Klipping,
17/03/2009

Mendudukkan Pluralisme Agama

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata “sesat, agen zionis, agen Barat” bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap rujukan.

17/03/2009 12:16 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (94)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 5 dari 5 halaman‹ First  < 3 4 5

Begini saja pertanyaannya :

Didalam Al Qur’an ada banyak ayat yang dapat ditarik sebagai bahan untuk definisi atau batasan mengenai Tuhan atau Allah.

Semua sudah tahu bahwa Allah itu Maha segalanya. Tapi tiap orang memiliki persepsi ‘sendiri-sendiri” tentang Allah itu secara personal, ada yang setuju bahwa Allah itu Lebih Besar dari yang terbesar yang bisa kita bayangkan, artinya lebih besar dari alam semesta ini, sehingga alam semesta ini dalam ‘Genggamannya”. Namun ada juga yang tidak setuju, dan dia mengatakan bahwa “Allah meliputi segala sesuatu bermakna, hanya ilmunya saja, bukan termasuk ZAT-NYA.

Bagi yang memiliki pemahaman bahwa Allah “menggenggam” Alam semesta, maka inilah yang menjadi dasar “Allah lebih dekat dari urat leher”. Menjadi dasar “Kemanapun kamu menghadap disitulah WAJAH Allah”. Menjadi dasar “Allah meliputi segala sesuatu. Menjadi dasar “Tak ada satupun dari alam semesta ini yang luput dari PERHATIAN-NYA”. Menjadi dasar “Semut hitam dimalam gelap yang sedang merayap pada batu hitam mendapat rizki Allah”.

Pernahkah diperiksa kesehatan paru-paru? di rontgen. Nah, pada saat kita di’potret’, maka tulang-tulang kita bisa terlihat. Sinar X bisa menembus kulit dan daging dengan ketebalan tertentu, namun tidak bisa menembus tulang.
Adakah yang pernah melihat sinar gama, alfa, beta? Jawabnya, belum pernah. Tapi sinar itu ada dan sinar ini bisa menembus tulang, maka seandainya kita ‘dipotret’ dengan sinar ini bukan saja kulit dan daging yang tertembus, tapi tulangpun tertembus.

Pernahkah kita berfikir lebih jauh dari masalah kesehatan pada saat di rontgen? Jawabnya, ....
Jarang yang berfikir sejauh objek yang sedang dipotret, yang difikirkan adalah hanya mengenai kesehatan paru-paru saja. Apakah ada kelainan, ada flek-flek, dan sebagainya. Namun jika kita berfikir jauh, maka sebenarnya waktu sinar X menembus tubuh kita, pada saat itu kita sedang tenggelam dalam sinar X, paling tidak paru-parunya. Artinya paru-paru ada didalam ‘genggaman’ sinar X, seolah-olah kita bersatu dengan sinar X.
Seandainya, alat rontgen sebesar ‘rumah sederhana’, maka bukan paru-paru saja yang terpotret, namun seluruh badan, bahkan bukan seorang saja yang dapat terpotret, namun beberapa orang. Bayangkan jika alat rontgent itu sebesar matahari, maka seluruh alam semesta akan terpotret ‘paru-paru’nya, juga seluruh badannya. Seluruh Alam dunia tenggelam dalam sinar X.
Sinar X adalah ciptaan Allah, sinar gama cipataan Allah, maka tidak sama antara pencipta dan yang dicipta. Tapi, tentu Allah Maha Halus dari yang terhalus yang dapat kita bayangkan, jauh lebih halus dari sinar X yang kita ketahui. Lebih besar dari yang terbesar yang dapat kita bayangkan, lebih besar dari alat rontgen. Konsekwensi logisnya adalah kita tenggelam dalam sinar-sinar ciptaan Allah pada saat ini. Artinya…..Allah Maha Besar, lebih besar dari yang dapat kita bayangkan. Apakah kita tenggelam dalam “SINAR” Allah?
Sinar X adalah ciptaan Allah, sinar gama ciptaan Allah, maka tidak sama antara Pencipta dan yang dicipta. Tapi, tentu Allah Maha Halus dari yang terhalus yang dapat kita bayangkan, jauh lebih halus dari sinar X yang kita ketahui. Lebih besar dari yang terbesar yang dapat kita bayangkan, lebih besar dari alat rontgen. Konsekwensi logisnya adalah kita tenggelam dalam sinar-sinar ciptaan Allah pada saat ini. Ya…pada saat ini kita sedang tenggelam, berendam, tertembus, dan tidak bisa mengelak dari sinar-sinar itu, karena pada saat siang hari matahari mengeluarkan berbagai macam sinar (gelombang), kita berada dalam lautan energi. Lautan energi ciptaan Allah. Artinya…..Allah Maha Besar, lebih besar dari yang dapat kita bayangkan. Apakah kita tenggelam dalam “SINAR” Allah? Ini pertanyaan saya untuk diri sendiri pribadi.

#81. Dikirim oleh Fadjar Hidajat  pada  18/10   02:28 AM

Ada dua kemungkinan jika orang mempunyai ilmu duniawi yang tinggi,satu hal bahwa orang itu menjadi semakin yakin akan keEsaan Allah SWT,satu hal lagi orang tersebut menjadi tidak percaya kepada keesaan Allah.Mari kita merenungkan wahyu Allah yang penutup ini (Al qur’an)agar kita selamat di akherat.Jangan menjadi bodoh setelah anda diberi Ilmu.

#82. Dikirim oleh pri  pada  09/11   06:23 AM

Aku menyarankan agar MUI dibubarkan aja, karena Fatwa2 nya tidak mengikat secara hukum, dan lagi sering tuding sana sini, sesat, bid’ah. Kalau ingin Fatwanya manjur, rubah dulu Pasal pasal UUD 1945, tapi itu akan menjadi preseden buruk. Hormati Kebebasan beragama. Kelompok Nasionalis termasuk aku akan mempertahankan Pancasila sampai Perang apapun. Indonesia ini kan sudah enak untuk Kehidupan beragama, ...Bebas beragama, Yahudipun bisa hidup disisni, Bhinneka Tunggal Ika.

#83. Dikirim oleh Dulbehri  pada  22/11   07:22 AM

manusia tanpa pluralisme adalah manusia yang tak sadar telah menciptakan banyak tuhan

#84. Dikirim oleh ali zubaidi  pada  01/12   07:39 AM

MUI dikendalikan penuh untuk kepentingan penguasa!

#85. Dikirim oleh Rokib Atid  pada  02/01   01:20 PM

PIKIRAN KOK DI ADILI,YANG BISA DIADILI YA PERBUATANNYA.YANG MESTI KITA LAKUAKAN SALING BERPESAN DAN MENGINGATKAN TENTANG APA-APA YANG TELAH KITA LAKUKAN,BANYAK MUDARATNYA APA MANFAATNYA.dan kita telah menyaksikan bersama realita dari masing masing kita seberapa banyak yang slamat dan dekat dengan kemudahan dengan pola pikir yang telah kita banggakan.semestinnya perlu respon dari publik,untuk obyektivitasnya.

#86. Dikirim oleh erwantoro  pada  05/01   05:39 AM

pluralisme tetap haram meskipun kalian semua menggunakan dalail apapun….pluralisme jelas salah dan tidak akan pernah di bebarkan bagi orang islam yang berfikir…jika pluralisme tidak haram kenapa harus ada perbedaan nama tuhan, ibadah, aqidah?islam tetap agama yang mutlak benar,dan agama yang lain itu mutlak salah..“agama yang di ridhoi Allah adalah islam”.selain dengan islam Allha tidak meridhoinya…

#87. Dikirim oleh joe  pada  11/01   02:03 PM

kayanya mui di bubarin aja deh, sebagian besar ngurusin yang ngak penting2 ituh…

#88. Dikirim oleh vinta  pada  12/01   03:12 AM

Terus terang Islam terang terus.Bicara Islam harus terus terang.

Buya, kok Buya hanya mengatakan :

Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata “sesat, agen zionis, agen Barat” bukanlah cara kaum yang beradab. ...

Tambahkan dong Buya:  sebaliknya SIKAP MENUDUH dengan menggunakan kata-kata “fundamentalis” “formalitas agama”, “ekstremis” “agen teroris” tidak kontekstual” juga bukanlah cara kaum yang beradab.

Gitu dong Buya, biar lebih PLURALIS.
Terimakasih, salam hormat

#89. Dikirim oleh Indah  pada  28/02   09:48 AM

saudara2 seiman. jg mudah terlena dengan permainan logika dalam memahami agama. agama ini lebih butuh pada pendekatan intuitif. cari ilham darinya untuk berbuat yang terbaik dalam kehidupan. mengabdi pada kemanusiaan. kita ahiri kecurigaan, setelah mereka mengakhiri kecuriagaannya pada kita.

#90. Dikirim oleh abenk ayok  pada  08/03   07:18 AM

Inna Dienna Indallahil Islam. Tiada Aturan disisi Allah, kecuali aturan yang menyelamatkan.
Aturannya simple Aza :1. Yakin ada Tuhan Yang Esa (Yang wajib disembah), 2. Berbuat Baik kepada Alam (kususnya sesama Insan)
Itulah Aturan Allah/Tuhan, Selamat Dech…! Apapun Formatnya.

#91. Dikirim oleh akunaikia  pada  07/06   05:43 PM

InsyaAlloh kalau kita umat Islam Indonesia beriman dengan sebenarnya cukup dua, tiga tahun bangsa Indonesia akan berwajah sebagai para sahabat yang akrab dengan sunnah Rosululloh saw. maka akan tampak semuanya berjubah, pakai surban, pakai siwak dan selalu sholat lima waktu berjamaah di masjid. Bila demikian maka Alloh akan menurunkan kemakmuran yang merata : Baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Selama nafsu ummat Islam belum bisa mengikuti sunnah-sunnah Rosul saw. maka binasalah dia.

#92. Dikirim oleh Ahmad Fanani  pada  01/08   09:02 AM

jika kita masih mengimani bahwa Allah itu adil dan maha pengasih maka kita sebagai umat yang beriman dan berilmu seharusnya mampu untuk menerjemahkan kasih Allah itu dengan mengesampingkan kepentingan kita (baik itu perorangan maupun kelompok tertentu) sehingga kita dapat berpikir dan bernalar serta beriman dengan hati yang bersih kepada Allah, dengan demikian kita akan saling menghargai satu sama yang lain sebagaimana Allah menghendaki untuk kita hidup saling mengasihi. jadi kalau ada kelompok tertentu apalagi itu lahir dari kelompok umat yang beragama atau satu organisasi keagamaan yang mencoba untuk mendeskreditkan orang lain atau kelomopok lain dengan menggunakan ukuran/standart tertentu yang dianut maka sangat berdosalah kita karena kita telah melampaui Allah sebagai pengambil keputusan yang selama ini kita kenal dengan keadilan ALLAH.
sikap yang diperlihatkan oleh MUI adalah sikap arogansi yang fatal dan keliru karena mencoba untuk menisbikan pluralisme beragama yang jelas-jelas ada dalam realitas kehidupan dimuka bumi ini. pertanyaannya mengapa MUI takut mengakui pluralisme? apakah MUI takut kehilangan pamor dan mungkin “kekuasaan”?

#93. Dikirim oleh pro pluralisme  pada  08/09   05:28 PM

Dalam sejarah kehidupan manusia, dipercaya Adam adalah manusia pertama. kemudian, berkembanglah mahluk tersebut dan berdiam diseluruh penjuru dunia yang bulat ini. Selama beribu atau berjuta tahun mereka hidup terpisah dan kehilangan kontak. Ajaran Adam, secara alami, pasti sudah dilupakan. Adalah bangsa timur tengah dan sekitarnya yang oleh Tuhan selalu dimanjakan dengan pelajaran melalui nabi dan rasul yang silih berganti per generasi bahkan ada 2 dalam satu masa, sayangnya dari 25, tidak ada satupun yang berasal dari luar, apalagi Indonesia. Pytecantropus erectus homo wajakensis dll sampai bangsa di kerajaan kutai sampai sebelum adanya kerajaan Islam adalah bangsa yang terpisah sangat jauh dengan Adam dan ke25 nabi dan rasul lainnya. Begitu juga bangsa cina, aborigin, indian, inca dll. Kemudian, mungkinkah Allah tidak memberi petunjuk pada mereka? kalau seandainya tidak, salahkah mereka dengan kesesatannya? Bagaimana mungkin, ketika mereka telah menemukan sistem ritual (=agama) dalam ketiadaan bimbingan serta merta disalahkan dan dicap sesat oleh Tuhan? atau ternyata oleh kalian? Stempel ‘kebenaran’ itu milik Allah dan bukan manusia sekalipun dengan menggunakan dalil ayat yang menurut manusia benar. Bukankah ‘benar’ tersebut merupakan kesimpulan akal manusia dan belum tentu mencerminkan maksud Tuhan yang sebenarnya? Kitab suci adalah kalam Tuhan yang maha luas maknanya dan harus disampaikan dalam bahasa manusia, yang sempit. Lihat juga al Qur’an; S 10:99, 2:148, 5:48, 16:36, 49:13, 29:46 dll.

#94. Dikirim oleh harry  pada  22/10   04:38 PM
Halaman 5 dari 5 halaman‹ First  < 3 4 5

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?