Kolom,
21/08/2003

Menggagas Sastra Religius yang Berkualitas

Oleh Mashuri

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika.

21/08/2003 09:54 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Kurang kerjaan, ‘kali, ya? Sastra religius kok digagas-gagas? Kalau memang Anda religius dan berkemampuan membuat sastra bermutu, bikin saja langsung. Tak usah digagas-gagas nanti malah bau abab.  Eh, ngomong-ngomong soal Ronggowarsito yang Anda sebut, betulkah dia bisa melakukan mukjizat menghidupkan orang mati seperti diyakini sebagian kalangan penduduk sekitar Solo? 

Salam Bram

#1. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  21/08   12:09 PM

Eh, Bram, jangan menilai dulu dong. Penggagasan itu baik selama kita dapat memproses gagasan itu sampai ke dalam bentuk jadinya. Mashuri bisa saja sedang dalam proses menuju itu.

salam.

#2. Dikirim oleh dian  pada  24/03   01:03 PM

Saya sangat mendukung gagasan Saudara. Tetapi gagasan tersebut harus sampai mewujud menjadi sebuah karya, jangan hanya sampai pada tingkat wacana. Kalau tidak mewujud itu bukan gagasan, tetapi sekedar hayalan. Apalah artinya hayalan kalau tidak digoreskan pada kertas? Kalau sedang sudah sampai mana, kalau sudah mana buktinya? Ingat kita main di dunia akademik! Akademisi/ilmuwan itu tidak boleh bohong, tetapi boleh salah. Hai ngomong-ngmong kebetulan saya sedang menulis buku Religiositas Islami dalam Karya Sastra/ Cara Memahami Nilai-nilai Religius dalam Karya Sastra. Tolong kirimkan referensi-referensi yang berhubungan dengan sastra religius baik teorinya maupun karyanya. Terima kasih kawan.
——-

#3. Dikirim oleh Heri Jauhari  pada  07/04   02:04 AM

Halo, Pak Mashuri! Saya sangat setuju dengan pendapat Anda. Sastra memang harus berkualitas, bukan hanya pada tataran sastra religius.Karena itu, lahirlah apa yang disebut sastra garam dan gincu. Sastra Religius hendaknya menempatkan dirinya pada sastra garam. Oh ya, satu lagi, Bakat adalah anugerah terindah dari Allah, maka hadiah terindah indah kita untuk Allah adalah menggunakan bakat itu untuk menggaungkan agama Allah termasuk melalui karya sastra.
Selamat berjuang Saudaraku!

#4. Dikirim oleh Rialita Fithra A  pada  04/09   04:42 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?