Meninjau Ulang Waktu Pelaksanaan Haji
Oleh Redaksi
Sejak kurang lebih 10 tahun terakhir, jumlah umat Islam yang menunaikan ibadah haji di Makkah mencapai rata-rata 2,5 sampai 3 juta orang/tahun. Konsentrasi jemaah yang demikian besar di satu pihak dan keterbatasan tempat dan sarana di lain pihak, telah menimbulkan masalah bahkan penyimpangan yang dapat menggangu kesempurnaan atau keabsahan ibadah haji itu sendiri. Bagi jemaah haji setempat (Makkah dan sekitarnya), gangguan yang menimpa ibadah hajinya boleh jadi tidak terlalu menjadi masalah, karena bisa diulang dengan mudah kapan saja mereka mau.
Komentar
Menurut hemat saya, ide Pak Masdar rasional dan dilandasi oleh argumen dan dalil yang kuat. Ini adalah terobosan yang brilian dan sangat mungkin memicu kontroversi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana merealisasikan ide Pak Masdar tersebut. Sebab, bukan hal yang mudah untuk meyakinkan pihak Arab Saudi, sebagai tempat diselenggarakannya haji, sehingga mau menerima ide ini. Termasuk juga meyakinkan umat Islam di berbagai penjuru dunia lainnya yang sudah terbiasa dengan keyakinan pelaksanaan haji yang hanya beberapa hari saja itu.
Saya berpendapat, ide besar Pak Masdar ini harus disosialisasikan lebih jauh dan lebih luas, sehingga akan menjadi wacana di publik. Saya juga berharap, Pak Masdar menulis buku yang menguraikan lebih detail dan mendalam tentang idenya tersebut. Dengan begitu maka sebuah langkah awal telah dimulai untuk menuju terwujudnya ide brilian dan mulia dari Pak Masdar tersebut.
Salam.
Bravo, Kiai Masdar! Pemahaman Anda begitu segar lagi menyegarkan ttg pelaksanaan ibadah haji yang selama ini begitu rigid dan membatu terutama soal waktu yang sudah terang seterang-terangnya dalam Al-Quran. Pemahaman ini perlu disebarluaskan kepada seluruh ummat Islam terutama di Indonesia. Hal ini sangat mungkin mengingat posisi Kiai Masdar sendiri di NU. Namun yang perlu dipertanyakan juga bagaimana dengan kesediaan tuan rumah? Mungkin dalam hal ini OKI lah yang harus didekati. Sekian.
Sebagai tindaklanjut, dan agar ide “brilian” Pak Masdar lebih meyakinkan, ada baiknya Pak Masdar menghimpun rombongan (yang tentunya kemudian dikepalai Pak Masdar sendiri) untuk berangkat menunaikan ibadah haji ala Pak Masdar. Saya yakin, ada banyak fihak yang simpati dengan rencana perjalanan tersebut.
Jika hasil pemikiran Pak Masdar itu berasal dari niat baik untuk mengatasi permasalahan yang selama ini melilit pelaksanaan ibadah haji, saya kira itu adalah hal yang sangat positif. Apalagi, hal itu disinyalir sebagai pemurnian dan penyegaran terhadap wacana yang diwarisi secara turun temurun terhadap pemahaman pelaksanaan ibadah haji. Kongkretnya, mereposisi ayat “hari-hari ibadah haji” pada tempat yang sebenarnya sebagai sebuah ayat yang sharih.
Namun, akan sangat baik, jika interpretasi ala Pak Masdar ini diketahui atau bisa dibahas dalam forum yang lebih luas, khususnya pihak Saudi sebagai pelaksana utama, agar bisa direspons secara apik dan representatif.
Stelah saya sendiri banyak mendengar dan melihat aktifitas sosok kyai satu ini, saya sangat setuju dengan pemikiran satu ini. Permasalahan mendasar, bahwa banyak sekali kalangan ulama dan kyai terutama di NU yang belum biasa untuk menerapkan fiqh tekstualnya ke dalam terapan aktifitas dan pemikiran, lebih cenderung ke arah dogmatisnya. Permasalahan lain, ujung-ujungnya nanti banyak akan di protes oleh pemikir,ulama,kyai dan aktifis islam lainnya terutama yang selalu berseberangan dengan Pak Masdar.
Kita dukung perkembangan ini… Semoga Pak Masdar selalu bisa membuka jalan-jalan lain dalam aturan2 fiqh ini…..
coba laksanakan haji menurut model anda, kemudian umumkan kepada seluruh dunia bahwa inilah haji model indonesia.
Wah, luar biasa, mudah-mudahan ini bukan sekedar wacana untuk mendatangkan proyek, tetapi benar-benar keluar dari lubuk hati yang dalam untuk perbaikan dan ketertiban ummat manusia semuanya. Saya malah menyarankan komunitas JIL ini jangan lagi sekedar mengkritisi konsep Islam, Kristen dll. Tetapi buat saja sebuah mushaf yang di dalamnya termaktub aturan kehidupan yang sempurna, jangan seperti Islam dan kristen yang tidak jelas itu. Saya pikir itu lebih kongkrit dari pada sekedar membuat orang bingung. Dan akhirnya berfikir bahwa wacana-wacana ini hanya semata-mata mencari uang dengan menjual ide yang aneh-aneh. Anda yang punya wacana kaya, yang membaca berkerut dan bangkrut. Anda kan semua orang-orang yang sudah punya ilmu dan mampu memberikan hal terbaik bagi kemaslahatan umma, Islam itu kan cuma lembaga aturan yang sebenarnya tidak penting untuk diikuti, mengikat. Kita perlu bebas, makanya tolong dibuat semacam aturan yang sebebas-bebasnya. Saya bisa meminjam istri mas ulil, masdar dll, 3 malam saja, boleh kaan… Kita perlu kebebasan yang real bukan wacana untuk mencari proyek karna nggak ada kerjaan lain…. Oke… Saya tunggu deh .... Thank’s buat JIL yang Ruarrr Biasa. Mudah-mudahan nantinya akan menjadi agama baru. Saya ikut di dalamnya…..
——-
Saya dukung agar Kyai Masdar mengkoordinasi model haji ini, dan tentunya koordinator harus ikut langsung memimpin jalannya ritual haji tersebut. Mengenai dana tidak perlu dipermasalahkan, sudah disediakan. Jangan lupa untuk dipublikasikan melalui mass media dan televisi untuk sosialisasi.
di tempat kami ada namanya haji kerinci, naik haji ke gunung kerinci , lumayan lebih murah hehe
Memang luar biasa cara bapak ini menyampaikan gagasan pemikirannya, alagkah rentannya bagi orang yang membacanya untuk terpengaruh karena secara akal emang sangat masuk akal…namun “AGAMA DENGAN MENGEDAPANKAN AKAL ADALAH BUKAN ISLAM” itulah pintarnya setan cara menyesatkan manusia…dengan cara halus meraksuki pikiran yang intinya mengikuti hawa nafsu belaka….wallohua’lam
Pemikiran bid’ah akan selalu aneh dan tetap ditentang. Solusi Masdar tidak bermanfaat dan bermaksud membuat kekacauan dalam Islam QS Fusshilat: 26.
Keterbatasan tempat dan waktu haji tidak perlu memunculkan opsi lain yang menyimpang.
Karena orang tak pergi haji karena terhalang berbagai keterbatasan tersebut, tentu akan mendapat toleransi dari Allah juga. Nabi Muhammad Saw juga membatalkan niat hajinya yang pertama karena terhalang masalah keamanan.
Ini memberi kita pelajaran, untuk mengerjakan haji, tak usah terlalu memaksakan diri (tak usah ngoyo) sampai membuat ide bid’ah.
Huahahaha ..........., lha kok menghebohkan ??? Pak kyai masdar (moga2 bukan kyai slamet) mengajak kita untuk menolak hadist karena kebutuhan yang mendesak wahhh, bagaimana kalau misal kita sholat cuma takbir, trus rukuk doang kemudian salam karena ada keperluan yang sangat mendesak ??? Kan yang penting melaksanakan yang ada dalam Al Qur’an, g usah pedulikan hadist meskipun shahih, padahal hadist ini shahih
“man ‘amila ‘amalan falaisa ‘alaihi amruna fahuwa raddun” [Barangsiapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini, apa-apa yang tidak ada darinya (tidak kami perintahkan, pent.) maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhariy no.2697 dan Muslim no.1718)]
Sing GOBLOK sopo ya ??? Pusing punya cita2 jadi scientist g kesampeyan jadinya ya seperti ini, hehehe
Komentar Masuk (12)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)