Manusia dan Kebutuhan Agama
Oleh Faiz Manshur
Agama sebagai gejala psikologi rupanya cukup memberikan pengertian kepada kita tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan lebih dari itu, ketika agama benar-benar tidak sanggup memberikan pegangan bagi masa depan kehidupan manusia, kita pun bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem kehidupan.
Komentar
Buat kawan-kawan se-akidah
Agama sebagai landasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia beragama, terkadang lebih dipahami sebagai sebuah doktrin yang harus ditaati secara penuh dan tidak boleh di tentang sedikit pun, padahal kenyataannya agama-agama samawi yang masih murni yang mengajak kepada satu keyakinan teologi, bahwa tuhan itu esa, justru mengajak kita untuk lebih kritis dalam menyikapi doktrin-doktrin agama, karena segala yang terdapat dalam ajaran sebuah agama khususnya Islam yang dihasilkan oleh para ulama-ulama salaf bukan merupakan sebuah kebenaran mutlak yang harus diterima mentah-mentah, akan tetapi lebih pada pemahaman sosio-kultural sebuah masyarakat. Agama seringkali dipahami sebagai alat pelarian atas kelemahan manusia, padahal bagi orang yang paham betul agama, justru menjadikan sebagai sebuah kebutuhan yang paling esensial dalam dirinya, bahkan lebih ekstrim lagi “dia tidak akan bisa hidup tanpa agama”. Semoga dengan kehadiran buku ini, akan menambah pemahaman kita tentang agama, sehingga kita tidak beragama karena “stereotype” belaka akan tetapi murni sebagai sebuah kebutuhan rohani yang dilandasi dengan pemahaman yang lebih kritis akan agama.
Salam Ukhuwah Buat JIL.
Saya kebetulan sulit untuk punya akses langsung kepada karya Kang Jalal, karena saya tidak tinggal di Indonesia. Harapan saya, dengan membaca ulasan dalam bentuk bedah buku, resensi dan semacamnya, saya akan mempunyai gambaran yang ringkas tapi memadai tentang paling tidak tujuan, metode, kandungan, kelebihan dan kekurangan buku tersebut. Resensi Faiz Manshur ini, harus saya akui, tidak berhasil memenuhi harapan saya itu. Kekurangan mendasarnya: tidak sistematis mengikuti pola-pola umum penulisan kajian/resensi buku (book review). Selain itu, penulis saya kira kurang berhasil memancing daya tarik pembaca (minimal daya tarik saya) untuk membaca buku, lewat pemilihan point-poin penting yang menarik dari buku tersebut, yang mestinya diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang padat dan memikat. Tidak cukup sekedar dikatakan di akhir resensi: “Buku ini layak dibaca,” tanpa alur argumen yang jelas, dengan mengacu pada poin-poin penting dalam buku itu sendiri. Padahal, tidak sulit diduga, buku Kang Jalal kali ini, seperti beberapa buku dia yg menjadi best seller, pasti tidak kalah berbobotnya untuk dibaca. Yang lebih parah, dalam banyak bagian resensi, sulit dibedakan mana gagasan-gagasan yang berasal dari penulis resensi dan gagasan penulis buku yang diresensi.
“Agama adalah kenyataan terdekat sekaligus misteri terjauh”.
Betapa aku merindukan masa kecilku dimana ‘agama’ tak lebih dari sekedar ritual, sedangkan seluruh hidupku dilingkupi oleh agama yang indah dan sama, entah itu dari teman, orang tua, orang tua teman, guru matematika, guru PMP, guru agama Islam, guru agama Kristen, pak Bon, pohon, hujan, petir, main layang-layang, burung, majalah anak-anak, komik, sakit, sembuh, petak umpet…...
... hingga saat ilmu dan kedewasaan memilah-milahnya menjadi ‘agama’ dan bukan ‘agama’.
Untukku, kenyataan terdekat telah menjadi misteri terjauh…
salam… agama yang banyak di kenali belakangan dan di pahami oleh sebagian umat beragama, tidak lebih dari sekedar romantisme keindahan belaka. ketika konsepan agama tidak lagi membumi, yang serat akan makna filosofis kehidupan. sehingga agama menjadikan hal yang sangat menakutkan, dengan segala macam doktrinnya sehingga menjadi dogma yang harus ditelan mentah-mentah oleh penganutnya. persoalan datang ketika sebuah proses transfer ajaran-ajaran agama yang di bawa oleh para ulama, dijadikan sebuah kebekuan nilai-nilai agama itu sendiri.
Mungkin agama pada akhirnya dijadikan sebuah keindahan tersendiri bagi sebagian orang yang masih mengharapkan sebuah kelembagaan yang bernama agama. bukan lagi merupakan suatu landasan yagn esensial bagi kehidupan umat manusia. dan akhirnya semoga buku yang ditulis oleh Jalaludin Rahmat ini banayak memberikan manfaat bagi seluruh pengkaji ilmu-ilmu agama khususnya, serta menambah teks-teks pemahaman tetnang ke agamaan yagn sempat hilang.
salam…
sebagaimana alat-alat lainya agama bisa dijadikan apa saja, bisa teman lawan kawan sahabat, pacar, musuh, hantu, anjing, kucing, tuhan atau apapun terserah kepada siapa agama itu hinggap. maka ketika agama sudah dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan, itu dikarenakan pemegang agama tidak mampu menjadikan agama sesuai dengan kehidupan.
jadi agama bisa mengikuti kehendak kita, dan kita tidak melulu mengikuti kehendak agama. karena agama dengan kita adalah sama ciptan-Nya.
——-
assamu’alaikum , agama adalah tuntunan hidup kita,jadi sudah jelas kita tidak boleh merubah atau membuat agama baru seperti Ahmadiyah.
manusia mau menyembah TUHAN ataupun tidak, buat TUHAN tidak ada ruginya., TUHAN mau diapakan saja ya tetap TUHAN namanya.,
Komentar Masuk (7)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)