Membunuh “Tersangka” Terorisme?
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Mereka yang memang memiliki “concern” atau perhatian besar pada isu kebebasan sipil dan hak asasi-manusia, was-was kalau-kalau tindakan Densus 88 dalam menangani isu terorisme itu melanggar HAM dan kebebasan sipil. Saya tidak punya keberatan apapun terhadap kelompok ini. Kritik-kritik mereka dalam soal penanganan terorisme perlu didengar oleh pemerintah.
Komentar
saya sangat stuju dengan tindakan densus 88,apa jadinya negri ini kalaulah tidak ada mereka.
teroris memang sebutan yang kurang mengenakan akan tetapi tindakan mereka lebih tudak mengenakan lagi,negri ini harus bebas dari kekerasan namun kekerasan jangan sampai menimpa masarakat yang tidak tahu atau awam,
kita tidak boleh kalah dengan kedzalima,indonesia bukan tempatnnya berzihad dengan senjata,mereka yang kurang femahamannya tentang agana harus lebih banyak belajar lagi tentang agama yang sebenarnya.
sekali lagi saya mendukung tidakan densus 88, kalau masih ada cara yang lain masuk ke surga,ngapain dengan cara kekerasan.
bravo! excellent!
Hati-hati dengan bahaya laten terorisme. Banyak yang sesungguhnya simpatik dengan idiologi mereka. Sekarang mereka masih malu-malu tapi saatnya nanti mereka akan beraksi lebih brutal lagi. Karena itu Idiologi terorisme harus dilawan dengan Idiologi yang menyegarkan. Kepada kita semua harus mendakwakan idiologi damai tidak terkecuali MUI. MUI harus lebih peka untuk urusan urgent seperti ini, Selamatkan bangsa ini sebelum banyak umat kita banyak yang tersesat dengan idiologi berbahaya.
Amin
dimana sebenarnya letak terorisme sendiri?
apakah kita perlu membunuh fisik atau ideologi?
kenapa tak dipublikasikan saja terus menerus isi dari khotbah nabi pada saat haji wada?siapa tau pelaku dan pendkung ideologi teror jg stidaknya mampu menghormati orang lain
Sah-sah saja membunuh mereka yang benar-benar teroris. Entah itu berjenggot seperti yang terjadi belakangan, atau yang tidak berjenggot. Gak ada hubungan antara berjenggot dan tidak berjenggot dengan teroris. Sebagaimana gak ada hubungannya antara berdasi gak berdasi dalam hal korupsi, walaupun yang paling banyak korup adalah mereka yang berdasi. Namun yang terpenting sebenarnya adalah mengungkap dalang utama para teroris tersebut. Benarkah dalangnya adalah mereka yang dianggap berpemikiran radikal tersebut, atau jangan-jangan mereka cuma sekedar wayang saja yang digerakkan oleh oknum tertentu. Saya percaya kalau ada orang-orang yang punya pemikiran radikal seperti main bom-boman itu. Tapi saya belum bisa yakin, kalau merekalah dalang utamanya. Jadi, kalau para teroris bisa ditangkap hidup-hidup ngapain harus didor atau dibom? Ngapain juga kroyokan pembunuhan itu disiarkan secara heboh oleh TV. Biar terkenal? Harusnya masih bisa hidup kok malah dibunuh, ini baru nglanggar HAM.
Pemerintahan bangsa ini segala-galanya bagi rakyat yang tunduk.jangan sampai bangsa ini dikalahkan oleh orang yang berlaku brutal karena salah memahami agama,bahkan sebenarnya mereka mendustakan agama.karena inti dari semua agama adalah terciptanya akhlaqul karimah dengan siapapun.Densus 88, lempar teroris itu ke akhirat, selanjutnya biar malaikat yang mengurusnya.
saya yakin polisi pun lbh suka menangkao hidup-hidup krn dari mulut merekalah benang-benang terorisme bisa dilacak. contoh nyata adalah Nasir Abas (mantan JI) yg belakangan malah sejalan dgn polisi.
namun bisa juga krn berdasar pengalaman trio bom-bali yg pengadilannya malah memakan waktu, biaya, & pastinya polemik di masyarakat makanya skrg polisi pake siasat ala jaman Pak Harto (petrus).
who knows?
Islam sbg din memang wajib kita perjuangkan, namun Islam sbg ‘orang islam’ bahkan ‘negara islam’ sekalipun tidak serta merta harus dibela atas nama saudara semuslim…tetap harus dilihat apakah dia/negara tsb memang sdh muslim shg wajib dibela?
jadi…msh bolehkah kita membela irak, afgan, dan termasuk palestina atasnama saudara semuslim jika diantara mereka saja saling bunuh?
terorist sebenarnya adalah para pengedar narkoba dan penjaja film porno. karena aktivitas ini menyebabkan kehancuran generasi secara sistematis dan kontinue sedangkan terorist yang di definifisikan saat ini hanya di arahkan kepada musuh ideologi penguasa. tidakkah anda melihatnya begitu teman????
Juga perlu ditekankan penanganan oleh Densus 88 secara teknis. Adakah cara-cara melumpuhkan teroris tanpa membunuh? Saya bukan ingin mengatakan bahwa menangkap singa tanpa membunuh pun bisa, tentu dalam hal ini faktor kesulitannya berbeda mengingat ideologi mereka yang lebih memilih mati daripada menyerah. Apalagi dibumbui keyakinan bahwa mereka akan segera diterima oleh tujuh puluh bidadari di surga. Tetapi melihat bahwa secara teknis para teroris itu, kecuali Dr. Azahari dan Noordin, juga tidak hebat-hebat amat dalam berbaku tembak, semestinya ada cara untuk melumpuhkan tanpa membunuh.
meskipun isu terorisme membuat kabur( dikaburkan) makna jihad,tetaplah menjadi muslim yang baik,tidak takut berjihad, tidak cinta dunia dan tidak takut mati,dan juga jangan takut hidup.
jangan takut berjihad meskipun ‘logika’ mengatakan tak mungkin,
menjadi muslim bukan hanya mengamini apapun kata zaman,tapi harus berani mengubahnya, meskipun dengan itu kamu akan lumat karenanya.dunia hanya setetes air dilautan,bang ulil selamat berjuang????
Ya… Teroris itu memang harus diberangus, dengan latarbelakang dan motif apapun itu, apalagi sampai bawa-bawa agama. Islam memang mengajarkan jihad. Tapi ingat… Semangat jihad itu sangat tinggi nilainya, yaitu demi terwujudnya kehidupan yang damai, toleran serta terbukanya sikap saling menghargai. Jika perang atau pengeboman, lebih-lebih “kekerasan” dengan mengatasnamakan jihad, dan “amar makruf nahi munkar”, maka saya yakin ada motif mengikuti hawa nafsu disana yang jelas-jelas mengotori semangat jihad yang luhur itu. Maka memerangi teroris adalah sebuah keniscayaan… Lebih umum lagi menurut hemat saya, Densus 88 pun harus “memata-matai” kelompok Islam radikal dalam menjalankan missi dakwahnya, karena cikal-bakal indoktrinasi “salah kaprah” tentang jihad itu ya ada disana, yang sukanya turun ke jalan sambil mengacungkan tangan dengan teriak “Allahu akbar”, tapi yang ada malah merusak dan merusak. Salut buat Mas Ulil..
hidup mulia dan mati sebagai syuhada
sahabat2, terbunuhnya seorang nurdin atau apalah namanya, menurut saya itu tidak lebih hanya selintas “wafatnya” satu simbol (kekerasan) yang sudah kadung melekat dalam benak masyarakat republik ini. satu nama yang sudah terkonstruksi oleh banyak hal yang hanya di kuasai kalangan-kalangan tertentu, yang tentu maknanya menguntungkan bagi yang di untungkan (politisi lah, pencari berita lah, (maaf) oknum2 penjilatlah) yang di untungkan dalam masalah terorisme di negeri tercinta ini.
yang pasti di negeri yang subur, ijo royo-royo ini ibarat ladang yang subur untuk para penjahat, karena di negeri yang katanya makmur ini masih banyak orang sakit hati karena miskin, banyak orang miskin yang sakit hati, frusrasi, sakit jiwa karena tidak adanya harapan hidup, hidup layak seperi mereka2 yang katanya hidup dan besar di tanah air yang MERDEKA. hitung saja jumlah mereka, maka tinggal menunggu waktu, kapan mereka akan “meledak”. kata kuncinya, dalam tempo yang sesingkat2nya, LETAKKAN MASYARAKAT PASA POSISINYA (JJ, RUESSOE).
Saya hanya mau menambahkan.,menurut saya..mereka yg mengebom/melakukan aksi terorisme tidak layak disebut Mujahid,mati syahid,Pembela Agama Allah apapun sebutannya..! Apalagi Masuk Surga..!! Mimpi Kali Yee..
Lebih pantas mereka disebut PENGECUT..!! kenapa…??? lihat saja sikap para teroris itu,habis mengebom melarikan diri,sembunyi dari kejaran aparat,..seperti anjing dikejar kucing..!! INIKAH SIKAP SEORANG MUJAHID..?,PEMBELA AGAMA ALLAH..?? Seorang Mujahid sejati saya yakin tidak akan lari dari tanggung jawab,dia akan bertanggung jawab penuh terhadap apa yg telah dilakukannya..!! Ironisnya ada juga sekelompok org yg membela mereka..sudah jelas salah masih juga dibela karena mungkin sama2 seagama,tanpa bisa bersifat objektif.
Sungguh Memuakkan..!
Sebenarnya apa tujuan utama seseorang beragama, berideologi ataupun berkeyakinan? Jika malah menghalalkan pembunuhan, lalu apa bedanya dengan pembunuh yang lain? Setahu saya untuk hidup pun perlu keberanian. Saya memang tidak terlalu memahami ajaran agama manapun. Tapi setahu saya Tuhan Maha Luas Kasih Sayangnya. Saya rasa orang awam seperti sayapun berhak mendapatkannya. Dan menurut saya mengasihi sesama itu lebih penting dibanding mengejar pahala….
Masihkah dibenarkan membela Irak, Afgan, Palestine ?
kata karliemon.
mungkin membela Amerika lebih pantas daripada membela mereka. lha kalau penmikiran ini yang dipakai, tentu Mesir tidak menjadi negara yang mengakui Indonesia sebagai negara merdeka. Mereka mengakui Indonesia karena Muslimnya. Walaupun antar muslim di Indonesia saat itu juga saling menyerang. bagaimana ?
Sepakat Gus..
Sebenarnya siy pembenarannya tak perlu panjang. dengan menggunakan logika awam pun penembakan Densus 88 telah dapat terpahami. Apa alsannya: karena sewaktu proses penangkapan, mereka melakukan perlawanan(dengan senjata) dan ditafsirkan keadan “membahayakan” oleh pasukan Densus.
Yang protes sih mereka aja yg gak mau idola terorisnya terbunuh…Hanya itu sebenarnya
Kebenaran isu perlawanan yang dilakukan taroris yang ditembak mati, masing-masing harus dibuktikan dengan pembuktian yang terpisah. Tak bisa dengan menggunakan pembuktian secara generalisasi. Artinya, pernyataan Densus 88 atas perlawanan yang dilakukan teroris tersebut harus dibarengi dengan bukti fisiknya. Tidakkah Densus 88 tak mampu belajar atas pengalamannya sendiri dalam menangkap teroris. Sehingga tak perlu terulang lagi pembunuhan di tempat. Klo Densus 88 dibenarkan dalam penembakan di tempat, berarti KPK juga bisa dibenarkan untuk menfonis bersalah atas anggoro yang melarikan diri. Semoga dengan tulisan ini saya tidak dianggap sebagai ‘musang berbulu ayam’
Assalamualaikum.
Memang sih risih menghayati proses yang timbul: teroris, dansus 88, tindakan tembak ditempat. Tergantung pada hasanah teori yang ada dibenak masing2, seperti yang disampaikan penulis adalah pikiran yang saya pikirkan, dengan demikian saya setuju. Jadi bagaimanakah kita memahami ajaran agama Islam yang tidak terpengaruhi oleh politik seseorang. Susah untuk mendapatkan hasil pemikiran yang benar2 arif, sebab pada umumnya mereka terdidik sejak masa kanak2, yang tergantung dari kwalitas orang tua, ustadnya, dan selanjutnya tergantung dari perkembangan jiwa mereka. Dan sebagai hasilnya jelas apa yang mereka perlihatkan dalam mencerna dan berkomentar masalah topik tersebut.
Kalau kita telusuri ke belakang, pada umumnya, sosioekonomi memegang peranan besar dalam membentuk karakternya, mereka tidak memikirkan sandang, pangan, dan pendidikan. Semua diserahkan pada Tuhannya, emang katanya sudah “takdirnya”, pada hal di lain pihak Allah telah berfirman bahwa kehidupan itu harus diusahakan oleh diri sendiri, untuk dapat menjadi kehidupan yang lebih baik.
Sebagai kesimpulan adalah dalam berkomentar/ menyampaikan isi hatinya tergantung dari bagaimana kearifan diri, dan yang penting adalah kearifan sang pemimpinnya/lingkungannya.
Wassalam
H. Bebey
Ada baiknya dan ada buruknya sistem freesociety ini dalam menangani terorits2.
Kalau di negara2 diktator seperti Iran,Saudi, Korea utara dan cuba dengan mudah menangkap orang2 yang disangka suversive..seperti waktu zaman Sukarno dan Pak Harto.
Dalam sistem free society seperti Amerika, seseorang tidak bisa di tangkap sebelum ada bukti2 kriminal.
Baru2 ini, muncul 2 orang Usztad, yang sangat menyokong perjuangan Osma bin Laden, dan terangan2 dia menjelaskan di depan camera TV waktu di wancarai…
Namun polisi atau FBI belum bisa menangkap kedua orang itu,yang jelas2 akan melakukan perbuatan teror di Amerika (praduga)
Golongan Islam Radikal mengambil manfaat dari free society ini…mereka dapat hodup dan dilindungi dgn hukum.
Sebaiknya Indonesia dalam menangani terorist ini mengikuti undang2 Malayia dan Singapore,dimana orang2 yang nyata2 klompok terorist sebiknya di tangkap dan di adili dari pada di tembak ditempat.
Wassalam
Komentar Masuk (22)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)