Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Naskah Pidato Pembaruan Islam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2011
Darimana penegasan pembaruan pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama-tama dengan cara membenahi cara pandang kita terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu.
Komentar
Assalamu’alaikum wrwb.
Sebuah tulisan yang bagus sekali untuk zaman informasi sekarang ini.
Kalau kita masih mengikuti tafsiran2 klasik,fundamentalis atau status Quo,
maka umat Islam akan tetap terbelakang dan
tidak bisa diterima oleh masarakat International
sebagai anggota di bumi yang sama.
Misalnya ada beberapa hukum2 Islam yg tertulis dalam Al quran seperti;
Hukum potong tangan,—-gantung—-rajam—-canbuk—-dan potong kaki dan di salip—dan pelaksanaannya dilakukan di depan umum.Bentuk2 hukuman seperti ini bertentangan dgn HAM dan kemanusian.
Hukum2 itu cocok pada zaman perbudakan dan primitifdimana waktu itu belum ada hukum dan polisi serta rumah tahanan dll
Setiap negara zaman kuno itu mempelakukan hukum rimba yaitu hukum pancung dan gantung dll.
Sekarang negara2 itu telah merobah cara2 menghukm seseorang dgh hukuman kurung dan hukuman suntik bagi hukuman mati.
Sedangkan Saudi dan Iran masih tetap mempelakukan bentuk2 hukuman primitif zaman purbakala itu.Ini sangat kita sayangi sekali.
Sedangkan ALLAH sudah memberikan peluang besar bagi manusia untuk mempebaharuhi bentuk2 peraturan2 ALLAH yang berkenaan dgn hubungan manusia dgn manusia.—hablul minannash.
ALLAH Berfirman;
##
dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu(urusan2 selain ibadah ritual). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. QS 3:[159]
Dan [bagi] orang-orang yang menerima [mematuhi] seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka [diputuskan] dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (38)QS 42:(38) ##
Umpamanya pembentukan; sistem pemerintahan, tentara,polisi,hukum2 laut.udara,perhutanan dan hukum2 hubungan International dll
Ideology Islam yang di tonjolkan oleh ulama2 Wahabi-salafy Fundamentalis adalah ideology Supremacy.Artinya diluar penafsiran2 Syariat Law yang dibuat mereka adalah tidak ligitimate,tidak syah.
oleh karena itu sampai hari ini golongan Wahabi-salafy Supremacy ini tetap mengharamkan muslim2 Syiah,ahmadiyah,Pluralsim dll. Bahkan mereka mau membunuh kalau tidak tunduk kepada mereka.
ALLAH menjelaskan nasib suatu bangsa tidak akan baik,kalau mereka sendiri tidak memperabikinya.
Inilah tugas2 kita reformer2 utk berusaha keras memerangi klompok2 Muslim yg berdeology Supremacy, yaang tidak memebenarkan keyakinan yg berbeda beda.
Menurut keyakinan saya,ada beberapa peraturan2 ALLAH yg tertulis dlm Al quran tidak lagi RELEVANt untuk di aplikasikan di zaman pradapan yang sudah maju ini.
https://docs.google.com/document/d/1kweldc3N-QngzGWIodxspIPNiVi90HRWsPl4IGe07SA/edit?hl=en_US
Kita lihat di Negeri Aceh,ulama2 mereka mencoba mengaplikasikan hukum2 ALLAH yang jahiliah itu
Sangat menyedihkan kita,memperlihatkan image Islam yang disgusting..dan buruk.
Semoga pembaharu2 yang muncul sekarang ini mendapat kekuatan dan dirahmati oleh ALLAH swt amin
Wassalamu’alaikum wrwb.
Pemikiran yang bagus. Sayang…. saat ini justru pemikiran yang laris adalah pemikiran yang bombastik dan suka menyalah-nyalahkan orang lain yang beda pandangan dengan cara dan kata yang kasar bahkan kotor. Lihat saja di kebanyakan masjid-masjid kalo lagi Jumatan.
sayang sekali para penganjur perdamaian yang mendasarkan pada pluralisme sudah menempatkan dirinya di atas orang yang tidak sepaham dengan dirinya. akhirnya tetap saja tidak akan terjadi dialog. karena dialog hanya terlaksana diantara dua fihak yang sama-sama tawadhu dan bersiap untuk menerima bahwa pasti kebaikan dan kebenaran juga ada di fihak lawan bicara.
saya pernah menghadiri acara yang digagas JIL dengan pembicara Mas Ulil dan Mas Muqsith, dan ajaib: ketika memaparkan argumen berdasarkan kutipan dan premis intelektual barat,tidak satupun kritik ditujukan pada pemikiran mereka. namun ketika membicarakan pendapat para Ulama Islam, bertubi-tubi bedah kritik dihunjamkan. dan di saat yang bersamaan, Al Qur’an dan Hadits Rosul Allah SAW yang merupakan akar seluruh pemikiran Islam amat miskin dikupas dan dibacakan.
mudah-mudahan kita semua tetap meyakini bahwa kitalah yang harus tunduk dan menselaraskan hidup, pemikiran,dan hati kita untuk ber Qur’an. bukan Qur’an yang kita paksa sedemikian rupa untuk mengikuti apa yang sudah menjadi fakta kehidupan yang kita sebut modern ini.
Wallahu a’lam…
aku rindu islam yang pragmatis!
Jadi ingat dengan Bpk. Agus Mustofa, saya sangat kagum dengan pemikiran beliau yang mencoba mengkaji Al-Quran dari sisi Ilmu pengetahuan dam Metode Tasawuf, meskipun ada beberapa hal yang memang kalau saya lihat agak dipaksakan tetapi semangat beliau untuk mencoba melihat “sisi lain” islam yang lebih Scientific, Rasional, Toleran terhadap perbedaan dan membumi menurut saya cukup baik.
Tetapi yah memang setiap pemikiran pasti selalu ada pro dan kontra, menurut saya sih sah-sah saja tinggal bagaimana kita dalam mencoba memahami dan mengambil sisi baik dari setiap pemikiran yang ada.
Top Markotop buat Syeikh Muqsit.
Pemikiran yg cerdas dan sgt relevan dg situasi saat ini.
Andai sy bs hadir ikut mendengarkan lgsg pembacaan teks pidato hebat ini, pasti sy bs lbh dahsyat memaknai kata-kata indah dan berbobot ini.
Selamat buat Cak Muqsit. Ide2 dan sikap tasamuh dan tawassuth serta futuh terhadap perkembangan zaman dengan menafsirkan ulang teks2 scr kontekstual dan proporsional ini yg dibutuhkan oleh para ulama. Bkn hanya membebek pd pendapat klasik tanpa melihat konteks dan mendalaminya dg menggunaan nurani.
Akal dan nurani adalat Allah bagi manusia utk menjadikan bumi ini sbg tpt hidup yg nyaman dg ajaran-Nya. Jgn sampai akal dibunuh krn kepicikan yg pasti tak bersandar pada nurani.
Kita butuh banyak org spt Cak Muqsit yg bs memberikan pencerahan agama untuk membumikan Islam di nusantara ini spt para wali dulu ketika menyebarkan agama ini.
Sukses dan salut buat Cak Muqsit.
Smg Cak Muqsit konsisten dan tak tergoda politik praktis. hehehe
Salam,
Andi
WALAM TARDHO ANKAL YAHUDU WAN NASHORO,, HATTA TATTABIA MILLATAHUM,,,AL-QURAN MEMBERIKAN HUKUM RAJAM DAN SEBAGAINYA KARENA UNTUK KEMASLAHATAN UMAT ISLAM…BKN MELANGGAR HAM YG KALIAN KIRA,,NABI SAW TDK INGIN UMATNYA JATUH KE DALAM NERAKA KARENA MELAKUKAN MAKSIAT,,MAKANYA TELAH DATANG HUKUM YG ALLAH SWT TUANGKAN DALAM AL-QURAN ,,DAN TIDAK MELANGGAR HAM,,LAKUM DI NUKUM WALIADDIN,,ULAMA SALAF DAHULU MENGARANG KITAB BUKAN DENGAN OTAK YG TERCAMPUR IDEOLOGY NYELENEH,,TP BERDASARKAN GURU YG ISTIQOMAH LURUS DI JALAN YG NABI SAW AJARKAN,,TDK DENGAN OTAK YG GAK PERNAH MENJALANKAN SUNNAH DAN SYARIATNYA,,, WASSALAM ,,,JAMAAH MAJLIS TAKLIM HABIB ALI AL HABSYI KWITANG
masih perlu energi tnp batas u/ membuat bangsa kita melek agama,menjadi DEWASA DLM berAGAMA,bkn anak2 yg beragama spt sekarang,kita bersyukur atas adanya org2 spt mas ABDL MOGSITH G,perlu media yg lbh luas jangkauannya utk menyebarkan pemikiran2 spt ini.saya tdk berfikir NU,meskipun moderat dan punya media,mau memfasilitasi penyebaran gagasan2 spt ini,krn di NU sendiri msh byk orang2 yg HIDUP DARI FEODALISME RELIGIUS dan PEMBODOHAN UMAT.SELAMAT BERJUANG…
Mantap betul Kang Muqsith,...pemikiran progresig dalam keberagamaan akan bergaris lurus dengan munculnya pertentangan dari pemikiran radikal yang kolot.namun,...gerak zaman yang terus berkembang pesat, mutlak harus terus ada pemikiran2 brillian progresif…sehingga agama tidak mati…sehingga Tuhan terus hadir dalam setiap gerak pesatnya jaman.
Salam “Kukuh-Komitmen” untuk kawan2 JIL.keberadaan JIL menjadi oase tersendiri dalam pergulatan keberagamaan.
Mau ikut rembug tentang Hadits yang dikuti (antum ‘alamu bi umuri dunyakum). Sepertinya hadits ini sering dijadikan dalil sekularisme/sekularisasi. Ada beberapa yang janggal. Salah satunya adalah bahwa konteks hadits ini menegaskan tentang perintah nabi untuk tidak mengawinkan serbuk sari kurma. Kemudian kurma itu tidak berbuah dan sahabat komplain kepada Rasul, lalu Nabi bersabda seperti hadits di atas. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa Nabi memerintahkan (melarang) sesuatu yang beliau tidak tahu secara pasti, yaitu tentang penyerbukan kurma. Jadi, sebenarnya perlu ada penelaahan validitas hadits ini untuk digunakan sebagai dalil sekularime. Afwan syukron… (Baca kritik hadits ini dalam buku “Islam Aktual” karya Jalaluddin Rakhmat pada bab Kita Perlu Sains dan Teknologi atau buku Madkhal fi Dirasah Sunah Nabawiyah karya Yusuf Qardhawi)
Assalamu’alaikum wr. wb. Perlu ada penelaahan lebih lanjut tentang hadits antum ‘alamu bi umuri dunyakum. Hadits tersebut sering digunakan sebagai dalil sekularisme. Hadits itu memang shahih, tetapi dalam hal validitasnya ada beberapa kejanggalan. Salah satunya adalah bahwa konteks hadits itu adalah ketika Nabi melarang penyerbukan pohon kurma. Kemudian pohon kurma itu tidak berbuah. Lalu salah seorang sahabat komplain kepada Nabi. Terasa aneh seorang Nabi yang tidak tahu sama sekali tentang sesuatu begitu saja melarangnya. Padahal seorang Nabi tidak asal-asalan dalam melarang. Untuk kritik hadits ini bisa dirujuk pada buku Islam Aktual karya Jalaluddin Rakhmat pada sub bab Tarikh Nabi. Terimakasih. Wassalam.
Kalo lah ingat akan sikap Gus Dur terhadap orang2 yang yang bermerk JIL, saya mengerti kenapa Gus Dur bersikap seolah mebiarkannya,..beda dengan FPI atao lainnya.Setelah saya membaca sedikit tulisan2nya ternyata biasa biasa aja.
Apa yang ditegaskan Abdul? Itu hanya pengulangan jalan pikiran Islam Liberal. Cara memandang Al-Quran, kenabian, pengagungan akal dan seterusnya. Pluralisme, inklusivisme, anti kekerasan sebagai filter untuk mufassir terdahulu.
Tak sepatah kata pun yang mengarah kepada ketaatan mutlak kepada Allah. Jadi, pidato ini tidak ingin memberikan kesan agar kita lebih mendekat kepada Allah. Tapi, mendekat kepada kekinian, ke-pluralan, dan keliberalan.
Akal itu harus tunduk dan taat kepada wahyu. Untuk itulah Rasul diutus. Islam tidak diturunkan untuk memodernisasi umat manusia agar maksimal dalam mengakses dunia. Islam ditujukan untuk keselamatan kehidupan akhirat dan keselamatan kehidupan dunia. Keselamatan akhirat hanya bisa dengan ketundukan mutlak pada Allah,—begitulah semua rasul dikisahkan dalam Al-Qur’an. Tidak ada rasul yang diutus untuk mengajak ummat manusia menjadi pejuang moderenitas, menyesuaikan zaman.
Maka, kecerdfasan akal itu untuk secara maksimal dan dengan kesungguhan yang penuh berusaha menyelamatkan akhiratnya. Akhirat itulah “masa depan” semua ummat manusia. Dan Allah dengan kasih sayang-Nya menurunkan Al-Quran, agar ummat manusia mampu menyelamatkan akhiratnya.
Penegasan pidato Abdul, hanya mengarah untuk kehidupan kekinian dan masa depan yang pendek—kehidupan di dunia—dengan jargon yang membosankan (karena terlalu sering diulang-ulang), pluralisme, pengagungan akal, inklusivisme, pemberian peran bebas kepada perempuan.
Coba kalau berani, tunjukkan mana ayat yang perlu disortir, hadist yang diseleksi. Dan mana sejumlah ayat yang perlu diimani dan ayat perlu dibuang. Pasti, mereka tidak akan berani menyebutkannya.
Kaum Islam Liberal belum pernah dan tak akan pernah membahas dengan sungguh-sungguh kehidupan akhirat dan bagaimana bersungguh-sungguh menyiapkannya. Karena itu bukan bagian penting bagi mereka.
Komentar Masuk (13)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)