Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.
Komentar
Assalamu ‘alaikum
Membaca tulisan mas Ulil, saya jadi bertanya-tanya, kemana sebenarnya arah yang dituju. Apakah mencari kebahagiaan dengan lebih mengedepankan akal daripada hukum (seperti pendapat anda bahwa hukum hudud sudah tidak sesuai lagi dengan jaman) jauh lebih utama daripada mengikuti Al-qur’an, As-sunnah dan buah pemikiran para ulama-ulama ‘kuno’ yang zuhud?
Saudaraku…Setahu saya Alqur’an dan As-sunnah pernah mengantarkan manusia kepada tingkat moral terbaik, tatanan politik yang hebat, persaudaraan yang luar biasa, toleransi yang sangat tinggi, dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang kharismatik.
Saudaraku,.. saya kadang bertanya-tanya mengapa Al-quran surah al-baqarah justru diawali dengan statemen yang sangat menggetarkan hati.. Inilah kitab yang tiada keraguan di dalamnya.. dan mengapa saat ini begitu banyak orang yang justru sangat ragu-ragu dengan kandungan isinya??? Allah, yang Maha pencipta dan pemelihara tentulah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba (ciptaan)Nya.
Menurut pendapat saya bahwa ayat ini menekankan perlunya membuang sikap ragu-ragu (apalagi mengabaikan/ menyalahkan) terhadap kebenaran Al-qur’an sebelum lebih jauh mendalaminya.
Saudaraku…, ketahuilah bahwa antara kita dengan Tuhan ada Iblis yang selalu menghalang-halangi. Iblis yang senantiasa mengepung kita dari kanan, kiri, depan, dan belakang kita. Iblis yang akan berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi kita dari kebenaran dan membelokkan perspektif kita akan kebenaran itu (sebagaimana beloknya perspektif mereka akan ketaatan). Iblis yang telah mendeklarasikan di depan Allah bahwa dia akan mencari sebanyak-banyaknya ‘teman’ untuk menemaninya di Neraka (QS7:16~18)—dibaca yach—
Saudaraku…. hidup di dunia ini hanyalah sekali dan sangat pendek, ketahuilah hidup yang kekal sedang menanti kedatangan kita. Janganlah kita di dunia ini menjadi orang yang berhasil di tipu oleh Syaitan itu, seperti yang telah dimaklumatkan oleh Allah zat yang Maha Tahu seperti dalam QS7-27 dan QS 7 30. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah-langkah kita dan menjauhkan kita dari bujuk rayu syaitan Laknatullah. Tidak ada jalan terbaik untuk memahami Al-qur’an kecuali dengan Al-qur’an itu sendiri dan mengikuti alur pemikiran (penjelasan) dari orang yang telah dipercayakan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya lewat mulutnya yaitu Rasulullah.
saya sudah membaca artikel yang ditulis oleh mas Ulil. sejak saya smu sampai duduk di bangku kuliah, selalu ada doktrin bahwa JIL aliran sesat. tetapi pasti tidak adil jika saya hanya mencari dari satu sumber yang menentang. krn itu saya ingin bertanya :
1. Apakah menurut Jil, gerakan2 di dalam shalat itu tidak penting?
2. Apakah Ayat-ayat suci Al-Quran ada yang harus di Up-to date?
3. hadist-hadist yang berumur ribuan tahun juga ada yang sudah tidak sesuai dengan zaman?
4. apa tujuan dan visi misi Jil untuk Islam?
5. menurut Jil, bagaimanakah wajah Islam yang sesungguhnya? seperti khalifah Umar Bin Khattab Yang tegas, dan tidak takut akan musuh-musuh ALLAH, seperti KH. Abdullah Gymnastiar yang berdakwah dengan kelembutan dan kemurnian hati, atau kedua-duanya, seperti yang dimiliki O/Rasulullah?
6. jadi, bagaimanakah seharusnya Islam didakkwahkan pada zaman sekarang?
itu saja pertanyaan dari saya, trim’s!
MENJADI MUSLIM dengan PERSEPSI LIBERAL, menciptakan AGAMA ALLAH era globalisasi:
Al A’raaf (7) ayat 52,53: Dengan datangnya Allah menurunkan penggenapan Hari Takwil Kebenaran Kitab pada awal millennium ke-3 masehi yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan oleh manusia selama 1.400 tahun lebih setelah nabi Muhammad saw. wafat sesusai dengan pesan: Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, An Nashr (110) ayat 1,2,3, bahwa Allah akan menyempurnakan dari agama disisi Allah adalah Islam kaffah sejak dahulu Adam menjadi Agama Allah dengan manusia wajib menciptakan syariat kiamat menurut Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18, untuk kepentingan globalisasi agama sesuai Al Isro (17) ayat 104, Al Kahfi (18) ayat 99, Al Qariah (101) ayat 4, menciptakan perdamaian Hudaibiyah dengan Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Saya sangat setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh Bpk Ulil,tentang Ibadah.saya akan menggunakan istilah ibadah umum dan ibadah khusus (ibadah murni menurut ulil)betul menurut ulil kita harus menafsirkan Al qur’an dan hadis disesuaikan dengan jaman karena agama islam untuk semua umat sampai ahir jaman dan Al qur’an selalu up to date,jadi menurut saya mengenai Al qur’an dan hadis yang di tafsir oleh Ulama terdahulu itu sesuai dengan jamannya dan tidak lagi relevan untuk untuk saat ini.mengenai ibadah saya akan menguntip sebuah hadis Nabi :jika aku berkata tentang ibadah(khusus) ikuti saja karena sesungguhnya itu wahyu ALLAH tetapi jika aku berkata tentang ibadah(umum)maka itu urusan mu.
jadi yang dimaksud dalam hadis ini yaitu yang khusus itu seperti puasa,sholat,termasuk zikir. yang umum itu contohnya sikat gigi pakai odol/pasta tidak relevan lagi kita menggunakan siwak.jadi ibadah khusus itu tidak perlu diperdebatkan. saya setuju dengan pendapat ulil tentang khotbah jum’at itu tidak perlu dalam bahasa arab tetapi kalau dalam bacaan Sholat itu harus menggunakan bahasa arab karena saya berpendapat salah satu rukun sholat itu adalah tertib. Apa jadinya kalau kita berjama’ah dalam sholat setiap orang menggunakan bahasanya masing-masing? itu alasan saya mengapa sholat harus menggunakan bahasa arab.
Tetapi dalam hal ibadah umum saya sependapat dengan ulil bahwa peradaban itu ya setiap saat berubah disesuaikan dengan jamannya.sebenarnya yang perlu disayangkan adalah para ulama yang takliq buta yang takut menggukan akalnya untuk menafsirkan sebuah hadis atau Al qur’an, hanya berpedoman dengan guru/ulamanya sehingga ada hal hal yang tidak lagi sesuai dengan keadaan saat ini.yang lebih para ulama saat ini tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain(seperti kuda pakai kaca mata)semoga banyak para ulama dapat mengikuti jejak Ulil agar kita dapat menghargai pendapat orang apapun agamanya dan Islam akan besar apabila para ulamanya sudah banyak yang berani menggunakan akalnya .semoga Amin
Pemikiran manusia dangkal . . .
Kalau soal jumla rakaat dalam shalat aja tidak bisa menjelaskan . . .
Soal hukuman potong tangan di pandang dari sudut kekejaman tapi nggak ngerti maksud yang lebih luas, harusnya membekali dulu Ilmu Pengetahuan dan Agamanya baru membahas Agama.
Cuplikan-cuplikan ayat untuk membenarkan diri bisa menjerumuskan umat.
Dengan kedangkalan Ilmu Agama dan mengajak orang-orang yang sama dangkal Ilmunya, sebaiknya pelajarilah Agama secara kaffah lebih dahulu.
Semoga Allah memberi bimbingan kejalan yang benar.
Amin
Saya sangat setuju dengan pandangan Islam JIl, Sebelum saya mulai mengenal Jil saya pikir saya sendiri di dunia ini yang mempunyai Pandangan Liberal seperti ini, namun sekarang saya sangat senang membaca tulisan tulisan di Website ini.
Bagi saya Jil adalah sebuah cahaya di kegelapan
Sama ajalah bang Ulil dan konconya dengan Habib Riziek dan bolonya, yang satu sok liberal yang lain kearab-araban. Kita sudah enakan dengan identitas kita, gak perlu bersorban juga gak perlu bergaya fangky, enakan batik. Selama ini dengan NU dan Muhamadiyah kita, gak ada gontokan-gontokan. Islam jadi sejuk dan damai. Agama jadi sesuatu hal yang nikmat.Ini kok jadi dua kutub yang saling mengkafirkan. Mumpung hari baik di bulan suci ini, yok pada silaturahmi saling memaafkan dan saling menghargai. Masalah perbedaan? biarlah Tuhan yang Maha Benar saja yang menghizab di akhirat kelak.Kebenaran hanya milik Tuhan, kepadanyalah kita kembali. Jadi jangan merasa paling benare dewe ya. Semoga Islam akan membimbing kita semua dalam kedamaian dan kemakmuran. Amin
Semoga kita semua, yang sependapat atau yang tidak sependapat. Sama sama ikhlas dan rendah hati.
Kita hanya mencoba mendekati Allah sedekat-dekat nya. Yang tahu kebenaran mutlak hanya Allah. Kebenaran sepemahaman kita, hanya bersifat relatif.
Kalau ada perbedaan, mari kita ikhlas kan. Biar Allah yang menilai. Toh suatu saat kita nanti bakal mati, dan mempertanggung jawabkan semua keyakinan dan kelakuan kita.
Sangat menarik artikel dari mas ulil. Begitu jujur dalam memaparkan. Pastinya ini harus diapresiasi sebagai bentuk otokritik bukan sebuah gagasan yang kontra dan harus dilawan.
Saya sendiri sangat apresiasi dengan kecerdasan mas Ulil memberikan pemaparannya. Meski pun ada hal yang seharusnya ditunggu dalam kesabaran untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Satu hal yang luput dari pengamatan mas Ulil, adalah agama islam adalah agama yang mengenal Ghaib. Dimensi yang harus berjuang berat tidak hanya melalui logika (apalagi cuma dengan penerapan syariat mati), tetapi juga menuntut perjuangan yang istiqomah (lelaku) yang ekstra. Tapi saya bisa memahami karena domain mas Ulil berada di bidang yang berbeda. Meski hal itu pun menjadi kemutlakan dalam mengambil kebijakan.
Salam hangat
Perbedaan anda dengan umat Islam bukan pada interpretasi dan perspektif pemahaman saja, jauh dari itu aqidah yang berbeda bung…Ke-wara-an yang hilang jauh lebih berbahaya, anda tinggalkan aspek teologis,utamakan sosiologis. Kita tak pernah akan bertemu, klo dasar interpretasi kita beda. Perhatikan lebih lanjut, apakah al-Qur’an dibentuk budaya atau justru sebaliknya?!!Buktinya asalnya jahiliyyah jadi islami, perubahan 180 derajat bung. Sebuah masa tidak akan kembali, tetapi watak masa akan terus berulang. Jahiliyyah tidak identik dengan Abu Jahal, Abu lahab tetapi sangat mungkin anda penerusnya.
SAUDARA ULIL ANDA INI SEBENARNYA INGIN MENGANGKAT ISLAM APA MAU MENJATUHKAN ISLAM?SUNGGUH SANGAT MEMALUKAN MASAK ISLAM MAU DI LIBERALKAN
JIL sama dengan Syekh siti jenar pada masa wali songo dulu dan abu lahab serta abu jahal pada masa rasullullah
Mas Ulil dkk dalam JIL adalah Islam harapan. Buatlah umat dengan tulisanmu semakin cerdas! Teruskan perjuangan kalian, ada banyak tantangan itu pasti, tapi jangan mundur, karena dari hati yang bersih kalian benar!
Namanya JIL pasti menafsirkan quran dan hadis semau perut aja,ingat anda hdup jauh dari para ulama salafusshalih,bgm bisa menjabarkan alquran kalo belajar ilmunya aja dengan org barat,untk ulil jgn memanfaatkan kebodohan mrk thd agama untk kepentingan org spt anda
manusia hidup dalam keterbatasan akan ke-tidaktahuan apakah ia benar atau salah.karena Tuhan tidak pernah mengomentari langsung atas semua yang telah kita lakukan. kalau memang anda merasa benar, apakah Tuhan telah berkata demikian??? (Nah lho bingung….hahahahaha)
yang terbaik adalah jangan merasa diri ini lebih baik dari orang lain, dan merasa benar sendiri, selalu lah merasa takut dan harap atas amal ibadah kita, introspeksi, muhasabah, dan berdoa.
kita akan mengetahui siapa yang terbaik dan paling benar diantara kita di akhirat nanti!!
sekurang-kurangnya ada sekelumit manusia biasa(diluar para Nabi)yang telah dikatakan “benar” oleh Allah SWT, yaitu para sahabat Nabi SAW. maka Tirulah para sahabat!!! o.k bozzz
ok setuju mas ulil, yang penting ada keseimbangan dan tidak ada yang memonopoli kebenaran, biarkan semuanya berdampingan
Suatu pemikiran yang mencerahkan…
sudut pandang kita terhadap Islam memang harus diperbaharui. mengapa? Selama ini, tradisi pendidikan islam yang kita pelajari semenjak kecil memang terkesan dogmatis dan ortodoks, yang melulu mengedepankan kebenaran dari satu sudut pandang saja. Lagi-lagi sifat wajib yang 20… Kapan keimanan kita bisa bermanfaat bagi kemaslahatan orang lain?
Teruskan Mas Ulil! Islam milik kita semua, bukan hanya milik para Kyai..
Temans,
Terus terang, saya sangat tertarik membaca komentar-momentar ini. Walaupun tidak membaca keseluruhannya tetapi saya berkesimpulan bahwa apa yang dikatakan dalam komentar itu adalah hasil dari interpretasi masing-masing terhadap apa yang ditulis oleh Ulil. Dari apa yang mereka mengerti dari tulisan Ulil itu mereka lalu menggunakan nalarnya menempatkan posisi Ulil melawan apa yang mereka yakini yang tidak lain adalah hasil interpretasi ajaran agamanya (Sumber-sumber ajaran agama seperti Kita Suci dll). Sebab pada dasarnya semua orang mempunyai pengalaman iman yang berbeda. Hal ini sangat terkait dengan lingkungan dimana orang itu hidup.
Si A selalu mengatakan saya lebih benar dan si B juga mengatakan saya lebih sempurna. Serta si C juga memproklamirkan kebenaran mutlak adalah yang mengerti. Semuanya ini membuktikan bahwa AGAMA, apapun agama itu Apakah Islam, Katolik (Kristen), Yahudi, Hindu, Budha, Kejawen dan lain-lain TIDAK akan menjawab semua persoalan dunia dewasa ini. Sebab pada dasarnya AGAMA-AGAMA itu lahir untuk UMATNYA pada ruang waktu dan ruang tempat tertentu. Dan oleh karena itu pesan yang disampaikan dalam ajaran (ayat) itu sangat berhubungan dengan masyarakat pada masa lahirnya ayat itu. Ini bukan berarti tidak relevan lagi dengan jaman moderen. Tentu saja masih relevan tetapi membuat ayat ini menjadi relevan kita perlu memahami pesan-pesan yang sebenarnay dalam ayat itu supaya dalam menterjemahkan ayat itu kita tidak menjadi kembali ke Zaman yang sudah berlalu. Perlu ditempati dalam konteks kekinian.
Sebagai contoh: dalam diskusi lepas saya dengan seorang kawan yang beragama Islam tentang haram kalau dijilat anjing. Dia mengatakan bahwa jika dijilat anjing orang harus mencuci bagian tubuh yang dijilat itu dengan menggunakan tanah dan air tujuh kali. Pertanyaan dia sendiri adalah hal ini bisa saja terjadi karena pada saat ayat itu turun belum ada “Sabun”. Jadi supaya bersi kita harus menggunakan tanah dan dilakukan tujuh kali. Menurut dia Jaman sekarang, kita bisa membersihkannya dengan menggunakan sabun dan tidak perlu tujuh kali. Teman saya ini ternyata mempunyai keagamaannya sudah sangat tinggi. Mampu membawah ayat-ayat langit ke dunia.
Mengapa saya mengangkat cerita itu? Saya ingin kita untuk merenung sendiri-sendiri tentang keagamaan kita. Apakah kita sudah memahami dan mempraktekan agama kita? atau masih menjalankan ritual yang bersifat simbol tanpa membawa kemaslahatan bagi manusia dan makluk yang lain.
Dalam kaitan ini saya menerima apa yang ditulis Ulil itu sebagai media dialog dan monolog untuk mencari kebenaran bukan menghina kelompok tertentu.
Buat Bung Dewayanto,
Saya setuju banget. Tapi memang tidak gampang mau ngomong gitu. Bisa2 nyawa kita terancam.
Untuk Mas Rizal,
Betul Mas, memang tidak gampang,tetapi ini bukan masalah benar atau salah,tetapi mungkin masalah pilihan, karena saya percaya bahwa jalan apapun yang kita tempuh pada akhirnya pasti akan mencapai tingkat kesempurnaan dan akan bertemu dengan Nya juga, karena Tuhan Tuhan Maha Besar dan Maha tak terbatas.Jadi saya tidak pernah menyalahkan jalan yang ditempuh orang lain dan tidak pula saya merasa benar, karena apapun jalannya sifatnya relatif,Yang Mutlak hanya Tuhan itu sendiri
Terima kasih atas tanggapannya.
Salam.
Komentar Masuk (115)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)