Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.
Komentar
Mas Ulil…
Selamat buat anda. Maju terus dengan Jaringan Islam Liberal yang sampeyan bentuk!!!
Jangan takut, meski seolah-olah banyak yang kurang sepaham bahkan mencaci maki anda..
Banyaknya orang yg kurang sepaham dengan anda bukan berarti bahwa mayoritas di negara kita sudah dikuasai para fundamentalis (para religious illiteracy—kata kawan anda), tetapi umumnya orang-orang yg lebih demokratis, liberal, non-destruktif, adalah orang-orang yg berasal dari kelas menengah kota..
Saya pernah baca, secara psiko-sosial, orang2 kelas menengah perkotaan adalah kelompok orang2 yg tidak responsif, lebih cuek dalam menyalurkan aspirasi ideologisnya, dalam tataran tertentu apolitis…dalam kata lain jarang mereka beraksi (secara fisik) ke jalan sehingga tidak di liput oleh media
Sedangkan para fundamentalis justru bersifat kebalikannya..sehingga (melalui media coverage) seolah-olah golongan fundamentalis ini mewakili sikap mayoritas orang2 kita…
Pikiran itu keluar dan menjadi takdir sejarah, kemudian dia berusaha kembali tapi tidak yakin dihati bisakah menghapus apa yang telah terjadi.begitu halusnya sehingga apapun yang tertuang itu bisa berakibat bagai ledakan berantai dari atom2 yang terus terjadi dan meregenerasi.dia berusaha kembali..anak panah itu telah terlepas.in your deep think it will never back…,semakin masuk semakin kosong maukah engkau cepat kembali?
Beberapa pemikiran liberal saya anggap baik untuk diimplementasikan, tetapi beberapa yang lain salah. Saya kira kita juga harus sadar bahwa tidak semua prinsip kaum konservatif salah, dan tidak semua produk liberal benar.
Kalau orang liberal menganggap sebaliknya, maka sebenarnya mereka sudah menjadi konservatif dalam ke-liberal-an mereka
Bung Ahmed Kareem, liberal atau konservatif tidak menjadi masalah, dua2nya mempunyai kelemahan dan kelebihan, yang penting mekanisme dialektika tetap terjaga dengan santun dan lancar. Bukankah peradaban tercipta akibat dialektika tersebut. Menghambat pemikiran sama dengan menghambat alam.
JIL…???
jangan sekali-kali ngaku2 sebagai muslim ya…
jelas2, ajaran kalian tu sama dengan apa yang digembar-gemborkan oleh Abu Jahl di masa Rasulullah…
camkan itu,,,
Bismillahirrahmanirrahim
Jalan yang kita tuju tentu niatnya jalan kebenaran.
Kata lama mengatakan sesat di tengah jalan balik ke pangkal.
Apa yang dibawa JIL tidak ada yang istimewa. Ini adalah pengulangan sejarah saja atas apa yang sudah ada sejak wafatnya Rasul Allah Muhammad SAW.
Mu’tazillah dan qadariyah jauh terlebih dulu telah memulainya dalam perdebatan dan pemikiran.
Bedanya, JIL sangat terkagum-kagum dengan orientalis karena banyak alasan tentunya.
maaf saudara JIL dan Cs,,,Menafsirkan Al’Quran itu ada ilmunya lho,,saya sering membaca tulisan saudara JIL cs dan kesannya kok memang nyeleneh dan agak konyol dan jadi sesat,,sebenarnya saudara JIL cs itu belajar tafsir dimana ya,,?seorang muslim memang diwajibkan menuntut ilmu supaya bisa berpikir dan berteknologi,,supaya dia bisa membaca dan mempelajari ayat-ayat Allah,alam ciptaan Allah, sehingga mempertebal Iman,,Saya pernah membaca tulisan salah seorang anggota bahkan pentolan JIL yang menulis bahwa ada keraguannya pada keaslian Qur’an yang sekarang”,,dari sini saya bisa menilai bahwa dia tolol dan beriman Tipis karna salah satu tiang Iman dia robohkan,,,apa dia tak baca Al-Hijr ayat 9,,, ayat Qur’an itu bukan perkataan manusia,,,Allah yang jaga,,,bisa dibuktikan,,sering musuh islam mencoba merubah ayat Qur’an,, tapi ketahuan,,,adalagi yang lucu,saudara JIL cs menafsirkan semua agama sama,,Tapi Qur’an jawab tidak,,jadi sebenarnya bagi orang-orang yang memang benar Islamnya pasti anti JIL,,,PASTI,,,orang-orang yang memang IHKLAS menerima islam dan syariatnya pasti anti JIL,,,jadi maaf kalau saya usulkan Saudara JIL cs belajar islam lagi deh,,,tapi jangan keAmerika,Inggris atau negara barat yang memang anti islam,,salah tempat tu Salam
Mengkritik cara berislamnya kelompok konservatif dan berupaya merasionalkan Islam. Itu dua tujuan utama didirikannya kelompok “generasi” atau JIL, seperti penegasan Bang Ulil.
Untuk tujuan pertama, wajar satu komunitas mengkritik kelompok di luar komunitasnya. Seperti halnya kelompok Liberalis, kalangan konservatif pasti “blengnger” menyaksikan sepakterjang “lawan” masing-masing. Sedangkan tujuan kedua didirikannya JIL, ini dia yang ujung-ujungnya perlu dipertanyakan. Jika saat ini JIL ingin merasionalkan Islam, tunggu saja selanjutnya, dengan akal, mereka juga bisa mengakalkan Allah SWT.
yang harus kaum JIL tahu…!!!
bahwa ilmu dan kebenaran itu adalah apa yang disampaikan ALLAH dan rasulNya, Muhammad -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam-...
dalam arti, semua ilmu dan kebenaran hanya bersandarkan al-Qur’an dan sunnah rasuluLLAH -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam-...
yang lebih mengetahui dan memahami keduanya adalah para sahabat beliau yang langsung menerima ajaran tersebut dari rasuluLLAH -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam- dan orang-orang yang mengikuti mereka -rodhiyaLLAHu ‘anhum- hingga akhir zaman…
apa yang disampaikan rasuluLLAH -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam- semua sudah sempurna…
tak ada yang ditambah-tambah,,,
tak ada yang dibuat-buat,,, dan…
tak ada yang diperbaharui…
semuanya sudah sempurna dan melengkapi seluruh ajaran-ajaran para nabi sebelumnya…
maka jangan sekali-kali lari dari ajaran tersebut…
apalagi membuat sesuatu yang baru, yang jelas-jelas tidak mendasar dari al-Qur’an dan sunnah rasuluLLAH -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam-
kembalilah kepada jalan yang benar…
yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah rasuluLLAH -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam- dengan pemahaman para as-salaf as-shalih…
kepada koordinator JIL…!!!
yang mengaku bahagia dengan pemahamannya…
apa yang disampaikan adalah sesuatu yang tidak mendasar…
apa ia adalah seorang nabi atau rasul yang dengan sesuka hatinya untuk mengembangkan pikiran seperti itu…???
dari mana ia dapat pikiran seperti itu???
adalah dari negara-negara barat yang kafir dan tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya dalam islam…
ingat kebenaran adalah apa yang disampaikan ALLAH dan rasuluLLAH -shollaLLAHu ‘alaihi wa sallam-
Ada satu hal yang saya kurang sependapat dengan Mas Ulil, yaitu tentang kebahagiaan. Menurut saya, kebahagiaan itu tidaklah dengan memberikan keluasan kepada fakultas mental kita, seperti yang ditulis Mas Ulil. Memang jika seluruh fakultas mental kita tidak bebas, bias menimbulkan ketidakbahagian dan depresi. Tapi, sebaliknya, ketika fakultas mental kita juga dibiarkan bebas bekerja tanpa kendali, justru yang terjadi adalah keresahan dan kegelisahan yang tak berujung, bukannya kebahagiaan. Sebagaimana yang diajarkan para sufi, kebahagiaan itu didapat ketika fikiran dan hawa nafsu dikendalikan. Dikendalikan tentu berbeda dengan dibebaskan. Sikap kritis yang ekstrem menurut saya, justru hanya menuai frustrasi, kegelisahan, dan keresahan yang tak bertepi.
Spritualitas yang mendalam justru didapatkan ketika fikiran dan hawa nafsu bisa dikendalikan saat berhadapan dengan kehendak dan perintah Tuhan. Bagaimana mungkin spritualitas yang mendalam bisa diraih, jika kita masih menyimpan “ketidakpercayaan” terhadap sebagian atau semua perintah dan firman Tuhan? Bagaimana mungkin kita bisa mencintai-Nya dengan sepenuh jiwa, jika kita masih menyimpan—meski secuil—ketidaksetiaan kepada-Nya.
Kesetiaan kepada Tuhan, menurut saya, tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah saja. Tapi, juga pada hal-hal lain, termasuk sosial kemasyarakatan, yang memang telah diatur oleh-Nya.
Wallahu a’lam.
saya percaya tentang kualitas kehidupan dan kebudayaan suatu negara merupakan manifestasi dari pengaruh keagamaan (atau nilai-nilai etis moral bagi sebagian negara/orang yang tidak beragama)...idiologi indonesia adalah pancasila dalam seragam mayoritas muslim…
awalnya saya sepakat dengan pancasila dengan seragam mayoritas, namun akhirnya sadar sangat tidak efektif dan efisien untuk negara seluas dan dipisahkan lautan ini…
hasilnya selama 63 tahun kualitas kehidupan dan kebudayaan indonesia menempati grup/peringkat buncit…
berhubung seragam tersebut secara kebiasaan telah menggurita hingga pancasila terlihat samar-samar, sebaiknya kesepakatan di tahun 1928 kita tinjau ulang…
ckckckckck mas abu abdillah, kayanya pemikiran ente nih sempit banget yah cuman berani mengumpat tetapi tidak bisa membalas alasan logis dibalik umpatannya, bener2 tipikal…..........
TERNYATA PENTOLAN JIL SENDIRI BERFIKIR KONSERVATIF!
Terus terang saya tidak membaca keseluruhan artikel ini. Hanya sampai pertengahan saja karena sudah cukup banyak yang mesti ditanggapi..
Ulil mengecam “islam konservatif” (istilah dikotomis kaum JIL yang sengaja saya gunakan juga) karena hanya memaknai suatu perintah dalam bentuk apa adanya, tanpa mengkaji konteks dan sebagainya. Lucunya pada saat berargumen tentang keabsahan shalat dengan bahasa selain bahasa arab, beliau ini mengatakan bahwa shalat itu artinya do’a, sehingga boleh dilakukan dengan bahasa yang kita pahamai. BUkankah ini pendapat yang konyol dan sangat “konservatif”?. Shalat memang secara BAHASA dapat diartikan do’a, tetapi karena sudah ada DALIL yang menyebabkan konteks shalat kemudian berbeda dengan do’a, tidak mungkin kita secara mentah-mentah menyamaratakan semua aspek shalat dengan do’a.. Ke mana kah akal anda Ulil Abshar?. Tampaknya Anda lebih konservatif dari yang saya bayangkan.!!
Selanjutnya Ulil secara mentah kembali serampangan (atau istilah JIL-nya :konservatif) menafsirkan Al-Qur’an (QS 26:74) : qalu wajadna aba’ana kazalika yaf’alun, yang terjemahan bebasnya “kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami melakukannya”. Dalam membahas ayat ini, Ulil langsung menggunakan kaidah DULU/LAMA dan SEKARANG/BARU. Dari penjelasa beliau, saya menangkap bahwa menurut beliau, ayat tersebut mengecam perbuatan yang lama dan telah dilakukan dan memuji orang yang selalu menerima perbuatan yang baru.
Padahal seyogianya ayat tersebut menekankah kepada nilai perbuatan apakah sesuai dengan PERINTAH atau tidak!!!. Terlepas dari perbuatan tersebut telah dilakukan atau belum oleh sekelompok lorang. Dengan kata lain, jika satu perbuatan dilakukan tanpa adanya dalil, memang harus dikecam (inilah maksud ayat tersebut) walaupun telah menjadi kebiasaan. Sebaliknya perbuatan yang relative baru (karena bisa saja perintah tentang perbuatan tsb baruu kita dengar ) dan dalilnya sudah jelas ada dan shahih, kita harus mengikutinya dengan berpegang kepada dalilnya.
Di sinilah letak pamikiran konservatif Ulil. Dia menyamaratakan bahwa sesuatu yang baru (apalagi yang berasal dari kaum liberal) harus diterima walaupun bertentangan dengan dalil, sebaliknya sesuatu yang sudah dikerjakan walaupun sudah jelas dalilnya harus ditinggalkan (apalagi yang bertentangan dengan pendapat mereka). Substansi yang sebenarnya dalam ayat tersebut nampaknya (saya belum 100 % yakin karena masih pendapat pribadi, gitu khan kaidahnya Pak Ulil?) kita harus berani bertentangan dengan fakta walaupun fakta tersebut dianut oleh sebagian besar manusia termasuk bapak2 kita. Bukan selalu mengalah di depan fakta!!
Dan yang palin aneh adalah JIL adalah kelompok yang paling tidak bisa menerima pendapatnya ditentang. MUI pun dihujat karena bertentangan dengan pendapat mereka. seharusnya jika anda rela berdampingan dengan kaum gay, Ahmadiyah, non muslim, kenapa anda nampaknya tidak rela berdampingan dengan “kaum konservatif”?. bukankah perbedaan pendapat itu biasa menurut Anda?
Saya sependapat dengan memahami praktek keagamaan melalui ilmu/akal. Menurut saya untuk ibadah shalat, sensitifitas umat sangat tinggi. Praktek-praktek yang berhubungan dengan ibadah shalat, menurut saya jangan lagi dirasionalisasi. Shalat dengan bahasa Arab, menurut saya sama artinya seperti orang membaca qur’an. Bagaimana jadinya kalau membaca qur’an kemudian di Indonesiakan? seperti deklamasi jadinya. Belum lagi untuk menjaga “esensi” dari wahyu Tuhan sendiri yg memang memilih bahasa Arab sebagai medianya. Mengapa Tuhan memilih bahasa Arab? Mengapa Tuhan memilih Nabi terakhir dari bangsa Arab? Bukankah itu juga tidak bisa dirasionalisasi?
kita mungkin dibagi dalam kelompok :
>>tahu yang benar tapi krn ingin dunia jadi pembohong berat,
>>tidak tahu yang benar tapi bilang tahu
yang benar hanya menduga atau ikut-ikutan sekitar tapi mengatakan yang dibawanya benar (bisa jadi yang dibawanya memang benar ato bisa saja salah krn cuma dugaan dan ikut-ikutan), (penjudi)
>>tidak tahu yang benar dan bilang tak tak tahu, atau menduga namun bilang hanya dugaan (orang jujur),
>>tahu yang benar dan mengatakan yang benar (orang jujur & berilmu)
bisa lebih klo dibagi-bagi lagi
sejelek-jelek orang adalah pembohong serta curang dan sebaik-baik orang bisa salah omong, kenapa kita mudah mengiyakan setiap omongan orang meski akhirnya terbukti nantinya kebenarannya klo sekarang KITA tak benar benar NGERTI.
orang baik mendidik orang lain agar tak mudah mengiyakan semua perkataan termasuk perkataannya bahkan suruh membenarkan bila omongan dirinya salah (dan terus belajar).
orang jelek minta diyakan dan diamini meski orang gak ngerti maksudnya.
>>beda jelas orang yang amanah ama orang yang ingin diamanahi.
>>beda jelas orang yang ingin mendidik dan orang yang ingin diyakan dan diamini saja.
>>beda jelas orang yang belajar dan orang yang mengiyakan saja.
beeedaaaaaaaaa baaaaangeettttt (kepanjangan ya)
kebenaran hanya milik tuhan, sedang kebenaran pada kita adalah kebenaran tuhan yang kita tahu dan mengerti saja (masih banyak yang kita tak tahu) yang bisa jadi diketahui orang lain dan belum menjadi milik kita
aku gak berharap banyak pada mas ulil yang mungkin kuanggap tak mengerti bahwa banyak orang tak punya pilihan dialam yang katanya bebas memilih ini.
klo philosopi nya mas ulil mungkin banyak baca buku dari barat bacaan berat-berat.
ini pilosopi dari orang biasa aja di jawa yang seperti lelucon yang luuucuuu banget.
di kei(diwenehi) aku arep, ra dikei(diwenehi) aku ngarep-arep.
englishnya mungkin gini (klo gak salah ya, gak bisa inggris sih) we have no choice, stupid brother.
bener gak ya. wes aku anggap bener aja ya (tapi mungkin salah lo).
1. Persepsi “kacamata kuda” anda dan teman2 tentang Islam sudah kuno bung! sudah usang! Pandangan yang menyamakan kekerasan dan radikalisme karena “ulah” keberagamaan jelas keliru jika anda dan teman2 memahami betul apa arti dinamika sosial. Baca lagi buku sosiologi untuk pemula. jangan bisanya cuma jiplak pemikiran orientalis dong…?!
2. Dalam konteks pemikiran, Islam perlu dikontekstualisasikan. Tapi tidak untuk hal yang sudah jelas lagi pasti! (qath’i wurud, dan qath’i dilalah). anda dan teman2 sudah melampaui itu…ga percaya? coba baca lagi tulisan2 anda, jangan2 ga ngerti tulisan sendiri?! Hehehe….
3. Sependek pengetahuan saya, sepeninggal Rasulullah, belum ada satupun negara di galaksi ini yang telah mempraktekkan sistem pemerintahan cara Rasul di Madinah. Makanya, ga lucu dong kalo belum2 sudah phobia?! Kasi kesempatan lah, siapa tau berhasil…
4. Sepertinya anda dan teman2 tidak betul2 memahami asbabun nuzul ayat al-qur’an. Al-Qur’an tidak pernah dibentuk oleh kondisi sosial, tapi justru menjawab realitas sosial. Dari situ terbentuk kontruksi sosial. coba deh baca lagi pelan-pelan ulumul Qur’annya.
5. JIL memang tidak mengungkit-ungkit masalah ibadah, tapi menghancurkan ibadah. setidaknya itu menurut pandangan sepintas saya, mg aja salah…
Saya kasih tamsil shalat untuk anda dan kawan2, moga2 cepat sadar: Anda kan katanya kuliah lagi di luar negeri, nah trus nanti kalo bikin tesis kira2 boleh pilih pake bahasa inggris ato bahasa jombang? dengan cara pandang liberalis, saya yakin anda (nanti pasti diikuti teman2 anda) menulis tesis dengan bahasa jombang di Amerika…..good luck!
6. Perbedaan anda dan umat Islam hanya interpretasi dan perspektif pemahaman??? Helloo….you dimana n qt dimana…..?!! do not SKSD..bro, sok kenal sok dekat…!
7. Seburuk-buruk binatang adalah manusia yang tidak memakai akal mereka. tapi ingat! seburuk-buruk manusia adalah yang berakal tapi tetap maksiat. Bermaksiat bukan cuma pergi ke tmpat bordil bung, tapi yang berani menantang Allah dan Rasul, dan yang selalu melawan kebenaran mutlak (agama). Dlm al-Qur’an, mereka lebih jelek dari binatang (the most-ugliest animal). Baca yang lengkap al-Qur’an anda!
8. Jadi, kalo ada wahyu (agama) setelah Islam, mgkn saya akan bersikap kritis mengikuti nabi Ibrahim,yang meragukan agama nenek moyang, tapi sayang gak ada…so, utk apa ragu?
9. Islam gak cuma di Saudi bung. So, jangan dipukul rata. Perempuan boleh memimpin koq, meski dalam batas dan kapasitas tertentu. karena itu yang digariskan al-Qur’an. Jangan melebih-lebihkan memaknai ayat, seakan-akan Islam (al-qur’an) tidak adil. nanti bisa2 anda akan protes lagi, kenapa Tuhan koq ‘dhamir’ nya laki-laki, dan bukan perempuan?!
10. Islam pinjam hukum potong tangan? Darimana ya? hehehe, jangan ngaco deh! hukum potong tangan itu final, meski ada pula aturan mainnya, dari yang boros sampe cara terbatas. Utk kondisi skarang pas banget diterapkan, biar kapok para koruptor…
11. Pandangan tentang ibadah bersifat arbitrer atau pilihan suka-suka, membuktikan bahwa
anda ternyata belum nyampe “ngaji” agamanya. Padahal anda punya potensi itu. coba seandainya cara berpikir filosofis yang anda banggakan itu dipakai untuk memahami arti sejumlah ibadah, pasti pemahaman anda ttg ibadah tidak sekerdil itu. Baca deh, buku tentang rahasia shalat, rahasia wudhu, rahasia ruku, sujud dll, anda akan temukan makna terdalam dibalik perintah Tuhan.
12. Sentuh agama dengan hati bung, bukan dengan nalar semata. Anda sebetulnya bukan tidak menggunakan nalar, tapi cuma salah menempatkannya; pada persoalan-persoalan yang jelas dan pasti, bukan yang belum pasti, terus dipasti-pastiin…
14. Kalo begini, saya mending jadi muslim aja deh, gak pake embel2……
ada satu perbedaan dari 2 gol yang saya pahami.
Gol a: ketika ada perintah tuhan dia akan berpikir apa fungsinya, apa untungnya bagi kehidupan dll.
Gol b: ketika diperintah Tuhan dia langsung mengerjakannya dengan pemikiran bahwa Tuhan itu Ar-rahman dan Ar-rahim sehingga apapun perintahnya pasti berujung kebaikan baik di dunia dan di akhirat.
siapa yang mau masuk gol a!!??
Dengan kerendahan hati saya justru ingin mengkritisi tentang berhentinya sikap kritis Mas Ulil bila berhadapan dengan “Ibadah Murni “ (Sholat, Puasa, Haji dan Berdoa) yang diyakini merupakan unsur pokok dan utama didalam agama kita dan agama lainnya didunia. Menurut saya justru dititik inilah Mas Ulil dan mungkin teman2 di JIL berpotensi untuk mengalami stagnasi dari lompatan spiritual yang sedang berjalan, mengapa ? karena banyak pertanyaan ditataran ini yang bagi seseorang yang sudah menemukan jawabannya akan merubah paradigma dan persepsi tentang apa sebenarnya kehendak Tuhan dan bagaimana kita dapat memenuhi kehendaknya sebagai upaya kita mencapai tingkat kesempurnaan bertemu dengan Nya.
Pertanyaannya adalah apakah ibadah inti beserta ritualnya merupakan bentuk ibadah yang paling tinggi nilainya dihadapan Tuhan ? benarkah demikian? apakah memang harus dibedakan antara beribadah kepada Tuhan (vertikal) dengan beribadah kepada sesama manusia dan alam semesta ? (horizontal),
Mana yang lebih dicintai Tuhan seseorang yang cenderung dan menitik beratkan ibadahnya secara vertikal dengan menjalankan syariat agama yang dianutnya namun kurang berperan didalam kegiatan kemanusiaan atau seseorang yang selalu beribadah di jalan kemanusiaan tanpa terlalu terikat dengan aturan dan syariat agama tetapi keberadaan dirinya menjadi berkah bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya ?
Apakah Tuhan kurang berkenan apabila nurani kita lebih meyakini untuk melayani dan membantu menyelesaikan masalah kemanusiaan sekecil apapun peran kita, sebagai bentuk ibadah kita sehari2 ? ketimbang melakukan ibadah vertikal yang privat yang tidak berdampak kepada penyelesaiaan masalah kemanusiaan ? dalam konteks ini contoh paling klasik di sekitar kita adalah pergi Haji, sedangkan kemiskinan ada di depan, belakang dan samping rumah kita. Apakah Tuhan se egois itu ?
Kalau kita berani jujur, adakah bentuk ibadah yang nilainya lebih mulia daripada statement berikut ini : “ Bekerjalah sebaik2nya sesuai dengan kodratmu tanpa memikirkan hasilnya sebagai persembahan kepada Tuhan ” ( kodrat disini artinya profesi dan status kita saat ini ) apakah sebagai tukang sapu, tukang batu, direktur atau presiden sekalipun ) statement ini menurut sejarahnya timbul 3000 SM, statement ini sangat mencerahkan. Bekerja tanpa pamrih, berguna dan bermanfaat bagi orang lain, membuat orang lain bahagia, tanpa memikirkan apa yang akan diperoleh, lalu bagaimana hubungan nya dengan Tuhan ? Disinilah persepsi dan paradigma tentang kebenaran bagi saya dan kawan2 yang sekeyakinan berubah total, karena ditataran ini kita tidak lagi membedakan hubungan ibadah vertikal dan horizontal.
Tuhan ada dimana2 , ada diseluruh alam semesta, tidak ada dimensi apapun yang dapat memisahkan antara Tuhan dengan mahluk ciptaannya, Tuhan ada di setiap insan manusia, disetiap mahluk yang hidup dan benda mati, dan wahyu Tuhan tidak mungkin berhenti di satu jaman saja, wahyu dan mukjizat Tuhan turun setiap hari kehadapan setiap makluknya, kehadapan kita sebagai rasa kasihNya, apakah kita sedemikian buta dan tulinya?
Mana yang lebih didahulukan, melakukan perintah Tuhan dan segala ritual dan syariatnya atau mengedepankan ibadah kemanusiaan? Pertanyaan ini tentu sulit dijawab bagi kawan2 yang masih memisahkan antara hubungan ibadah vertikal dan horizontal, namun tidak sulit bagi teman2 yang menyakini bahwa dua hal tersebut sama adanya. Karena nilai kemanusiaan itu sendiri adalah manivestasi dari keberadaanNya.
Bagaimana menurut mas Ulil dan kawan2 di JIL, apakah masih meyakini penggolongan adanya ibadah murni dan ibadah inti ? Apakah memang tetap menyakini adanya perbedaan ibadah vertikal dan horizontal ? dan apakah tetap ingin berhenti untuk mengkritisi ditataran ini ? saya berharap tidak, karena saya yakin semangat seeking the truth yang ada di dalam nurani Mas Ulil dan kawan2 JIL tidak pernah padam.
Wahyu Tuhan turun setiap hari sebagai rasa KasihNya yang tak terbatas kepada kita semua, turun melalui hati nurani setiap insanNya, melalui orang2 yang tercerahkan apapun label agamanya, melalui pengemis di pinggir jalan, melalui alam semesta yang setiap detik sedang bertasbih kepadaNya dan saya yakin juga melalui buah pemikiran, pemahaman dan interpretasi yang sedang anda dan teman2 lakukan di JIL Semoga JIL menjadi salah satu sumber pencerahan bagi kita semua.
Salam untuk kawan2 JIL lainnya
Mas Ulil,
Tulisan anda membantu saya memahami cara pandang saya mengenai komunitas JIL.
Perspektif anda mengenai “Islam” dalam hal ini interpretasi mengenai Al Qur’an & As Sunnah anda lakukan secara TERBUKA sehingga semua orang bisa , mengkritik, mengecam bahkan mengkafirkan anda & teman2 anda.
Bagi saya itu masih lebih baik dari pengalaman saya menjadi aktifis gerakan Islam bawah tanah yang ekslusif dan tertutup selama hampir 7 tahun, dimana penafsiran atas “ISLAM” hanya boleh dilakukan oleh Imam atas nama “Jama’ah”, tdk bisa dinilai atau dikritik secara terbuka oleh masyarakat Islam secara umum.
Sehingga penafsiran apapun harus kami terima sebagai bentuk kepatuhan pada ALLAH S.W.T dengan patuh pada IMAM JAMA’AH dan kalau kita tidak setuju atau malah menolak kita dibuat merasa bersalah atas pemahaman saya yang berbeda.
Dari pengalaman saya penafsiran mereka bahkan lebih radikal & menyentuh hal2 yang sudah qati/pasti dalam masalah ibadah maghdah/ritual, seperti wajibnya sholat 5 waktu, puasa dan yg sejenisnya.
Saya rasa masih banyak kelompok2 seperti itu diluar sana, MEREKA SEBETULNYA LEBIH BERBAHAYA DARI PADA MAS ULIL DAN JIL LAKUKAN.
KERUSAKKAN PEMIKIRAN SAYA LEBIH DESTRUKTIF DAN MENAHUN SEPERTI KANKER, JADI bagi saya adanya JIL ini memulihkan kekritisan dan akal sehat saya thdp keyakinan yg saya anut, WALAUPUN SAYA JUGA TDK SELALU SEPAKAT TERHADAP PERSPEKTIF ATAU WACANA YANG DIUSUNG JIL.
Tetapi minimal utk saya mengembalikan akal sehat saya dan ghirah Islam saya menjadi lebih proporsional (menurut pemikiran subyektif saya).
Lanjutkan terus Perspektif versi JIL, seburuk-buruknya pemikiran JIL dilakukan secara terbuka dgn begitu terbuka untuk dikritik atau ditelaah oleh pihak lain.
Bukan mendasarkan kepatuhan buta pada seseorang (IMAM atau apalah!) semata tanpa boleh membantah, atau kita akan diteror dgn ayat2 atau hadist mengenai jama’ah, kepatuhan pada Imam tanpa argumentasi yang rasional bahkan kadang sangat irrasional.
Selamat kepada JIL, karena meramaikan khasanah perspektif terhadap Islam dan dilakukan secara terbuka, transparan dan tdk sembunyi2.
Karena masa dakwah 13 tahun periode Mekah secara sembunyi2 sudah berakhir beberapa abad yg lalu.
Saat ini kita menghadapi dunia abad 21 yang sudah berubah dan bagaimana Ummat ini menyikapinya? Apakah masih tetap menggunakan pola pikir abad ke 7?
Komentar Masuk (115)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)