Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.
Komentar
Tanpa perlu menjadi Islam Liberalpun tujuan yang pertama sudah bisa dicapai. Sementara untuk tujuan yang kedua, kita harus sepakati dulu batasannya. Jelas, kalau anda mengadopsi mentah2 definisi dari barat tidak akan nyambung.
Penafsiran terbaik terhadap Al Qur’an adalah melalui sunnah dan penafsir terbaik adalah tentunya ulama-ulama shalih terdahulu (salafus shalih).
Mohon maaf, apakah syarat untuk menafsirkan Al Qur’an adalah hanya tidak buta huruf, sehingga dia bisa membaca terjemahan Al Qur’an dan mengkreasi sendiri tafsiran ayat-ayat Al Qur’an sesuai kemampuan berfikirnya, seperti yang banyak dihasilkan oleh kelompok liberal?
Anda mungkin akan menjawab bahwa saya tidak mengerti dan maksud anda bukan seperti itu. Kembali mohon maaf saya harus jawab: sudah terlalu banyak tulisan2 kelompok liberal yang tidak metodologis, asbun, ahistoris, dll bahkan dilihat dari pisau bedah penelitian ilmiah sekalipun, apalagi jika menggunakan pisau bedah yang digunakan salafus shalih, yang bahkan dikatakan oleh seorang Karen Armstrong sebagai kejeniusan orang Islam dalam menjaga keotentikan Islam.
Wallahu alam. Semoga pintu hidayah tetap dibukakan untuk kita semua
Cocok Cak Ulil, itulah pandangan Dunia saya tentang Islam, untuk non Dunianya saya masih belajar Hakekatnya. Tolong di doakan semoga Allah meridhoi utk menemukan Mursyid. Amin.
Mas Ulil, saya kira tulisan diatas perlu disebar luaskan melalui media tulis, karena banyak yang salah sangka mengenai Islam Liberal, mudah2an dengan membaca tulisan ini menjadi lebih terbuka, sehingga bersama sama dapat menjadikan Islam sebagai agama yang membawa berkah.
Betul ape nyang dikate Ulil, walaupun kite disuruh taat dan patuh ke Allah tapi tidak serta merta kite harus taat membabi buta.
Sippp...deh pencerahan Ulil.
Emang betol kite dikasih akal fikiran bo oleh Allah tuh untuk dimanfaatkan supaye kite bise lebih dekat ama Tuhan gitu loh. Betul nga jack??? Supaye kite dapet ngambil hikmah and manfaat dari semua yang ade di muke bumi.
Tapi kalau kite bace tulisan2 Ulil sebelum2nya Sepertinya banyak juga yang kaga nyambungnya jack dengan pemikiran Ulil di atas.
Coba deh Ulil, kite2 semue pada ngebaca lagi tulisan Ulil “DOKRIN-DOKRIN YANG KURANG PERLU DALAM ISLAM /07-01-2008”.
Jadi apakah ini sikap ambivalen-nya Ulil atau gimanaaaa...gitu loh.
Pokoknye makin seru aje nih cara mikir Ulil.
Semoga Semakin Waras!!!!
Kali ini buah pikiran Bang Ulil ini sungguh telah membantu saya menemukan diri sendiri dan melihat lebih jelas jalan pikiran Islam Liberal. Semoga yang tidak mengerti Islam Liberal menjadi mengerti dan yang sudah mengerti menjadi lebih mengerti.
Semasa saya duduk di bangku es-em-pe antara tahun 1975-1977, jiwa saya tidak mengerti dan tidak dapat menerima ajaran bahwa laki-laki lebih rasional daripada perempuan sehingga lebih berhak dan akan lebih baik untuk menjadi pemimpin masyarakat. Tetapi, karena saya belum mempunyai instrument argumennya, pada masa itu saya tidak dapat membahasakan ketidakmengertian dan ketidaksetujuan saya itu. Kini baru saya bisa melihat pemikiran itu sebagai salah satu sudut dalam Islam yang menurut saya harus direformasi atau ditafsir ulang terlepas dari firman Tuhan bahwa “telah Ku-sempurnakan Islam bagimu…”
Saya yakin Tuhan selalu berbicara kepada setiap kaum sesuai dengan “bahasa” kaum itu. Dalam konteks ini “bahasa” adalah batas kemampuan nalar suatu kaum. Dan Tuhan berbicara kepada semua kaum, kepada semua mahluk, termasuk kepada materi seperti gunung, laut, api dan lain-lain. Tuhan pun hadir dan berbicara kepada bangsa Indian dan oleh mereka disebut Manittou, atau kepada bangsa Jawa dan disebut Gusti, atau kepada bangsa … Bahasa setiap kaum akan selalu terikat erat pada konteks ruang dan waktu di mana kaum itu hidup. Maka, firman tersebut di atas pun merupakan manifestasi dari Tuhan yang berbicara kepada kaum Quraisy sesuai dengan “bahasa” kaum itu di jazirah Arab pada jaman itu.
Dalam contoh kasus mengenai kepemimpinan wanita, memang zaman sekarang banyak juga wanita dapat menjadi pemimpin yang lebih baik daripada laki-laki, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita tidak terlahir dengan sifat kurang rasional. Banyak perusahaan milik keluarga yang kepemimpinannya justru dipegang oleh sang isteri, yang pasti selalu wanita. Demikian juga perusahaan dan organisasi umum yang sempat saya tahu. Bahkan propinsi Banten adalah propinsi pertama yang memiliki Kapolda wanita! Inggris pernah dipimpin dengan sukses oleh seorang Perdana Menteri wanita, Finlandia masih di-Presiden-i oleh wanita. Kalau dirinci, terlalu banyak contoh kepemimpinan wanita lebih baik daripada pria, baik dalam skup keluarga, lokal, regional, nasional maupun internasional.
Mengapa sebagian wanita lebih rasional dan lebih baik daripada pria dalam segi kepemimpinan? Karena mereka mengalami pendidikan. Pendidikanlah yang membuat mereka seperti itu. Kesempatan untuk menjalani pelatihan dan pembiasaan untuk bersikap rasional telah menjadikan wanita rasional juga. Jadi adanya kesempatan – dan bukan pembawaan – yang dapat membawa seseorang menjadi manusia rasional atau tidak.
Bukan Islam yang saya anggap salah. Tetapi pemikiran ini membawa saya pada sikap yang lebih luas yaitu bahwa Islam yang “sempurna” itu pun tidak terlepas dari kenyataan berlakunya konteks “pembahasaan” suatu kaum pada ruang dan waktu tertentu. Saya tetap percaya bahwa Islam itu timeless dan universal, tetapi pembahasaannyalah yang tidak timeless dan universal. Pembahasaannya, penafsirannya dan pengamalannya akan selalu terikat pada konteks ruang dan waktu agar Islam tetap hidup. Itu satu-satunya cara alam membantu suatu sistem ide dan mahluk agar bisa bertahan hidup di mana pun dan sampai kapan pun. Sudah merupakan sifat alami, apabila suatu sistem ide atau pun mahluk tidak melakukan adaptasi dengan lingkungan dan jamannya, dia akan mati. Jadi harus ada adaptasi pada situasi dan kondisi. Ini juga berlaku bagi Islam. Bila Islam tidak melakukan adaptasi dengan kondisi dan situasi alam, maka tidaklah berlaku klaim timeless dan universal itu. Islam akan membusuk dan mati. Kalaupun bertahan hidup, dia hidup dalam bentuk kristal yang tidak berbaur dan tidak berkorelasi dengan konteks alam di sekitarnya. Islam tidak akan memiliki relevansi dengan kehidupan nyata. Islam akan tinggal sebagai mimpi tentang kehidupan yang benar di dunia dan akhirat. Dan mimpi adalah mimpi.
Jadi Islam harus difahami dan diamalkan oleh kaum Muslimin dalam kerangka pikiran yang bersifat kontemporer. Hukum atau fiqh Islam pun harus menjalani adaptasi dengan konteks manusia modern agar dapat diterima dan diamalkan sesuai dengan lingkup ruang dan waktu manusia modern itu. Islam yang telah sempurna tetap akan sempurna meskipun ditafsirkan secara berbeda-beda di berbagai tempat dan jaman. Penafsiran pada masa dan tempat tertentu tidak bisa dipaksakan kepada kaum yang tidak hidup pada jaman dan tempat tersebut. Saya yang bodoh tidak menemukan dasar yang logis tentang otoritas penafsir mana pun untuk menyatakan bahwa penafsirannya adalah satu-satunya tafsir yang benar dan harus diamalkan di mana pun dan pada jaman apa pun di dunia ini. Amin.
Setuju berat!!!
Spriritualitas, tidak hanya dalam beragama, tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita.
Ini ibarat membedakan kata Pengajaran dan Pendidikan.
Entah kenapa setalah membaca tulisan Mas Ulil,ada semacam kelegaan dalam diri saya,semacam pencerahan berpikir,mungkin apa yang ditulis itu benar-saya sendiri meyakini benar?hanya saja kebanyakan dari kita takut untuk bersuara,karena saya yakin yang menentang jauh lebih banyak dan lebih punya kekuatan untuk membungkam.Tapi bagaimana dengan pemikiran kaum fundamentalis yang juga yakin betul akan kebenaran pendapatnya,jujur saja dalam keseharian,saya sering berdialog dengan orang orang seperti itu,yang untuk perkara tahlilan saja sudah bisa membuat mereka mengatakan bid ah,sesat,padahal itu baru masalah khilafiah,apalagi kalau sudah berani mengkonter hadis Nabi yang sudah disepakati keshahihannya.Maju terus Mas Ulil.
kalo orang2 fundamentalis--setelah membaca tulisan ini--masih saja menolak, berarti memang yang mereka tolak adalah Mas Ulilnya, bukan tendensi nalar liberalnya dalam pemahaman keagamaan...jadi, mereka mereka tdk melihat ‘ma qala’ tp ‘man qala’...semacam sikap yg dilatarbelakangi oleh kebencian, dan bukannya cinta akan kebijaksanaan…
oke untuk sementara saya sedikit meneriamanya tapi entah 5 atau 6 tahun mendatang saya bisa menerima pendapat mas ulil apa tidak, yang jelas mungkin seperti itu mas ulil, aku salut ma mas ulil kenapa mas kok cerdas banget sampe2 qur’an saja mas ulil letakkan di bawah akal.
terima kasih Bung Ulil, tulisan ini sedikit berbeda karena lebih umum dan terang menjelaskan posisi intelektual dan keberagamaan JIL dan Bung Ulil sendiri.
Seringkali memang dalam beragama kita sepertinya “menerima apa adanya’ tanpa menggali dan memaknainya yg bisa menjebak kita dalam rutinitas yg melenakan. Justru dengan salat,misalnya, yg dimaknai kembali, kita bisa merasakan bhw memang benar itu adalah kunci dan inti keberagamaan.
Untuk perubahan butuh waktu, tp mayoritas yg diam sebenarnya tidak benar2 diam untuk mulai memahami Islam yg sesungguhnya
Tanggapan saya ini diakhiri dengan seterang artikel Bung Ulil: teruslah berpikir dan maju
This is why I love JIL
Hari ini saya baca berita : seorang wanita di Arab Saudi , Ruwaida al-Habis, terpaksa melanggar peraturan pemerintah Arab Saudi yang melarang wanita mengendarai mobil karena menolong ayah dan kedua saudaranya yang terbakar di rumahnya ( Tempo No.137 ).
Saya jadi berfikir, apakah kejadian seperti ini contoh penerapan “hukum” islam yang benar, atau kah justeru contoh betapa konyolnya manusia memahami agama dengan cara yang salah?
enak sekali anda mengatakan berpaham liberal dengan mencaci maki orang lain atau kelompok yang tidak sepaham dengan anda.
Apa yang anda sebut dengan kaum konservatif yang menginginkan syariat islam itu bukan hanya kelompok model habib rizieg, tapi banyak kelompok lainnya yang tidak kalah hanif dan damainya dari Anda.
Anda melukai orang lain lalu anda bilang itu ekspresi liberal anda.........?
Jangan anda bermain dalam tataran intelektual sempit dan dangkal.
Berpikir dan belajarlah sebelum berbicara [menulis] agar tidak keluar dari kontek.
Dan jangan lupa, jangan ngomong terlalu melebar ke hal-hal yang sebenarnya anda tidak pahami.
Orang lain akan tertawa, walaupun mungkin tidak menunjukan ekspresinya. tapi apa yang telah keburu anda keluarkan memberikan dampak bagi publik.
Ini bukan soal pertempuran antara konservatif dan liberal menurut versi anda itu. Tapi pelecehan terhadap kelompok arus utama oleh kelompok nyempil yang merasa perlu memberikan perspektifnya.
Saya kira maksud tulisan di atas tidak melarang untuk menjadi konservatif, liberal atau netral asal dilakukan dengan pikiran atau akal sehat yang jernih. Kita semua sepakat bahwa tujuan utama beragama adalah menjadi maslahat bagi kehidupan makhluk di atas bumi ini dengan dasar percaya kepada kehadiran Allah dan Rasulnya.
Pada tataran ini kita memang sering kesulitan untuk mencari benang merah antara ayat/hadist dan kondisi saat itu untuk kemudian diterjemahkan sehingga pas dengan pikiran kita dan kondisi sekarang.
Kita hanya melihat jejak-jejak sejarah sejak Rasulullah saat menerima wahyu, melakukan reformasi budaya dan politik jahiliah di sekitar Makkah dan Madinah yang kemudian dengan cepat menjadi sebuah gerakan spektakular yang mengipas seluruh zasirah Arab, Afrika Utara, Eropa Timur dan Selatan, Asia Barat dan Tengah menjadi komunitas yang modern dibawah bendera Islam.
Kita sendiri tidak tahu persis apakah waktu itu ajaran Islam yang dibawa Rasulullah sudah mengalami proses aktualisasi, meski sudah pasti ada perkembangan yang luar biasa dahsyatnya atas literatur Islam di bidang keagamaan, ilmu pengetahuan dan sosial. Bahasa Arabpun menjadi bahasa lingua franka, dan tulisan dan perhitungan bulan dan tahun Arab begitu populer seperti kita sekarang menggunakan Masehi dan huruf latin.
Kemudian muncul berbagai mazhab, berbagai aliran dan berbagai organisasi yang mememiliki tingkat perbedaan mulai yang khilafiah sampai yang mendasar. Konflik tidak lagi pada upaya berlomba-lomba pada kebaikan melainkan pada saling salah menyalahkan mengenai syariat agama. Terkdang kita menjadi malu dengan agama kita sendiri sehingga kemudian kehilangan identitas dan jati diri seroang muslim.
Saya berkeyakinan bahwa perkembangan apapun harus kita terima sebagai rahmat. Arab Saudi yang keras dan ketat, termasuk kepada perempuan, ternyata bisa diterima dengan damai oleh sebagian besar perempuan di sana, karena mereka berkeyakinan (yang tentunya didasarkan atas pengalaman empiris, situasi negeri dan pendapat pimpinannya)bahwa itulah cara untuk mengendalikan badai kebebasan perempuan yang terasa sangat negatif, menurut pendapat mereka juga. Di tetangga Saudi, ada negara yang memperkenankan tari perut dan kelab malam di hotel-hotel. Anda bisa bayangkan kalau kebebasan di Arab Saudi bisa seperti Bahrain, maka kita mungkin saja akan kongkow dengan wanita Saudi di Sheraton Makkah sambil berdansa dalam pakaian ihram.(Tangan Tuhan jelas lebih pandai dari akal kita?)
Sebaliknya demokrasi di Mesir mungkin menjadi sebuah tuntutan, monarki di Inggeris perlu menjadi tetenger yang hidup, Iran harus bernostalgia dengan emperium masa lalu sambil terus bergumul mencari bentuk sehingga Mullah di sana adalah juga seorang intelektual yang disegani. Cina besar dan cepat maju konon karena dia hati-hati menerapkan demokrasi, tak mau jatuh menderita seperti India, Pakistan dan Filipina yang berdemokrasi di saat rakyatnya masih miskin dan menderita.
Itulah kehidupan yang luar biasa kompleksnya tapi tidak jarang bisa dijalani dengan damai oleh serombongan semut. Tak ada yang seratus persen benar dan seratus persen salah.
Dalam renungan saya, perbedaan benar-benar sebuah rahmat asal dilakukan dengan akal sehat. Kalau akal sehat para anggota FPI beranggapan harus menyerang sebuah nite-club atau tempat berjudi dengan resiko masuk penjara, karena mereka merasa aparat kepolisian sudah berdamai dengan para penjudi dan pelaku maksiat, barangkali itu jalan pintas terakhir yang menurut mereka sebagai ‘terpaksa’ harus dilakukan.
Sebagian warga Islam sering dituduh melakukan kekerasan sementara Israel dan Amerika yang menyerang Libanon dan Irak sehingga menelan jiwa ribuan warga sipil dianggap sebagai perilaku yang benar dan beradab. Bom bunuh diri dan apapun lainnya adalah keliru dan menunjukkan kekerdilan berpikir, tapi tembakan membabi buta dari atas pesawat kepada orang tak berdosa harus pula dihukum sebagai perilaku keji, bahkan licik.
Saya adalah orang biasa yang sangat menghormati perbedaan, tapi saya juga harus menghormati orang lain yang memiliki keyakinan. Karena itu saya juga harus menghormati kegelisahan Ustad Abubakar Basyir yang terus mencari bagaimana membangun organisasi yang dirasakan benar menurut keyakinan agamanya. Keyakinan bukan karena kepicikan atau emosi, dendam, marah, tapi oleh akal sehat dan hati nurani yang didasari keiklahasan spritual atas hubungan mereka dengan Sang Pencipta. . Mereka adalah manusia berpikiran jernih dan berhati lembut yang mungkin sudah kehilangan kesabaran. Kita bisa menegur mereka mungkin karena kurang sabar. Jangan terjebak dalam pola pikir orang yang juga terlalu curiga pada Islam.
Lakukanlah yang menurut pikiran anda mantap dan kemudian berguraulah dengan Sang pencipta. Insya Allah kita akan merasa damai dan sejuk.
Wah, masih ada komentator yang antipati terhadap JIL tetapi tidak bisa merespon terhadap “ma qala"-nya sehingga akhirnya berusaha menampar “man qala"-nya. Kacian deh.
Bung Irsad, harap diingat bahwa Bung Ulil adalah manusia biasa juga, dia tidak bisa lepas dari subjectifitasnya, jadi bila Bung Irsad merasa dirugikan tuntut saja bung Ulil atau paling tidak, balas saja dengan caci maki. Tapi jangan dipukul atau di fatwa mati, apalagi karena hanya pendapatnya yang berbeda dengan pendapat anda.
Marilah kita mencoba menerima perbedaan pemikiran, sebab yang menjadi perdebatan sebenarnya adalah Obyek (baca : Tuhan) bukan Subyek (baca: orang, JIL, & Kelompok Islam lain). Bukankah Tuhan “mencerahkan” semesta ini dengan perbedaan?
Setuju banget. Silakan para fundamentalis Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konfusius dan aliran kepercayaan untuk menanggapi tulisan Mas Ulil, biar makin seru.
Saya setuju dgn mas ulil, orang nampaknya hanya benci secara pribadi kepadanya karena dialah yang secara terorganisir memperkenalkan liberalisme pemikiran Islam setelah Nurcholis Majid wafat. Sebenernya sih sudah lama pemikiran Islam liberal muncul, apalagi di Jawa (lebih lagi Jawa tengah)yang jauh sebelum ulil lahir juga basisnya liberal dalam beragama (walaupun mungkin tidak liberal dlm budaya). Bahkan tokoh sekaliber Kyai Wahid Hasyimpun katanya pemikirannya juga relatif liberal (kata Gus Dur anaknya). Justru pemikiran yang fundamentalis lebih banyak muncul setelah jatuhnya Suharto. Artinya baru kemarin sore. Dalam perjalanan hidup saya selama puluhan tahun bergaul dengan berbagai kelompok orang (karena saya selalu aktif dlm kegiatan kemasyarakatan), paling enak memang bergaul (dlm konotasi “baik") dgn orang yang pemikiran agamanya relatif liberal spt pemikiran mas ulil. Sama orang yang fanatik buta biasanya repot deh. Kalo jumlahnya kecil mereka diam dan menyingkir dari kelompok masyarakat, tapi kalo jumlahnya mulai signifikan, bisanya mulai deh muncul sifat-sifat kakunya, yang kalo diskusi atau rapat-rapat di mesjid/RT ditandai dengan kata-kata khas sepeti “pokoknya.....”, “menurut sunatullah begini begitu ...” padahal untuk hal-hal yang bersifat kilafiah saja. Namun saya juga menghargai beberapa kawan-kawan muda dari Partai PKS misalnya (saya bukan pendukung PKS)yang cukup hormat dengan demokratisasi dan liberalisasi serta pembangunan masyarakat madani, walaupun mereka punya platform sendiri. Coba saja lihat di Hidayatullah.com (saya bertahun-tahun selalu membaca sebagai pengamat sosial). Diskusinya selalu berputar-putar soal perdebatan benar salahnya syiah vs Suni, Salafiah, Ikwanul Muslimin, Akhamadiyah, PKS ,dll yang sama sekali tidak berguna bagi fondasi pembangunan karakter bangsa. Bahkan lucunya dalam perdebatan itu sampai mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan segala seperti juga yang banyak dilemparkan ke mas ulil dan rekan-rekan dari JIL. Mereka sudah melebihi Tuhan dgn mengatakan si A pasti dilaknat Allah, masuk neraka, dll, sambil mengumpat dgn kata-kata kasar (kata-kata kasar mungkin bukan syarat masuk neraka kali). Viva Mas Ulil, maju terus, walaupun dlm beberapa hal saya tetap berbeda pendapat, namun saya menghargai perbedaan itu dan saya merasa mas ulil lebih baik daripada saya karena mas ulil mampu menulis buah pemikirannya dgn baik, sementara saya tidak, hanya bisa komentar saja. Yang penting boleh beda asal jangan saling memaksa dan mengumbar kata-kata “kotor”.
Untuk bung irsad, silakan baca kembali komentar anda sendiri. Nampaknya lebih cocok dan pas ditujukan buat anda sendiri pula. Paradoks, kalau saya ingin katakan.
.
Salam,
Komentar Masuk (115)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)