Melihat Shahrour Mengintip Inul
Oleh Saiful Amien Sholihin
Sebagian kalangan agamawan merasa risih dan takut munculnya Generasi Muda Nge-fans Inul (GMNI). Inul dianggap sebagai virus yang bisa merusak moralitas penerus bangsa. Inul juga dituduh menyebarkan malapraktik dan tindak perzinaan dan perkosaan. Namun jarang sekali yang mempersoalkan sensualitas goyangan para pejoget dangdut laki-laki yang sering ditayangkan di televisi.
Komentar
Setuju atas artikel ini bahwa semuanya artis kita sekarang ini boleh dikatakan tidak bermoral. Apakah itu Inul, Anissa Bahar, Thomas Jorgi, Alam Dukun, Krisdayanti dll, semuanya ingin mengexploitasikan gerakan dan cara berpakaian mereka tidak jauh jauh dari urusan “bawah perut” semata. Tidak hanya mereka, atau tidak hanya soal seni suara atau seni tarian, tetapi hampir semua yang tampil di tv kita sekarang ini, ujung ujung nya hanya soal sex semata. Pelawak, Film, dan celotehan para selebritis kalau kita amati berputar putar urusan “bawah perut” itu saja.
Kadang saya bertanya mungkin kita semuapun begitu. Semua kita sangat suka menonton mereka, mulai dari anak anak kita, isteri kita, sampai kakek nenek kita sukanya menonton dan mendengarkan hal hal yang berbau porno itu. Jadi semua kita sudah rusak sudah tak bermoral. Apa yang salah pada bangsa ini ? Barangkali bapak bapak di JIL tahu jawaban nya? Syukur syukur punya solusi untuk mengatasinya. Terima kasih!
Saya kira jelas. Ketentuan tentang batasan aurat yang datang dari Allah SWT dan dijelaskan di dalam Al-Qur’an, barangtentu akan membawa kemaslahatan bagi siapa saja yang mau mengikuti aturan itu. Hanya saja dalam menafsirkan, sering menyimpang dan tidak proporsional. Bagi saya—mungkin karena faktor usia, yang menurut saya sudah cukup—melihat lenggak-lenggok tidak menimbulkan rasa apa-apa. Tapi yang perlu diingat, bahwa masyarakat Indonesia tidak semuanya berusia sama dengan saya. Banyak generasi muda yang perlu kita selamatkan akhlaknya. Itu saja! Silakan para ahli memikirkannya!
Saya cuma bertanya, sahihkah pendapat Sahrour itu? Apa dasarnya dia berpendapaat seperti itu? Apa dia bersandar pada Alquran & hadis sahih? Mungkin dia belum melihat ayat-ayat dalam al-Quran & hadis-hadis sahih yang jelas-jelas mengatur aurat.
Dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (l) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk sorga, dan tidak akan mencium bau sorga, padahal bau sorga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (Riwayat Muslim, Babul Libas)
Umat Islam meyakini, syari’at memerintahkan untuk menutup bagian-bagian tubuh tertentu, yang dalam bahasa fikih disebut aurat. Dasar hukumnya adalah surat an-Nur:ayat 30 dan 31, serta al-Ahzab: ayat 33 dan 59. Ada yang meyakini ayat-ayat ini sudah sangat jelas menentukan batas-batas aurat, perempuan dan laki-laki. Padahal kalau diamati, ayat-ayat tersebut merupakan anjuran-anjuran moral yang bersifat umum, seperti perintah menahan pandangan, tidak mempertontonkan perhiasan dan menutupkan kerudung ke bagian tubuh yang terbuka, serta tidak dengan sengaja bertingkah menggiurkan (tabarruj). Untuk lebih jelas kita kutip ayat dari surat An-Nur tersebut:
“Katakanlah kepada para laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluan; karena yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (30). Katakanlah juga kepada para perempuan yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluan, dan hendaklah tidak menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak. Dan hendaklah menutupkan kain kerudung ke dada mereka” (31).
Goyang ngebor Inul merupakan suatu ekspresi kebebasan asasi. Tetapi goyang tersebut berdampak negatif bagi sebagian orang sehingga muncul pendapat yang pro dan kontra terhadap goyang ngebor tersebut. Bagi saya goyang ngebor inul merupakan suatu seni, terlepas dari boleh atau tidaknya dari pandangan agama. pendapat yang mengatakan bahwa goyang ngebor inul bisa mengundang dan membangkitakan gairah seksual bersifat relatif. Tuduhan yang dialamatkan kepada inul lebih bernuansa ekonomis daripada agamis.
——-
dari mana dasar teory syahroor tentang teori batas? siapapun bisa bikin teori , saya kira dalam teori agama harus punya dasar yang shohih valid. teori-teori tentang tekhnik mungkin tak mengapa jika dibikin tanpa dasar dalil dari al-Qur’an dan Hadits. tanpa mengurangi hormat saya terhadap ilmuan saya kira alangkah kurang bijaknya jika syahror tidak konsentrasi utk membuat teori-teori dunia “ketekhnikan” padahal beliau orang dari kalangan tekhnik (secara akademik).
Terima kasih
Komentar Masuk (5)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)