Klipping,
18/11/2003

Menegaskan Humanisme Islam

Oleh Redaksi

DALAM beberapa tahun terakhir, mata kepala kita amat sering menyaksikan macam-macam tindak kekerasan manusia atas manusia lain. Berbagai tindak kekerasan itu dengan sempurna mampu menegakkan supremasi horor di atas nilai-nilai perdamaian dalam kehidupan dan peradaban kemanusiaan secara umum.

18/11/2003 05:57 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pengalaman agama Kristiani di Barat menunjukkan bahwa ketika Teosentrisme digantikan oleh Antroposentrisme, maka memang tak lagi ada bengisnya Inkuisisi dan pembakaran nenek-nenek sihir lagi, di Eropa. Muncul zaman pencerahan dan akal budi memberi kepastian yang memungkinkan kolonialisme dan kapitalisme berkembang pesat.

Di awal abad 21 kapitalisme sudah berkembang sedemikian pesatnya hingga hutan-hutan terbabat habis, polusi mengotori tanah, air, udara dan ruang angkasa. Uang memang membelah atom, menembus angkasa, tetapi dalam prosesnya, uang juga merampas kekepng-kepeng kumal dari lipatan gombal kaum gembel demi kemewahan yang bebal. Jurang antara kaya dan miskin, terpelajar dan bebal, cukup makan dan lapar, serta antara penganut ajaran-ajaran agama A-B-C-D-E dll makin lebar menganga, dan kekerasan semakin sering dipilih sebagai jalan keluar, setidaknya keluar dari beban rasa frustrasi yang menggerogoti kesabaran.

Lha ngapain Novriantoni ngajakin ngulang Antroposentrisme sedang nyatanya telah berbuat terlalu banyak kerusakan di bumi? Terlambat beberapa abad! Kita mengharapkan interpretasi Islam yang Ecosentris, yang mementingkan ecology dan ecosistem, dan tidak menjadikan si-Antropos sebagai pusat dari segala sesuatu. Nyatanya memang manusia bukanlah pusat dari apa-apa selain dari pengalaman jadi manusia itu sendiri.

Salam, Bram.

#1. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  28/11   01:11 PM

Memang benar seperti perkataan Gus Dur bahwa Tuhan tidak memerlukan peradaban. Karena Allah SWT adalah zat tunggal yang tidak memerlukan patner. Yang bisa hidup tanpa ada unsur lain di sekitarnya.

Justru yang memerlukan peradaban adalah manusia. Peradaban yang menjamin kemerdekaan manusia dalam beraktivitas untuk mencapai kemajuan dunia. Peradaban yang ditawarkan Allah SWT kepada manusia adalah peradaban Islam, dengan semangat untuk mensejahterakan semua makhluk hidup, apakah itu muslim, non muslim, binatang, lingkungan dan semesta.

Peradaban Islam bisa dicapai hanya dengan menegakkan norma dan peraturan Ilahi, bukan norma hasil rekayasa manusia. Peradaban ini berjalan secara normal tanpa membatasi lingkup aktivitas manusia. Segala perbuatan yang sifatnya manusiawi bahkan diwajibkan untuk dilakukan, selama aktivitas tersebut adalah aktivitas yang “khoir” bukan yang “syar”. Nilai yang dicapai dari aktivitas tersebut secara alami bisa saja bernilai duniawi, manusiawi, dan ruhani - tidak menjadi masalah selama tujuan akhir dari aktivitas tersebut dilandasi oleh semangat beribadah, yakni selalu mengharapkan “ajrun” dari Allah SWT, disamping “ajrun” normal dalam bentuk materi, pujian ataupun kepuasan batin.

Sehingga demikian tidak perlu untuk mengalihkan orientasi dari teosentrisme ke antroposentrisme, namun justru harus dibangun semangat bahwa didalam teonsentrisme mengandung unsur antroposentrisme.
——-

#2. Dikirim oleh Dwi Nugroho  pada  10/12   01:12 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?