Wawancara,
27/10/2003

KH. Drs. Imam Ghazali Said, MA: Makin banyak Godaan, makin tinggi Puasanya

Oleh Redaksi

Idealnya, moment puasa di bulan Ramadan bisa menurunkan tingkat konsumerisme umat Islam. Tapi kenyataannya, pengeluaran keluarga untuk kebutuhan sehari-hari di bulan suci ini yang bersifat konsumtif jauh melebihi bulan lainnya. Inilah salah satu bentuk ironi puasa. Padahal, substansi puasa adalah menahan diri dari nafsu konsumerisme yang meruah.

27/10/2003 05:35 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Memang dalam puasa apabila tidak diuji maka dari puasa itu tidak ada suatu tantangan dalam mengerjakan puasanya itu, dalam contoh manusia biasanya banyak emosinya maka menjalankan puasa akan hilang emosinya itu lambat laun, karena puasa itu melatih kepribadian manusia sebelas bulan yang akan datang bukan sekedar puasa saja, yang utama adalah membentuk kepribadian yang islami sejalan AL-QURAN yang kita anut. Yang jelas apabila puasa tidak diuji tidaklah akan bertambah nilai puasa itu.

#1. Dikirim oleh tugiman  pada  29/10   03:10 AM

Ass.

Saya sependapat dengan dengan pak Imam bahwa tidaklah perlu dengan cara yang formal menaggapi berbagai permintaan sebagian masyarakat muslim untuk menutup tempat hiburan. Apalagi sampai dibuat suatu Perda. Isu penutupan berbagai tempat hiburan memang marak dikalangan umat Islam seiring dngan berlangsungnya puasa Ramadhan. Dengan suatu maksud tujuan bahwa ibadah mereka nantinya tak akan terganggu atau datar-datar saja. Tempat hiburan yang bagi mereka menawarkan berbagai kenikmatan maksiat, dianggap dapat menjadi penghalang bagi kelangsungan ibadah mereka. Dikarenakan takut menghadapi godaan atau rintangan mereka malah memilih jalan dengan menghindari tantangan tersebut. Padahal pada hakikatnya kita sebagai umat Islam di bulan suci ini, ditantang dan diuji untuk menghadapi godaan dan tantangan tersebut, bukan malah sebaliknya menghindari.

Di sini terkesan bahwa kita sebagai pengecut. dapat dianalogikan bahwa kita sedang menghadapi permaianan catur akan tetapi lawan kita memang terkenal pemain yang tangguh dan handal, kita tidak PD ( percaya diri) menghadapinya. Akhirnya jalan agar kita menang maka kita paksakan lawan kita tak berkutik diluar aturan permainan sehingga kita bakal keluar sebagai pemenang. Kita memang menang akan tetapi nilai kemenangan sungguh tak berarti. Saya pikir justru dngan berbagai godaan dan tantangan maka keimanan kita teruji. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Imam tingkat keimanan kita berbanding lurus dengan berbagai godaan dan tantangan yang kita hadapi,artinya bahwa jika godaan kita semakin tinggi apabila kita berhasil melewatinya maka tingkat keimaman kita pada tingkat yang tinggi pula.

Kalau kita mau turun terlibat dengan para pekerja ditempat hiburan, maka penilaian kita bahwa mereka adalah semata-mata berbuat maksiat, mungkin tidak semuanya benar. Karena mereka tidak punya pilihan lain dan mereka hanyalah korban kecil dari kerusAakan sistem di negara ini. Merekapun juga punya keluarga yang memang harus dipenuhi kebutuhannya. Mereka juga berusaha bertanggung jawab atas titipan Tuhan. Akan tetapi sistem yang kurang mendukung. Jika mereka mendapatkan pendidikan yang lebih baik, maka nilai tawar juga semakin tinggi, sehingga tidak terjadi seperti ini, akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu pendidikan semakin menghisap dan menjerat rakyat. Kita sebagai umat yang berpuasa bukan minta untuk dihormati dan diagungkan akan tetapi justru sebaliknya kita wajib memberi hormat.

Wss.

#2. Dikirim oleh panduwagung  pada  29/10   02:10 PM

Bpk. KH. Drs.Imam Ghazali Said, MA yang budiman, Saya sependapat dengan uraian Bapak, itulah makna serta tujuan kita berpuasa secara lahiriah (perut) dan batiniah(hati dan pikiran) Semakin banyak godaan yang dapat kita lalui, tentu akan semakin tinggi nilai puasanya (juga ganjarannya).

Seperti halnya dalam agama saya (Katholik), disebutkan jika kamu berpuasa janganlah sampai terlihat kamu sedang puasa, sebaiknya basahilah muka dan minyaki rambut kamu agar tidak terlihat sedang puasa. (Tidak perlu orang lain harus tahu kalau kita sedang berpuasa.)

Di bulan puasa (masa praPaskah) kami hanya dihimbau untuk berpuasa,dan bagi yang tidak mau berpuasa juga dipersilahkan, kami diberi kebebasan untuk memilih, di sinilah sudah merupakan suatu tantangan /godaan bagi yang mau berpuasa. Dan bagi yang kuat bisa menjalani puasa selama 40 hari sampai menjelang hari Paskah. Dan dari puasa tersebut kita bisa menabung uang makan+minum, rokok (bagi yang merokok)serta jajan lainnya untuk diberikan kepada sesama kita yang hidupnya masih dalam kesulitan.

Menurut hemat saya puasa adalah bersifat pribadi dalam arti hubungan seseorang dengan Tuhannya.

Wassalam,

Martinus Winata.

#3. Dikirim oleh Martinus Winata  pada  30/10   07:10 AM

Saya kira pola hidup konsumtif-konsumerisme itu sudah merupakan budaya orang indonesia sebagai budaya dunia ketiga yang memang cenderung meniru terhadap budaya luar terutama dari negra-negara kapitalis barat. Kalau memang di negara-negara lain tingkat konsumerisme cenderung menurun selama bulan puasa dan di tempat kita malah meningkat di bandingkan hari-hari biasa itu adalah sebuah kewajaran untuk tingkat dan pola hidup kita di sini, karena perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi yang timpang sedangkan di negara-negara lain tingkat pertumbuhan ekonominya cenderung stabil sehingga mekanisme pasar tidak mengalami lonjakan dari produsen untuk mendapatkan produk tetapi cendrung lebih kepada kebutuhan-kebutuhan sewajarnya saja.

Dan ini berbeda dengan kondisi kita di sini, di mana tingkat produksi yang cendrung meningkat untuk berbagai kebutuhan sehingga terjadi kelimpahan produksi yang berlebihan sehingga semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya, apalagi dalam bulan puasa, coba lihat saja dan bandingkan dengan kondisi selain bulan puasa.

Dan pola hidup seperti ini sudah pasti terbawa dalam bulan puasa yang tidak bisa dilepaskan dari trend budaya masyarakat kita dan ya ujung-ujungnya kayaknya benar memang bahwa puasa yang kita lakukan di sini cendrung kepada urufiyah dan bukannya syari’ah sehingga kehilangan makna dan substansinya dari puasa sebagai sebuah solidaritas sosial menjadi sebuah pola puasa sebagai simbol dari solidaritas sosial yang terjadi hanya selama bulan puasa saja tetapui terabaikan setelah puasa berakhir,bukankah itu hanya sebuah simbol belaka? Jadi inti puasa itu sebenarnya kita dapati setelah puasa itu berakhir, bukannya hanya selama puasa. Inilah yang kurang ditanggapi oleh semua umat Islam di indonesia.

#4. Dikirim oleh Muhammad jafar.s  pada  31/10   05:10 AM

Agama jelas mengajarkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Makan minum apa saja boleh kecuali yang diharamkan. Berhubungan badan halal selama dengan pasangan yang sah. Dll.

Tapi puasa itu unik.. Hal-hal yang sebenarnya boleh dilakukan, selama berpuasa menjadi tidak boleh dalam periode waktu tertentu.

Banyak hikmah yang yang seharusnya bisa diambil, selain dari pahala yang dijanjikan. Hikmah puasa harus menjadi modal kita untuk menjalani hari-hari setelah tidak berpuasa lagi. Kita jadi tahu rasanya saat orang lain makan minum dengan enak namun kita harus menundanya sampai saat buka. Bahwa ternyata meskipun kita melakukan hal-hal yang halal seperti makan minum sepuasnya, ada banyak saudara-saudara kita yang tidak mampu melakukannya. Emosi yang cepat terbakar pada saat kita lapar, mungkin itu pula yang terjadi pada saudara-saudara kita yang meskipun bukan bulan puasa, tetapi terpaksa tidak bisa makan kenyang. Dan masih banyak lagi hikmah lainnya. Ternyata melakukan hal-hal yang halal pun harus ‘tepa-tepa’, harus memikirkan perasaan orang lain.

Oleh karena itu, akan lebih banyak hikmah puasa yang kita dapat, kalau lingkungan kita tidak ‘dimodifikasi’ menjadi ‘tidak-seperti-biasanya’, misalnya rumah makan ditutup-tutupi, tempat-tempat hiburan malam apapun tidak boleh buka, produktivitas turun dimaklumi, dll.

Selamat berpuasa, semoga modal kita makin banyak untuk menghadapi hari-hari panjang setelah lebaran. Amin.

#5. Dikirim oleh Agung Binajaya  pada  06/11   06:11 AM

Assalamu`alaikum.

Tak banyak yang saya ingin ungkapkan di sini. bahwa memang ritual puasa memiliki dua sayap makna yang koheren, makna individual dan sosial. makna pertama cenderung untuk melahirkan makna yang kedua. artinya ada makna dialektis yang terus-menerus diciptakan di sini. tanpa prosesi ritual-individual yang benar maka secara asumtif, keruwetan sosial pun akan segera mewarnai realita kehidupan kita.

Pondasi ke`islaman`yang kokoh pada masing-masing pribadi, agaknya memang akan membantu terwujudnya pola kehidupan sosial yang harmonis. tentu saja, hal ini membutuhkan pola pendidikan-diri sedini mungkin. saya cukup sepakat dengan sdr. Bapak Imam dalam pengusungan suatu pola pendidikan yang diupayakan dalam sebuah gradually process. hal ini tentunya, akan menuntun kita untuk mengerti lebih mendalam tentang hakikat dan hikmah sebuah ritual agama secara konsisten.

Bagi saya, hubungan dialektis ini mengandaikan suatu totalisme ajaran [Islam] yang terbuka. terbukti, ia tak hanya mematangkan sisi egoisitas seorang muslim tetapi juga menekankan betul ajaran solidaritas sesama manusia. kehidupan yang solider berarti juga adalah sebuah prototype kehidupan yang mengkuduskan pola `kesalingan` yang equal. inti dari pola `kesalingan` adalah sebuah moderasi sikap yang meluluhkan egosenstrime pribadi-pribadi. sehingga, ia menjadi satu dalam kebersamaan yang berbeda-beda. [Bhineka Tunggal Ika].

Yang ingin saya tekankan selanjutnya adalah, mentalitas kesadaran manusia Indonesia. [siapa saja; muslim atau non muslim, pribumi atau non pribumi!]. saya melihat kekosongan yang serius pada titik ini. tak ada mentalitas kesadaran yang menggugah hati individualnya secara damai, sebagai hasil dari pembumian pemahaman akan makna demokrasi `kesalingan` yang luhur. sungguh, ini adalah (juga) bagian dari ironi kehidupan kita.  Jika demikian adanya, maka harus ada yang mengingatkan. hal ini, saya meyakininya sebagai dasar filsafat `movement` pada masing-masing agama. [ini jika harus saya nilai dari sisi normatif-teologis!]. maka atas nama harmonisme individual dan sosial tadi, agama mana pun -termasuk juga Islam- akan secara tegas, memposisikan umatnya sebagai agen missionaris yang berakal-budi. dalam agama saya, Islam, hal itu berada pada koridor konsep tindakan preventif yang anggun, menganjurkan kebenaran/kebaikan sembari berupaya mencegah keburukan/kejelekan, secara optimal. pada tahap inilah totalisme ajaran agama [Islam] menemukan urgensinya.

Karena negeri ini adalah negeri `demokrasi,` maka sepatutnya pula harus menjunjung harkat & martabat kedemokrasian hidup. keputusan-keputusan demokratis, dengan sendirinya, harus diakui dan dihormati oleh berbagai pihak yang mengakui dirinya sebagai demokrat. sungguhpun, saya sendiri alergi demokrasi! tak apalah, ini pun termasuk hak-hak berdemokrasi juga bukan?

sekian, salam.

Aby Mikasyah

#6. Dikirim oleh Aby Mikasyah  pada  09/11   03:12 PM

menarik ketika kita mengkaji masalah puasa antara hakikat dan realitas. melihat fenomena yang ada sudah selayaknya kita mengkaji kembali dan mensosialisasikannya kepada ummat, apa sebenarnya makna puasa dan apa yang harus dilakukan orang yang puasa.  ini tanggung jawab mereka yang “tahu” tentang makna puasa. puasa antara hakikat dan realitas khususnya yang terjadi di indonesia jauh panggang dari api. pengekangan yang diperintahkan tuhan tidak terjadi dalam dunia nyata, yang ada adalah sebaliknya, konsumerisme akibat puasa semakin tak terkendali. yang seharusnya tidak terjadi tapi setiap datangnya ramadhan harga-harga barang naik drastis tanpa kendali. kenaikan ini seakan tanpa respon, yang penting ritualitas puasa dapat dipenuhi. ralitas inilah yang menurut saya pangkal dari rusaknya tatanan kehidupan di segala segi. pengandalian diri yang dicita-citakan Tuhan tak berwujud pada diri hambanya. mari kita berrefleksi, sudah berapa tahun kita berpuasa? semestinya setelah kita berpuasa ada nilai yang kita rasakan dan dapat diwujudkan yaitu derajat kemuliaan manusia, taqwa. relitasnya, banyak sudah yang berpuasa dari pejabat tinggi sampai rakyat jelata, tapi kehidupan bangsa ini bukan semakin baik malah semakin terpuruk, korupsi semakin merejalela, penindasan dan penjajahan semakin meningkat, kepedulian sosial hanya lip service. inilah ironi puasa, bukan kebaikan dan kesalehan sosial dan ritual yang kita peroleh, malah sebaliknya. maka untuk memperbaiki realitas ini perlu adanya kerja keras kita untuk merubah tradisi puasa yang konsumtif lagi mubazir menjadi tradisi yang lebih elegan dan bersahaja. ingat nilai puasa itu bukan di bulan ramadhan, tapi setelah ramadhan, artinya berhasil atau gagalnya kita berpuasa dapat dilihat nanti pada bulan syawal dan bulan-bulan yang lainnya, semakin baikkah kita atau sebaliknya?

#7. Dikirim oleh gunawan  pada  10/11   02:11 PM

Ini pertama kali saya memasuki webpage dari JIL dan terus terang saya salut dengan bahasan yang ada berkaitan dengan puasa. Selama ini menjelang bulan puasa sudah dikondisikan supaya dalam puasa tidak ada atau minimal adanya ‘gangguan’, godaan, atau hal yang dapat menodai kusucian bulang puasa, sehingga tempat hiburan dan sejenisnya ditutup, rumah makan sejenis Mc. Donnald harus memakai tirai supaya kalau ada orang yang makan di dalamnya tidak terlihat dari luar dan mengganggu atau menggoda orang yang berpuasa. Artikel ini antara lain mengajarkan marilah kita bebas menjalankan ibadah puasa, dengan hanya diketahui oleh Allah, dan biarlah orang lain yang tidak berpuasa tidak perlu dibatasi kebebasannya. Dan tentunya dengan saling menghargai hak orang lain maka kehidupan ini lebih menyenangkan.  Sekali lagi selamat dan salut buat JIL, saya percaya Indonesia akan semakin aman dan maju jika semakin banyak yang bersikap seperti Anda.

#8. Dikirim oleh Gatot Imam Nugroho  pada  28/11   12:11 PM

assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang guru SMP saya dulu mengajarkan, kata “puasa” berasal dari istilah sansekerta, yaitu “paase”. Menurutnya, “paase” artinya “menyiksa diri”. Ini tentu tidak tepat untuk digunakan dalam ajaran Islam, karena Islam sama sekali tidak berorientasi pada kegiatan menyiksa diri.

Sansekerta berasal dari daerah India, di mana sebagian besar penduduknya beragama Hindu. Agama mayoritas ini tentu mempengaruhi budaya setempat. Wajar bila mereka mengenal kegiatan menyiksa diri, karena ada hal yang demikian dalam ajaran Hindu. Ada semacam pawai tertentu yang mereka adakan setahun sekali untuk memuja salah satu dewa mereka (saya sendiri lupa dewa yang mana). Pada pawai itu, mereka mendemonstrasikan kemampuan mereka untuk menghilangkan rasa sakit. Sekujur tubuh mereka ditusuk dengan jarum berbagai ukuran. Mereka percaya, dengan menyiksa diri, mereka akan lebih dekat kepada Tuhannya.

Prinsip yang sama tidak bisa digunakan dalam Islam. Allah adalah Rabb. Kata “Rabb” berasal dari kata “tarbiyah” yang bermakna “bimbingan, pendidikan, pelatihan” dan berbagai kata yang menggambarkan makna kasih sayang. Allah tidak menginginkan penderitaan dalam hidup manusia. Allah juga tidak membutuhkan penderitaan kita. Allah tidak pernah menyuruh manusia melakukan sesuatu yang akan menyiksa dirinya.

Dengan demikian, kata “puasa” tidak lagi dapat digunakan untuk menggantikan kata “shaum”. Tidak ada manusia yang tersiksa karena melaksanakan shaum. Kalau pun ia merasa berat, itu hanya karena hawa nafsunya yang sulit dibendung.

Shaum dilaksanakan sejak subuh hingga maghrib. Di Indonesia, waktu menjalankan shaum relatif sama sepanjang tahunnya, yaitu sekitar 14 jam. Di daerah beriklim tropis, panjangnya siang dan malam relatif tetap sepanjang tahun. Namun di daerah beriklim subtropis, atau bahkan kutub, panjang siang dan malam bisa menjadi sangat ekstrem. Jika Ramadhan jatuh pada musim dingin, maka shaum akan sangat pendek, karena jarak antara subuh dan maghrib sangat dekat. Sebaliknya, jika Ramadhan jatuh pada musim panas, maka shaum akan sangat panjang, karena pada musim tersebut malam sangat pendek.

Meski demikian, tidak ada manusia yang tersiksa karena shaum. Tidak ada orang yang sampai mati karena shaum. Tidak makan selama tiga hari pun manusia masih dapat hidup, apalagi kalau hanya beberapa belas jam. Kewajiban shaum masih jauh dari potensi maksimal tubuh manusia, dan karenanya, tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan menyiksa diri.

Ada banyak keringanan dalam melakukan shaum. Wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan shaum, karena mereka mengalami kehilangan darah cukup banyak, sehingga dikhawatirkan bisa merusak kesehatan jika mereka memaksakan untuk shaum. Untuk hal-hal yang membahayakan kesehatan, Islam bukan hanya menganjurkan untuk menjauhi puasa, namun bahkan melarangnya. Ini adalah bukti bahwa Allah tidak menghendaki penderitaan bagi manusia.

Orang yang berjihad pun tidak diwajibkan shaum. Demikian pula orang-orang yang sudah renta dan tak mampu lagi melaksanakannya. Orang-orang yang sakit pada bulan Ramadhan pun tidak perlu memaksakan diri untuk bershaum. Allah memberi keringanan pada mereka untuk melunasi ‘hutang’ shaum mereka di lain hari (ketika kondisi mereka telah memungkinkan) atau membayar semacam denda, misalnya bagi orang-orang tua yang diperkirakan tidak akan mampu lagi melaksanakan shaum.

Pada saat melaksanakan shaum, ada empat hal yang harus dilakukan oleh setiap Muslim, baik pada shaum Ramadhan atau pada hari-hari lainnya. Empat hal tersebut yaitu : (1) tidak makan, (2) tidak minum, (3) tidak berhubungan seks, (4) wajib mengendalikan diri.

Perlu dicatat, bahwa larangan untuk tidak makan, minum dan berhubungan seks hanya berlaku sejak subuh hingga maghrib. Setelah waktunya berbuka, maka ketiga hal tersebut menjadi halal kembali, sesuai ketentuan normalnya. Tentu saja tidak segala jenis makan, minum dan hubungan seks menjadi halal. Islam memiliki ajaran yang lengkap tentang segala hal, termasuk ketiga hal tersebut.

Poin keempat mewakili seluruh inti ajaran shaum. Inilah alasan mengapa Allah mewajibkan shaum minimal selama sebulan dalam setahun, yaitu pada bulan Ramadhan. Selain itu, Rasulullah saw. pun sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan berbagai shaum sunnah. Salah satu shaum sunnah yang diajarkan oleh beliau adalah shaum pada setiap hari Senin dan Kamis. Shaum sunnah terbaik adalah shaumnya Nabi Daud as., yaitu sehari bershaum dan sehari tidak, demikian seterusnya.

Ketika bershaum, kita tidak disuruh untuk menahan lapar dan haus. Kita diperintahkan untuk mengendalikannya. Hal ini untuk memerdekakan diri kita dari kekangan rasa lapar dan haus itu sendiri. Kita sering melihat bangsa Eropa dan Amerika yang tubuhnya bagus-bagus di film-film, padahal itu tidak lebih dari beberapa persen saja dari seluruh penduduknya. Sebagian besar penduduknya tidak bisa mengendalikan berat badannya karena mereka dikendalikan oleh nafsu makannya. Ketika lapar sedikit, cemilan mereka adalah coklat. Mereka terbiasa memakan pizza atau masakan Cina yang bisa dipesan dengan telepon. Tentu tidak ada salahnya menyantap pizza atau masakan Cina, namun bila dilakukan nyaris setiap hari, maka dipastikan mereka akan menumpuk lemak di tubuh mereka sendiri.

Jika kita makan makanan secara berlebihan, maka pencernaan akan bekerja terlalu keras. Energi tubuh terkuras untuk mencerna makanan. Akibatnya, tubuh malah meminta tambahan makanan lagi, dan begitu seterusnya. Inilah sebabnya kita harus belajar mengendalikan nafsu makan, karena kebiasaan makan kita akan sangat tidak efektif jika kita membiarkannya begitu saja. Jika kita menuruti terus nafsu makan kita, maka kita akan kelebihan berat badan dan berbagai penyakit akan mampir ke tubuh kita.

Dengan shaum, Allah pun tidak melarang hubungan seks, apalagi hubungan suami istri yang sah. Allah tidak memandang seks sebagai sesuatu yang kotor, sepanjang hal tersebut dilakukan sesuai aturan. Bahkan Islam menganggap hubungan seks antara suami dan istri sebagai suatu bentuk ibadah. Islam juga memberikan tuntunan yang lengkap tentang hubungan seks. Sementara agama lain memandangnya hina, bahkan melarang orang-orang solehnya untuk berkeluarga, Islam justru menganjurkan setiap umatnya untuk menikah dan memiliki keturunan. Ini adalah sesuatu yang fitrah, dan Allah tidak akan melarang sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia.

Pada saat shaum, Allah memerintahkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya, bukan menahannya. Kita akan tersiksa kalau kita menahan-nahan keinginan kita untuk makan, minum dan berhubungan seks, sambil menunggu-nunggu waktu maghrib. Ironisnya, inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Yang sebenarnya diperintahkan Allah adalah mengendalikan semua keinginan tersebut. Kita tidak perlu panik. Tenang-tenang sajalah, karena toh kita bisa makan dan minum lagi nanti setelah maghrib. Kita juga tidak perlu resah, karena kita hanya perlu menghindari makan, minum dan hubungan seks selama beberapa jam saja, tidak sampai selama 24 jam, dan tidak sampai merusak kesehatan kita. Jika keinginan itu muncul, kita hanya perlu menyuruhnya untuk menunggu, itu saja.

Orang-orang yang menyiksa dirinya sendiri dengan menunggu-nunggu waktu berbuka tidak akan merasakan kenikmatan shaum yang sebenarnya. Sebaliknya, orang-orang yang dengan tenangnya mampu memerintahkan hawa nafsunya untuk menunggu barang sejenak, akan mampu menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, sehingga ia tidak terus-menerus dirongrong oleh hawa nafsu yang berusaha mengendalikan dirinya.

Kenikmatan shaum yang sebenarnya adalah ketika kita benar-benar mampu mengendalikan diri kita dan segala keinginan kita. Keinginan-keinginan tersebut tidak terlarang, namun mesti dikendalikan. Orang-orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri akan selalu berada dalam kesulitan. Sebaliknya, orang-orang yang berkuasa atas dirinya sendiri akan mampu beradaptasi dalam segala kondisi, sesulit apa pun.

Shaum bukan bertujuan untuk menyiksa diri. Tujuan shaum adalah untuk mencetak pribadi-pribadi yang bertaqwa, yaitu pribadi-pribadi yang tangguh dalam melaksanakan segala perintah Allah dan berhati-hati agar tidak melakukan apa-apa yang dilarang-Nya. Dan orang-orang tangguh itu tidak akan muncul dari golongan orang-orang yang tidak bisa mengendalikan diri.

wassalaamu’alaikum wr. wb.
——-

#9. Dikirim oleh Pemerhati JIL  pada  29/03   12:03 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?