09/12/2009

Memahami Hadis Nabi Secara Rasional

Oleh Wail al-Sawwah

Akal yang sehat tentu tidak akan menerima sikap seperti itu terhadap perempuan. Seorang Nabi yang berwatak sebagai pendidik, arif, dan pemimpin umat, tidak mungkin memperlakukan perempuan seperti yang digambarkan di dalam hadis-hadis misoginis di atas. Hadis-hadis misoginis itu pun bertentangan dengan puluhan hadis lain yang menegaskan keharusan menghormati dan menghargai perempuan.

09/12/2009 08:05 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (26)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

hadits tsb gx logis jelas infiltrasi non muslim

#1. Dikirim oleh rasyid  pada  09/12   02:35 PM

Setuju!! Kita tidak bisa percaya hadis begitu saja. Hadis yang bertentangan dengan Quran, walau katanya Shahih, sebaiknya dipertimbangkan kembali. Allah berulang kali menyuruh kita menggunakan akal. Maka kita harus berpikir.

Tidak seperti Quran, Allah tidak pernah menjanjikan keakuratan pengumpulan Hadis Rasul, jadi sebenarnya Hadis Rasul yang katanya perkataan Rasulullah itu belum tentu benar-benar perkataan Rasulullah. 

Saya pernah dengar suatu hadis yang mengatakan Rasulullah bila berhubungan dengan istrinya selalu mengenakan penutup (semacam sarung). Saya bingung, bagaimana mungkin orang bisa tahu ? Hubungan suami istri itu kan rahasia. Rasulullah tidak akan menceritakan hal tsb ke siapapun, demikian pula istri2 Nabi tidak akan membocorkan hal2 spt itu kpd umum. Sungguh tidak masuk akal. Atau mungkinkah ada yang ngintip saat mereka berhubungan? Tidak masuk akal perkataan orang yang suka mengintip kok diterima.

Kita diperintahkan mengikuti Rasul, karena Rasul mengikuti QUran. Jadi yang bertentangan dengan Quran, semestinya bukan dari Rasul.

#2. Dikirim oleh Nur  pada  10/12   10:42 AM

Memahami hadis dan alquran secara rasional merupakan anjuran dan harapan nabi juga para sahabat. mengapa demikian? Saidina Ali pernah mengatakan “Alquran tidak menafsirkan maknanya mengunakan pundaknya sendiri tetapi memerlukan pembaca yang akan mengartikan maknanya”. Yang menjadi masalah saya adalah
*****Tidak ada 2 orang saksi dalam pernikahan*****
pada zaman Nabi tidak ada Pegawai Pencatat Nikah, oleh karena itu masih diperlukannya 2 orang saksi. mengingat zaman sekarang setiap peristiwa pernikahan tercatat di KUA maka rukun 2 orng saksi tidak diperlukan lagi

#3. Dikirim oleh saim  pada  11/12   05:10 PM

perempuan dan lakilaki memiliki hak yang sama

#4. Dikirim oleh saim  pada  11/12   05:12 PM

Tulisan ini kedengaran saru dan tidak menghormati Nabi Muhammad. Semua Nabi memang ada kekurangannya dan sebagai pengikut Nabi seharusnya mampu menutupi, bukan malah mendiskusikan secara blak-blakan seperti ini. Tulisan ini justru menguatkan tuduhan bahwa Nabi itu hipersex atau pikirannya penuh dengan imaginasi dan keinginan sex. Kenapa tidak seperti pengikut Nabi Isa, misalnya, yang bisa “mikul duwur mendem jero”, sehingga, walaupun mungkin banyak “sexual encounters” tapi nggak banyak diskusi hasrat sex nabi Isa.

Tapi memang yang namanya Nabi juga manusia nggak sempurna makanya punya nafsu sex. Perlu dipikirkan oleh agamawan bahwa ajaran/etika tentang sex dalam hadis ini susah untuk tidak diinterpretasikan bahwa nabi itu banyak memikirkan tentang sex.
Dasar, Nabi laki-laki.

#5. Dikirim oleh siti suwarni  pada  12/12   06:31 PM

Sampai detik ini saya tidak mengerti mengapa banyak ulama masih menjadikan bahan acuan hadis-hadis yang melecehkan kaum perempuan dan merendahkan nilai kemanusian lalu disebarkan ke masyarakat untuk diyakini sebagai sumber kebenaran yang harus diamalkan dalam kehidupan.

Apakah Anda tidak tahu bahwa kaum yang dilecehkan itu adalah orang yang mengandung dan melahirkan Anda?

#6. Dikirim oleh yeni sahnaz  pada  15/12   03:08 AM

Saya kira ilmu mushthalah hadits, termasuk di dalamnya ilmu jarh watta’dil sdh mempunyai kaidah mumpuni untuk menilai sebuah hadits.  Secara umum kesahihan hadits dinilai dari dua sisi, yaitu sanad dan matannya. Yang jadi soal dalam artikel ini saya kira sisi matannya, karena dari sisi sanad tak masalah.  Oleh karenanya, tak pada tempatnya kemudian menghujat kajian-kajian ulama hadits hingga hasil jerih payah mereka dicampakkan begitu saja. Lebih baik lihat saja dari sisi matannya seperti para ahli hadits sarankan juga.  Inilah yang kita kaji logis tidaknya, walau secara sanad sahih namun dari matannya janggal, apalagi bertentangan dengan semangat Al-Qur’an, maka hadits tadi bisa dlaif juga ...Trims

#7. Dikirim oleh Abdurrahman  pada  15/12   09:24 AM

Saya setuju bahwa Islam dan Nabi SAW tidak lah mungkin dan bahkan mustahil melecehkan wanita. Hanya saja bantahan yang penulis coba bangun dalam artikel tersebut menurut saya terlalu dangkal dan salah alamat.

Hadits tidak lah selalu dapat dipahami secara harfiah, kadang ada redaksi yang tertulis menghendaki suatu pemahaman maknawi. Sebagaimana hadits di atas. Saya pernah beberapa kali mengikuti kajian di suatu pesantren tradisional dan pemahaman hadits tersebut jauh berbeda. Hadits tersebut ditujukan agar laki - laki bila tergoda perempuan atau sebaliknya (dimana ini sifat alamiah) maka dianjurkan dy segera menuntaskan hasratny kepada pasangan sahny. Ini demi menjaga kesucian dan kesetiaan.

sedangkan hadits kedua lebih dipahami pda menjaga keharmonisan rumah tangga. Hadits tersebut secara tekstual memang tampak adanya pemaksaan pada wanita tetapi pada hadits lain juga disebutkan bahwa sebaik-baik laki2 adalah yg paling lembut pada istrinya. dan satu lagi diisahkan dalam sirah nabawiyah bahwa istri2 nabi pernah ngambek kpd Nabi SAW karena nafkah lahir dirasa kurang. Istri NAbi saja berani menyampaiakan uneg2 ny kepada beliau jadi apakah masih ada pikiran bahwa Islam melegalkan pemaksaan kpd wanita. JAdi saya pikir pemahaman tekstual/leterleje pada suatu teks hadits dapat menyimpang. Perlu adanya arahan dari yang guru/ulama yang lebih paham.

kesimpulannya menurut saya artikel tsb keliru menyatakan bahwa perlu adanya syarat baru untuk shahih/tidakny suatu hadits yakni rasionalitas. Ini salah alamat, dan maap menurut saya berangkat dari pemahaman yang kurang thd hadits tsb atau terpolusi oleh prasangka2 atau terbingungkan oleh opini2 oranhg (ngaku) ulama yang menyatakan wanita spt setan.

Islam menjunjung tinggi wanita, ini mutlak dan tak terbantahkan. JAdi dengan ini saya pikir ide inti artikel tersebut gugur.

#8. Dikirim oleh kudi  pada  15/12   02:38 PM

Bukan hanya hadist yang harus dipahami secara rasional, tetapi juga al qur’an. Memang sukar sekali membumikan pemahaman ini, bukan hanya kepada masyarakat awam, bahkan kepada mereka yang katanya bergelar ustadz, kyai, habib sekalipun. Kata mereka, kan ada hadist yang kira-kira bunyinya begini: “barang siapa mentafsirkan al qur’an dengan ra’yu nya, maka dia sungguh telah kafir”.

#9. Dikirim oleh teguhsuseno  pada  16/12   07:12 AM

Assalamu’alaikum wrwb
Ada 4 golongan pengikut2 sunnah;
http://latifabdul.multiply.com/journal/item/302

Sebuah pertanyaan kepada diri sendiri bagi orang2 yg berpikir;

Apakah mungkin kita percayai hadits2 Muslim dan Bukhari itu semua 100% adalah Hadist2 Sahih? Dimana Rasulullah saw sendiri tidak pernah memeriksa kitab2 hadits yang kita baca sekarang ini dan meninggal 1400 tahun yang lalu?

Sebuah dokument itu akan syah,kalau ada sebuah tanda tangan dari penulisnya,benar bukan?

Lain dgn kitab2 ALLAH,Al Quran dan Bible dimana ALLAH berjanji akan menjaga wahyu2nya sampai hari kiamat.

Kita yang beriman kepada ALLAH 100%,maka kita juga beriman kepada kitab2nya 100% pula tanpa reserve…itulah yang di maksudkan beragama, faith dan tauhid.walaun juga sebuah kitan yang sudah berumur ribuan tahun, dan di tulis di kulit2 binatang,daun2 adn di hafalkan oleh pengikut2 Nabi. ALLAH akan tetap menjaga manusia2 itu agar jangan lupa dan menyesatkan.

Sedangkan kitab2 Hadits ALLAH tidak memberikan jaminan sama sekali. Itu bedanya antara kitab2 ALLAH dan kitab2 hadits yg berumur ribuan tahun itu.

Jadi berhati hati menyampaikan hadits kpd umat.
Wassala,

#10. Dikirim oleh alatif  pada  17/12   02:29 AM

Setuju sekali Bang Taufik!
Tuhan sering mengingatkan kita -melalui Qur’an- untuk selalu berpikir -menggunakan akal sehat yg rasional tentunya-.

#11. Dikirim oleh Syam  pada  18/12   01:49 AM

Apa yang dikatakan wail sebagai rasional bisa jadi malah sangat tidak rasional.Tidak adanya penjelasan yang rinci dalam hadits tsb menjadikan semua orang bisa menkronologiskan kejadian itu sesuai dg apa yang difikirkan.Jangan-jangan Nabi melakukanya sambil berdiri (karena tergesa-gesa versi wail) atau munkin hanya dionani dan sebagainya.Sama sekali tidak ada petunjuk yg bisa dijadikan kesimpulan bahwa “insiden” itu berlangsung singkat? Apakah karena keberadaan para sahabat? yang munkin oleh wail diposisikan sebagai tamu sehingga nabi harus cepat cepat menemuinya.Kalau toh ada (ada yang meriwayatkan dg menggunakan Fa’ ,riwayat Muslim Abu daud Tirmidzi dan Ahmad menggunakan Tsumma),singkat dalam hal inipun bersifat relativ.Dan tidak ada petunjuk yang menjelaskan bhw Nabi sedang berkumpul dg para sahabat apalagi sedang terjadi pembahasan serius tentang berbagai persoalan umat (darimana wail mengambil keterangan ini?) Rumah Nabi berdekatan dengan masjid dan tentunya banyak shohabat yg berada disitu (bukan sebagai tamu).Sama sekali tidak ada alasan yang mengharuskan Nabi menyelesaikanya dg sinkat.Bila ada orang yg sudah beristri kemudian melihat wanita lain (cantik atau tidak,dg pakaian terbuka atau tdk atau bahkan melihat seekor kerbau )dan karenanya hasrat sexualnya timbul maka untk “menyelesaikanya” bisa dg beberapa kemunkinan 1.Memperkosanya 2.Merayunya untk kemudian diajak zina 3.Memandanginya terus sambil berzina tangan 4.Menuntaskan dg sg istri 5.Memendam hasrat itu.Dalam hal ini tidak ada alasan bagi Nabi untuk memendam hasrat itu,karena keadaan memunkinkan untuk menuntaskannya, dan yang pasti dengan cara yang sesuai dengan kapasitas beliau sebagai orang terhormat.(saya katakan pasti,karena akal sehat tidak menerima sebaliknya).Apa yang dilakukan Nabi adalah solusi bagi mas’alah yang munkin dihadapi umatnya.Ta’ammal watadabbar!

#12. Dikirim oleh A Hazim  pada  23/12   04:55 AM

Ketika membaca tulisan anda, saya temukan bahwa yang membuat makna sebuah Hadist jadi ‘complicated’ dan menjadi ‘irrasional’ adalah justru ‘pe-rasional-an’ sebuah Hadist oleh anda yang tidak mampu menghadirkan konteks sebenarnya apa yang terjadi pada Rasullalah SAW saat itu. Konteks anda hadirkan hanya berdasarkan logika pemikiran anda. Konteks anda buat sesuai dengan bayang-bayang pemikiran ‘logis’ anda. Kalau sama-sama tidak mampu memahami konteks sebenarnya, syah-syah saja sebenarnya ketika seseorang mengartikan Hadist tersebut adalah untuk mengingatkan para Bapak bahwa apabila syahwatnya sedang ‘on’ (oleh sebab memandang wanita atau alasan lain) hendaknya menghampiri istrinya, karena itu lebih menyelamatkan dia dari zina pikiran, zina hati, zina mata, dan lebih-lebih zina fisik. Sederhana bukan, tidak ada yang direndahkan dari Hadist tersebut, begitu juga kaum wanita. Apa wanita bukan lebih tersanjung karena suami lebih memilih mendekat pada istrinya untuk menyelamatkan dari syahwat yang melanggar agama? Kalau ingin tahu bagaimana Rasullallah SAW menggauli istrinya, ya jangan pakai Hadist tersebut yang penyampaiannya untuk tujuan lain; keagungan watak Rasullallah SAW tidak diragukan. Bukankah essensi ajaran sebuah Hadist mempunyai tujuan masing-masing? Yang membuat Hadist menjadi irrasional adalah karena nafsu manusia yang mendudukkan sebuah ajaran Rasullalah SAW pada konteks yang diciptakan sendiri.

Logika manusia hanyalah sebatas kebenaran nisbi, perlu kerendahan hati dan doa agar manusia dapat meyakini Keagungan ajaran-Nya yang disampaikan oleh Rasul-Nya yang tiada cela.

#13. Dikirim oleh sasmita  pada  30/12   09:26 PM

Hadist2 itu terlalu banyak kalau harus dibaca dan diterapkan oleh muslim.  Belum lagi memilah2 nya dan menganalisa.  Saya memilih al quran saja.

#14. Dikirim oleh mita  pada  04/01   07:30 AM

Maksud dari penulis dengan :
Namun, Nabi masuk menemui Zainab, sesuai teks hadis, “kemudian menunaikan ‘hajat’ kepada Zainab dan segera keluar lagi menemui para sahabat…” Teks hadis ini, dengan berbagai riwayatnya, mengesankan bahwa Nabi menemui Zainab hanya dalam waktu yang singkat. Sebab ketika ia keluar, para sahabat masih duduk di tempat semula. Ini berarti Nabi datang tergesa-gesa kepada istrinya, kemudian menyetubuhinya, lalu mengalami orgasme dalam waktu singkat. Setelah itu, ia segera kembali lagi kepada para sahabat untuk meneruskan perbincangan. Sikap seperti ini bukanlah watak Nabi dan bukan pula watak laki-laki mana pun yang menghargai diri sendiri dan istrinya.
Adalah terlalu mengada-ada. Kalo saya boleh bertanya. Apakah penulis atau siapapun yang memahami ini, apakah mengetahui dengan pasti bahwa Nabi menemui Zainab lalu berhubungan badan?
kalo memang penulis mengetahui (berada pada majelis kala itu) dengan pasti, boleh saja menulis demikian. Jika tidak memahami dengan pasti. Tidak usah membuat tulisan yang demikian.
Yang perlu dipertanyakan, mengaa penulis membahas Hadist tersebut. Masih banyak maslah yang Umat Muslim hadapi,  bukan hanya sekedar membahas Hadist dan menimbukan keresahan.
Saya minta dengan hormat kepada penulis agar berhati-hati dalam membuat pernyataan.

#15. Dikirim oleh Kidal  pada  18/01   07:47 AM

Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung

#16. Dikirim oleh taufik  pada  20/01   02:26 AM

@Bung Kidal, justru hadis itu jika dirasionalisasi dalam memahaminya akan tersirat seperti itu adanya, dan tentu saja menimbulkan kontroversi dengan akhlak mulia nabi sendiri.

Anda kelihatan tidak membaca artikel sampai habis…

#17. Dikirim oleh hpa  pada  21/01   03:38 PM

Tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa “insiden” itu berlangsung singkat,tidak pula dijelaskan bahwa ketika Nabi melihat si wanita Beliau sedang berada disebuah majlis apalagi sedang membicarakan mas’alah yang serius (darimana wail mengambil keterangan ini). Bila seseorang yang sudah beristri kemudian melihat seorang wanita atau apapun (seekor kerbau misalnya) kemudian hasrat sexualnya timbul maka untuk menyelesaikannya ada beberapa cara 1. Memperkosanya 2. Mengajaknya selingkuh 3. Menyelesaikannya dg sang istri 4. Meredam hasrat itu untk kemudian diselesaikan dg istri. Rumah Nabi dekat dg masjid yang tentu setiap saat banyak sahabat berada disitu,bukan sebagai tamu apalagi dijadikan sebagai alasan untuk mempersingkat hajatnya.

#18. Dikirim oleh Guse  pada  22/01   10:33 AM

Sangat setuju!.... Banyak sekali ayat yg menjelaskan bahwa Allah menyalahkan org2 yg gak mau berpikir. Seorang muslim haruslah berpikir, jika tdk maka tidak bs dikatakan seorang muslim. krn muslim yg benar adlh yg menerima islam setelah memikirkan bahwa mmg islamlah agama yg benar.

#19. Dikirim oleh Muhsin Effendi  pada  24/02   01:28 AM

mau tanya pak
bagaimana memahami al-quran dan hadis secara cepat

terimakasih

#20. Dikirim oleh hartoni  pada  12/04   01:45 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?