Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.
Komentar
Salut….itulah kata pertama saya kepada anda,saya sangat setuju dengan pendapat anda untuk menggunakan akal kita yang telah diberi oleh tuhan kepada manusia yang membedakan manusia dengan binatang. Tetapi sayang sekali pendapat ini hanya berdasarkan pemikiran anda semata,termasuk dalam mengartikan ayat-ayat alquran tanpa didukung oleh pandangan-pandangan cendekia islam yang lain, atau mungkin anda ini merupakan penemu-penemu baru seperti thomas alfa edison, james watt dll yang berhasil memikirkan dan menghasilkan sesuatu yang baru tanpa guru (walaupun mungkin ada rujukan yang mereka baca ).
Saya tidak anti liberal,tidak anti kebebasan berfikir,tetapi sepertinya alangkah baiknya kita tidak menyampaikan pendapat kita sendiri yang belum teruji dan belum tentu benar,apalagi yang menyangkut agama, kasihan ulama-ulama besar kita yang telah mendalami ilmu sekian lama dengan bukti bukti kedalaman ilmu mereka harus kita kalahkan dengan dalih akal dan relevansi, “tidak akan sama sebuah kalkulator jika dibandingkan dengan komputer secanggih apapun ia”
artikel sampeyan bagus, kang. bikin pemikiran smkn terbuka. laa kin, mungkin sampeyan lupa (ato saya yang salah lihat),di Qur’an perkataan “afa laa ta’qiluun”,“afalaa tadabbaruun”,“afalaa tatafakkarun” dan yang sejenis, hampir semuanya merupakan ayat2 kauniyyah. ay:yg artinya,kita hanya bisa melogikakan tema2 sains, bukan ayat yg bersifat yg ubudiyyah yg berdampak sosoial, sprt potong tangan…..
ayat2 smcm ini tidak diakhiri oleh “afalaa ta’qiluun”.
berdoalah dengan kesungguhan pada Illahi agar kita di bukakan mata hati kita yang sesungguhnya..bukan dengan pemahaman akal pikiran seperti yang anda paparkan… semua berawal dari sejauh mana hidayah yang kita dapatkan dari Illahi…semakin pintar seseorang maka semakin dia sadar.. bahwa semakin banyak yang dia tidak ketahui dikarenakan kemampuan akal pikiran yang sangat2 terbatas..mudah2an bisa dijadikan bahan untuk direnungkan kembali
Assalamualaikum wr.wb.
Pernyataan “tidak semua hal dapat dirasionalkan” mestinya menjadi dasar untuk tidak memaksa merasionalkan ketentuan2 Agama, dan senantiasa patuh pada perintah/hukum Allah meski perintah/hukum tsb seolah2 tidak rasional (lihat kepatuhan Nabi Ibrahim ketika diperintah Allah untuk menyembelih putranya sendiri Nabi Ismail maupun berbagai perintah lain yg “tidak rasional” kpd beliau maupun kpd nabi2 lainnya!).
Terkait hal tsb Abul A’la al-Maududi dalam buku “the Principles of Islam” mengemukakan bahwa dalam bahasa Arab arti kata “ISLAM” adalah “tunduk dan patuh kepada yang memberi perintah, serta tunduk dan patuh pada larangannya tanpa membantah”.
Dengan kata lain, agama Islam adalah agama yang mengajarkan kepatuhan dan ketaatan terhadap Tuhan YMK dan senantiasa berserah diri hanya pada-Nya.
Analogi dari kasus ini tampak dalam bagaimana orang2 menyikapi anjuran/larangan merokok. Kita tahu semua orang yg berakal sehat tahu bahaya merokok bagi perokok dan bagi lingkungannya. Namun tak sedikit orang2 yg berakal sehat tsb bersikukuh menolak larangan merokok tsb, khususnya terhadap fatwa ttg rokok, meskipun mereka bukan perokok, meski mereka sadari bahwa larangan tsb sgt logis, sangat rasional dan demi kebaikan semua, sebagaimana mereka kemukakan kpd anak-anaknya spy mrk tidak merokok!.)
Saya maklum siapapun berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing, namun tak ada salahnya jika saya ingatkan kembali bahwa setiap manusia PASTI AKAN DITUNTUT DAN HARUS MEMIKUL TANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA PERBUATAN YANG DILAKUKANNYA OLEH TUHAN YME.
Mudah-mudahan Allah swt berkenan mengapuni dosa dan kesalahan kita semua. Amin.
Wassalamualaikum wr.wb.
Persis mas Ulil, surah Al-Kafirun justru memberikan kebebasan bagi manusia untuk menentukan pilihannya, ya mas.Ini menunjukkan bahwa Rab YME sungguh maha bijak tidak memberi perintah yang absoulut, walaupun menjanjikan jamian surga bagi umat yang bertaqwa kepadaNya. insya’allah.
Sami’na waato’na.. itu sudah lebih dari cukup utuk menghentikan keingnan memperdebatkan apa yang termaktub dalam Qur’an dan Hadist
Saya setuju bahwa untuk menjalankan perintah Tuhan hal yang terpenting adalah menggunakan akal. Untuk semua hal diperlukan penjelasan yang rasional, dan memang ada bagian tertentu seperti tata cara shalat yang menurut saya mengikuti adat kebiasaan. Hanya saja yang terpenting adalah bagaimana membangun komunikasi dengan Allah melalui kemampuan bermeditasi dengan cara shalat. Bermeditasi maksudnya mencapai konsentrasi penuh, sehingga kita dapat mengekspressikan suatu rasa penyerahan diri dan kedekatan dengan Tuhan kita. Kalau liberal dalam mengartikan perintah Tuhan maksudnya adalah secara rasional saya sangat setuju.
Rasionalitas memang lah hal yang kelewat penting bagi kita dalam memahami hidup, bahkan dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat ayat yang menyuruh kita untuk memakai akal (berfikir) ayat pertama pun menyuruh kita membaca (dalam artian mengakaji alam semesta) namun memang tidak semua hal dalam agama dapat di rasionalkan, saya meyakini bahwa akal manusia itu terbatas, dan batasan tiap orang berbeda-beda, tapi semakin kita keras berfikir batasan itu semakin jauh, setidaknya kita tahu batasan pemikiran kita dengan cara berfikir.
Alhamdulillah lambat laun mas ulil juga memberitahukan logika keislamannya. Tidak hanya menggugah berpikirnya generasi ‘jil’ muda dalam memahami Islam.
Namun saya igin bertanya: Apakah Mas Ulil dengan Perspektif Liberalnya ini bisa saya sebut sebagai Madzhab Ulil Absar, atau kalau tidak boleh demikian, saya sebut saja Ijma’ Ulama Liberal?.
Saya yang selalu mengikuti perkembangan JIL ini ingin bertanya tentang ‘talfiq’ (istilah ulama figh dalam bermadzhab), mereka melarang pada pengikutnya untuk talfiq, baik manhaji mapun qauli. Tetapi saya kok seringkali menemukan talfiq ini dalam kolom-kolom ulama JIL?. Saya pernah menggunakan statemen talfiq pada saat ikut pelatihan menciptakan interpreneur bagi pengelola usaha pesantren di Indonesia di Bogor. Saya bertanya pada pemateri dari Bank Syari’ah yang katanya lulusan Yaman. Tidak ada jawaban yang memuaskan kecuali ia meng-cap saya dari NU tradisionalis. Padahal saya pun, menurut saya pribadi, tak seburuk yang disangkakan. Mungkin sekarang inilah waktu yang tepat tuk bertanya. FROM .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Menurut saya sih, bebas saja orang mengungkapkan “IDE”. Kenapa saya katakan “IDE”? Karena itu merupakan hasil pemikiran seseorang.
Namun yang mungkin perlu di kaji ulang lagi oleh seseorang sebelum mengeluarkan “IDE” nya, hendaknya dia dengan matang memperhatikan segala sesuatunya dengan serba komprehensif dan bukan sebagian sesuatu yang akan di ijtihadkan. Karena itu juga merupakan cara pandang dan bukan kebenaran absolut (meminjam istilah seseorang yang penulis yang berijtihad didalam website ini).
Saya tidak akan mengutip banyak ayat alqur’an di komentar saya karena saya bukanlah ahli didalam penafsiran ayat-ayat alqur’an. Namun, cobalah tengok suatu kalimat dibawah ini (saya meminjam kalimat orang dulu mengenai motivasi dan/atau cara pandang).
Ada satu gelas yang didalamnya ada air yang memenuhi setengah dari gelas tsb.
Menariknya, ada yang menafsirkan:
1. Apakah air itu setengah penuh atau setengah kosong? Pilihan pada keduanya memiliki makna yang berbeda.
2. Namun kemudian timbul pertanyaan, kenapa mesti Air? Kenapa tidak Batu atau kapas atau lainnya? Pertanyaan dan pernyataan ini adalah suatu bentuk perluasan dari masalah yang terjadi yang mengakibatkan suatu permasalahan menjadi kabur dan semakin menjauhkan dari makna hakiki suatu pernyataan sebelumnya.
Dari kedua pertanyaan dan pernyataan diatas, pernyataan kedua yang lebih banyak didalam aliran islam liberal ini. Kenapa? Karena mereka melakukan pengeksplorasian suatu ijtihad yang melenceng jauh dari sumber yang akan dilakukan ijtihadnya.
Misalnya, kenapa shallat tidak bisa menggunakan bahasa non Arab selain bahasa Arab?
Kemungkinan (sekali lagi kemungkinan) mereka akan beragumentasi, lah…seandainya (sekali lagi seandainya) jika Nabi Muhammad SAW di lahirkan dan dibesarkan serta membesarkan Islam di India, maka Shallatnya pasti menggunakan bahasa India.
Padahal, segala sesuatu itu ada sebab dan akibat (walau tidak semua itu bisa dipahami oleh logika/akal).
Pernahkah kita terpikir bahwa Allah SWT menjadikan alam beserta isinya (termasuk apa-apa yang dilangit maupun di Bumi dan apa yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui) itu berhubungan satu sama lainnya? Dengan kata lain, tidak ada sesuatu penciptaan itu berdiri sendiri dan tidak berketergantungan satu sama lainnya (kecuali sang pencipta).
Nah, masalahnya kitalah yang menganggap bahwa “IDE” kita itu bersifat moderat dan tidak konservatif bahkan fundamental. Padahal, Ide kita itu adalah mentah dan jauh dari prinsip linearitas penciptaan itu sendiri.
Jika Penciptaan matahari tidak diikuti oleh penciptaan bulan (dan lain sebagainya), niscaya tidak akan ada malam yang pada akhirnya ketiadaan makhluk hidup (kalau belum mengerti hal ini, mungkin perlu belajar ilmu alam).
Jika Penciptaan Api tidak diikuti penciptaan air (dan lain sebagainya), niscaya kebakaran di dunia akan abadi selama waktu yang ditentukan (seandainya makhluk hidup tetap dapat hidup dalam kurun waktu tertentu).
Nah masih belum mengertikah? Singkatnya:
Kenapa Shallat menggunakan bahasa yang telah ditentukan (katakanlah Arab, saya cenderung mengatakan bahasa Alqur’an), karena itu adalah manifestasi dari kalimat Allah yang menyatakan bahwa:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr
(Al-Qur’an), dan kamilah yang akan menjaganya” QS.AL Hijr -(15):9
Kok bisa ya dengan Shallat Menjaganya? Lah…apakah kita nggak mengetahuinya bahwa didalam Shallat itu terdapat bacaan Alqur’an?
Pernahkah kita bayangkan kalau Allah begitu detailnya menjamin bahwa dia menjaga hingga semua celah kecil terjamin untuk terjaga?
Coba aja kita semua didalam berdo’a, Shallat dan bahkan membaca Al Qur’an dengan bahasa masing-masing….dampaknya adalah, bahasa aslinya akan mulai memudar….
Akibatnya? akan banyak pemalsuan-pemalsuan Al Qur’an di masa-masa yang akan datang yang diakibatkan ketidak pengetahuan akan bahasa aslinya. Sedangkan yang masih mengunakan bahasa aslinya saja masih ada yang berupaya memalsukan (dan inilah salah satu konteks dari penjagaan Allah SWT terhadap Al-Qur’an). Dan kasus ini terjadi pada kitab-kitab suci lainnya yang mengalami perubahan dikarenakan tiada panduan.
Penutup:
Kebanyakan diantara kita mengandalkan suatu nalar namun tidak memiliki komprehensif pemikiran dan melihat dari satu sudt pandang saja…apakah setengah terisi atau setengah kosong?
Saya setuju dengan pendapat pak Ulil,menjalankan ajara agama bukan sekedar menjalankan perintah Tuhan tapi juga harus dinalar dengan akal,karena tuhan pun telah menciptakan akal pada manusia untuk berpikir(menalar sesuatu) jika tidak digunakan percuma saja.Tapi untuk mayoritas masyarakat menjalankan agama sekedar perintah tuhan tanpa dinalar dulu.jadi akan terlihat seperti menjalankan agama berdasarkan kebiasaan** terdahulu(sekedar ikut- ikutan)
mas ulil, saya pengagum berat tulisan-tulisan anda, baik menyangkut substansi maupun gaya penulisan. boleh dong saya diajarin nulis kayak mas ulil…
Kalau dikatakan Islam itu agama(JALAN HIDUP) Akal..! saya setuju, dan itu benar.tetapi sejauh mana daya fikir manusia dapat memahami hukum-hukum (tuntunan) Allah “Yang tiada keraguan bagi orag yang berakal”. dan untuk membuktikan bahwa Hukum Allah itu maha benar, sudahkah kita mempelajari beberapa aspek dari sunnatullah yang ada di alam jagat raya ini.misalnya Ilmu matematika,biologi,Fisika,Kimia,psikologi dll. sehingga kita tidak salah dalam memahami hukum-hukum Allah yang maha plural Berkeadilan dan Rahmat bagi semesta alam.
SEBAGAI CONTOH:
tentang Hudut hukum potong tangan.sebenarnya hukum ini berlaku bagi yang mencuri bukan karena lapar(KORUPTOR),Dan Kalau Kita mau berfikir yang jernih,sebenarnya tidak akan ada orang yang mencuri karena lapar,kalau hukum Allah Diberlakukan,sebab Pemerintah Islam Menjamin hak hidup kaum duafa.dan kalau terjadipun HUDUD dibatalkan demi keadilan dan kemanusiaan.
Bung Irsad, mas Ulil kan sudah menerangkan tujuan mendirikan JIL. Saya yakin orang yang cerdas dalam membaca tulisan Mas Ulil tidak akan berburuk sangka ataupun gelisah hingga marah dan sakit hati. Paling-paling beranggapan itulah segelintir generasi muda Islam sekarang dengan pemikirannya. Sebaiknya kita mendoakan semoga JIL bisa semakin progresif dan semoga ada pemikiran dari JIL yang bisa memberikan masukan bagi perkembangan Islam di tanah air. Kalaupun ada kesalahan, kita doakan semoga mereka diampuni Allah SWT dan kita tidak mengulangi kesalahan yang mereka lakukan itu.
Mas Abdillah, coba jelaskan apa sih yang dikemukakan Abu Jahl di masa Rasulullah SAW. Tuliskan dong… jadi penasaran saya.
Menurut saya apa yang dikemukakan JIL mirip dengan awal-awal perkembangan peradaban Islam di masa lalu. Para ilmuwan Islam mulai mengadopsi cara-cara dari peradaban lain, menyeleksi, dan mengembangkan yang lebih maju.
Saudara Laskmana mohon jelaskan maksud ayat Surat Al Baqarah ayat 62: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Saudara ibn abdirrahman el-maidaniy, kalau Islam sudah sempurna, lalu mengapa ada berbagai macam Madzhab dan Sekte dalam Islam? Yang manakah yang tergolong salafush Shalih dan mana yang bukan?
Seluas apakah Negara Madinah di jaman Rasulullah SAW? Sama dengan luas masjid Nabawi sekarang ini. Berapa luasnya? 84 hektar. Sekarang banyak kampus di Indonesia yang luasnya sampai 400 hektar.
Saya baru saja membaca ayat ini. Untuk itu saya mohon maaf kalau pernah berkata-kata yang merendahkan saudara-saudara sekalian. Mari kita berdiskusi dengan kepala dingin dan kata-kata yang sopan.
Q.S. Al Hujurat ayat 49:
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Menurut ane pendapat kang ulil walau ada benarnya, namun harus di pertimbangkan juga,pemilahan teks-teks agama yang absolut dan relatif, teks-teks agama yang dapat masuk ranah rasional, atau yang tidak, dan ini tugas ulama, karena ane menyadari bahwa kebenaran absolut hanya milik Allah, bukan milik kaum liberal ataupun kaum fundamental, yang pasti ketika kebenaran diaktualisasikan dalam kehidupan didunia harus ada konsensus /kesepakatan ilmuwan atau ulama dalam menetapkan itu. Mungkinkah kebenaran dalam pemahaman keagamaan bisa diwujudkan seperti kebenaran dalam ilmu pasti seperti matematika, kimia, biologi, dsb??????
Komentar Masuk (115)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)