dst.
Salam damai sejatera.

#17. Dikirim oleh Budiman  pada  25/12   03:56 AM

@Hila

Saya sangat setuju dan sependapat dengan ulasannya saudara Hila. Sikap menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan menganggap agama orang lain adalah salah dan perlu diluruskan adalah sikap yang sangat berbahaya. Terlebih lagi yang dipakai sebagai alat untuk “meluruskan” tersebut adalah ayat-ayat yang ada di kitab suci agamanya sendiri. Hasilnya dijamin kacau dan amburadul, karena bagaimana mungkin orang yang agama dan keyakinanya berbeda dipaksa mengakui kebenaran versi agama dan kitab suci agama lain. Mengenai Lia Eden, saya bingung ngapain sich orang kayak gitu diurusin, sampai-sampai dituduh melakukan penistaan agama. Menurut pendapat saya biarin saja orang-orang macam si Lia Eden, semakin diekspos dia akan semakin populer dan jangan-jangan nanti pengikutnya bertambah. Saya kebetulan tinggal di tengah-tengah lingkungan yang sangat heterogen, dari tetangga yang islam alirannya bermacam-macam, bahkan ada LDII. Dari Nasrani juga banyak. Hindu juga banyak dan juga saya lihat mereka aktif dalam beberapa aliran. Kenyataannya kami selama ini baik-baik saja. Ketika kami arisan kami sempat mendiskusikan masalah Lia Eden, semua kompak berbicara, mengurus orang macam Lia Eden hanya menghabiskan tenaga dan waktu sia-sia. Saya punya pertanyaan sederhana, kenapa hal-hal semacam ini di Indonesia masih layak sebagai bahan dagangan berita? Di negara-negara maju hal-hal beginian sudah nggak layak jual lagi di Media. Sudah nggak ada nilai beritanya. Kita aja yang nervous berlebihan, kalau toh nanti Lia CS masuk neraka akibat ulahnya, ya itu resiko mereka. Gitu aja kok repot!!! (Minjam istilahnya Gus Dur)

#18. Dikirim oleh Damai  pada  26/12   04:26 AM

Ya, saya lagi menunggu lakon berikutnya. Mestinya polisi yang menangkap Lia Eden sudah kena kutukan karena menangkap Jibril bahkan titisan Tuhan. Atau penjara itu hangus karena telah memenjarakan Tuhan atau jibril di dalammnya. Betapa pengikutnya tidak logis dan meenjahiliyahkan dirinya. Dan ada pula intelektual ikut membingungkan umat dengan membela Lia dengan teori relatifisme kebenarannya. Dasar dunia memang sudah tua sehingga semua jadi sableng. Logika sederhana dibuat-buat rumit dengan analisa seakan-akan sangat ilmiah untuk mememberi ruang kebenaran pada sesuatu yang sudah najis kebenarannya.

#19. Dikirim oleh irsad  pada  26/12   12:51 PM

Saya “menyukai” ide-ide Lia Eden yang mengulang sejarah dengan membuat pola yang sama dengan nabi Muhammad ketika pertama kali mengajarkan Islam. Mungkin pengulangan ini dianggap sebagian orang merupakan kebijakan murni dari Lia Edenpadahal hal tersebut mutlak inisiatif keterputusasaan LE, meskipun ia hanya mengambil itu sebagai “yurisprudensi” agama. Saya merasa kalau Lia Eden sebenarnya bersikap kritis terhadap pola pikiran dan perilaku sebagian dari Umat Islam yang bersikap konservatif dan berbuat ekstrim terhadap umat lain, keputusasaan ini lah dimanifestasikan dalam upaya penghapusan agama Islam, yang menurut saya merupakan sikap menghapuskan islam dari dirinya sendiri bukan dari esensi umat. saya sepakat dengan dengan Bp Moqhsith bahwa esensi umat tidak perlu menyikapi hal ini secara serius, ini adalah upaya publikasi dengan membuat kontroversi agar diperhatikan idenya, ide yang cemerlang kadang kalah dengan ide yang mentereng secara sosial. semakin kita membahas kontroversi ini, kita hanya membahas ambisi orang ini, semakin kita menjadikannya narsis terhadap dogmanya

#20. Dikirim oleh eckosz  pada  26/12   08:48 PM
Halaman 1 dari 5 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?