Editorial,
01/08/2004

Mencintai Hidup, Mencintai Tubuh

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kenapa soal tubuh begitu pentingnya buat manusia modern? Dulu, di pesantren, saya tak pernah mengenal hal semacam ini. Bahkan olahraga kurang begitu disukai di kalangan pesantren. Hampir seluruh kehidupan di sana dipusatkan pada apa yang dalam istilah mistik Islam disebut sebagai tahdzib al-nafs, membersihkan jiwa. Sementara menjaga kesehatan badan kurang mendapatkan perhatian yang cukup.

01/08/2004 22:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Sebelumnya saya sampaikan bahwa saya adalah pengagum dari Bpk. Ulil Abshar Abdalla. Hampir semua tulisan beliau yang terlihat&bisa diakses dengan cepat selalu saya sempatkan untuk menyimaknya termasuk opini tentang beliau baik posisitif ataupun negatif. Assalamualaikum Bapak Ulil. Tulisan beliau diatas sangat menarik dan saya berusaha untuk menanggapinya (semoga nggak salah ya,). Saya pribadi sangat ingin memiliki kesehatan yg selalu oke sehingga setahun terakhir saya sempat berlangganan majalah kesehatan alami dimana disana ada petunjuk bagaimana menjaga keseimbangan antara jasmani&rohani serta melakukan olah raga ringan, kapan saja, dimana saja untuk tujuan mulia tersebut. Dijaman yang canggih ini saya kira perlu untuk memberi perhatian esktra untuk badan kita, selain perhatian kepada spiritualpun sangat harus, sebagai seorang Islam saya sangat setuju untuk perhatian seimbang tersebut, dimana wawasan keagamaan, pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari (seperti yang disarankan AA Gym), harus terus bertambah walaupun penampilan kita tidak harus seperti ustad/ustadzah, disamping itu penampilan fisik dan kesehatan oke juga harus kita miliki. Tuhan (Allah) saja menyukai keindahan, apalagi manusia. Tubuh seorang wanita yang terjaga beratnya, sehat dan segar kulitnya karena olahraga dan makanan tentu saja lebih menarik dari pada yang gendut, loyo dan penyakitan. Begitu juga dengan Pria yang macho, tegap dan berotot sedang serta segar tenttu lebih menarik daripada (sebaliknya).

Semua itu tentu saja harus dengan pelaksanaan yang seimbang, tidak harus seorang manusia bisa menghabiskan waktu hanya untuk urusan badan tapi rohani terbengkalai dan sebaliknya. Alangkah menyenangkannya bila kita bertemu seseorang yang sehat setelah diajak berbincang masalah spiritual, orang tersebut berwawasan luas dan sangat perhatian terhadap mahluk hidup diatas permukaan bumi. ini. demikian terima kasih. Wassalam.

#1. Dikirim oleh Any Haryani  pada  02/08   07:09 AM

Menurut saya, semangat mencintai tubuh itu wajar2 saja (itupun bila melihat bahwa apa yang dilakukan oleh orang2 yang ber-mensana encor poresano itu adalah bentuk kecintaan terhadap hidup) untuk dapat hidup dalam dunia yang memang tidak bisa diingkari penuh dengan nilai industri kita secara tidak langsung juga terpacu dengan semangat industri yang ada, dan semangat itu menyaratkan kita untuk sehat dan siap untuk bersaing, saya yakin setiap muslim mempunyai kewajiban untuk memperkuat tubuhnya. Saya kira apabila kita harus lebih mencintai tubuh lebih jauh lagi, karena tuntutan jaman, ya tidak apa2, yang nilai kepercayaan terhadap tuhan tidak hilang. Bukankah itu inti dari islam?

#2. Dikirim oleh mehdinsareza w  pada  02/08   12:08 PM

Islam bukan hanya menekankan pada “Tahzib al An nafs” (rohani) semata namun kesehatan jasmani tidak lepas dari perhatian Islam, hal ini penting karena jiwa yang sehat jasmaninya akan memudahkan untuk membantu peribadatan seorang pada Tuhan nya. Ini terbukti dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang memotifasi ummat untuk selalu menjaga kebersihan badan pakaian tempat tinggal dan lingkungan di mana ia tinggal. Dalam sebuah Hadits, Nabi pernah berkata “Ajarilah anak-anak kamu memanah berenang dan menunggang kuda”. Juga banyak Hadits-hadits lain yang menganjurkan supaya menjaga kebersihan jalan dan tempat peristirahatan dari hal-hal yang dapat menggangu kenyamanan orang yang berada di situ. Nabi juga melarang seseorang memasukkan tangannya ke bejana sebelum dicuci terlebih dahulu. Juga adanya siksaan kubur di sebabkan seorang yang tindak"istinjak”(bersuci) setelah buang air kecil.

Ini semuanya membuktikan perhatian besar islam terhadap kebersihan dan kesehatan badan(jasmani). Ada kecenderungan manusia Modern untuk lebih mengutamakan jasmani dari pada rohani,mementingkan hal yang sifatnya dzahir dari pada bathin. Kalau menurut hemat saya manusia Modern telah kehilangan nilai keseimbangan “kholal at tawazun”. Meminjam perkataan DR.Yusuf Al Qardhawi"manusia telah banyak kehilangan keseimbangannya dalam menilai segala hal, lebih mementingkan hal yang sifatnya “tahsiniaat” dan “kamaliat"dari pada “dhoruriat”.

Sangat ironis sekali manusia sekarang lebih bangga dengan kecantikan dan ke elokan tubuh dari pada ke elokan hati, rela mengeluarkan dana jutaan rupiah demi memperindah tubuh dari pada memperindah akhlaq dan moral.Sebagai ummat islam hal yang harus kita lakukan adalah pandai menilai dan memberikan tiap sesuatu hal sesuai dengan posisi dan porsinya, mendahulukan mana yang harus didahulukan, mengakhirkan hal yang pantas untuk diakhirkan. Dengan kata lain harus ada kesadaran sikap “tawazun"untuk lebih bisa menilai dan menempatkan sesuatu pas pada tempatnya…

#3. Dikirim oleh Suharmadi Assumi  pada  02/08   09:08 PM

Porsi mengolahan fisik di pesantren mendapatkan prioritas kesekian memang. Ini merefleksikan kondisi yang ada di pesantren.  90% pesantren mengajarkan ilmu-ilmu klasik produk abad pertengahan yang tidak relevan dengan kondisi mutakhir. Aktualisasi keseharian, seperti yang pernah saya alami di pesantren memfokuskan pada hal-hal yang irasional. Hal prinsip bahwa akulturasi Islam pada tradisi Hindu/Budha di periode Wali Songo seharusnya kita tindaklanjuti dengan pencerahan Islam seperti semangat Al-Qur’an. Namun apa lacur, Kyai adalah makhluk setengah dewa, dan sami’na wa atho’na adalah jawabannya. Apapun aktivitasnya. Dan ini menurutku adalah proses pembodohan.

#4. Dikirim oleh mustain  pada  02/08   09:09 PM

Islam bukan hanya menekankan pada “Tahzib al An nafs” (rohani) semata namun kesehatan jasmani tidak lepas dari perhatian islam,hal ini penting karena jiwa yang sehat jasmaninya akan memudahkan untuk membantu peribadathan seorang pada Tuhan nya.Ini terbukti dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang memotifasi ummat untuk selalu menjaga kebersihan badan pakaian tempat tinggal dan lingkungan di mana Ia tinggal. Dalam sebuah Hadits nabi pernah berkata “Ajarilah anak-anak kamu memanah berenang dan menunggang kuda”.Juga banyak Hadits Hadits lain yang menganjurkan supaya menjaga kebersihan jalan dan tempat peristirahatan dari hal-hal yang dapat menggangu kenyamanan orang yang berada di situ.Nabi juga melarang seseorang memasukkan tangannya ke bejana sebelum di cuci terlebih dahulu.Juga adanya siksaan kubur di sebabkan seorang yang tindak"istinjak”(bersuci) setelah buang air kecil.Ini semuanya membuktikan perhatian besar islam terhadap kebersihan dan kesehatan badan(jasmani).Ada kecenderungan manusia Modern untuk lebih mengutamakan jasmani dari pada rohani,mementingkan hal yang sifatnya dzahir dari pada bathin.Kalo menurut hemat saya manusia Modern telah kehilangan nilai keseimbangan “kholal at tawazun”.Meminjam perkataan DR.Yusuf Al Qardhawi"manusia telah banyak kehilangan lkeseimbangannya dalam menilai segala hal,lebihh mementingkan hal yang sifatnya “tahsiniaat” dan “kamaliat"dari pada “dhoruriat”.Sangat ironis sekali manusia sekarang lebih bangga dengan kecantikan dan ke elokan tubuh dari pada ke elokan hati,rela mengeluarkan dana jutaan rupiah demi memperindah tubuh dari pada memperindah akhlaq dan moral.Sebagai ummat islam hal yang harus kita lakukan adalah pandai menilai dan memberikan tiap sesuatu hal sesuai dengan posisi dan porsinya,,mendahulukan mana yang harus di dahulukan ,me ngahirkan hal yang pantas untuk di akhirkan.Dengan kata lain harus ada kesadaran sikap “tawazun"untuk lebih bisa menilai dan menempatkan sesuatu pas pada tempatnya…

#5. Dikirim oleh Suharmadi Assumi  pada  02/08   09:09 PM

Kalau dalam adigum Latin kita mengenal ” men sana incorpore sano ” yang artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Maka Sayapun akan mengajukan ibarah Arab yang berbunyi” fi jismu as salim ‘aqlu as salim”, di dalam badan yang sehat akan ada akal sehat pula. Mafhum mukholafah-nya (pemahaman yang bisa diambil),bahwa dalam mengarungi kehidupan itu manusia (entah Modern atau yang lain) dituntut untuk membudidayakan,selanjutnya melestarikan hidup sehat dalam keadaan apapun dan bagaimanapun, yang tentunya tanpa meninggalkan aspek-aspek yang lain!! Saya tidak setuju dengan pendapat Bang Ulil, yang menyatakan di kalangan pesantren menjaga kesehatan badan kurang mendapat perhatian yang cukup, jawaban saya: Tidak semua pesantren Bung!! Lihat saja pesantern yang basicnya modern seperti Az Zaytun dan Gontor yang memiliki sarana olah raga! Tapi lain bahasannya dengan yang dimaksud Bung Ulil yang notabene—ma’af—nyantri di salaf!! Bukankah begitu????

#6. Dikirim oleh Ahmed Syukron Ameen  pada  03/08   12:09 PM

Saya setuju dengan beberapa tanggapan sebelum ini yang mengatakan bahwa menjaga kesehatan tubuh memang sebuah keharusan, selama olahraga fisik ini bertujuan untuk kesehatan, saya kira lumrah adanya, tapi, kalo disuruh memilih, saya lebih suka memilih jenis olahraga yang bisa menjamin pada penghayatan kedua-duanya, rohani dan jasmani.

Dari tulisan Mas Ilil saya kok menangkap lebih dari sekedar permasalahan kesehatan tadi. Tapi lebih pada problema POLA PANDANG masyarakat modern, yang sekarang ini sudah sangat materialistis sekali. Pola pandang semacam ini akan lebih mengerikan lagi ketika akhirnya mengidentikkan kebahagiaan, kesuksesan, dan kedamaian hidup dengan hal-hal fisik dan material. Orang dikatakan sukses kalo mempunyai kekuasaan, kekayaan dan tubuh yang sempurna.

Kalo kita membaca fenomena yang lebih luas lagi, kita barangkali akan terenyuh, betapa penghargaan yang diberikan pemerintah, televisi dan media-media cetak, lebih besar kepada hal-hal fisik saja, dari pada harus menghargai kehebatan dalam berzikir, berfikir dan berkarya. Seperti keberhasilan temen2 kita dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang di Korea Selatan, beberapa waktu yg lalu, yang justru tidak mendapat porsi penghargaan yang layak dari lembaga-lembaga itu.

#7. Dikirim oleh lukman hakim  pada  03/08   06:09 PM

Semua kerusakan yang terjadi di muka bumi dikarenakan mental dan ahlak yang rusak, jadi pembangunan rohani lebih penting dari pembangunan jasmani. Jika rohani kita sehat niscaya semua aktivitas rohani kita positif dan jauh dari perilaku yang mungkar yang hanya mengumbar maksiat dengan jasmani kita.

#8. Dikirim oleh gaga m  pada  05/08   12:08 AM

Komentar saya yang pertama adalah, boleh juga mas Ulil ini!! Apa aja bisa kita analisis dan diakitkan dengan agama! oke selanjutnya:

2. Buat saya jiwa yang baik (Besar, lapang, bersih, kuat dll)  walaupun tidak berbadan kekar lebih terbukti mampu bertahan dalam era Industrialisasi & globalisasi dibandingkan dengan yang badannya kuat kekar, bagus, sehat tapi jiwanya lemah terutama diperbandingkan didalam menerima stress (tekanan hidup), buktinya yang berjiwa besar itu sulit dicari melakukan bunuh diri, tapi yang berbadan kekar sih banyak, dulu di Bandung waktu saya kuliah tahun 80’an ada salah satu pengajar MP yang bunuh diri karena tekanan hidup!!

3. Tapi saya juga tidak bangga dengan guru mengaji saya, yang sangat baik tapi berbadan ringkih dengan tekanan darahnya cuman 90/60 dan berat badan hanya 10 kg lebih berat dari anak saya yang berumur 8 tahun, maka saya ajak olah raga sepeda, sekarang dia kesehatannya baik walaupun tidak berbadan kekar!! Jadi moto saya adalah “Di dalam Jiwa yang kuat, lebih mudah untuk menjadi berbadan sehat” hehehehe

#9. Dikirim oleh Abdul Hadi Tsabit  pada  06/08   07:08 AM

Dalam tubuh yg sehat terdapat jiwa yg sehat. Kalimat ini sudah demikian populer sehingga sudah dianggap benar. Menurut saya justru ini kebalik. Dalam jiwa yg sehat terdapat tubuh yg sehat. Alasannya adalah : lebih banyak faktor yg menjadikan tubuh sehat itu bukan dikontrol oleh otak sadar kita, tapi justru oleh factor otak bawah sadar kita. Seperti kerja hormon, detak jantung, proses penggantian sel tubuh dan banyak lagi. Kalau kita sedang stress, tegang, pikiran kacau perut bisa mual karena lambung mengeluarkan asam terlalu banyak. Semua itu kerja otak bawah sadar. Dengan management jiwa, olah jiwa, diharapkan bisa mengendalikan/mensiasati otak bawah sadar kita. Itulah mungkin sebabnya, menurut cerita, para sufi dulu bisa mencapai umur panjang dan sehat2 saja meski tidak secara khusus ber-olahraga.

#10. Dikirim oleh Koen Soelistijo  pada  11/08   05:09 AM

Menarik untuk ditanggapi tulisan dan pemikiran Bung Ulil ini, saya beri komentar ini karena terkait beberapa hal, pertama ; terkait dengan pengalaman Bung Ulil sendiri yang pernah nyantri dan beliau menyatakan tidak pernah menemukan hal yang menyangkut perhatian terhadap tubuh, dan fenomena perhatian terhadap kesehatan dan segala macamnya terhadap tubuh dianggap modern. Kedua fenomena tentang perhatian masalah kesehatan tubuh ini dianggap modern menurut Bung Ulil dan tidak pernah ditemukan dalam agama apapun termasuk Islam, sesuatu yang absurd.

Sehingga perlu ditanggapi secara rasional dan logis atas pemikiran Bung Ulil ini, pertama bahwa kondisi pesantren yang tidak memberikan perhatian terhadap masalah kesehatan seperti yang dialami oleh bung Ulil, itu memang ada fakta yang terjadi sehingga muncul istilah “santri budugan”, ini terjadi tidak dapat digeneralisir semua pesantren seperti itu, barangkali hanya kebetulan saja Bung Ulil salah masuk pesantren coba kalau masuknya ke pesantren yang modern jangan yang di kampung, tradisional dan konservatif dalam pemikiran. Kondisi pesantren seperti ini, tidak berarti mencerminkan bahwa Islam sebagai manhaj mengajarkan seperti itu, tetapi justru Islam mengajarkan dan memberikan pelajaran-pelajaran yang terkait dengan kesehatan, begitu banyak hadits yang meriwayatkan tentang sikap Nabi Muhammad saw memberikan perhatian terhadap masalah tubuh, dari mulai menjaga kesehatan, berolah raga, masalah seksual dll. Hanya barang kali saja Bung Ulil belum mengekspolasi dan mengkajinya secara keseluruhan tentang Islam atau terlalu banyak membaca buku sejenis majalah itu.

Kedua, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk mendidik anak-anak kita berolah raga, berkuda, berenang dan memanah, kemudian mengajarkan juga untuk makan secara sehat, contoh misalnya minum madu dan kurma yang berisi zat nutrisi pengganti karbohidrat, termasuk ajaran shaum bukan semata - mata sebagai sebuah ibadah ruhiyah tetapi terkait dengan urusan jasmaniyah. Perhatian masyarakat kini terhadap masalah tubuh tidak kemudian dianggap modern, jaman nabipun perhatian terhadap masalah tubuh sudah ada dan pada hakikatnya mereka hanya meniru saja sesuai dengan perkembangan jaman dan ditopang oleh perkembangan teknologi (ada rekayasa teknologi). Hanya saja perhatian terhadap tubuh ini dalam Islam menjadi wasilah sebagai taqorub diri kepada Allah bukan untuk diekspoitasi dan diperaga-aksikan dalam konteks pamer aurat dan syahwat. Nah inilah sisi bedanya perhatian masalah tubuh dalam Islam dengan masyarakat modern.

#11. Dikirim oleh Dadang A. Fahmi  pada  21/08   12:08 AM

fenomena makin menjamurnya produk yang memanjakan tubuh adalah konsekwensi logis dari penggunaan paradigma rasionalistis dalam setiap aspek kehidupan sebagai hasil dari revolusi ilmu pengetahuan abad pertengahan. Apakah hal tersebut buruk atau baik, adalah sebuah pertanyaan tentang ukuran, tak ada jawaban absolut tentang itu melainkan sampai dimana batas toleransi yang kita gunakan. Mengecam hal tersebut adalah sebuah hal yang sangat tidak realistis karena kenyataannya sudah demikian namun mengikuti secara berlebihan juga sangat ekstrim bahkan kadang juga tidak rasional, karena terkadang sesuatu hal kita lakukan tidak lagi rasional melainkan mengikuti ajakan iklan dll. hal yang terbaik adalah berada pada batas setuju atau tidak, tergantung pada produk yang ditawarkan, kita harus bisa membedakan kebutuhan (need) dan keinginan (want).
——-

#12. Dikirim oleh Wahyuddin  pada  21/08   07:09 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?