Klipping,
25/06/2010

Menunggu Komitmen Pluralisme PKS

Oleh Saidiman Ahmad

Penggalangan massa untuk menentang sebuah negara di belahan dunia yang jauh tampak tidak lazim dilakukan sebuah partai politik yang nota bene sedang memegang kekuasaan. Bukankah akan lebih efektif memanfaatkan kekuasaan yang ada di tangan untuk melakukan lobi-lobi internasional? Nyatanya, maksimalisasi kekuatan politik PKS untuk mendukung kemerdekaan Palestina tidak cukup serius.

25/06/2010 02:42 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (44)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Bagus lah kalo bgt, tinggal tunggu kenyataannya. Realita masyarakat Indonesia adalah prural dan tenggang rasa, kalo gak prural agama yang ada mungkin Hindu atau Budha. Namun partai politik biasanya ya cuma cari untung sendiri. Liat saja Taufik Kimas yg beda pendapat sama bu Mega demi bisa terus berada di lingkaran kekuasaan walaupun beda orientasi politik. Orang politik maunya untung melulu.

#1. Dikirim oleh nurcahaya  pada  25/06   04:16 AM

PKS adalah contoh paling shahih bagaimana sebaiknya umat Islam menyikapi perbedaan, bisa bersikap toleran dan terbuka dengan umat lain tapi tidak menggadaikan hal-hal yang prinsip,santun dalam perilaku dan akhlak, membantu sesama yang tertimpa musibah, tegas terhadap kekafiran!.

#2. Dikirim oleh Acmellouddine  pada  25/06   05:03 AM

Hehehe ... sepertinya ada yang berharap mendapat teman se ideologis ... Jangan banyak berharap lah ... jangan-jangan malah anda-anda yang nanti akan dirangkul mereka demi tujuan politik. Sepertinya sih anda-anda malah akan ditawari untuk duduk di jajaran pengurus PKS ... nah saya yakin anda-anda akan lebih tertarik ke PKS daripada ke Demokrat yang sudah seideologi .. coba nanti kita lihat apakah TUG OF WAR anda dan PKS akan menghasilkan apa… apa anda-anda yang tertarik atau mereka yang tertarik dalam pengaruh mereka. Let’s wait and see

#3. Dikirim oleh megung  pada  25/06   06:21 AM

PKS tidak akan bisa menjadi partai yang inklusif selama mereka tetap setia dengan ideologi partainya yang eksklusif. Sikap terbuka yang mereka tunjukkan menjelang Pemilu 2014 hanya merupakan strategi politik yang ditujukan untuk memperbesar perolehan suara kelak. Mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka tanpa didahului perubahan ideologi yang telah ada hanya merupakan make-up untuk tampil di panggung Pemilu nanti. Bagi saya, tidak ada yang berubah dalam diri PKS. Sosok sama, baju sama. Hanya bedak dan gincu saja yang mereka ganti.

#4. Dikirim oleh firdaus agung  pada  25/06   09:41 AM

Sebagai pengikut “ISLAM YES PARTAI ISLAM NO” saya justru curiga jika pluralis yang ditawarkan PKS hanyalah taktik semata. Jauh lebih baik jika agama tidak dijadikan komoditas politik. Begitu banyak ketidaknyamanan muncul atas nama kekuatan politik agama yang akibatnya malah merusak citra agama yang sebetulnya suci. Bravo sekularisme!

#5. Dikirim oleh Sulaeman  pada  25/06   01:23 PM

PKS elitenya = pluralis,..massanya = ( barangkali ) islamis,...ga nyambung,..kasihan deh

#6. Dikirim oleh YADI  pada  26/06   02:18 AM

Mungkin kalau PKS jadi nomer satu, Palestina seolah-olah akan menjadi propinsi ke 38 RI yg mendapat jatah dibahas resmi dan mendapat anggaran dpr.

Soal TKI yg disiksa dan diperas di LN, masalah korupsi, masalah premanisme, masalah tibet, masalah papua, masalah pengungsi timtim, masalah penindasan ahmadiyah oleh preman FPI & MUI; itu sih gak penting, gak perlu didemo.

#7. Dikirim oleh Harun  pada  26/06   02:23 AM

“Padahal, patung itu adalah satu dari sangat sedikit karya seni patung di kota-kota besar di Indonesia….”
Lho, bukankah karya seni patung ciptaan manusia, sedangkan aturan agama ciptaan Allah. Kenapa harus menentang ciptaan Allah demi ciptaan manusia? Itukah pluralisme yg diagung2kan?
PKS ternyata ngk punya komitmen yang kuat, saya kecewa berat…...

#8. Dikirim oleh raiya  pada  28/06   03:34 AM

Sulit untuk membayangkan PKS akan secara jujur berubah ke arah partai terbuka dan pluralis. Kalau mereka berani melakukan ini maka resikonya akan ditinggalkan banyak pendukungnya yang mendukung secara penuh hal-hal yang mereka anggap islamis. Gerakan dan pandangan yang menginginkan negara indonesia menjadi negara yang berfalsafah islam harus diakui hidup di masyarakat kita. Ada yang benar-benar yakin akan tercapai tetapi ada juga yang ikut-ikutan dan kalau diajak diskusi soal seperti apa negara islam yang cocok dengan indonesia, mereka akan bingung menjawabnya. Jawaban yang muncul akhirnya ya itu tadi sesuai dengan Piagam Madinah. Sudah pasti jawabannya seperti ini.
Demo yang sering mereka lakukan sebenarnya hanya untuk memanfaatkan moment tersebut untuk terus memelihara kemunculan baik di tengah masyarakat maupun di berita-berita di media masa. Misalnya kalau memang benar ingin mendukung palestina merdeka secara penuh, bikinlah kajian yang komprehensif dan menghadirkan pakar-pakar yang mendalami masalah timur tengah khususnya hubungan antara israel-palestina. Dengan kajian ini, sodorkan ke pemerintah indonesia untuk melakukan lobi-lobi international khususnya AS dan negara-negara eropa. Jangan hanya demo-2 aja.

#9. Dikirim oleh Terto  pada  28/06   07:54 AM

Dulu saya mengidolakan PKS sebagai kekuatan Islam yang riil dan dapat dipercaya sehingga saya mati2an mendukung dalam beberapa pemilu. Namun kini ketika PKS berubah wujud menjadi Partai Kebangkitan Sekuler, saya tegas menolak PKS lagi. Kini, tiada PKS lagi di hati, karena mereka sudah ingkar janji. Bukan istiqomah yang mereka lakukan, tapi rayuan Demokrasi sampah yang mereka harapkan… Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun…..
Good bye PKS…. I hate demo crazy…

#10. Dikirim oleh fauzi rachman  pada  28/06   01:21 PM

Kalau PKS masih melakukan perbuatan2 diskriminasi kpd golongan2 lain seperti Ahmadiyah,Liberal, anti Amerika,anti isreal,serta mendukung Syariat islam di aceh, mendukung golongan Islam Hamas (fundamentalis )dari pada abbas….sesungguhnya PKS hanya bermain politik dgn umat non Islam…Salah satu sisi menerima non Islam satu sisi lain masih diskriminasi dgn Ahmadiyah, syiah,liberal dll
Mari kita saksikan permainan PKS
salam

#11. Dikirim oleh alatif  pada  28/06   05:12 PM

PKS, apapun komentar Anda-anda, akan terus maju menegakkan kalimtullah, menegakkan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan di Indonesia. Allahuakbar!!!!

#12. Dikirim oleh komit Islam  pada  29/06   07:55 AM

Tentunya bagi ummat islam yang berakal-budi tidak serta merta terbawa arus pemikiran JIL. Tentang tujuan sebenarnya PKS membuka diri itu apa? Pluralis ataukah Nasionalis? Jadi patut juga kita pertanyakan maksud dan tujuan dari pihak yang mengkomentari perubahan PKS tsb. apa? SKSD (sok kenal sok dekat) ???

#13. Dikirim oleh Ben Chuldun  pada  29/06   09:37 AM

Jangan hanya retorika, ngaku pluralis, tapi diam aja kalau ada FPI main hakim sendiri seolah2 wakil mulaikat, ahmadiyah dihajar tapi anda membisu, gereja dibakar juga tidak ada pembelaan pada hal itu tempat nyembah ke Tuhan juga, budaya lokal hilang juga cuek, malah budaya asing masuk dibiarkan. Mana bisa sesering dulu kita bisa lihat ibu2 kita anggun karena pakai pakaian nasional bersanggul dan berkebaya. Rakyat sendiri ditindas koruptor anda gak peduli, tapi kalo bangsa lain sengsara, sampe demo ngerahkan ribuan masa sambil bawa2 bendera bangsa lain. Kalo sudah jadi parpol ga usah ikut2an demo, kan sudah punya suara di parlemen. Demo itu punya mahasiswa, buruh, rakyat miskin dan lainnya yang ga punya partai. Ada anggota parlemen ngaku bersih tapi masih nipu (konco2nya belain lagi).
Apakah masih Ngaku bahasa satu bahasa Indonesia? Kalo iya, tolong nama2 jalan, nama2 instansi yang menyertakan bahasa asing diingatkan, apalagi ada ormas yang berbendara bertulisan bahasa asing dibiarkan aja, harusnya suruh ganti pake bahasa indonesia. Niscaya kata dan perbuatannya sama (tidak omdo) saya akan ikut…. pasti

#14. Dikirim oleh pramono  pada  29/06   04:58 PM

Kalau benar2 mau pluralis jangan hanya dimulut saja. Buktikan dengan tindakan, lindungi minoritas, Ahmadiyah yang diuber2 tolong dibela, FPI yg bertindak anarkis tolong disadarkan, patung2 karya seni jangan dihancurin, mendirikan tempat ibadah kenapa harus dipersulit, jangan over acting membela bangsa lain sampe2 mengerahkan ribuat umat dg bawa2 bendera bangsa lain seolah bukan hidup di Indonesia, bela dong rakyat miskin berantas itu koruptor. Seharusnya parpol tdk perlu demo (kayak kampanye aja) seharusnya perjuangkan lewat DPR. Demo itu milik mahasiswa, NGO, buruh, rakyat miskin yg semuanya ga punya wakil di parlemen. Tolong etika ini diperhatikan, rakyat mencatat. Kalau mau jadi pluralis sepertinya harus banyak belajar sama ide2 dan ajaran Dus Dur (alm)

#15. Dikirim oleh jojokarambol  pada  30/06   02:51 AM

wah, terlanjur patah arang sama PKS. Masak waktu pemilu belum apa-apa sudah menyiratkan bisa ‘warna’ apa saja. Jangan-jangan, kalau suatu hari Islam ngak jadi mayoritas, maka ‘arah’ partainya jadi beda.Bukan berarti harus ‘keras’, tapi paling tidak tunjukkan konsistensi donk. Namun to be fair, partai bernuansa islam yang lain pun seperti itu. Apakah berarti sebaiknya agama dan politik jangan dicampur?

#16. Dikirim oleh gugus komenan  pada  01/07   06:51 PM

penulis artikel ini kurang memahami arti pluralis dan pluralisme. pluralis sudah menjadi hakekat islam mengakui dan menghormati keberadaanpaham lainnya, tetapi tidak mengakui kebenarannya (ini pandangan pks) sementara pluralisme adalah paham yang mengakui kebenaran semua agama. harapan saya para pemikir pluralisme di indonesia meng apresiasi pandangan2 pks untuk perbaikan bangsa yang tertuang dalam buku tebal platformnya ini bukti nyata pemikiran dan ide pks yang diinspirasi oleh ajaran islam.

#17. Dikirim oleh didi  pada  02/07   09:08 AM

Sebaiknya jgn membawa agama sbg dasar ideologi politik. Dunia politik sangat kotor, penuh intrik, kemunafikan bahkan mengabaikan moral untuk mencapai tujuan. Kalau semua hal buruk tersebut dilakukan partai berideologi agama bukankah secara tidak langsung memberikan gambaran seperti itulah kira-kiranya agama yang kita jadikan dasar ideologi partai. Mungkin akan lebih baik menjadikan MORAL sebagai dasar ideologi politik sehingga kita tidak merendahkan agama. Di dunia banyak manusia tidak beragama tetapi mereka lebih bermoral dari manusia yang mengaku beragama . Tidak beragama bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan, mereka tidak mau terikat dengan merk-merk agama.Kalau memang AGAMA lebih tinggi kelasnya daripada MORAL mengapa bangsa kita yang mengaku sangat BERAGAMA masuk kategori/kelompok NEGARA TERKORUP di DUNIA, kategori BANGSA BAR-BAR karena kasus Mei 98, pelanggar HAK ASASI bagi umat beragama MINORITAS. Kita mencantumkan KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai DASAR NEGARA ...NOMOR 1 di dalam 5 Sila lainnya…tetapi tingkah laku kita tidak menggambarkan demikian. Apalah arti sebuah merk agama tanpa MORAL di dalamnya.???? Apakah Tuhan lebih mementingkan kita memeluk sebuah merk agama ketimbang MORAL ..? Bukankah kita sering mendengar kata-kata ” harus berdasarkan agama ” ...apakah agama yang kita peluk tidak berMORAL atau kita sbg pemeluknya yang tidak ber MORAL…Kalau kita yang tidak ber MORAL sebaiknya jangan membawa bawa agama sbg tameng karena kita menjatuhkan agama yang kita anut bukan..?

#18. Dikirim oleh BenFV  pada  03/07   07:56 PM

wah wah sy setuju budaya lokal dikembangkan yang positifnya.budaya asing perlu kita usir,yang dapt merusak karakter bangsa yang luhur,jadi demokrasi dan sekulerisme kudu kita perjuangkan sampai titik darah penghabisan untuk hengkang dari negeri ini.

#19. Dikirim oleh badido  pada  05/07   01:47 AM

gue setuju ..partai politik di indonesia yg notabene berbasis islam kaya PKS ..terlalu jauh tuk mikirin itu..nyari untung dngan kejadian di belahan dunia..semuanya hanya tuk populeritas belaka..

#20. Dikirim oleh muhsin  pada  05/07   05:28 AM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?