Wawancara,
14/05/2006

Wahyu Prasetyawan: Menunggang Tradisi, Jepang Raih Modernisasi

Oleh Redaksi

Jepang selalu dianggap sebagai model negara yang sukses menjalankan modernisasi sembari merawat unsur-unsur tradisinya yang penting. Karena itu, negara-negara berkembang melirik Jepang sebagai teladan yang perlu dicontoh. Tapi apakah tradisi yang membuat Jepang maju dan masih mereka pertahankan sampai kini?

14/05/2006 14:51 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Assalamualaikum.

Wahyu Prasetyawan merupakan aset berharga, yang telah memadukan ilmu yang didapatkan dari negara lain dengan agama yang dipeluknya. Idea-ideanya yang cerdas terselip di dalam jawaban wawancaranya itu, dan ini secara sadar harus sebagai modal bekal dalam cita-cita mensejahterakan masyarakat Indonesia, yang saat ini sedang terkena virus Wahabi. Diharapkan Wahyu cs sebagai insan-insan yang diharapkan berkecipung di bidang politik dengan pikiran yang arif dan bertindak secara bijak. Saya yakin dari hasil wawancara itu, mengesankan bahwa Wahyu cs (intelektual muslim berpendidikan lainnya) berpikiran seperti di bawah ini.

1. Allah itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua manusia.  2. Tingkat pencapaian puncak pemahaman agama adalah suatu sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan.  3. Banyak orang bijak berkata: “bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya, dan bukan kitab suci yang sangat terbatas itu yang dicari melainkan kebenaran/Allah yang selalu dicari”.  4. Allah itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter. 5. Allah tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena Allah sendiri pada dasarnya tidak beragama, tapi mengharapkan manusia harus perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan.  6. Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; bahkan kadang-kadang agama justru dapat melunakan moral, etika dan hukum suatu negara melalui persepsi/penafsiran yang salah. 7. Agama harus menghormati budaya setempat, bukan me”wahabi”kan. 8. Agama mudah diperalat oleh para elit politik, ustad preman maupun penipu biasa. 9. Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). 10. Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada Allah, semakin rusak moral bangsa itu (lagi berlangsung di bumi pertiwi ini) 11. Agama tidak akan berguna apabila rakyatnya lapar, miskin dan bodoh.

Dilain pihak, kasihan Gus Dur yang berpikiran seperti di atas menjadi bulan-bulan pemainan politik kawan seiring karena pernyataannya di JIL tempo hari.

Semoga dimasa SBY-Kalla bermunculan intelektual muslim pengganti ”mereka-mereka” itu, yang dapat membawa umat Indonesia lebih sejahtera. Amien.

Wassalam

H. Bebey

#1. Dikirim oleh H. Bebey  pada  15/05   02:06 PM

Bismillah Assalamu’alaykum wrwb

Ketika membaca artikel ini, saya sempat teringat kepada pernyataan salah seorang tokoh kita, “Otak Jerman, hati Mekkah”. Perpaduan antara duniawi yg realistis sekaligus kecerdasan teosentris (ka’bah) yg bersifat transenden. Jika ingin menguasai dunia, kuasailah Rasionalitas. Karena apa? Karena kita hidup dalam dunia materi, dunia realitas, nyata, dengan bermacam sifat-sifatnya (sunatullah). Maka logikanya adalah logika materi (ilmu pengetahuan).

Bangsa kita tidak beranjak dari kecerdasan rasio yg “primitif”, intuitif, main perasaan, berprasangka, totally gak ilmiah,‘blas’! Ilmuwan kurang dihargai, orang cerdas gak dapet tempat (kecuali opportuner). Karena itu, rasionalitas kurang berkembang. Seleranya,selera gosip, sinetron cengeng.

moral budaya setempat(Local Wisdom) gak dipegang, kesusilaan dilanggar, singkatnya kita tidak pernah bisa mengkonsep bagaimana kita menempatkan diri di hadapan bangsa lain. Toleransi, menghargai orang lain, menjaga perasaan sudah tidak kelihatan.

Bangsa kita seakan pepatah orang sumbawa bilang, Seperti monyet yg menangkap belalang, lalu belalang yang ditangkap dikepit diantara ketiak. Ketika ada belalang lain, iapun loncat menangkap belalang itu, lalu belalang yang di ketiak terlepas belalang yg baru pun tidak dapat. Akhirnya, kita tidak memiliki satu belalang pun! Kita gak pernah tahu apa yg kita inginkan atau cita-citakan.

Belajar dari Meiji, pertama, tampaknya kita memang harus merumuskan visi bangsa yagn berjangka, seperti yg dilakukan cina dengan target menguasai pasar dunia, atau singapura menjadi macan asia. Merekapun menjadi seperti sekarang ini. Malaysia juga, dari segi pariwisata telah mencanangkan “Malaysia the Trully Asia”. Indonesia?

kedua, kita harus memiliki iman (keyakinan) yang kuat (atau orang jepang bilang, spirit samurai) agar memiliki keberanian utk menggapai visi itu. Sebab iman ibarat sayap burung yg mampu membawanya kepada suatu tujuan (visi). Semoga..

wastaghfirullah wassalamu ‘alaykum

#2. Dikirim oleh Ichsan Ari Wibowo  pada  15/05   05:05 PM

1. Allah jelas tidak perlu agama karena Dia sebagai Sang Khaliq, pencipta dunia dan seisinya. Hanya saja Allah memberikan pengajaran kepada mahluk ciptaanNya agar tidak salah jalan dan menaati perintahNya dengan adanya Rasul dan Nabi Allah sejak Adam sampai Muhammad. 2. Betul agama harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, tapi cukup kah itu. Bagaimana jika nanti Allah juga mengharuskan manusia untuk beribadah ritual kepada Nya. Sesungguhnya ibadah ritual seperti sholat, puasa dan haji adalah untuk kepentingan manusia sendiri. Allah tidak memerlukan pengakuan manusia. 3. Agama bersifat Believing is Seeing. Harus percaya dahulu kepada Allah dan kemudian baru melihat kebenaran hakiki dari Allah. 4. Allah demokratis, karena silahkan saja semua manusia berbuat semaunya dan tidak taat kepadaNya dan itu tidak akan mengurangi ke-Maha Kuasa-an Allah, tepai ingatlah bahwa semua manusia toh akan mati dan diminta tanggung jawab oleh Allah. Agama otoriter? Kalau Islam dimana letak otoriternya?  Semua pemeluk Islam diwajibkan berpegang pada Quran dan Sunnah Rasul Muhammad saja, lain tidak. 5. Benarkah agama merusak etika, hukum dan moralitas suatu bangsa?? Kalau Islam, semua pemeluknya diharuskan menaati hukum dan perintah Allah dalam Quran. Manusia dilarang mencuri, merampok, memperkosa, membunuh manusia tanpa alasan hukum yang jelas. Bahkan untuk hukuman hudud, rajam, qishash dan hukuman mati hanya boleh dilakukan oleh waliyul amri atau pemimpin negara saja. Jika suatu negara tidak menerapkan hukum itu, maka Allah lah yang akan meminta tanggungjawab pemimpin tersebut. 6. Agama (baca : Islam) harus menghormati budaya setempat, bukan me”wahabi”kan. Silahkan baca lagi deh RUU APP, apakah ada pemaksaan jilbab kepada pemeluk agama lain. Perintah jilbab itu sudah jelas dan terang dalam Quran, untuk menjaga kehormatan muslimah. Entah kalau non Islam, lha wong Romo Magnis saja masih (pura-pura) bingung definisi porno itu apa?? 7. Agama diperalat? Bisa jadi, tapi yang salah bukan agamanya, namun penganutnya. Yang jelas orang Islam kan tidak pernah menjual surat penebusan dosa untuk kekayaan pemuka agama kan? Seorang Amrik Kristen bernama Billy Hint baru berbicara di Jakarta, namun dia disinyalir memiliki kekayaan luar biasa dari penyumbangnya. Apakah Kristennya yang salah? Bukan, yang salah adalah oknum yang memanfaatkan sumbangan pemeluk agama tersebut. 8. Agama menghambat IPTEK?? Jika ukurannya benturan teori Darwin dengan agama Islam coba pikirkan lagi kebenarannya. Kata Darwin, mahluk hidup berevolusi dan bermutasi membentuk mahluk hidup lainnya. Darwin : Ikan beradaptasi dan bermutasi menjadi reptil atau burung?? Mutasi gen hanya akan menghasilkan gen yang rusak, tidak pernah membentuk gen yang berbeda sehingga hasilnya adalah mahluk hidup yang cacat. Belum lagi susunan DNA manusia tidak mungkin tersusun dan terjadi secara kebetulan karena DNA itu memuat informasi kehidupan manusia dan berbeda-beda setiap manusia. 9. Agama justru berguna untuk memotivasi manusia agar semakin taat kepada Allah dengan membina dan membantu sesama manusia yang miskin dan kelaparan.
——-

#3. Dikirim oleh Fatsoen  pada  17/05   09:05 PM

sy tidak peduli komentar kalian semua, wahai orang2 bermulut besar! bisanya cuma teori, tanpa praktek! yg penting dalam hidup ini adalah membunuh semua orng yg mengganggu sy. sy tidak takut polisi, tentara, mafia, teroris, haji, ulama, atheis, dll. sy cuma takut kpd ALLH SWT saja, titik.

#4. Dikirim oleh joseph stalin starvation  pada  26/08   09:37 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?