Mencari Pengganti Gus Dur
Oleh Luthfi Assyaukanie
Pada era Gus Dur lah NU mengalami artikulasi intelektual yang sangat tinggi dan mampu melampaui pencapaian organisasi-organisasi Islam modernis lainnya. Gus Dur sendiri adalah ikon bagi banyak isu penting yang diusung gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Dia menjadi ikon demokrasi, HAM, kebebasan, dan pluralisme. Sosok Gus Dur telah mengubah citra NU menjadi sebuah gerakan modern yang pluralis, toleran, dan pro kemajuan.
Komentar
ahhhh....gitu aja kok repot cari pengganti saya......
saya kira kondisi NU saat ini seperti mencari tukang es pada siang terik,sebut saja kang masdar, kang said aqil, mas ulil dsb.
Di sini kita juga perlu menyebut jasa (alm) Cak Nur yang sejalan dengan pandangan Gusdur, agar tidak terjadi intelectual-gap antara NU dan Muhammadiyah,mendorong anak-anak muda NU untuk melakukan studi-studi di negara-negara Barat,sehingga kemudian saat ini terjadi ‘booming intelektual’ di kalangan anak-anak muda NU. Memang NU-Muhammadiyah -meminjam istilah Cak Nur, ibarat 2 sayap burung Garuda yang diupayakan salah satunya jangan sampai patah, sehingga mampu terbang tinggi melanglangbuana/menjagat raya dengan visi keislaman dan keindonesian yang moderat, santun,hanif dan toleran. Bravo mas Lutfi. Salam
Pada tahun 1950-an, mungkin benar sulit mencari tukang es tengah malam. tapi kini jam berapun memungkinkan kita mendapatkannya. tetapi itu es bukan gusdur,dan itupun keluar dari istilah ibarat. artinya tak ada satu ibaratpun yang berarti kesulitan tidak dapat menjadi “nyata” dalam kenyataan. sekarang kalau kita mau dengan segala resiko yang kata orang tidak mungkin, kesulitan itu adalah niscaya. Percayalah, kalau kita ingat kata-kata al-Imam as-Syafi`i; yang artinya kl : bahwa segala yang hilang, (pasti) akan ada gantinya.
Siapapun bisa menggantikan gusdur, tetapi mungkin permasalahannya adalah; bahwa dia sang pengganti tidak akan “dianggap”, karena yang cukup mendasar yang dipunyai gusdur dan tak (akan) dipunyai siapapun penggantinya adalah “anggapan”, walaupun sebenarnya tak dianggap pun gusdur memang punya segalanya. Sulit memang sulit, tapi percayalah pasti akan ada gantinya. terlebih kalau kita mau melupakan yang sudah tiada, cukup mengingat dalam doa saja, lebih dari itu adalah untuk mencari pengganti gusdur, Amin.
hanya sayangnya gus dur relatif otoriter. berapa tahun gus dur menjadi ketua nu ? hampir 20 tahun. mungkin kalau tidak menjadi presiden, beliau akan terus mencalonkan diri menjadi ketua nu.
hasyim muzadi relatif lebih baik dalam hal ini. cukup 2 periode (10 tahun) dia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi. padahal kalau mau, peluang dia untuk menang sangat besar
we love Gus Dur, dan perjuangannya harus dilanjutkan. anak muda NU wajib mugholadhoh ittiba’ kepada pemikiran Gus Dur
Ass.Wr.Wb.
Penolakan Ketua MUI Jawa Timur atas diberi gelarnya Gusdur dengan sebutan “Bapak Pluralisme” cukup beralasan, karena lima tahun silam, Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan Fatwa nomor: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama dalam Pandangan Islam.
Dalam fatwa yang ditetapkan di Jakarta tanggal 22 Jumadil Akhir 1426 H (29 Juli 2005 M) tersebut, MUI menfatwakan Pluralisme sbb:
Pertama, Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.
Kedua, Ketentuan Hukum. Pluralisme, Sekualarisme dan Liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampuradukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
Dalam fatwa haramnya pluralisme tersebut, MUI mendasarkan hujjahnya terhadap beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain: surat Ali Imaran 19, 85, Al-Kafirun 6, Al-Azhab 36, Al-Mumtahinah 8-9, Al-Qashash 77, Al-An’am 116, dan Al-Mu’minun 71).
Dengan polemik “Gus Dur Bapak Pluralisme” ini rakyat kembali terpecah dalam dua pendapat, yaitu pendapat Presiden SBY ataukah pendapat Majelis Ulama. Siapakah yang benar, SBY ataukah Ulama?
Jika yang benar adalah Ketua MUI Jawa Timur, berarti Gus Dur adalah orang baik yang tak pantas diberi gelar ”Bapak Pluralisme.” Tapi jika yang benar adalah Presiden SBY, maka Gus Dur adalah orang sesat yang mengikuti faham haram pluralisme, sehingga pantas dinobatkan sebagai ”Bapak Pluralisme.”
(Tolong jangan anda tutupi fakta berikut ini, jika JIL adalah Lembaga yang Obyektif)
Wassalaam
Apa maksudnya sebagai seorang pembaharu..? dengan gerakan Gus Dur yang nyeleneh dan bahkan menjadikan plural sagala agama… Menurut saya tidak pantas seorang Gus Dur mendapat gelar pahlawan atau pembaharu atau apa sajalah…
ya, memang sulit. Tapi bukan berarti tidak mungkin dan tidak bisa. Yang cukup jadi masalah adalah ketika muncul yang baru dan punya gagasan-gagasan mirip (kalau tidak sama persis), maka akan dikatakan bahwa dia bukan NU. nggak enak kan ? jadi yang bisa begitu hanya gusdur, sebab kalau kalau gusdur mau dibilang apapun nggak ada yang berani ngomong begitu, kalau ada yang berani, senjata makan tuan; yang ngomong itu akan dikatakan bukan NU
Ulil Abshar Abdalla adalah sosok yang memiliki kriteria pengganti Gus Dur.
Iya, sayang sekali banyak kalangan agamawan yang hanya mementingkan ilmu-ilmu agama tanpa memikirkan ilmu umu dan menyebutnya “gk penting”, padahal mereka hidup di dunia yang mau tidak mau harus tahu bagaimana untuk bertahan hidup di dunia. Itulah sebabnya muncul faham sekularisme: agama hanya ngurusin agama, masalah dunia gak boleh ikut campur.
kita tidak perlu latah menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan, karena Gus Dur selama hidupnya tidak berpikir tentang suatu gelar kehormatan. Akan lebih baik kalau kita meneruskan perjuangannya dan mengimlementasikan nilai- nilai pemikirannya tentang toleransi, HAM, perbedaan dan demokrasi. itulah yang jauh lebih penting daripada sekedar gelar pahlawan. kebesaran Gus Dur tidak akan berkurang tanpa ia gelar pahlawan.
Saya berpendapat Gus Dur sangat pantas dianugerahi gelar Bapak Pluralisme. Gus Dur adalah seorang yang humanis melintasi sekat-sekat primordial manusia. Manusia harus diperlakukan secara manusia, tanpa perlu melihat apa agamanya, sukunya, keturunannya, warna kulitnya, dsb-nya.
Pluralisme janganlah dilihat sebagai suatu aliran yang mencampur-adukkan aqidah dari berbagai macam agama. Kalau campur aduk semacam itu, itu namanya sinkretisme. Kita sebaiknya memandang pluralisme itu dari perspektif kebangsaan, seperti dulu di zaman Madjapahit ada seorang bijak dan wasis, bernama Mpu Tantular, yang menggemakan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
Pluralisme dalam pandangan saya, bukanlah sinkretisme. Walaupun ya, ini masih dalam pandangan saya, apa salahnya dalam hidup bermasyarakat, apabila ada sekelompok orang yang menganut sinkretisme? Biarkan Tuhan sendiri yang menghakimi mereka kelak, dan bukan lah menjadi domain manusia untuk menghakimi kepercayaan sesama manusia.
Jadi, bagi saya, saya berpendapat lebih baik kita jangan menilai pluralisme dari perspektif agama. Itu akan menjadi terlalu sesak nantinya. Kita hargai pluralisme dengan kita tetap beribadah sesuai dengan aqidah agama kita masing-masing.
Pluralisme sama sekali tidak menjadi penghalang bagi kita untuk menjalankan ibadah kita masing-masing,.......
Sesuatu yang tidak terlalu membagakan, Kalau gusdur merupakan Bapak dari segala yang nama dari istilah HAM, Demokrasi, Pluralis dan lain sebagainya. Justru
sebuah kehancuranlah yang ada kalau Negeri ini diliduti Istilah Kotor tersebut. HAM, Demokrasi, Pluralis, hanya sebuah Istilah, untuk menjajakan kaki para Orientalis dinegeri ini. jadi STOP sajalah Istilah itu, tidak menguntungkan, justru malah membawa bencana bagi NEgeri ini. Atas nama HAM, peperangan Irak, Afganistan,Palestina terjadi. Justru HAM mengingkari keberadaannya. Karena Demokrasi, negeri ini menghabiskan Triliunan dana kampanye didaam Negeri, andai itu semua dijadikan sebagai dana untuk Infrastruktur negara, maka Negara ini menjadi baik dan bermartabat, atas nama pluralis berbagai macam aliran sesat tumbuh dinegeri yang mayoritas Islam ini. jadi Istilah Demokrasi, HAM, Pluralis, merupakan sinyal kematian untuk negeri Ini (INDONESIA)…
Ya! Ulil saja yang menjadi pengganti Gus Dur. Setali tiga uang.
ya saya pikir NU bisalah u mencari pengganti gusdur yg bisa menjalankan perjuangan-nya selama ini.
tanpa hrs mengkultuskan gusdur, knapa jadi membahas gelas gusdur dll…
yg setuju atau tdk setuju dengan gelar yg beliau emban toh juga gak bakal ngefek di perjuangan ttg pluralisme, HAM dan juga demokrasi kok…
perjuangan pluralisme, HAM dan juga demokrasi itu jga bukan cita-cita gusdur atau NU saja, itu cita2x pemuda indonesia juga....
knapa kiga gak lbh memilih u bisa memperjuangkan pluralisme, HAM dan juga demokrasi ?
knpa bbh suka setuju atau tdk setuju membahasa gelar gusdur...??? org2x yg aneh........
lanjutkan bung lutfi
salam konpak selalu
Pejah gesang ndherek Gus Ulil.
Salam,.. Menurut ane sih, Gusdur itu biasa2 aje tuh,.. emang apa sih istimewanya. gak pantas lah dikasih gelar segala rupa. apalagi gelar bpk Pluralisme. sepertinya gak cocok tuh..
dibawah kepeimpinan gus dur anak muda NU mengalami perubahan yang sangat fantasitis dalam segi intlektual,pergaulan keagamaan dan demokrasi, pemikir muda NU telah tumbuh dan menjadi seorang teknokrat agama, dengan perpaduan islam salafi dan globalisasi menjadikan anak muda NU mampu diterima dan menerima perbedaan… kita berharap anak muda NU terus berjuang mengedepankan kemanusiaan, prularisme dan demokrasi.. karna berjuang untuk itu merupakan sunnah rosul
kenapa nu - muhamaadiya ga bersatu aja.
saya ni orang awam.. ga tau apa tu HAM, kebebasan, pluralisme,dan apalah....tapi,ketika Nabi Muhammad SAW. di ejek dg berbagai karikatur(a’udzubillah..) apakah itu juga bagian dr HAM? kebebasan? apa kita umat islam akan diam saja??
Komentar Masuk (20)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)