Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.
Komentar
Salut atas keberanian mas Ulil. Saya rasa baik bahwa setiap posisi (kiri,tengah,kanan) dlm setiap agama harus mertanggungjawabkan dirinya secara ‘rasional’. Itu bagian dari ‘sadar diri’. Agama adalah gejala multi-wajah, multi aspek. Ada aspek rasional, sosial, religius, psikologis,dll. Tidak semua dlm agama itu “berasal dr Surga”. Bahkan, secara sosiologis, agama itu adalah produk manusia dlm ‘merespons’ Yg Ilahi. Semua ‘produk’ agama sifatnya terbatas. Dlm perspektif ini, ‘Kitab Suci’ adalah produk manusia juga: bukankah kitab itu ditulis di atas kertas, ditulis dalam bahasa tertentu,dll?. Nah, mengkleim bahwa Yg Ilahi itu menulis, berbicara (dlm bahasa tertentu) adalah antropomorfisme, Cara manusia melukiskan Yg Ilahi.Kategori bahasa kita utk melukiskan Yg Ilahi itu juga terbatas. Maka, sebagai produk manusia Kitab Suci harus ditafsirkan, supaya maknanya yg mendalam sungguh digali.Dalam menafsir inilah, unsur rasional memainkan perang penting, meski bukan satu-satunya. Saya rasa, peran JIL justru disitu. Mengingatkan sesama Muslim (dan semua pengikut agama lainnya)bahwa agama juga harus terus terbuka utk otokritik, utk dimurnikan oleh nalar, agar jangan menjadi ideologi usang yg membelenggu manusia dan anti-human. Agama sejati adalah agama yg mengangkat martabat manusia, agama yg semakin membebaskan manusia.Agama yg meragukan rasio, akan menjadi takhyul yg menghantar umat manusia kembali ke zaman batu!
Saudara Hamid,
Membaca komentar Anda, saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya selama ini. Yakni apa benar kalau Tuhan itu Maha Adil, mengapa menurunkan Sabdanya dalam bahasa tertentu saja? Dan mengapa hanya kepercayaan tertentu dikatakan AGAMA?
Jika betul sebagaimana katamu bahwa kitab suci itu ditulis oleh manusia berarti Agama juga diciptakan oleh manusia. Lalu tujuannya apa? Ya, untuk mengapresiasikan keagunangan ciptaanNya dan bersujud kepadaNya. Serta kejayaan Umat manusia dan lingkungannya. Jika demikian halnya bahasa Allah adalah bahasa universal, Artinya bukan ligustiknya tetapi makna yang terkandung didalamnya. Nah makna ini harus diinterpretasikan supaya relevan dengan perkembangan masyarakat. Jika tidak “Agama” akan mati karena ditinggalkan oleh penganutnya. Contohnya: Di negara Barat yang masyarakatnya lebih liberal, sebagian besar penduduknya tak beragama. Ini bukan berarti mereka tidak ber-TUHAN. Karena dalam praktek hidupNya mereka selalu percaya kepada Yang Ilahi.
Menurut saya Apa yang dilakukan oleh Ulil dan teman-teman di JIL adalah upaya menyelamatkan agama Islam dan juga Agama lain. Mereka menciptakan media untuk diskusi, dialog bahkan monolog tentang apa yang kita percayai - Kita yakini. Media ini berusaha untuk mencari pemecahan yang tepat dalam menghadapi perkembangan Zaman dewasa ini. Jika tidak, maka Agama akan ditinggali oleh penganutnya seperti yang terjadi dalam masyarakat moderen, dan hal ini sedang terjadi di Indonesia.
Masyarakat Indonesia yang menyatakan dirinya beragama tetapi yang dipraktekan bukan ajaran hakikiNya melainkan simbolNya. Seperti orang yang setiap Jumat ke Mesjid dan setiap Minggu ke gereja tetapi korupsi uang rakyat tetap terjadi, prilaku kekerasan terhadap sesama manusia dan lingkungan alam trus merajalelah.
Selain itu perkembangan Zaman ke arah mordinisasi tak akan dibendung oleh siapapun. Buktinya dapat dilihat dimana-mana. Ulama yang kondang pasti mempunyai rumah mewah, mobil mewah dan Hp keluaran terbaru. Anak-anak mereka juga pasti mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mengakses teknologi informasi moderen ini. Tentu saja masyarakat juga tak luput dari Informasi teknologi. Masyarakat bergerak ke arah moderen dan tidak kembali ke Zaman Yesus atau Nabi-Nabi lainnya. Mau atau tidak kita harus menjalani kehidupan yang lebih moderen. Kehidupan yang sangat berbeda dengan masyarakat pada zaman ayat-ayat itu diturunkan. Oleh karena itu Ayat-ayat dalam kitab suci itu perlu diinterpretasikan secara tepat sehinggga sesuai dengan perkembangan zaman. Dan Masyarakat zaman moderen tidak meninggalkan AGAMA.
Bagi saya AGAMA bukan tujuan tetapi kemaslahatan umat manusia dan keselarasan alam semesta adalah TUJUANNYA. Karena itu saya tidak peduli apakah dia orang Hindu, Budha, Kejawen, Kristen, Muslim tetapi yang saya peduli adalah orang yang tingkah laku dan tutur bahasanya demi kemaslahatan Umat manusia dan alam semesta.
Terima kasih Ulil dan teman-teman JIL. Dan terima kasih kepada para pembaca yang membaca tulisan Ulil dan komentar-komentarnya
Ingat,jangan andalkan pikiran anda yg serba terbatas,jangan jadikan agama untuk mencari keuntungan,mencri yg simple aja,seperti kaum nasrani dan yahudi.Dan ingat nasrani dan yahudi takan rela jika kalian mengikuti agama mereka
jadi muslim tak berarti harus jadi orang arab dan berbudaya bar bar kan?
sebetulnya udah jelas di surat Al Ikhlas bahwa Tuhan itu Satu yaitu Sang Pencipta yang tidak ada satu pun mahluk di dunia ini yang menyamainya.
Jadi marilah jadi muslim tanpa menjadi orang arab dengan budaya bar-barnyam, jadilah muslim sejatinya muslim yaitu orang yang mengakui bahwa Tuhan itu satu.
undhur ma qala wala tandhur man qala. mestinya ini yang harus dipakai. tidak seperti anda bung Irsyad. mana tulisan dan karya-karya anda!!!! jangan sok pinter. seperti apa sih kemampuan anda menguasai bahasa Arab yang merupakan bahasa asli Islam. jangan-jangan anda tidak memahaminya dengan baik. memang kelompok tekstualis-fundamentalis Indonesia itu kan rata-rata terdiri dari orang-orang yang baru belajar Islam, lewat terjemahan lagi!!! tetapi aneh mereka yang belajar islam lewat al-Qur’an maupun hadits terjemahan, malah menuduh orang lain seperti yang mereka lakukan. sebetulnya yang dangkal itu siapa? kan anda sendiri yang mengaku sok paling islam. keislaman dan keimanan seseorang seseorang tidak diukur oleh baju kokok, celana comprang, jenggot panjang, jidat hitam, atau lainnya. apa salatnya kelompok tekstualis-fudamentalis itu mesti lebih baik dan khusu’ dari JIL. belum tentu bung!!! jangan-jangan malah kebalik… teruslah berjuang mas Ulil, banyak yang mendukungmu.
Makasih y mas ulil, ternyata pandangan sy tentang islam yg slalu mengidentifikasi islam itu agama yg mau menang sendiri kini telah berubah
Jika semua umat manusia berpikir sprti mas ulil, kita bisa hidup berdampingan dengan damai
Dan islam dapat menjadi rahmat bagi alam semesta
Amin
Apakah JIL memiliki perwakilan di makassar ?
Oh iya tetap semangat ya mas dlm menyebarkan perdamaian dan kerukunan antar umat manusia
Shalom alaikem, JESUS BLESS U N UR FAMS
Ass wr. wb.
Saudara Ulil,saya sangat setuju dengan pemikiran maju saudara untuk terus berfikir kritis dalam berislam, namun harapan saya Ulil harus berpegang kepada suatu yang paling dapat dipercaya,pendapat orang (ulama), bahkan pendapat Ulil sendiri belum tentu benar. Yang paling benar, ini yang harus dibangun dalam pemikiran kita sebagai landasan untuk kita berpikir kritis, diwariskan oleh utusan Tuhan 2 hal Al Quran dan hadis, dibangun oleh ulama Tafsir, fatwa, kiyas, izma dan lain lain. dari sumber sumber pegangan kita tersebut maka harus kita tempatkan mana pegangan kita yang utama, ke dua ke tiga dan seterusnya. Jika Ulil setuju dengan pendapat saya bahwa pegangan utama kita adalah Al Quran, kedua hadis dan seterusnya seperti di atas maka Ulil boleh melanjutkan membaca komentar saya ini. kemunduran umat islam di dunia yang kita lihat saat ini penyebab utamanya adalah karena kekeliruan dalam menempatkan urutan pegangan pedoman hidup kita. Allah menyatakan dalam wahyunya bahwa petunjuk bagi manusia, petunjuk bagi orang yang beriman dan petunjuk bagi orang yang bertakwa adalah Al Quran. Al Quran ini dipelihara sendiri oleh Allah sebagaimana kita lihat sampai saat ini masih banyak orang yang bisa hafal Al Quran. jadi Al Quran inilah yang jadi pegangan utama kita, Al Quran ini ilmu pasti, karena itu adalah wahyu dari Allah pencipta kita semua, Al Hadis adalah pedoman kita yang kedua, kita semua tahu bahwa dalam hadis terdapat banyak hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu kesesuaiannya dengan Al Quran, walaupun itu adalah hadis sahih, karena hadis tidak dipelihara oleh Allah.Tafsir adalah pendapat ulama atau orang atas Al Quran, jadi kita sendiripun boleh menafsirkan Al Quran asalkan penafsirannya tidak hanya menurut akal fikirannya sendiri tetapi sesuai dengan cara penafsiran yang benar yaitu suatu ayat Al Quran harus ditafsirkan dengan ayat Al Quran lagi, selanjutanya ditafsirkan dengan hadis, ditafsirkan dengan asbabul nuzul, ditafsirkan dengan pendapat ulama baru dengan akal fikiran sendiri.
beberapa contoh yang Ulil ambil seperti mengenai wanita menjadi pemimpin, jika Ulil melihat di Al Quran adalah sangat jelas bahw pemimpin wanita itu tidak jadi masalah seperti dicontohkan dalam ceritra Nabi Sulaiman mengenai Ratu Bilkis yang sangat berhasil dan berkuasa.
Demikian dulu komentar saya, susunlah jalan pemikiran Ulil dengan susunan yang logis yang mengedepankan nalar, peganglah Al Quran sebagai petunjuk utama Ulil dan juga pembaca lainnya. selamat berjuang di jalan yang lurus.
Sangat melegakan membaca tulisan mas Ulil, ini merangkum keprihatinan saya terhadap Islam Konservatif yg sangat mensakralkan budaya dan sosial Arab dan meremehkan pemberian Tuhan yg sangat unik kepada manusia, yaitu: Akal & Pikiran.
Sedihnya, orang yg memahami Islam dng kritis masih minoritas dibandingkan yg menjalani Islam secara harfiah apa yg tertulis di Al-Qur’an. Dan yg paling menyedihkan lagi, kesakralan thd budaya dan sosial dlm masa Nabi tsb dibuat kekuatan hukumnya. Dan ini akan mem’didik’ umat bahwa cara berfikir kritis adalah suatu hal yg ‘terlarang’.
Dengan persepsi mayoritas umat Islam: kritis adalah terlarang, menjadikan setiap ada dialog-dialog atau debat antara umat Islam yg kritis dan umat Islam yg konservatif adalah sulit untuk mencapai titik temu. Yg konservatif akan memberi argumen bahwa boleh merubah kententuan dan aturan agama adalah hak penuh dari Ulama, bila tidak mau dibilang murtad, umat harus taat apa yg tertulis dlm Al-Qur’an.
Perseteruan antara umat beragama kritis dng akal dan umat beragama konservatif, mengingatkan saya pada perseteruan antara Galileo dan Ulama Gereja. Pemuka agama waktu itu memiliki kekuatan hukum dan kekuasaan dan memiliki referensi pengetahuan tentang astromomi hanya berdasarkan keyakinan yg ada di kitab suci, doang. Sedangkan Galileo yg masih percaya Tuhan, telah menyangkal penjelasan ttg alam semesta pada kitab suci. Galileo percaya akan hasil observasi dan analisa dia sendiri, bahwa bumi lah yg mengitari matahari, bukan sebaliknya.
Bila kita hidup di jaman Galileo dan takut berfikir kritis, bisa dipastikan kita akan ikut-ikutan menghujat Galileo sebagi orang yg telah melenceng keyakinan beragamanya.
Kini, setelah ratusan tahun Galileo mendapatkan hukuman akhirnya ditarik juga, tentu dng peradaban dan teknologi sekarang telah membuktikan kebenaran observasi Galileo.
Balik ke artikel ini, menjadi dorongan untuk berfikir lebih kritis dan menjalankan Islam dng akal jernih, berharapa semoga sosial,budaya dan peradaban (termasuk sains dan teknologi) umat lebih maju, bukan mandeg atau malah balik ke zaman nabi.
salam
Mengapa kelompok islam tidak dikelompokkan menjadi 2 saja, yaitu orang islam yang taat pada agama/islamnya dan orang islam yang tidak taat, dalam artian lalai dari agamanya. Mengapa harus jadi liberal? fundamentalis? radikal?
“Islam liberal…seharusnya kalian tidak mengelompokkan diri seperti itu,karena hanya akan menimbulkan perpecahan dengan kelompok yang kalian sebut islam konservatif.Silahkan berdebat,adu argumen,adu pintar,tapi usahakan jangan menempatkan diri secara konfrontatif dengan pihak2 yang ingin kita cerahkan,salah2 yang timbul malah bakuhujat,trus bakuhantam,lebe bae kita bakudame toh?!.”
setuju mas ulil…eh mas ulil,cuma mau usul bagaimana kalau diskusi jil ini tidak berakhir di website aja…tetapi juga mulai merambah dunia nyata(bukan internet,red-). Agar masyarakat umum yang sudah salah kaprah tentang JIL dan mengecap JIL sebagai aliran sesat,mulai terbuka pikirannya tentang konteks kebenaran sesungguhnya yang terangkum dalam JIL.Kita buat media cetak atau forum diskusi mingguan? setuju…Ditunggu kabarnya..ya..(dari orang2 pencari kebenaran sejati)
assalaamu’alaikum, wr.wb.
salam sejahtera,
langsung saja, kalau dalam konteks “hukum” kita mengenal dengan adanya konsep “pembuktian terbalik”. nah, celakanya dalam proses penafsiran dan pemahaman terhadap Quran yang terjadi adalah proses “penafsiran terbalik”. dimana orang tidak berusaha untuk membuka tabir makna/maksud dibalik ayat-ayat Quran, lewat usaha peng-kontekstualisasian, pen-dekontekstualisasian, dan pe-rekonstekstualisasian ayat-ayat Quran sehingga akan didapat esensi utama yang dimaksud Tuhan terhadap berbagai persoalan kehidupan, namun yang terjadi adalah orang memiliki pendapat atau pemahaman yang kemudian mencari ayat-ayat Quran maupun Hadits untuk menjustifikasi dan mem"benar"kan pemahamannya. ini jelas kekeliruan, karena cara tersebut hanya akan mengecilkan peran “akal” sebagaimana yang dimaksud oleh mas Ulil, seolah-olah penafsiran atau pemahaman yang dia miliki adalah kebenaran itu sendiri karena sudah mendapatkan justifikasinya. padahal kita tahu, bahwa yang paling benar itu adalah Tuhan itu sendiri dan bukan pemahaman atau penafsiran kita.
“elan Vital” maksud Tuhan dalam ayat-ayat yang terangkum dalam Quran gitu loh maksudnya ....
wassalaamu’alaikum, wr.wb.
Bravo mas Ulil!!!
Saya adalah salah seorang penggemar berat mas ulil, walaupun saya bukan muslim. Setiap kali ada ulasannya mas ulil dan diiklankan di majalah atau koran, maka saya dipastikan akan langsung membeli koran dan majalah ybs. Perlu mas Ulil ketahui bahwa banyak sekali pandangan-pandangan dan pendapat mas Ulil yang berlaku universal, artinya bisa berlaku disemua agama. Sebelum mas Ulil membahas topik diatas, maaf bukannya sok pintar, saya sudah sering memikirkan masalah itu, BOLEHKAH KITA BERSIKAP KRITIS TERHADAP APA YANG TERCANTUM DALAM KITAB SUCI?? Ternyata mas Ulil sudah menjawabnya. Pemahaman yang terlalu membabi buta dan secara bulat menelan mentah-mentah memang sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman ini. Tapi bagaimana dengan pendapat Paus Paulus bahwa dia sangat memprihatinkan kecendrungan berpikir secara relatif di negara-negara Barat akhirnya memberikan dampak yang semakin jauh menyimpang dari kaidah agama? Contohnya sudah ada kelompok gereja protestan yang bahkan menyetujui pendetanya yang homoseksual menikah dengan sesama jenis. kalau yang seperti ini jelas saya menentang, tetapi secara umum apa yang mas Ulil bahas sangat saya setujii dan saya dukung 100%. Untuk saudara-saudaraku yang non muslim, jangan patah semangat dulu melihat ulah FPI dan Habib Riziek CS, masih banyak yang berpikiran seperti mas Ulil, semoga Tuhan memberkati mas Ulil.
Sebenarnya, kita semua sepakat, bahwa Islam mengajarkan toleransi dan sikap saling menghormati. Kita juga sepakat, bahwa menyalah-nyalahkan orang lain yang tidak sependapat apalagi sampai melemparkan tuduhan yang bukan-bukan adalah tidak benar dan tidak mencerminkan kedewasaan bersikap. Namun, itu semua harus berada dalam koridor syariat dan bukan dalam masalah2 yang sifatnya prinsipil. Dalam arti kata, selama dalam satu permasalahan masih ada dalil dari Al-Qur`an dan sunnah yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak sepantasnya jika diributkan. Akan tetapi, manakala masalah tersebut sudah menyimpang dari rel kebenaran, tidak ada dalilnya baik dari Al-Qur`an ataupun sunnah, bahkan sejarah pun membuktikan kekeliruannya, maka dalam hal ini tidak ada lagi istilah toleransi. Inilah yang namanya nyeleneh, dan inilah yang harus diluruskan.
Masalah pluralisme dan inklusivisme, misalnya. Jelas, ini adalah masalah serius yang sulit untuk disepelekan. Apalagi ditoleransi. Menyamaratakan semua agama dan menganggap bahwa semua agama adalah benar, sejatinya merupakan pelecehan terhadap agama Islam –jika yang mengatakannya mengaku Islam. Sebagai seorang muslim yang meyakini kebenaran agamanya, tidak sepantasnya mengatakan bahwa semua agama sama. Sebab, baik Al-Qur`an maupun sunnah Rasul-Nya menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paling benar, dan bahwa Nabi Muhammad Saw diutus untuk seluruh umat manusia di dunia, bahkan termasuk jin di dalamnya. Sekiranya agama selain Islam juga benar, kenapa Nabi mesti mengirim surat kepada raja-raja di sekitar jazirah Arab ketika itu dan mengajak mereka untuk masuk Islam? Dan, kenapa pula beliau mesti berkonflik dengan bangsa(t) Yahudi Madinah jika memang agama mereka benar? Dalam hal ini, pemikiran JIL tidak dapat diterima, karena bertabrakan dengan nash qath’i dari Al-Qur`an, sunnah, dan sejarah.
assalamu’alaikum.wr.wb
setahu saya tidak ada islam konservatif,islam liberal,islam anarkis, islam moderat and whatever…
yg ada hanya ISLAM!!ISLAM!!!ISLAM!! berdasarkan al-qur’an dan sunnah nabi muhammad SAW
smg ALLAH SWT selalu melindungi hati qt dr sifat2x kotor dan smg ALLAH SWT membukakan pintu hati umat muslim yg msh tertutup dgn hidayah-NYA.
wassalam…...
Sebenarnya dalam liberal itu tidak hakiki.
ari liberal pada umumnya bebas. Bebas berpikir, bertindak an lain sebagainya.
Jikalau memang bebas kenapa ada batasan-batasan dalam segala halnya.
Kita ambil contoh;
Kita merasa malu kalau kita membuka aurat kita di depan umum. Kita malu memakai pakaian yang kurang etis di suatu forum resmi mungkin. Nah ada rasa malu itu merupakan bataasan-batasan yang menghilangkan arti bebas itu.
dalam berpikir, kita tidak mau atau takut mengeluarkan statement yang melanggar aturan hukum. apakah itu kita bebas???
kita belum bebas artinya kalau kita masih di kurungi oleh batasan-batasan.
Sepakat mesti kritis, tapi kritis bukan berarti menentang. Misal, ketika kita kritis saat mempertanyakan hokum potong tangan, bukan berarti hukum potong tangan langsung menjadi gugur. Hukum itu tetap berlaku hingga kita berhasil membuktikan kegagalannya. Sebelum itu, dia bersifat status quo.
Tentang beberapa aturan yang datang dari Tuhan, mengapa penulis lebih suka mengatakan arbitrer daripada perintah Tuhan. Apakah Tuhan memilih jumlah rakaat shalat misalnya tanpa Tujuan sama sekali? Ada baiknya jujur saja mengatakan “khusus kasus ini kita tidak bisa bersikap kritis karena begitulah kentuan Allah.” Rasanya kalimat seperti ini terkesan bahwa kita adalah hamba yang patuh.
Btw, artikel ini bagus namun ada beberapa hal prinsip yang patut dikritisi.
Kalau yang ini saya sependapat dengan mas Ulil, kita harus memahami Al-Qur’an dengan akal (afalaa ta’qiluun ). Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk berfikir, tidak ikut-ikutan dengan membabi buta karena setiap diri kita akan dimintai tanggung jawab atas pemikiran dan tindakan kita, firman Allah dalam surat Al-Israak ayat 36:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israak 36)
Karena setiap diri kita bertanggung jawab terhadap pemikiran dan tindakan masing masing, maka kita juga harus legowo menerima perbedaan pendapat, tidak boleh memaksakan kehendak dan pemikiran pada orang lain. Kita tidak akan dimintai pertanggungan jawab tentang pendapat dan pemikiran orang lain, kita hanya dimintai tanggung jawab terhadap pendapat dan pemikiran kita sendiri.
Al Qur’an telah menjelaskan mana yang hak dan bathil, pemikiran manusia juga ada yang benar ada yang sesat. Masing masing kita bebas memilih mau ikut yang mana , risiko ditanggung sendiri….makanya gunakan akal ,hati dan fikiran, jangan ikut ikutan . Namun jangan sekali kali memaksakan kehendak pada orang lain, itu namanya dholim. Berikut saya kutipkan beberapa ayat yang berkaitan dengan kebebasan berfikir dan berpendapat mudah mudahan bisa jadi pencerahan:
- Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 256)
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Yunus 99)
Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maidah 92)
Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa.(Al An Aam 69)
Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
(An Nahl 82)
-
Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil. (Al An Aam 35)
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan (Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka. (Al An Aam 107)
Perpecahan , pertumpahan darah , dan saling hujat antara sesama muslim sejak dulu sampai sekarang dominannya karena perbedaan pendapat, tidak legowo menerima perbedaan pendapat, masing masing merasa paling benar dan yang tidak sependapat dengan dirinya harus dimusnahkan, nah itukan tidak sesuai dengan tuntunan Qur’an seperti yang dikutipkan diatas. Jika umat Islam belum bisa legowo menerima perbedaan pendapat, rasanya sulit bagi Islam untuk berjaya, karena sibuk saling hujat dan serang dengan sesama muslim. Umat Islam sibuk saling serang dengan sesamanya, tidak sempat memikirkan hal lain yang lebih urgen , akibatnya umat Islam semakin terpuruk dalam kemiskinan dan kemelaratan sementara umat lain asyik menonton dan mengambil manfaat dari kelemahan umat Islam.
kenapa sich kita selalu ribut antar sesama islam hanya karena cara pandang dan berfikir, bukankah kita sudah punya sumber hukum tetap yaitu Alquran dan al hadis, al quran adalah ketentuan Allah yang berlaku universal dan dapat dikembangkan penafsirannya asalkan betul2 mengerti dan faham akan tata bahasa dan kaedahnya, tidak disisipi dengan pemikiran barat yang serba duniawi.
sebagai manusia dan sebagai umat islam akan lebih baik berbuat sesuatu yang bermakna dan bermanfaat dari pada hanya melontarkan pemikiran dan ngomong doang.
jadi sepertinya oke2 saja kaum liberal berfikiran sesuai liberalismenya asalkan juga sesuai pemikiran Alquran.
yang perlu diingat adalah bahwa kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan jalan Allah.
lebih baik kita berbuat nyata seperti bagaimana agar umat islam tidak meminta2 sumbangan dijalan untuk mendirikan musholla, bagaimana agar para ulama dan tokoh islam bersatu membangun negara dengan baik, bagaimana agar citra islam tidak selalu negatif, bagimana membangun masyarakat islam yang benar2 islami.
selalu berdebat dengan pikiran masing2 hanya akan membuat kita selalu terbelakang dibanding umat lainnya.
marilah berbuat nyata dan berfikir positif sesuai Alquran dan Hadis
MARI KITA BERBUAT NYATA UNTUK KEMAJUAN DAN KEMAKMURAN UMAT ISLAM, TIDAK HANYA BERPOLEMIK DAN BERDEBAT.
Komentar Masuk (115)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)