Marhaban Pasca-Islamisme!
Oleh Novriantoni Kahar
Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 25 November 2011
Gejala pasca-islamisme bukanlah gejala anti-Islam, bukan pula sepenuhnya gerakan sekuler. Karena unsur internalnya dari kalangan konservatif—kalau bukan radikal—muslim, pasca-islamisme tetap menghendaki terjunjung tingginya nilai-nilai agama Islam sembari mengimpikan tegaknya hak-hak warga. Sebagian pengamat menyebut gejala ini sebagai civic Islamism, bukan pasca-islamisme. Karena itu, islamisme mungkin tak lagi akan menghadirkan revolusi sosial-politik-kebudayaan yang radikal. Revolusi Islam ala Khomaini yang telah menghasilkan negara nondemokratis, kata Asef Bayat, ada kemungkinan merupakan revolusi Islam pertama sekaligus terakhir yang mungkin ada di dunia Islam modern.
Komentar
Assalamu’alaikum wrwb
Syariat Islam yang ditegakan oleh ulama2 Fundamentalis Arab, adalah syariat Islam dimana tidak ada kemerdekaan berkeyakinan, bersexpressi, dan berpakaian dll
Sesungguhnya Syariat Islam yang benar adalah kemerdekaan bagi setiap individu2 memilih jalan hidupnya atau agamanya,tidak ada paksaan dari pemerintah yg berkuasa.
Jadi kolompok2 Progresscive sesungguhnya ingin menegakan Syariat Islam yang murni dan benar.
Kalau ini tercapai,maka amanlah dunia ini,terutama negara2 Arab,Tidak ada lagi penindasan2 sesama saudara yg berbeda keyakinan agamanya seperti Sunni dan syiah dll
Inilah perbedaan2 mendasar antara Prgressive dan Fundamentalis.
Salam
Komentar Masuk (1)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)