Melihat Dunia (Islam) setelah Olimpiade Beijing
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Kepada kaum Islamis yang “sok yakin” dan “ge-er” bahwa Islam akan menjadi kekuatan dunia baru, saya mengatakan: tengoklah India dan Cina itu! Mereka bekerja keras untuk membangun ekonomi, merebut peluang dalam pasar global, bukan mengumbar retorika semata. Jika Islam hendak maju, tiada cara lain kecuali bekerja keras seperti dua negeri tersebut, bukan bekerja keras untuk mendirikan sebuah “khilafah” yang tak jelas juntrungannya itu. Kesampingkan mimpi kalian itu, wahai kaum Islamis! Bangunlah, sebab negeri-negeri lain mencapai kemajuan bukan dengan mimpi semata, tetapi dengan kerja keras.
Komentar
Benar sekali, sepakat…!!!
Just It.
Salah berpikir bung:
Jika seorang disebut islamis, apa pasti dia tidak bekerja keras dan berkarya bung?
DO MORE TALK LESS, itu juga berlaku untuk anda
Lalu anda sudah berkarya apa?
MATERIALISME ULIL
saya salut dengan Ulil yang begitu jeli, rajin dan kritis tapi sayang saya melihat Ulil menempatkan diri bukan dari bagian Islam. ia selalu menampilkan diri layaknya seorang orientalis pengamat sehingga Islam-pun saya yakin tidak akan pernah maju melalui ijtihad-ijtihadnya.ulil begitu silau dengan kemajuan materi sehingga menjadikannya parameter keberadaban. meskipun kemajuan itu tidak selaras dengan kemajuan nilai-nilai kemanusiaan atau bahkan membuang jauh-jauh nilai tersebut. kalau demikian halnya maka semua orang dan bangsa dapat mencapai kemajuan dengan tanpa mempertimbangkan bagaimana cara ia mencapai kemajuan tersebut. tujuan menghalalkan cara?ulil mungkin lupa atau sengaja tidak peduli dengan bagaimana cara bangsa-bangsa yang membuat ulil silau tersebut menccapai kemajuan? harus diingat mereka mencapai kemajuan material tersebut setelah mencampakkan nilai-nilai kemanusiaan yang membuat manusia itu berbeda dengan binatang walau mempunyai banyak kesamaan fisik, dengan monyet umpamanya. bangsa-bangsa itu telah menghilangkan hakekat manusia dibanyak negara dengan menjadikannya bangsa-bangsa terjajah yang hanya diperas tenaga dan kekayaan alamnya. mereka mencapai keadaan yang seperti itu dengan merampok sumber daya alam di negara-negara muslim. dan kini ketika mereka unggul secara materi, mereka mengajak berkompetisi secara curang melalui hegemoni mereka di lembaga-lembaga internasional. mana konsistensi mereka memihak nilai-nilai demokrasi yang selalu ulil puja?sesungguhnya kemajuan materi bukan ukuran segalanya. bukankah kesuksesan Rasulullah bukan terukur dari aspek tersebut? kalau demikian halnya maka prestasi Rasulullah jauh sangat ketinggalan dari prestasi Fir’aun dan Bush!begitu pula apresiasi pasar bukanlah ukuran segala-galanya. itu adalah nilai demokrasi yang ulil agungkan, yang penting banyak pengikut. rambu apapun akan diabaikan, bahkan dogma-dogma agama menjadi tidak bernilai sama sekali apabila tidak sejalan dengan kehendak mayoritas. dengan halus dogma-dogma itu dilegitimasi dan dilepaskan dari kesakralannya dengan ragam jurus yang dipaksakan ilmiah.apa beda ulil dengan para islamis? toh ulil juga belum berbuat apa-apa selain berwacana yang menggembosi umat islam dengan ghiroh dan kecintaan imannya? saya lebih beruntung dengan analisa national Intellegent Council (NIC) AS yang merasa khawatir dengan kebangkitan umat Islam di tahun-tahun mendatang. sehingga kekhawatiran mereka itu memeotifasi saya bahwa Islam masih sangat diperhitungkan dan mempunyai potensi besar untuk kembali berjaya. bukan sebaliknya ulil yang mengaku bagian dari Islam? tetapi selalu mencibir dan tidak senang dengan mereka-mereka yang percaya bahwa Islam adalah solusi dan jaminan masa depan di dunia maupun kelak di akhirat. mengapa potensi besarmu tidak engkau gunakan untuk mendorong optimisme itu? saya percaya ulil tidak akan mencapai kemelimpahan materi dan puja-puji mereka orang-orang kafir apabila ulil menempuh jalan sebaliknya dengan mendukung optimisme bahwa Islam masih dapat memberi solusi.
salam, semoga ilmumu bermanfaat bagi umat bukan bagi mereka yang selalu memusuhi Islam !
Mas Ulil sy setuju dengan analisis mas Ulil. memang Cina dan India bisa menjadi kiblat atau percontohan bagi negeri - negeri muslim khususnya bidang ekonomi dan teknologi. Tetapi membandingkan secara hitam putih antara kemajuan India dan China dengan Negeri - negeri Islam saya kira ada beberapa hal yang tidak bisa kita samakan begitu saja atau kita pukul ratakan saja bahwa negeri Islam jauh tertinggal dengan mereka.
Diantaranya ialah fakta :
1. bahwa negeri - negeri muslim tersebar di berbagai benua dengan keragaman bahasa, sosio kultural,budaya dan gaya pemerintahan, sehingga menyulitkan untuk melakukan konsolidasi atau penyamaan visi.Dan karena adanya perbedaan tadi diatas negeri - negeri muslim tadi mengadapi problem dan permasalahan yang sangat komplek sehingga mereka lebih disibukkan oleh urusan negerinya masing - masing. Berbeda dengan Cina atau India ingat mereka masing - masing adalah satu negera!, memiliki agama dan bahasa yang relatif sama, secara geografis ya bangsa India ada di Negara India juga Cina. sehingga konsolidasi mereka dalam mengadapi permasalahan yang dihadapi telatif tidak rumit karena tidak ada perbedaan budaya dan agama (hindu mayoritas di India, Kong Fu Tse agama mayoritas di Cina) karena India satu bangsa, cina satu bangsa. Jadi saya kira tidak fair kalau memukul rata seluruh negeri muslim kalah dengan mereka. Mengapa tidak kita bandingkan dengan Iran salah satu negeri muslim yang berani secara terang - terangan melawan hagemoni barat(amerika), mereka berhasil mengembangkan teknologi nuklir mereka yang sangat ditakuti Amerika, memang secara perekonomian belum sehebat India atau cina tetapi ke depan mungkin hegemoni Iran sebagai bangsa Persia akan muncul kembali sebagai kekuatan dunia. Dan ingat negera - negara muslim selalu menghadapi konspirasi penggembosan kekuatan dari Barat berupa embargo - embargo baik ekonomi maupun militer sehingga alih teknologi menjadi tersendat.
2. Mengapa di negara - negara muslim perempuan belum layak mendapatkan tempat misalnya dalam pengiriman atlet kan hanya Arab Saudi aja kan mas yg tidak mengirim atlet perempuan, tetapi lebih banyak jugakan negara Muslim yg mengirimkan atlet perempuannya, bahwa bisa berprestasi.
3. Kalau negera - negara muslim belum banyak yang maju masih tertinggal dengan India dan Cina berarti tugas kita dan ya Mas Ulil dengan kawan - kawan untuk bisa lebih kerja keras lagi. Dan saya sarankan kepada para intelektual di Indonesia ayo turun gunung jangan hanya tinggal di langit saja, turun ke bumi.Transformasikan ide - ide dan pemikiran kita, intelektual jangan hanya sekedar memberi komentar dan kitik saja tetapi perlu adanya langkah real bantulah masyarakat kelas bawah, kalau pemerintah sudah tidak sanggup lagi alias mandul karena sibuk berpolitik maka (mungkin) tugas para intelektual/cendekiawan untuk mengambil alih sebagaimana yang Plato katakan hanya seorang Filusuf yang pantas memegang sebagai pemerintah karena mereka tidak disibukkan dengan kepentingan politik mereka.Terima Kasih Mas Ulil.
anda lantang sekali,pak. apa anda tidak tahu bagaimana cina memperlakukan muslim Uighur? dan india dengan muslim kashmirnya? kemajuan seperti apa yang anda maksudkan?kemajuan dalam mengumbar nafsu & maksiat. kalo begitu,anda saja deh yang ‘bangun’, karena saya masih takut akan datangnya HARI PEMBALASAN.
Kemunduran umat Islam saat ini dikarenakan oleh penganut agama Islam itu sendiri (orangnya) bukan karena agamanya. Untuk kejayaan umat Islam semuanya telah diatur dalam Alqur’an baik menyangkut kehidupan dunia maupun akhirat.Kalau umat Islam ingin maju kembalilah kepada Pedoman Alqur’an. Sesama umat Islam hendaknya saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan ketaqwaan bukan saling menjelekkan dan menganggap alirannya paling benar!!!.
Mas, comment sy sih sgkat saja. 1. Bukan islam nya yg salah. Tapi byk orang2 nya termakan dogma / doktrin. 2. Sampeyan coba lah melamar jd presiden indonesia, mgkin dgn sgala kepandaian anda, bsa d curahkan tdk cuma lewat tulisan. Ga ada hsl nya. Ga significant. Bhasa gaulnya GA NGARUH BUAT RAKYAT. Ngaruhnya ke EKONOMI PRIBADI SAMPEYAN THOK. he3. Ujung2 nya duit. Geto
sebuah artikel yang menarik, dunia islam mempunyai masalah yang besar dalam hal mentalitas dan etos kerja, kita terlalu berkutat dengan saling menyalahkan satu sama lain untuk hal yang saya pikir sepele tetapi kita lupa akan kesejahteraan umat, bagaimanapun untuk bangsa indonesia khususnya marilah kita mulai meninggalkan kebiasaan asal arab karena sebenarnya mereka bukan tauladan yang baik bagi kemajuan kita. Membiasakan berpikir kritis dan kreatif adalah hal yang harus segera diterapkan di dalam kehidupan umat islam.
mereka memang lebih suka mengumbar omongan yang sifatnya sangat utopis. kalo diminta untuk berbuat secara nyata dan menyentuh kehidupan sehari-hari selalu gagal. karena memang nggak mampi. akhirnya ngomong doang yang dibanyakin buat nutupin rasa malu mereka, kalo punya malu sih ...
Assallamuallaikum wr.wb.
Islam bkn pemimpi ? Krn islam tdklah tidur, tapi islam itu bangun & nyata ada untk mnerangi smuanya.
Khilafah itu juntrungany sudah jelaz Al-Qur’an n Al Hadist. ingat
“Tidak sama antara yang buruk dengan yang baik, kendati jumlahnya yang buruk menarik hati mu”(Al-Maidah 5:100) ayat ini nyata, bktiny hati anda tlah trtarik untk melakukan keburukan mninggalkan khilafah, & pdhal juntrunganya jelas langsung dr Alloh yaitu Al-Qur’an & Al Hadist,artinya anda tdk prcya ke-2nya ? & anda bilang tidak jelas ? Sbnrny Anda islam atau hanya jual topeng islam ? Hingga tdk meyakini ke-2nya ?
Kita pun haruz ingat
“Dan jika kamu mengikuti kebayakan orang-orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu”(Al-an’am 6:116)
& ingat islam itu mengajarkan kerja keras, tapi bkan untuk mningalkan syari’at Nya, tapi dgn Jihad(bkrja keras)Di jalan-Nya slah 1nya adalah Hadirnya Khilafah, Rasul Berpesan “jagalah lisan, karena orang yang menjaga lisan trmsuk orang2 yang beruntung” jadi berfikir dulu sebelum bicara & belajarlah apa itu islam, jika kamu mau jadi orang2 beruntung, jika tidak mau ya ndak apa2, coz Neraka tidak akan penuh krn Alloh maha kaya Boz !?, tapi jika anda islam pasti akan berfikir & berubah bicara, krn hidayah datang buat orang2 yang berfikir & Alloh pun mencintai orang2 yang berfikir Boz.
Wassalamuallaikum wr. wb.
Assalamuallaikum wr. wb.
Kami memang sudah meninggalkan mimpi karena memang kami bukan pemimpi yang hanya bisa berangan-angan.
Tapi kami ada & nyata untuk jihad(berkerja keras)di Jalan-Nya, salah 1 nya adalah untuk menghadirkan Khilafah.
Yang sudah jelas juntrunganya adalah Al-Qur’an & Al-Hadist. N bila anda mengatakan tidak jelas maka saya meragukan keislaman anda, yang meragukan firman-Nya n sabda Rasulullah SAW. Kalau sudah ragu masih layakah di sebut islam ? N kenapa anda tidak keluar saja mencari agama yang laen, dari pada terus menghina & meragukan-Nya ?
Tapi saya rasa hati kecil anda masih ada rasa cinta kepada islam, cuma anda tidak mau berfikir, karena hidayah ada buat orang2 yang berfikir.
Walaikumsalam wr. wb.
Selain kemiskinan, satu hal yang perlu diantisipasi dalam kebangkitan Islam adalah penyebaran virus mengenai citra Islam di luar. Salah satu penyebar virus citra Islam ke luar adalah Anda. Bisakah Anda renungkan ini??!!
setelah menganjurkan ajaran sekuler ala amerika, sekarang ulil berkoar-koar dengan ajaran paganisme India dan Cina. Keberhasilan mereka hanyalah klise yang tak berfaedah sama sekali terhadap kehidupan. Apakah ulil tidak memiliki kebanggaan terhadap ISlam dan ajaranNya ??
Terlalu banyak makan uang AS.
apa pendapat anda tentang isi dari islamexpose.blogspot.com
Kita sedang berdiri pada posisi mana sekarang ini, !
apakah kita sedang mencari patron, model untuk ditiru agar kita mencapai kemajuan ?
seperti india, seperti cina, seperti turki, seperti abasysyiah abad ke 13
Mengapa kita tidak berposisi islami saja, dengan etikanya : bekerja keras.
Membaca tulisan Mas Ulil itu menyegarkan, tapi membaca komentar-komentar atas tulisan Mas Ulil jauh lebih menyegarkan
banyak yang ‘engga nyambung abis’. Persis seperti nonton film India atau sinetron Indonesia. Kayanya ‘algoritma berfikir’ harus jadi mata pelajaran wajib di Indonesia.
Saya jadi penasaran, Mas Ulil sering baca engga ya komentar-komentar tulisannya sendiri. Itung-itung hiburan Mas, malah kalau dikumpulin bisa diterbitin jadi buku sendiri.
Bravo, JIL.
ada kok golongan Islam yg sedang berusaha mewujudkan khilafah yg mengedepankan pendidikan, ekonomi, dan teknologi, dan disertai dgn ajaran budaya, toleransi, dan perdamaian. Tau Ma’had Al Zaytun ga? Kalau Allah menghendaki, kejayaan Islam dimulai dari sana.
saya binggung nggak ada relevansinya antara kemajuan cina & india secara ekonomi dengan mimpi sebagian besar muslimin (yang benar) yang menginginkan khilafah, karena kaum muslimin yang menginginkan adanya khilafah semata-mata adalah karena keinginannya menjalankan syariat agamanya yang jelas diperintahkan Tuhannya,bukan untuk kemajuan ekonomi kalau masalah maju tidaknya ekonomi ya tergantung usaha dan kerja keras manusianya hasilnya kembali kita serahkan ke Tuhan kita lah jelas beda dengan kemajuan cina dan india dalam hal ini??
(lain kali kalau mas ulil mau menyampaikan suatu kritikan mohon sekiranya di fikirkan dulu karena banyak nggak nyambungnya ???)
Kalo udah gini memang komunitas islam harus memisahkan diri dari komunitas internasional karena agama ini tidak didesain untuk bertemu agama lain, demokrasi, dan sekularisme lainnya.
Saya melihat Islam ini sudah lengkap, ajarannya sudah mencakup semua aspek kehidupan, karenanya yg menginginkan islam seutuhnya pasti menolak persinggungan atau kompromi nilai-nilai lain dari luar.. bisa dikatakan hal ini malah menodai identitas diri jika menggunakan nilai-parameter dari luar. (untuk apa lagi jika sudah punya parameter sendiri)
Stop globalisasi..
Sekarang pertarungan ada di dalam diri masing2 mau ikut “luar” tapi harus berkompromi atau bahkan menanggalkan identitas atau tetap di dalam dan
membentuk suatu utopis yg tertutup dari sekularisme dunia luar sama sekali!!
Ibaratnya jadi raja dangdut tapi di kampung sendiri atau mencoba mengadu nasib ke kota tapi harus meninggalkan jati diri dan jadi penyanyi pop..
Disini saya melihat ga ada tempat buat yang setengah2.. ga akan maju!!
Tolak SEMUA “kaset2” pop (termasuk kemajuan teknologi yang memungkinkan adanya kompromi lagi)
Kembali ke jaman nabi Muhammad, fokus di umat sendiri, memajukan diri dari dalam, ga peduli urusan dunia luar.. Kalau sudah makmur bukan tidak mungkin dunia luar iri dengan kemajuan ini dan
merekalah yg harus berkompromi dgn identitas mereka..
Bisakah..?
Tulisan bang ulil sangat pedas,ya anggap aja cambuk bagi kita umat muslim agar lebih giat mengembangkan seluruh kemampuan,saya jadi heran apa yang salah ya,apa umat islam yang bodoh? tapi bagi orang yang beriman kayaknya tidak terlalu berpengaruh,masalah harta,teknologi dan sesuatu yang sifatnya duniawi,toh tidak dibawa mati kan? gitu aja kok repot.
Komentar Masuk (132)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)