Editorial,
21/11/2011

Menggemakan Pemikiran Gus Dur

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dengan basis tradisi keilmuan Islam yang cukup, Gus Dur melakukan dinamisasi pemikiran Islam. Ia pun melakukan kritik sangat tajam terhadap kemandegan pemikiran Islam. Ushul fikih yang dalam sejarahnya merupakan proses kreatif untuk mendinamisasi fikih Islam, dalam perkembangannya, menurut Gus Dur, telah menjadi alat seleksi yang sangat normatif dan memandulkan kreativitas. Akibatnya, umat Islam berwawasan sempit dan sangat ekslusif. Umat Islam menjadi beban bagi kebangunan peradaban Islam. Aktivitas istinbath tak bisa dilangsungkan, karena para ulamanya telah terperangkap dalam gubahan fikih lama. Berbagai upaya untuk mengaransemen fikih Islam selalu ditolak.

21/11/2011 18:38 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pemikiran gus dur atau islam liberal tidak beda dengan penjajah itu sendiri yaitu amerika serikat yang akan mencabik-cabik indonesia menjadi kumpuplan-kumpulan kecil warga dari keluarga besar yang bernama indonesia. islam liberal hanya kepanjangan tangan dari alat penjajah kapitalis barat. Kami tahu islam liberal sejatinya hanyalah sempalan kristen yang sejujurnya ingin menghancurkan islam kaffah dan indonesia pada umumnya. Kalian hanya mencari recehan uang kecil seperti pengemis dari majikan yang menjijikan kafir barat yang bernama amerika. Islam tidak akan runtuh oleh agama manapun termasuk agama islamliberal.

#1. Dikirim oleh rahmat  pada  30/11   07:37 AM

hebat sekali kesimpulan om rahmat. apa sih yang anda maksud islam kaffah? apakah islam model fpi? atau model fui? atau model arab saudi yg wahabi? anda begitu benci ma amrik padahal arab saudi sebagai kiblat islam radikal bergandengan mesra dg amrik itu sendiri. aneh memang! perjuangan kita terberat adalah membongkar keterbelenggunya pemikiran selama berabad-abad. apa yang telah diperbuat mayoritas islam sunni bagi kemaslahatan dunia? nyaris tidak ada. lihat kerja keras kaum syiah telah membuahkan hasil. meski dikenai berbagai macam embargo tetap tegar bahkan perkembangan tehnologinya sangat mencengangkan. sementara kita justru ingin kembali ke jaman batu.

#2. Dikirim oleh muhnan rais  pada  01/12   09:24 AM

Pemikiran Gusdur memang perlu disebarluaskan mengingat kemajemukan bangsa.

#3. Dikirim oleh Mujahid Ahmad  pada  01/12   09:00 PM

Yang perlu dipahami oleh bung Moqsith dan komunitas jil adalah SUNGGUH tidak ada masalah sedikitpun dengan keyakinan dan aturan Islam, mulai sejak kelahirannya hingga masa yg akan datangpun, islam sudah didesain secara sempurna dan memenuhi nilai2 kemanusian sehingga tidak pernah ada istilah usang, justru masalah sesungguhnya adalah ketidakpahaman/kebebalan orang2 yg menolak utk ditempatkan pada level tertinggi kodratnya itu. Lebih jauh, (beribu maaf utk yg berkeyakinan bukan islam) dibandingkan agama lain ajaran islam jauh lebih mudah dipahami dibanding dengan ajaran2 lain, dan hal ini yg mengakibatkan kebanyakan pemeluk non-islam di eropa dan dunia barat umumnya meninggalkan keyakinannya, tentu bukan berarti mereka lantas masuk islam.

Jadi anda dkk tidak perlu menghabiskan waktu dan pikiran untuk mencari jalan untuk merubah sebagian apalagi keseluruhan ajaran islam hanya karena keterbatasan anda dkk dalam mendalami makna sesungguhya aturan islam, bertanya akan jauh lebih elegan ketimbang asal-asalan mengekspresikan atau mempublikasikan pendapat yg didasari ketidak-tahuan (ini istilahnya OOT dalam bahasa gaul sekarang).

Tantangan kami sebagai orang Islam sekarang ini adalah bagaimana mengadopsi aturan islam menjadi nilai-dasar bernegara sehingga nilai2 keIndonesian bangsa ini lebih mengakar dan terjaga. Problem terberat bangsa-bangsa dijagat ini adalah bagaimana merealisasikan keyakinan demokrasi sehingga bisa menempat manusia pada kodrat kemanusiaannya, kenyataannya demokrasi banyak diartikan sempit sebagai kebebasan-buta. Coba saja telaah kondisi bangsa ini sekarang, sangat amburadul dan keyakinan demokrasi tdk menjadi maslahat, aturan negara ini tidak bisa (begitu sangat susah dan pelik) utk mengatasi masalah korupsi, pemerataan pembangunan dan soal kemiskinan bahkan perpecahan diujung tanduk. dalam payung Islam nilai2 demokrasi dan keutuhan bangsa yg sesungguhnya akan lebih nyata.

Well, intinya biarkan kami berIslam spt islam membebasan berkeyakinan bagi manusia-manusia termasuk pada sodara dkk. Sekali lagi, jangan pernah membuang waktu dan tenaga utk merubah aturan islam hanya karena aturan islam tidak memuaskan cara berpikir dangkal dan bahkan sangat mungkin kotor.

#4. Dikirim oleh Dondong  pada  02/12   12:13 PM

Saya awam dan sedikit tahu tentang islam…kondisi sekarang sangat menyedihkan orang yang mengaku beragama islam saling membentuk kelompok/sekte dan mengklaim kelompoknya yang benar kelompok lain belum benar/belum lurus…mereka beradu otak otot bahkan saling caci…beginikah orang islam saling jotos sesama islam buang-buang energi…capek deh.

#5. Dikirim oleh subronto  pada  02/12   03:58 PM

Gus Dur Rahimahullah, berusaha membongkar sempitnya pola pikir umat Islam yang terbelenggu oleh piramida - piramida tafsir hukum Islam dengan cara membalikkan piramida tersebut,bukan dengan membentuk pola ruang Ka’bah. Lompatan - lompatan pemikiran beliau dapat dipahami karena Islam adalah agama ruang sebagaimana pola susunan Al Qur’an yang terputus - putus seperti bercerita tentang gerak yang mengelilingi ruang. Pengetahuan yang dimiliki beliau mampu menampung segala perbedaan namun pisau bedah Tauhidnya “kurang tajam”. Beliau hanya menggunakan 1 pintu Ka’bah yaitu pintu masuk dan tidak menggunakan pintu keluarnya, padahal Ka’bah memiliki 2 pintu, pintu masuk dan pintu keluar yang tidak pernah digunakan lagi(ditutup).

#6. Dikirim oleh eyvan  pada  03/12   02:30 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?