Takfir dan Hak Berbeda Pendapat Menimbang Kasus Nashr Hamid Abu Zaid
Oleh Yusuf Rahman
Dalam salah satu karyanya yang cukup terkenal Tahafut al-Falasifa (Kerancuan para Filusuf), Abu Hamid al-Gazali (w. 1111) memberikan cap kafir kepada para filusuf Muslim karena beberapa pandangan mereka yang dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Sebagai konsekwensi dari pengkafiran ini, banyak orang berpendapat bahwa perkembangan filsafat Islam menjadi mandeg.
Komentar
takfir bukanlah kewenangan manusia untuk memvonis manusia lainnya,melainkan hak preogratif Allah sebagai sang khaliq. tetapi ketika ada gejala konfrontatif dan kontrofektif dengan kaidah dan aqidah islam yang sudah ditentukan oleh Allah oleh perbuatan manusianya halnya yang dilakukan oleh nashr hamid abu zaid dan orang yang pro aktif dengan fahamnya lewat pemikiran pemikiran libearal kemudian bereffek kepada orang orang disekitarnya yang berakibat pada kelunturan iman dan aqidah, maka penegakan hukum yang serius harus ditegakkan. vonis hukuman yang diberlakukan bukanlah upaya memanduli hak berpemikiran seseorang melainkan kiat stabilisasi pemikian agar tak terlalu dalam terjerumus atau menjerumuskan dirinya dan orang lain kejalan yang menyimpang dengan aqidah.bagi seorang pemikir jangan hanya pandai bermain dengan kecerdasan intlektulnya saja,tetapi kecerdasan emosinal,kecerdasan spritual juga punya peranan penting dalam melahirkan pola tindak dan pola pikir yang benar sesuai dengan anjuran dan ajaran islam yang dianutinya,ingat. agama bukanlah ilmu logika yang dengan sebebasnya terbang dengan sayap sayap rasional melainkan keimanan yang harus diamieni ketentuan ketentuannya,boleh saja berkarya tetapi dengan tujuan limashalatil ummah waddien yang jelas dengan kontribusi keilmuwan yang berkembang dan benar.keimanan dan keislaman ibarat batang pohon yang tegak kokoh,setiap umatnya diwajibkan untuk berkembang bersama ranting rantingnya,memiliki kreatifitas yang tinggi bersama dahannya agar dapat menghasilkasn buah kemudian dapat dinikmati oleh sesamanya. jadi,jangan kemudian berobsesi meruntuhkan batang pohon tersebut karena ia adalah ketetapan
Dlm era spt skr ini kita mestinya mencadangkan kewaspadaan, sbgm sejarah kolonialisme memberi pelajaran ttg itu. Jika tdk, maka bakal banyak “Kuda-kuda Troya” masuk ke halaman kita, lantaran kita selalu berprasangka baik kpd siapa saja yg mendekat. Bayangkanlah skenario akan datangnya si Koda Troya yg punya pikiran spt ini: “Saya akan gerogoti Islam pd pilarnya yg kuat, yg tdk ada dlm agama lain manapun, yg mrp keunggulan komparatif Islam. Saya pasti diterima oleh pemikir2 muda Muslim ttt, yg krn kebesaran hati mrk & krn hal2 lain entah apa mrk akan menyambut baik kedatangan saya.” Nah, akhirnya saya menjadi begitu prihatin karenanya.
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)