Klipping,
17/03/2009

Mendudukkan Pluralisme Agama

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata “sesat, agen zionis, agen Barat” bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap rujukan.

17/03/2009 12:16 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (94)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 5 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tanpa penyebutan di pihak mana (dalam hal ini pro atau kontra pluralisme) saya tertarik untuk ikut menyimak karya Abd. Muqsid, seperti yang di paparkan di atas. Hal ini sebagai upaya turut menghidupkan, seperti istilah Gus Mus, peradaban hati hati dan otak. Tentu, turut “memberantas” dominasi otot dan makian.

#1. Dikirim oleh Zulfan Syahansyah  pada  17/03   05:59 PM

Saya merasa nyaman dengan apa yang disampaikan Buya; sangat saya hormati kedalaman rasa dan kejernihan nalar yg beliau tawarkan. Bahwa pendapat berbeda itu fitrah; karena kebenaran bukan hak prerogatif kita. Sepanjang yg kita lakukan adalah mengkaji dan mencerna. Buka telinga, mata, pikiran dan hati. Yang selalu diingat, tantangan saat ini tidak akan bisa diselesaikan dengan cara-cara masa lalu. Nothing fails like success! Namun kembalikan semuanya pada Qur’an sebagai landasan mutlak & prinsip dasar keislaman kita. Selebihnya; wallahua’lam…

#2. Dikirim oleh Moh Subagio  pada  18/03   03:23 AM

Memang butuh waktu lama untuk membebaskan umat muslim Indonesia yang berwajah arab dari kejumudan dan ketaqlidan yang sudah berkarat dan mendarah daging dalam memaknai islam sebagai agama. Kondisi ini semakin diperparah dengan sepak terjang partai islam yang mengeksploitasi agama sebagai pijakan untuk merengkuh kekuasaan. Ayat-ayat tuhan dijual dengan harga yang sangat murah. Masjid,musholla, sekolah, majlis taklim dan majlis dzikir dijadikan arena kampanye. Jadilah politik paraktis yang berselimut pendidikan dan dakwah. Beribadah menjadi kurang nyaman lagi, karena para khotib dan da’i secara tersamar atau terang-terangan melakukan aktivitas kampanye di daerah terlarang (sesuai aturan pemerintah: kantor pemerintah, rumah ibadah dan fasilitas umum, bukan merupakan basis kegiatan politik). Mungkin dibutuhkan lebih dari satu generasi ke depan untuk melahirkan generasi muslim indonesia yang moderat dan kritis. Saya sangat menghargai upaya JIL yang tak kenal lelah menyuarakan kebebasan berpikir dan menjadikan islam sebagai agama bagi orang2 yang berakal budi. Wahai para penganut paham islam politik, tidakkah kalian sedikit belajar dari sejarah islam yang panjang bahwa rusaknya peradaban islam tidak lain akibat perseteruan merebut kekuasan ?. Saya sangat yakin, kalau partai islam diberi kesempatan 5 tahun saja untuk memagang pemerintahan di republik ini, untuk selanjutnya mereka akan ditinggalkan para pemilihnya. ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO !!!

#3. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  18/03   04:35 AM

Meminjam istilah syafii maarif “dengan hati dan otak yang terbuka”, kita pun juga membayangkan agar kelompok liberal mau membaca segudang ulasan dan rujukan “Ulama Klasik”(istilah kelompok liberal)dengan hati dan otak tenang dalam menyikapi konsep liberalisme.

Sebagai contoh bagaimana mungkin masyarakat membenarkan usulan kelompok liberal agar pernikahan sejenis dilegalkan ??

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, dengan lantangnya syafii maarif dengan terburu-buru"mengejek” MUI yang berfatwa bunga bank haram. Ternyata sejarah membuktikan bahwa saat ini terjadi krisis keuangan global akibat sistem ribawi. Dan sekarang kita sedang menyaksikan keruntuhan sistem yang diklaim terbaik oleh barat.

Sekedar saran kepada kelompok liberal janganlah selalu mengejek, khilafah, syariah, dan Muhammad SAW, karena masyarakat dunia akan mengingatnya.

Vatikan saja sudah menghimbau agar masyarakat dunia, beralih ke sistem ekonomi bagi hasil, lantas bagaimana dengan kalian ???


Terima kasih atas dimuatnya komentar ini, maksud saya hanya ingin berkontribusi bukan menghujat dan mencaci maki.semoga admin netral

#4. Dikirim oleh dietje  pada  18/03   06:53 AM

saya sangat senang dengan pemikiran Bapak Mantan Ketum Muhammadiyah ini, sangat jelas dan cerdas. Namun saya heran kenapa Indonesia dianggap masih kurang plural? sehingga ulama, pendeta, biksu, romo dan para dewata yang hidup di Indonesia ini selalu harus digurui tentang ilmu pluralisme. Justru, seharusnya, merekalah yang harus menjadi guru tentang pluralisme. karena hanya di Indonesialah ada hari Libur Nasional Lebaran, Natal, Nyepi, Waisak, Imlek, bahkan mungkin bila kaum Yahudi di Indonesia cukup banyak maka akan ada hari libur untuk kaum Yahudi itu. Seharusnya JIL dan pada ahli di berbagai Universitas TOP dunia merujuk ilmu pluralisme ini dari Indonesia. karena di Barat baru mencapai “saling menghargai agama lain” sedangkan di Indonesia sudah mencapai PUNCAK-TOLERANSI yaitu dengan adanya hari libur Nasional setiap agama yang ada di Indonesia. Di malaysia tidak ada libur Natal termasuk di Timur tengah. Di barat, tidak ada libur Lebaran, termasuk di Latin. Indonesia memiliki konsep yang berbeda tentang ilmu pluralisme. di Indonesia memiliki konsep: masing2 pemeluk agama meyakini bahwa agamanyalah yang benar namun tetap menghormati agama orang lain. Konsep inilah yang membuat Indonesia luar biasa, jadi justru para ilmuan dunia harus banyak belajar dari umat beragama di Indonesia bukannya malah menggurui orang indonesia tentang pluralisme. kalaupun ada “gesekan antar umat” itu bisa selesai oleh para pemimpin umatnya. ingat peperangan di dunia ini bukanlah akibat tidak adanya pluralisme, namun perang itu akibat rebutan kekuasaan, misal perang dunia pertama, perang dunia kedua, perang vietnam, perang afganistan dll. Trims dari .(JavaScript must be enabled to view this email address)

#5. Dikirim oleh isa  pada  18/03   11:09 AM

saking suwine ngaji kitab kuning, doktrin, dan dogma dari guru-guru yang dikultuskan para santri atau murid yang belum kritis, maka konservatif akan menemani dan kekolotan akan menjadi raut muka yang tidak peduli terhadap hal yang baru, liyan. ini yang selalu dipertahankan oleh mereka yang bermimpi bahwa negeri ini akan bisa (tidak) menjadi negeri seperti madinah. padahal mereka setiap hari tidak seperti mereka yang dulu.begitu.

#6. Dikirim oleh ochidov  pada  18/03   03:57 PM

Mengenai al-Quran dan Hadist kita letakan sbg sumber rujukan yang pertama, saya sependapat dengan Pak Syafi’i dan yang lain-lain. Akan tetapi jangan kita lupa bahwa kekuatan kita tetap terletak pada akal.
Jika akal kita kesampingkan maka Islam yang kita pahami menjadi tidak rasional. Ini pula yang menjadikan ummat Islam cenderung bawel dan sulit dimengerti.
Jika Islam kita yakini sbg ajaran keselamatan, mengapa kita dan bahkan ummat Islam di seluruh dunia sekarang ini justru tidak pernah lepas dari keterpurukan?

#7. Dikirim oleh Rangon  pada  18/03   04:39 PM

Salam Untuk Bp Teguh Suseno

Ada kesamaan pandangan yang sangat mendalam antara saya dan Bp. Teguh Suseno, tentang bagaimana kedudukan agama (Islam) dalam politik. Untk Buya Syafii Maarif, saya adalah salah seorang pengagum beliau. Ulasan-ulasannya begitu damai, rasa kasih dan mencintai sesama akan langsung bertambah subur setiap kali saya selesai membaca ulasan beliau. Kalau selama ini menurut Mas Ulil, kotbah di Masjid (terutama kotbah Jumatan) penuh berisi caci maki dan umpatan kepada pihak lain yang dianggap berseberangan dengan sang pengkotbah (baik pihak lain itu islam atau non islam), maka ulasan-ulasan dari Buya bersifat sebaliknya.

Hanya sayangnya kenapa tokoh Islam kita, baik dari golongan ulama, cendekiawan atau politisi, masih sangat sedikit yang mempunyai pendapat sama dengan Buya, atau jangan-jangan sebenarnya jumlahnya banyak, tetapi tidak berani muncul ke permukaan karena harus siap-siap menghadapi ulama dan ormas-ormas islam ganas yang dengan gagah berani akan menggunakan ototnya.

Sebagai muslim saya kadang-kadang sangat malu menjawab pertanyaan dari umat lain tentang kenapa kekerasan berlatar agama sangat lekat dengan Islam, bahkan kekerasan tsb tidak jarang ditimpakan kepada kelompok islam sendiri yang berseberangan pendapat. Beberapa bulan lalu ketika berlibur di Bali seorang sahabat di Bali yang beragama hindu bertanya dengan hati-hati kepada saya, kenapa Ahmadiyah harus diserang secara membabi buta bahkan sampai membakar masjidnya? Kalau saya menjawab bahwa Ahmadiyah diserang karena meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhir, saya agak kesulitan menjawab pertanyaan berikutnya tenttang permusuhan antara Syah dan Suni yang sudah berumur ribuan tahun dan tetap berlangsung sampai saat ini.

Saya melihat di agama lain, banyak ada aliran, tapi mereka tidak pernah sampai melakukan keributan dengan alasan menghakimi kelompok dan aliran lain yang bertentangan dengan aliran mereka sendiri.

Mari kita bersama-sama merenungkan dengan jujur semua permasalahan ini. Kata-kata keributan ini adalah rekayasa Barat, ulah Zionis dan lain-lain hanya akan semakin menjauhkan kita dari permasalahan dan jawaban sebenarnya.

#8. Dikirim oleh Abu Bakar  pada  19/03   03:25 AM

pluralisme, maksudnya akhirnya semua agama sama ? Sesuatu yang dituhankan semua agama sama ? dulu kaum jahil di arab menuhankan patung-patung mereka, kemudian turunlah al-Qur’an dan Islam, membersihkan semua tuhan-tuhan buatan tersebut. Jika pluralisme berarti semua agama sama, terus untuk apa Allah menurunkan agama Islam, dan membersihkan tuhan-tuhan patung tersebut ?

#9. Dikirim oleh kanjeng  pada  19/03   04:19 AM

pentingnya mengasah pedang pluralisme sejak dini bagi ummat islam sangat penting untuk keberlangsungan peradaban islam itu sendiri. setiap manusia ciptaan Tuhan dari lahir sudah menggenggam guratan tinta Tuhan. bahkan dalam al quran pun manusia telah bersaksi bahwa ia bukan atheis, di ayat itupun tidak tertulis agama islamlah yang harus manusia pilih sebagai tuntunan hidup di dunia. pilihan adalah hak dan kewajiban salah satu pilihan itu.karenanya janganlah picik wahai saudaraku pengikut primordial radikal, yang senang mengutarakan bid’ah dan kafir kepada orang lain. engkau memang setia menjadi seorang muslim. namun bukan muslimnya ummat muhammad sang pluralis sejati.Muhammad perlambang hidup penuh toleransi,isa perlambang kesucian diri sedangkan nabi2 yang lain perlambang ketulusan hati….terus tegakkan islam rahmatan lil alamin dengan menolak kekerasan dan meleburkan egoisme fanatik terhadap agama.

#10. Dikirim oleh bom2Al Muayyad 04  pada  19/03   07:27 AM

sesungguhnya telah cukup al-Qur’an dan hadits sebagai panduan untuk menjalani hidup, dalam hal terjadi perselisihan antar sesama, cukup kembali kepada al-Qur’an dan hadits, dan apabila ada terdapat tatanan dan aturan yang menyalahi al-Qur’an dan hadits, sebagai umat Islam yang beriman, selayaknya melakukan peninjauan kembali tatanan dan aturan tersebut, kenapa demikian, karena tentu yang namanya umat beriman menginginkan keselamatan di dunia dan akhirat, dan menginginkan perjumpaan dengan Tuhannya dengan kondisi diridhoi, tidak dimurkai, atau dimasukkan ke dalam golongan yang sesat. Dan sesuai dengan panduan al-Qur’an Allah telah memerintahkan kaum mukmin untuk berdakwah dengan lemah lembut, bahkan apabila ada yang berlaku kasar maka agar menolaknya dengan cara yang lebih baik. Namun dalam hal terdapat makhluk-makhluknya yang berbuat dholim, aniaya, maka Allah memerintahkan pula untuk menghadapinya, mulai dari hati saja, dengan mulut, dan dengan kekuatan bagi yang mempunyai kekuatan. Hal tersebut telah pula dicontohkan Rasulullah, dimana terhadap manusia-manusia fasik dan dholim, Rasulullah tidak hanya terus menghadapinya secara verbal, dengan lemah lembut. Namun menghadapinya dengan cara berperang, dan itu dilakukan Rasulullah puluhan kali… dan bukankah bapak-bapak dan ibu ibu sekalian di sini telah membaca sejarah Rasulullah s.a.w ?

#11. Dikirim oleh umar antonia  pada  19/03   10:05 AM

Apakah benar langkah yang kita tempuh ketika kita ingin mengukur sesuatu?? ...tetapi ketika melakukan pengukuran maka alat ukurannya yang harus mengikuti objek yang diukurnya???..... Itulah sebenarnya yang dikhawatirkan oleh MUI atau kaum muslimin yang sementara ini ortodok pemikirannya. Bolehlah Pluralisme sebagai “temuan” atau isme baru di abab ini…. Tapi kenapa ketika pluralisme digaungkan kemudian posisi dikaitkan dengan fenomena agama-agama yang telah kukuh sejak dulu… kemudian apa urgensinya sehingga “pluralisme” harus dijadikan “acuan” pokok bagi paradigma dan ketentuan agama yang telah lama membumi sejak dulu???... Kalo diibaratkan agama yahudi seibarat pyramid… agama nasrani seibarat salib… dan agama islam seibarat ka’bah…. kemudian timbul “kurva” pluralisme sebagai bentuk kurva tak kaku dan tentu bentuknya…menjadi bentuk segitiga sama kaki bukan… menjadi bentuk salib bukan..juga menjadi bentuk ka’bah-pun bukan… maka apa urgensinya pyramid kemudian harus dilebur jadi kurva “pluralisme”... salib harus dilebur jadi kurva pluralisme… kabah harus pula jadi kurva pluralisme?... Kan hal itu seakan meniadakan ragam bentuk kurva-kurva agama yang telah lama membumi dan kemudian semuanya harus manut menjadi bentuk kurva pluralisme… .

#12. Dikirim oleh kabayanist  pada  19/03   10:30 AM

Pluralisme agama hanya istilah untuk mendudukkan Islam sejajar dengan agama lain, wahai tidak ada agama haq selain Islam (lebih tepatnya dien).

#13. Dikirim oleh arema singa islam  pada  19/03   02:52 PM

peradaban hati dan akal tentu saja tetap dalam koridor syariah sebagai jalan kebenaran, bukan mendewakan hati dan akal sebagai hakik kebenaran. hati dan akal harus tunduk dengan wahyu sebagai batasan dalam berfikir dan mencari kebenaran. itulah perbedaan antara filsafat barat yang menjadikan akal sebagai referensi utama pencarian kebenaran sehingga penuh dengan ketidak pastian, sementara filsafat Islam memiliki payung yang jelas yaitu kalam Allah swt dan sabda Rasulullah saw. melenceng dan melewati itu tentu saja perlu diluruskan kembali.

#14. Dikirim oleh abinehanafi  pada  20/03   05:17 AM

prinsip hidup manusia dalam alquran, bahwa setelah kita hidup didunia kita akan hidup diakherat yang tiada berujung dan tiada bertepi, disana ada surga dan neraka. untuk masuk surga ada jalannya untuk masuk neraka ada jalannya. alloh swt memberikan petunjuk bagi umat islam bahkan umat manusia yaitu alquran untuk dapat selamat, damai dan sejahtera dalam menjalani hidup didunia maupun diakherat. kesimpulannya bagi umat islam harus menjadikan alquran dan hadist sebagai petunjuk hidup disegala aspek bidang kehidupan kalu ingin selamat didunia dan akherat.

alquran sangat menekankan tentang toleransi dan persamaan hak bagi setiap manusia. semua ayatnya jelas, kita tidak boleh menghina tuhan orang lain nanti mereka menghina tuhan kita, kita harus berbuat adil kepada siapapun, kita tidak boleh menghina kelompok lain bisa jadi kelompok itu lebih baik dari kita, kita harus memaafkan kesalahan orang lain, kita harus dengan cara yang baik dalam berdiskusi/dalam menyampaikan pendapat dengan orang lain, agamamu agamamu agamaku agamaku, tidak ada paksaan menjadi islam dan masih banyak lagi ayat2 alquran yang memerintahkan kita harus berbuat baik kepada sesama mahkluk hidup. tetapi kita pun diperintahkan untuk mempertahankan diri ( bukan mendahului menyerang ) apabila diserang baik non fisik mapun fisik.

tetapi hemat saya perlu ada dialog yang komperhensip dan jujur antar peradaban , untuk hidup saling berdampingan dan menghormati diatas landasan kejujuran, persamaan hak dan keadilan.

#15. Dikirim oleh habibbah azzahro  pada  20/03   06:14 AM

Para saudara-saudaraku umat muslim

Tentu semua ingatan kita masih segar ketika MUI melalui fatwanya mengharamkan pluralisme. Jauh sebelum fatwa tersebut dikeluarkan oleh MUI, dikalangan umat muslim sendiri telah terjadi silang pendapat yang berumur cukup lama dan sampai sekarang silang pendapat itu masih tetap berlangsung, yaitu mengenai bolehkah seorang muslim mengucapkan selamat hari raya kepada umat beragama yang lain. Ketika MUI dipimpin oleh Buya Hamka, MUI sampai mengeluarkan fatwa melarang umat muslim mengucapkan selamat hari raya kepada umat beragama lainnya (lucunya fatwa tersebut tidak melarang umat beragama lain mengucapkan selamat hari raya kepada umat muslim!!!). Haji Agus Salim, salah seorang tokoh pejuang dan pergerakan di Indonesia dari jaman sebelum kemerdekaan, pernah dengan berani bersuara lantang dengan mengatakan “omong kosong umat muslim akan berdosa kalau mengucapkan selamat hari raya kepada umat beragama lainnya” Sayang saat ini saya belum melihat ada tokoh nasional yang berani bersuara lantang seperti Haji Agus Salim.

Saudara-saudaraku para umat muslim, mari kita bersama merenungkan dengan jujur, hal-hal berikut ini :

1. Kenapa tokoh agama lain atau institusi agama lain, selain islam tidak ada yang mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pluralisme. Bahkan kalau kita lihat di Media, Paus Paulus secara rutin mengucapkan selamat berpuasa dan selamat hari raya idul fitri kepada umat muslim di seluruh dunia.
2. Kenapa masalah pluralisme hanya menjadi polemik bagi umat islam, saya melihat umat-umat beragama lain, fine-fine saja dengan konsep pluralisme.
3. Saya sering melihat beberapa gereja ketika menjelang hari raya idulfitri memasang spanduk ucapan selamat hari raya lebaran kepada umat muslim. Disebuah koran lokal di Bali saya sering melihat kantor-kantor pemerintah dan pejabat pemerintah memasang iklan ucapan selamat hari raya lebaran, natal dsb.

Tiga pertanyaan tersebut jangan dijawab dalam keadaan kepala panas, sebaliknya renungkan dengan mendalam dan dalam keadaan hati dan kepala yang dingin barulah menjawab kedua pertanyaan itu. Pesan saya jangan menjawab pertanyaan tersebut dengan argumen Islam adalah agama terakhir yang menjadi penutup bagi agama dan nabi-nabi sebelumnya, karena kalau kita tetap mengandalkan jawaban tersebut, maka yang bisa dipastikan kita akan menjadi bahan tertawaan umat beragama lainnya. Wasalam

#16. Dikirim oleh Pro Pluralisme  pada  20/03   07:58 AM

Seperti yang pernah saya baca dalam sebuah media, Buya Syafii Maarif mengatakan bahwa Pluralisme bukanlah sesuatu yang given, Pluralisme harus diperjuangkan. Bedanya dengan Habib Rizik cs dan kawan-kawannya yang sepaham yang berjuang dengan turun kejalan mengerahkan masa, berteriak lantang dan mengacungkan pentungan, maka kita sebagai pendukung pluralisme memperjuangkannya dengan dialog, dialog dan dialog tanpa boleh mencederai makna demokrasi.

#17. Dikirim oleh ismail  pada  20/03   08:05 AM

sebenarnya sudah jelas di mana tempatnya pluralisme dalam Islam. masalahnya kemudian masih ada keinginan untuk mencari-cari celah untuk mengatakan bahwa Islam menghargai pluralisme. Islam memang mengakui adanya keyakinan lain selain Islam, namun apa yang mereka yakini itu sebuah kesalahan. pertanyaannya kemudian mengapa pak syafi’i tidak bernai mengatakan bahwa Islam adalah keyakinan paling benar kalau al-Qur’an dan rasulullah saw sudah menyatakan demikian?

#18. Dikirim oleh abinehanafi  pada  20/03   08:35 AM

sudah lebih 20 tahun kami di minangkabau merasakan kehilangan tokoh besar dari kampuang ranah minang, seperti hamka dll, kini serasa terobati kerinduan kami dengan keberadaan bapak Ahmad Syafii Maarif.

saya tidak semuanya sependapat dengan bapak syafii ma’rif, tapi saya merasa mendapatkan semangat baru setelah membaca krya-krya beliau.

semoga karya-karya beliau benar-benar mampu menjadi jembatan yang kuat menuju ranah intelektual yang bertanggung jawab bagi generasi muda seperti kami. InsyaAllah

#19. Dikirim oleh nofriyaldi  pada  20/03   10:27 AM

Hanya para pemuka agama yg berjiwa bersih dan memiliki niat baiklah yg akan mampu dan mau melakukan dialog antar agama yg berma’na, dialog yg bebas dari segala bentuk prasangka, kebencian dan dendam kesumat. Selain itu, mereka juga tentu akan mampu menunjukkan kesatuan batin agama-agama maupun perbedaan formalnya. Para pemuka agama yg berjiwa bersih di harapkan terus melakukan dialog demi terciptanya iklim spiritual yg sehat bagi kehidupan keberagamaan umat manusia masa kini, mereka juga di harapkan mampu memberi kontribusi lebih banyak bagi kesetimbangan dan harmonisasi kehidupan keberagamaan masyarakat manusia yg begitu lama terkungkung dalam simpul-simpul kelam kesalah fahaman dan kebencian, akibatnya, masing-masing merasa telah terpisah jauh, seolah-olah tiada lagi kesempatan bagi masing-masing untuk saling bahu membahu dalam mewujudkan kehidupan yg lebih baik, damai dan harmonis, khususnya di bumi Palestine dan Israel, yg telah memendam bara kebencian tiada berujung.

Pada hakikatnya, Islam telah bertemu, bergaul dan berinteraksi dg tradisi Yahudi dan Nasrani lebih dr 14 abad lamanya. Islam sendiri sebetulnya adalah agama yg datang terahir untuk meneguhkan kembali tradisi Abrahamiya yg sebelumnya terjelma di dalam Yahudi dan Nasrani. Syariah sebagai perintah Tuhan, dalam banyak hal serupa dg kitab Talmud, meski dr segi penyusunannya syariah tidak menyadur dr kitab Talmud. Yesus Al-Masih, juga sebenarnya turut memberikan peranan penting dalam Islam, meski memiliki konsep yg berbeda dg pandangan Nasrani terhadapnya.

Hanya manusia yg telah mencapai puncak gunung tak terbataslah yg akan mampu menjadi pendaki sejati, ia tak kan goyah oleh jalan yg berbeda yg di tempuh kawan perjalanannya, sebab hanya jalan yg di tempuhnyalah yg terasa berma’na bagi hidupnya.

#20. Dikirim oleh Fatur rafael  pada  21/03   10:16 AM
Halaman 1 dari 5 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?