Mendewasakan Pendidikan Agama
Oleh Saidiman Ahmad
Pendidikan agama di sekolah masih diandaikan hanya sebatas teologi dan doktrin agama. Padahal ilmu-ilmu agama telah berkembang luas melampaui batas-batas teologi dan doktrin. Kajian sosial mengenai perilaku umat beragama juga adalah kajian agama. Beberapa tahun terakhir muncul minat yang luar biasa besar terhadap kajian Islam di dunia Internasional. Kajian utama yang paling banyak menarik perhatian bukanlah mengenai doktrin Islam, tetapi mengenai perilaku umat Islam dan pandangan mereka terhadap agama yang dianutnya.
Komentar
Perlu dimasukkan filsafat ketuhanan.
Masyarakat beragama di Indonesia menarik bagi para pengkaji asing karena agama dipelajari untuk dipahami dan ditaati. Masyarakat punya sejarah dan makna masing-masing. Memaksakan tradisi Barat dalam tradisi akademik Indonesia belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, apalagi sosial.
sangat setuju, selama ini intervensi sekolah memberi kesan bahwa “inilah agama yang harus kau anut selamanya” tanpa pernah memberi kesempatan kepada seseorang untuk berpikir sehat dan cerdas. saya berpendapat setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, seperti makna sebenarnya dari kata ‘gam’(sankerta) yang artinya ‘berjalan’ demi kualitas manusia itu sendiri. pendidikan agama yang terjadi selama ini sedikit banyak melahirkan hal yang justru jauh dari itikad baik dari konsep agama itu sendiri.
Setuju dengan penulis. Sepertinya sulit untuk diwujudkan, akan lbh mudah diterapkan di sekolah-sekolah swasta yang peduli ttg hal ini. Berarti dibutuhkan lbh banyak ahli-ahli agama dan sekolah tingginya. Untuk negara yang tidak mau pusing dengan ilmu agama ini akan mengambil jalan untuk tidak mengajarkan sama sekali pelajaran agama di sekolah, shg itu menjadi tugas orang tua dan institusi agama saja.
Sangat tidak setuju dengan pendapat penulis. Pendidikan agama yang sudah ada saat ini sudah bagus dan benar. Memang seharusnyalah seorang guru agama adalah agamawan yang mengerti akan ajaran agamanya. dan sudah pada tempatnya pulalah bahwa seorang guru agama mengajarkan teologi dan doktrin agamanya masing. Coba anda tunjukkan kepada saya apakah ada pendeta atau guru agama lain yang mengajarkan doktrin agama lain ?? justru dengan pemahaman dasar teologi yang kuat mereka akan semakin kuat imannya. adalah hak masing2 agama untuk menyatakan agamanya yang paling benar.adalah hak sebuah agama yang menyatakan agamanya yang paling benar. justru saya ingin bertanya kepada anda, fakta2 iman seperti apa yang anda maksudkan ?? atau anda jangan2 tidak mengerti apa yang dimaksud dengan iman ??. perlu anda ketahui bahwa tanggung jawab orang tualah untuk mengarahkan anaknya ke pemahaman yang benar. ingat tiap kita akan dimintai pertanggung jawabanya. termasuk sebagai orang tua.saya melihat penulis berusaha menggiring opini pembaca bahwa kalau seseorang beriman dengan sungguh2 maka akan menyebabkan fanatik buta dan menyalahkan yang lain. seolah2 menindas yang lain. saya ingin tau apakah anda tau penyebab sesungguhnya kenapa umat ini marah ?? saya ingin sekali bisa berdiskusi dengan anda via email. coba anda sampaikan kepada saya, anda dan temen2 anda pengin umat islam ini seperti apa ?? yang mengakui semua agama sama ? yang boleh meneriman ajaran lia eden yang mengaku sebagai tuhan ? yang mau mengakui ahmadiyah sebagai bagian dari agama islam tapi punya kitab suci sendiri ?? atau anda pengin kami umat islam tidak mengaji alquran lagi dan tidak menjalankan syariat agama kami ?? kalau anda memang pintar tolong dijawab. bisa ke email saya atau diforum ini. buat admin jangan dihapus. ok. saya tunggu.
Kajian tentang ilmu agama di negeri “para koruptor” ini sudah mendapat tempat terutama di perguruan tinggi. Memperluas wilayahnya pada tingkat dasar dan menengah tentu tidak bisa hanya bermodal gagasan, tetapi harus didasarkan pada kajian tentang kelayakan, pengembangan kurikulum, dsb. Gagasan penulis untuk mendewasakan pendidikan agama cukup baik, meski secara aplicable masih menyisakan pertanyaan besar, terutama dalam hal memberikan porsi yang seimbang antara ilmu agama dan agama sendiri.
setuju sekali,peljaran agama sekarang hanya membuat anak tahu haram makan daging anjing,babi tapi tak tahu haram maling ,judi dan korupsi…
Sejalan dengan Agah Handoko, para kiyai kerjanya hanya menambah benda-benda haram setiap tahun dari yang oleh Al-Qur’an cuma ada empat; sialnya, kebanyakan penambahan label haram itu hanya untuk masalah mulut, jarang untuk tangan (curi-mencuri) dan otak (perkeliruan). Itulah salah satu hasil pendidikan yang lebih banyak ke hukum-hukum agama daripada sosialnya.
salam. saya stuju dng pnulis. pembelajaran agama yg hny dibatasi dr sudut pandang internal saja akan membuahkan murid2 yg fanatik. kita hrs belajar melihat agama sndri dr luar. saya rasa ini akan menuntun pd kebijaksanaan dan kematangan spiritual. bkn bermaksud merendahkan,tp hrs kita akui bersama,sbagian bsr muslim indonesia kurang memiliki wawasan yg memadai utk bisa b’pikir lbh t’buka,utk bisa memilah dng hati2,mana yg agama,mana yg tradisi,mana yg doktrin,mana yg prinsip. mnurut saya,konsep pndidikan yg ditawarkan oleh penulis bisa membantu mengatasi masalah ini. maaf bila ada kata yg kurang b’kenan. salam.
@bunga. menjawab pertanyaan anda ttg guru agama lain mengajarkan tentang agama lain, di beberapa sekolah Katolik yang saya tau, murid (SMA) sekarang diajarkan etik. Pada masa saya bersekolah, saat membahas suatu topik, misalnya ttg akal budi, maka dibahas pula ajaran tidak hanya dari agama lain, tapi juga dari kultur mengenai topik tersebut, tentunya penekanan lebih pada ajaran katolik. tapi justru dengan demikian, kami diajar melihat persamaan yang ada di keanekaragaman. Saya rasa hal itu menjembatani kerukunan beragama.
Saya juga mengetahui ada guru agama dari agama mapapun yang menjelek-jelekkan agama lain. Apakah itu metoda untuk menambah iman terhadap agamanya sendiri? Terus terang saya justru menilai mereka yang demikian justru kurang beriman terhadap agamanya sendiri sehingga merasa perlu untuk meyakinkan bahwa pilihannya yang benar, sementara yang lain salah.
saya setuju sama penulis…kami didesa,cari guru yang faknya matematika,fisika,kimia, sulitnya minta ampun. tapi yang bidang agama ‘sakembreg’ banyak. padahal tahu sendirilah moral zaman sekarang…??!!
mungkin inilah salah satu sebab ketidakbermutuan beragama di Indonesia, Islam itu tidak mungkin tidak rasional, perkara otak belum mengerti itu urusan lain (disitulah perjuangan) mari kita mencoba untuk bisa melihat Islam tidak melulu dari dalam, sekali-kali dari luar….. (setuju kang Wawan) maaf namanya sama
..ini lah pentingnya seorang ulama juga (seharusnya) memiliki pengetahuan lain selain pengetahuan agama itu sendiri, sehingga mereka memiliki referensi tentang hal yg akan di bahas, diuji, maupun di perdebatkan sekalipun…ada suatu permasalahan akut di tubuh umat islam saat ini tentang ilmu pengetahuan…di tempat saya (kalimantan selatan, yg merupakan basis nahdiyin) dan juga mungkin di semua tempat di indonesia, Ilmu agama di anggap dapat memecahkan semua permasalahan di dunia…garis bawah, SEMUA PERMASALAHAN DIDUNIA, padahal yg saya percaya, agama hanya mengatur tentang moral/akhlak manusia…sedangkan untuk masalah yg lain ada bidangnya sendiri-sendiri dan mungkin inilah yg jadi pokok permasalahannya mengapa ulama-ulama kita sangat miskin rujukan( referensi) dari bidang keilmuan yg lain.
..ambil contoh: seorang muslim ingin naik haji, pada zaman kakek saya untuk naik haji harus naik kapal layar yg memakan waktu berbulan-bulan di laut…....Agama tidak memberikan solusi untuk efisiensi naik haji agar cepat sampai tujuan, solusi naik haji di pecahkan oleh ilmu pengetahuan, dalam hal ini teknologi transportasi kedirgantaraan ( pesawat terbang) misalnya…contoh di atas adalah bukti bahwa Ilmu agama ( atau agama) tidak menjawab smua permasalahan di dunia…akan tetapi janganlah anda-anda berburuk sangka terhadap pernyataan ini, sebab ilmu agama dan agama justru sangat-sangat di perlukan olehkarena walaupun agama hanya mengatur tentang perbaikan akhlak manusia semata, hal ini teramat penting karena akhlak manusia itu ibarat Fondasi yang melandasi smua kebaikan manusia atau pendek kata, baik aklak manusia maka baik pula manusianya.
Di Indonesia memang mayoritas Islam,tetapi baru sebatas kwantitas, belum kwalitas. Oleh karena itu tugas kita bersama untuk menjadikan anak-anak kita agar mau belajar agama, mau mengerti agama, dan mau melaksanakan agama.kita tidak perlu menyalahkan orang lain sementara kita sendiri tidak berbuat apa-apa. lihatlah kepada diri kita seperti apa Islam kita, kemudian keluarga kita, sudahkah kita pantas disebut sebagai orang Islam? untuk itu saudara-saudaraku seiman marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi orang Islam yang Kaffah ( Imannya - Islamnya - Ikhsannya )
Komentar Masuk (14)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)