Mengenang Nasr Hamid Abu Zayd
Oleh Irwan Masduqi
Baginya, Alqur’an harus dipahami secara objektif dan kontekstual dan, sebaliknya, Alqur’an tak boleh dipahami secara harfiah demi kepentingan ideologis dan politis seperti yang dilakukan kalangan Islam garis keras. Alquran bagi Abu Zayd adalah kitab yang menganjurkan perdamaian, kebebasan, kesetaraan, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian Alqur’an tak boleh dibajak guna melegalkan kekerasan, diskriminasi, kedzaliman dan aksi-aksi lain yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Komentar
Ternyata, intelektual sekelas Nasr Hamid Abu Zayd juga punya waktu untuk menanggapi ‘ocehan’ kaum tekstualis yang seperti ibu-ibu PKL itu - sejuta kata tanpa makna.
Apa pun, bisa berbentuk buku ilmiah, karya sastra, atau Kitab Suci sekalipun, ketika dimanifestasikan dalam bentuk buku, pasti tidak akan pernah lepas dari budaya atau kultur yang ada pada saat teks tersebut ditulis atau diajarkan. Kecuali kalau yang mengajarkan teks tersebut langsung oleh Tuhan kepada manusia tanpa melalui UtusanNYA. Apa pun, seorang nabi tetap secara fisik seperti manusia biasa yang dalam kesehariannya berinteraksi dengan manusia lain. Dalam interaksi ini lah, budaya atau kultur akan mewarnai atau mempengaruhi cara pandang dan cara pikirnya. Apalagi ketika Nabi mengajarkan itu kepada para murid atau pengikutnya. Pasti akan diajarkan dengan cara bicara. Suka atau tidak, ketika seorang Nabi bicara, pasti dialek dan tatabahasa serta semua kekayaan bahasa akan sesuai dengan yang berlaku pada saat Nabi hidup. Di sinilah, pentingnya untuk melakukan kontekstualisasi teks yang ada dalam kitab Suci dengan bahasa, kultur, budaya ketika teks itu diturunkan.
Memang benar jika hal itu harus dilakukan bagi umat islam pada saat ini. Namun apakah hal itu masih relevan dan memerlukan praktek-praktek yang mudah?
Dengan wafatnya dua Mujaddid Islam besar mudah-mudahan dikemudian hari bermunculan orang-orang seperti beliau-beliau. Khususnya di Negara kita. Amin…
terlalu berlebihan kalau dikatakan dunia islam. yang sebenarnya terjadi adalalah dunia barat dan liberal kembali kehilangan Nasr hamid abu zayd. Negara kelahirannya saja tidak merasa kehilangan, apalagi setelah ulama mesir dan pengadilan mesir memponis dia telah murtad dari islam lebih kurang 15 tahun yang lalu..
setiap kebenaran dalam berfikir memang tidak dapat di pungkiri, namun dengan berjalannya zaman otomatis keadaan smakin banyak berubah, dengan perubahan tersebut kita tidak boleh samaunya berpendapat dengan apa yang terkandung dalam al qur’an terlebih dalam hal hukum, kesetaraan dan lain sebagainya. karna pendapat yang berlebihan sama halnya tidak memikirikan kaum yang bodoh alias menindas akan kebodohannya.
@totok : Mempercayai bahwa al-qur’an merupakan murni dari-Nya, melalui wahyu kepada nabi kita. tetapi saat penulisan oleh nabi kita, dimasukkan budaya,politik, dsb, yang dirasakan oleh nabi kita di lingkungannya. menurut saya kedua hal itu tidak sinkron, jika kita mempercayai bahwa Al-qur’an itu murni dari-Nya,maka kita harus mempercayai secara utuh al-qur’an itu sebagai “Rahmatan lil alamin”, tetapi jika kita mempercayai bahwa nabi Muhammad saw. memasukkan unsur2 politik dan budaya arab, berarti kita percaya bahwa al-qur’an tidak murni buatan-Nya
semoga vonis murtad seperti yg terjadi di mesir ta’terjadi disini..
saat saya mengatakan “ini jam berapa?” pada seseorang. makna perkataan saya sangat tergantung pada keadaan saya, kedudukan saya pada lawan bicara, dan intonasi, gaya bicara, (pokoknya sastrawi). jadi saya sangat setuju AQ di tafsirkan secara kontekstual. (walaupun kadang tekstual juga kontektual)
lantas bagaimana cara memahami al-quran dengan benar….. siapa yg kalian ikuti dalam memahami al-quran, tidakkah kalian membaca atau mendengar sejarah para sahabat Ra. ....????
abu nashr sdh wafat dan utk antum ya akhi, antum barangkali termasuk min ahli ilmi, sayang barangkali bukan ahli amal. ilmu boleh setinggi langit tetapi sekali2 berdzikirlah agar tambahnya ilmu juga tambah alhuda, semoga bukan termasuk man izdada ilman wa lam yazdad hudan ..............
Apakah bila umat Islam di dzalimi dengan kekerasan dengan alasan tidak boleh melakukan kekerasan. kemudian dijawab dengan diplomasi saja tanpa perlawanan,apa yang akan terjadi.Umat Islam dibantai….Lihat di Palestina dan beberapa bagian di dunia ini.
dari dulu zaman nabi pertama….orang2x seperti nasr hamid abu zayd selalu ada.
dan sampai akhir zaman juga orang2x sperti ini selalu ada.
orang yg menacari ketenaran dan kontroversi.
teks alquran terjaga dari semenjak di turunkan sampai sekarang dan insya allah sampai akhir zaman.
Kalau dalam teks alquran telah terjadi penambahan kultur dan budaya arab..maka setiap hafizh quran pada zaman dulu sebelum ada mushaf akan selalu ada perbedaan setiap hafiz.
semoga orang2x seperti nasr di berikan petunjuk jalan yg lurus.
semoga konsep yg ditwarkan Nasr Hamid bisa membuka mata umat islam yg telah lama terbelenggu…sejarah kejayaan Islam akan terulang jika para pemikir sperti Nasr Hamid ini bermunculan….semoga rahmat Tuhan selalu tercurah oleh alm.Nasr Hamid maupun keluaganya.
Di depan al-Qur’an kita harus thaat dan merendahkan diri karena al-Qur’an kalamullah. Dalam berinteraksi dengan al-Qur’an kita kita wajib bersikap ikhlas. Sebab al-Qur’an petunjuk bagi kita semua, bagi ummat Islam. Kita mohon kepada Allah hidayah-Nya agar kita tertuntun ke jalan yang benar. TETAPI bila merasa diri pintar, ahli ilmu, punya bakat berotak jenius, ada tersembunyi rasa sombong dalam hati, manusia seperti ini akan sesat seperti sesatnya Nasr Hamid Abu Zayd. Sebab jauh dari petunjuk Allah, kita tidak akan paham pesan otentik al-Qur’an. Akhirnya kita paham al-Qur’an seperti yang paham oleh orang kafir kafir yang hatinya telah tertutup dari hidayah Allah. Maka akhirnya tersesat, na’uzubillah.
Ikuti terus hatimu berpihak kepada penulis/pengajar yang berusaha menjauhkan ajaran islam dari sunnah rasul. Semoga kekafiran anda membela ABU ZAYID terus berlanjut sampai akhir hayatmu dan kamu mati dalam kekafiran.
dengan da’wah segala sesuatu selesai…...
jalankan perintah allah,dengan mengikuti sunnah rasulullah….....
Al-Quran harus difahami mengkut lafadz dan makna. intinya ialah; “Fattabi’ lima yuha ilaika” (Ikutilah sebagaimana yang diwahyukan saja kepada engkau”. seandainya Rasulullah mengikut kehendaknya sendiri tak mungkinlah islam itu berkembang hingga melalanglang benua.
sebelum saentis menemukan suatu yang baru dalam bidang yang mereka ceburi Al-Quran telah menjelaskannya 1500 thn yg silam. jadi mengapa kita yang jahil ini mempertikai segala hukumnya, bukakah dalam Bible banyak hukum tetapi diabai oleh Yahudi & Kristen, akibatnya kedua agama tersebut tiada modal untuk diketengahkan kepada ummat, mahu melarang zina, mereka lakuna sendiri, mahu cerita keluarga mereka bebaskan sendiri, mahu cerita negara mereka langgar sendiri, jadinya manusia mati yang dilaknat.
Allah tetapkan hukum. manusia tetapkan hukum pada satu masalah yang sama; soalnya; hukum siapa yang paling adil dan baik?.
Baru kali ini saya membaca komik yg paling jelek dari bahasa dan objektifitasnya. Merasa lebih hebat, lebih tahu, lebih pintar, lebih mulya bahkan paling benar dari Rasulullah Sallallahu wa alahai wa salam. Para sahabat saja yg sudah di jamin masuk surga ga berani lancang seperti kalian. semoga kalian cepat bertobat. Hanya orang-orang pura-pura berjuang untuk Islam yg menulis ini tapi sebenarnya ini adalah salah satu paham yahudi terlaknat dan tipu muslihat yg mengatasnamkan Islam. Berani mengkapling-kapling hukum Allah akan merasakan akibatnya dunia dan akhirat. AMIN…!!!
Komentar Masuk (20)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)