Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.
Komentar
Secara umum, saya setuju bahwa kita umat Islam harus ber-ijtihad. Namun, kalau kemudian ijtihad-nya malah merusak atau menganjurkan orang untuk berbuat minimalis dalam beribadah…tentu ini bukan lagi ijtihad tapi sudah penyesatan.
Contoh soal jilbab. Sepanjang pengetahuan saya yang dangkal ini, jilbab itu manifestasi dari perintah untuk menutup aurat bagi muslimah. Bagi saya pribadi, tidak ada yang salah dengan orang berjilbab. Berjilbab memiliki banyak kebaikan, dimata Allah maupun bagi hubungan manusia. Mata lelaki yang biasa jelalatan akan sejuk melihat muslimah berjilbab.
Berjilbab, juga insya Allah akan lebih menjaga harkat dan martabat yang bersangkutan, maupun keluarganya. Tentu statement saya ini dikaitkan dengan orang yang memang berniat tulus untuk berjilbab, bukan yang sekadar mode atau numpang lewat di TV pas bulan ramadhan.
Dengan berjilbab juga bisa sekaligus bersifat syiar agama dan menuntun yang bersangkutan untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan berkata. Rasanya orang yang berjilbab, meskipun lagi bete nggak akan masuk diskotik yang penuh dengan kemaksiatan dan alkohol. Tapi kalo berdandan funky (sesuai modernisasi saat ini) dan lagi bete…ada teman yang ajak ke diskotik mungkin oke aja…dan berpotensi untuk melakukan dosa.
Jadi saya sama sekali tidak mengerti kok malah Ulil mengajurkan orang untuk tidak berjilbab? Lalu ketika kebetulan seorang muslimah kesasar ke pantai nudis, apakah dia harus telanjang karena yang tidak telanjang malah tidak sesuai dengan norma setempat?
Premis yang dibangun Ulil sama sekali tidak membangun umat, melainkan hanya menyesatkan dan menjauhkan umat dari tuntunan agama. Apakah Ulil juga tahu konsekuensi tulisannya mungkin akan di amini oleh sebagian umat yang lain? Kalau ternyata di akhirat nanti, kata Tuhan jilbab itu wajib, apakah Ulil mau menanggung dosa puluhan atau ribuan muslimah yang mengamini pendapat Ulil ini? Atau alih-alih menyebabkan orang lain sesat, kenapa tidak bung ULil sendiri memulai untuk sholat lima waktu dengan menggunakan celana pendek. Toh yang penting kan isinya, bukan bungkusnya?
Menurut saya, hati-hati berpendapat…apalagi bila anda mempunyai kapasitas disemminasi berita yang luas. Ilmu memang bisa mencerahkan…tapi bisa juga menyesatkan.
Jangan Islam di liberalkan bung, tapi liberalisasilah yang harus bernapaskan Islam.
Kita memang harus baik pada masyarakat non muslim, tapi bukan berarti kita harus selalu memakai baju mereka untuk bisa dibilang toleran dan menjunjung hak asasi.
Saya takut lama-lama Islam Liberal bisa menjadi semacam Kristen Protestan yang menjadi Oposan dari Kristen Katholik. Audzubillah min zalik. Semoga kita semua selalu dilindungi Allah Swt dan dijauhkan dari kesesatan.
Wassalam
Iwan Setiawan
Mas Ulil,
Saya berterima kasih sekali karena tulisan Anda ini banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam hati saya selama ini seperti contoh jilbab: apakah memang harus atau budaya arab? Apabila Islam di turunkan di tempat penduduk eskimo, apakah berarti kita harus pake baju yang tebel banget juga? Kalo lihat di film-film suster Katolik juga pakai baju yang mirip jilbab, apakah ini karena ada di Injil atau memang kebudayaan Timur Tengah, ya? Dan saya lihat juga di sekeliling saya, teman-teman saya yang berjilbab juga tidak menampakkan perubahan pribadi yang signifikan, kelakuannya sama-sama saja, suka nyontek juga. Jadi gimana ya?
Soal kesamaan agama: saya juga berpikir apabila ada orang yang sangat baik di daerah yg tidak tersentuh oleh Islam, denger azan pun nggak pernah, apakah dia juga akan masuk neraka, hanya karena dia tidak islam? Khan rasanya nggak adil juga kalau dia sampai masuk neraka ya. Dan saya juga suka bingung dengan istilah ‘ulama’ itu dapet darimana? apa harus lulus pesantren? Atau harus sekolah apa? apa kriterianya untuk jadi ulama? apa kalo saya naek haji trus bikin pesantren, maka saya bisa jadi ulama?
Terus terang saya masih sangat muda, dan pengetahuannya masih sangat minim. Mohon maaf kalo ada kata-kata yg salah. Tetapi keingin tahuan saya sangat besar tentang islam. Sejak adanya website ini, terus terang saya selalu mengikuti karena dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam hati ini, yg kadang kala kalo saya tanyakan dengan pak ustad di pengajian penjelasannya malah suka membingungkan saya.
Ahmad Arief, .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Salam
Menanggapi Ulil, memang butuh ketelitian. Beberapa hal mungkin dapat menyesatkan, seperti Islam adalah organisme yang berkembang yang dimaksud Ulil dalam tulisannya itu adalah Islam sebagai agama, atau ilmu agama (bahasanya A. Karim Shorous yang diterjemahkan Mizan dari kata ma’rifatuddin). Perlu dibedakan antara agama dan ilmu agama. Di mana yang pertama sebagaimana maklum Islam sebagai agama tentu tetap sebagai sebuah rujukan (referensi) bagi penganutnya yang terdiri dari Al Quran dan Hadist (Nabi, keluarganya, sahabat-sahabatnya). Tidak ada yang mau membantah jika Islam adalah yang disebut demikian.
Sementara Islam sebagai ilmu tentu kita berbicara tentang tafsir terhadap agama Islam tersebut. Bagi Ulil ataupun penganut liberalisme, tafsir yang membentuk sebuah teori (merujuk pada Karim Sorous) agama Islam, teori yang tentu saja dipengaruhi oleh medan-medan penelitiannya. Termasuk dalam hal ini adanya intervensi budaya, dan ruang hidup. Sehingga sebagai sebuah teori, ilmu agama Islam pun dapat berubah-ubah sebagaimana halnya organisme. Demikian jika saya tidak salah menangkap maksud Ulil. Sementara saya sendiri menganggap ajaran Tuhan itu satu (tauhid) dalam Islam kebenarannya tidak bergantung budaya atau di mana saya hidup. Sehingga teori tentang teori organisme agama Islam yang dikemukakan Ulil sendiri perlu dipertanyakan rujukan epistemologinya (nadzuriyah al ma’rifahnya).
Kemudian Islam sebagai sebuah agama dan ibadah yang dilakukan penganutnya adalah reproduksi dari rujukan (referensi) dari apa yang pernah dilakukan dan diperintahkan dalam hal ini Al-Quran melalui Muhammad. Sehingga jika Ulil mengatakan harus ada rujukan sosial baru dalam menafsirkan rujukan agama (dalam hal ini budaya, tempat, etika) tentu saja bukan referensi agama lagi namanya. Melainkan referensi norma/nilai-nilai sosial. Jadi ini ketidakjelasan berikutnya dari arah kritik Ulil. Apakah kritik pertama Ulil itu pada Islam sebagai agama atau Islam dalam praktik keagamaannya.
Sepertinya arah kritiknya adalah kepada perilaku pemahaman penganut terhadap agama Islam. Meskipun Ulil mengatakan juga tentang perlu adanya kajian kritis terhadap ajaran kitab suci, bahkan kalau perlu Muhammad pun harus dikritisi sebagai tokoh historis.
Ini berarti Ulil mengkritik Islam sebagai agama. Kritik yang dapat kita lihat dari tulisannya tentang ajaran Islam seperti qishas, rajam, potong tangan dll.
Kemudian Ulil mengkritik pemahaman penganut islam yang mengikuti referensi tanpa pemikiran dan pemahaman. Pemahaman yang disebut dengan Ilmu agama(dalam hal ini saya tidak sepakat dengan Karim Shorous). Oleh karenanya menurut ulil sifat penafsiran baru tadi akan berpengaruh terhadap pemahaman lokalnya dan agama harus dipisahkan nilai substansialnya dengan ekspresi budaya. Dengan kata lain perlu ada pemahaman yang relatif terhadap referensi agar terjadi dinamika dalam agama.
Sekali lagi membingungkan arah kritik ulil, apakah agamanya atau-kah ekspresi pemahaman terhadap agama. Sebab ulil mengkritik qishas sebagai ekspresi budaya, rajam sebagai ekspresi budaya, yang tentu saja dia harus mempertanggungjawabkan secara filosofis dan historis bahwa itu memang ekspresi budaya (yang tidak diterangkannya)dan bukannya referensi dari agama.
Kedua, fleksibilitas agama yang ulil maksud sepertinya diambil dari pemahaman Popper tentang teori probabilitas, chaos, dan diadopsi Sorous dengan teori mengembang-menyempit (ganze-e-marifatye/dari terj,bahasa parsinya: artinya teori kembang-kempis agama). Maksudnya adalah ilmu agama itu fleksibel dan relatif.
Jika memang benar relatif pemahaman terhadap agama itu, tentu saja usulan Ulil kita relatifkan pula benar-salahnya, anggap saja sekarang relatif benar, besok relatif salah. Jadi ulil sebenarnya tidak perlu serius menanggapi fenomena munculnya fundamentalisme Islam, lagi pula bukankah liberal itu artinya menerima kebebasan, termasuk bebas pula menerima tafsir yang berbeda dengan kita.
Jika kritik Ulil adalah tentang pengetahuan terhadap agama yaitu ilmu agama adalah relatif bergantung dari kondisi. Maka pertanyaannya adalah apakah kondisi yang mempengaruhi itu benar-benar ada, ataukah hanya gagasan. Sebab keyakinan dalam Islam jika Tuhan tidak mungkin tiga adalah mutlak tidak bergantung kondisi. Sehingga di sinilah perlu kejelasan apakah yang dikritisi Ulil adalah Islam sebagai fenomena sosial atau sebagai sebuah ajaran. Jika fenomena sosial tentunya boleh-boleh saja kita berbuka puasa pakai timun suri, orang Islam Arab pakai kurma. Tapi sebagai sebuah ajaran, sampai kapalan tetap saja orang Islam tidak menerima tuhan tiga sebagai sebuah kebenaran.
Tapi orang kristen sebagai makhluk Tuhan tentu semua sepakat. Jadi yang sebenarnya perlu kita gagas sebenarnya masalah muamalah dimana hukum-hukum antara makhluk berpikir dikonvensikan dan bukannya kritik terhadap ajaran atau referensinya. Ulil tidak perlu ngotot memarahi Ba’asyir sebagai salah dalam memahami agamanya, yang perlu diototi adalah Ba’asyir bikin rusak properti umum. Tapi juga diskotik yang bikin rusak properti moral harus juga dicegah.
Kemudian gagasan jilbab sebagai kepatutan sosial, saya tidak setuju. Alasannya terlalu naif jika hanya masalah patut-tidak patut. Sebaiknya ditarik pada ranah spekulatif (filosofis) atau pendekatan wacana. Bahwa jilbal adalah penanda (signifier) atau jilbal adalah batas. Sementara batas sendiri dalam tatanan filosofis diartikan sebagai definisi (pengenal) maupun teritorial. Sehingga apabila orang menggunakan jilbab dalam rangka pengenal, penanda, maupun menegaskan batas teritorial seorang perempuan itu sah-sah saja.
Termasuk orang non-islam pun boleh-boleh saja menggunakannya dalam pengertian filosofis dan wacana tadi. Nah seandainya memang kepatutan sosial masalah berpakaian itu, tentunya perempuan dengan udel mengembang dan pantat melorot tentunya dapat diartikan sebagai sebagai penanda (signifier) untuk dapat dilihat dan diplototi. Atau definisi (pengenal) untuk perempuan moderal dan liberal, termasuk liberal juga buat dijarah teritorialnya. Untuk diskusi yang tak berbobot saya tidak punya meja untuk membahasnya
Tabik. Salam
Andi Hakim, MAULA (Masyarakat Universal Lintas Agama), .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Puji Tuhan,
Sudah sekian lama saya mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengungkung diri saya. Akhirnya saya hampir saja menemukan jawabannya di Islam Liberal, dengan membaca tulisal Ulil Abshar : Menyegarkan kembali pemahaman islam.
Tetapi saya ingin lebih jauh lagi menanyakan dan memastikan supaya saya dapat mantap dengan keyakinan saya.
Saya sangat terkesan sekali dengan tulisan Mas Ulil Abshar mengenai :
“Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya. “
“Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.”
Sudah lama saya merasa terbelenggu dengan aturan-aturan yang umum dilaksanakan muslim. Saya orang yang cinta kedamaian, tidak suka berbuat rusak, mengakui Tuhan yang Esa, takut berbuat dosa, tetapi saya sangat tidak suka sekali jika harus diperintah-perintah harus mensucikan diri dengan wudlu, bersujud sembahyang, berlapar puasa, berhaji. Karena saya sudah tahu itu semua tujuannya. Jalan panjang menuju Yang Maha Benar yang saya lalui kiranya tidak salah sedikitpun. Saya islam dalam arti yang disebutkan di atas dan saya ingin melakukannya seperti agama-agama yang lain tidak seperti Islam Umumnya (seperti yang Ulil sebut). Saya ingin seperti orang Budha yang penyabar, seperti Kristiani yang jika saya berdosa, bisa ditebus langsung melalui pengakuan dosa ke padre karena dosa saya sudah ditebus oleh Yesus. Demi Tuhan saya merasa gerah kalau harus bersujud komat-kamit dengan bahasa yang bukan bahasa saya sendiri dan sulit dimenegerti. (bolehkah saya ganti dengan bahasa indonesia, supaya sujud saya mantap ?).
Semua agama adalah benar dengan variasi dus kemudian saya ingin variasi yang tidak membuat saya membenci Tuhan karena merasa dikungkung, variasi yang saya sukai sesuai dengan nilai universal di Islam Liberal. Tuhan kan tidak pernah menurunkan Hukumnya ? Tidak ada Hukum Tuhan mengenai ini kan ? Mas Ulil, saya gemetar saking gembiranya. Saya tidak dihukum karena tidak Sholat kan ? karena saya ingin ikut Islam seperti orang Kristiani yang tidak pakai Sholat 5 waktu. Tuhan tahu kan Mas ? ini urusan manusia. Tuhan tahu kan mas bahwa saya tunduk, patuh dan mengakui Tuhan yang satu ? Tuhan tidak menurunkan hukumnya buat ini kan mas ? ini kan hanya kebiasaan orang arab kan ? yang harus berbincang-bincang arab kalau berdo’a ? saya kan bisa berdoa bahasa indonesia kan ?
Saya sangat tidak suka sekali kata-kata bahasa Arab, seperti Allahu-Akbar, Alhamdulillah, Astaghfirullah. Karena sesungguhnya itu ucapan dimulut, tidak pernah menyentuh hati. Lagian kan itu bahasanya orang Arab, budaya Arab ?. kenapa harus ikut ? yang penting kan intinya saya membesarkan nama Tuhan, Beryukur, dan memohon ampun ? Benar kan Mas Ulil Abshar ? Bukankah nilai universal ketundukan saya sudah Tuhan ketahui, apakah saya ada di jalan yang benar ? akankah saya masuk surga jika terus mengamalkan keyakinan saya ?
Demi Tuhan saya muslim, tapi saya tidak ingin seperti muslim yang mas Ulil sebut, muslim dogmatis.
Jika saya punya banyak uang tidak perlu saya sisihkan sejumlah berapa persen, suka-suka saya, serelanya saya, soalnya kadang saya merasa berat kalau harus dipotong 2,5% gaji saya. Saya ingin kalau saya rela saja, 1% atau berapa saja yang saya inginkan. Tuhan kan tidak pernah menurunkan Hukumnya untuk ini kan ? ini adalah urusan manusia kan mas ? yang penting intinya sudah saya pahami, harus berbagi dengan sesama. Mengenai berapanya kan urusan manusia kan ?
II. Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.
Pernah saya mencuri dalam artian seperti korupsi. Saya takut benar bahwa sesungguhnya saya sebenarnya sudah di potong tangan. Tetapi baru sekarang saya lega, ternyata saya sudah menunaikan kewajiban saya. Saya sudah kembalikan uangnya, kemudian saya tambahi dengan uang tebusan. Saya dan kantor sama-sama ikhlas. saya sudah menebus dosa saya, memberi kesenangan orang lain. Sudah benar kan mas apa yang saya lakukan ? saya sudah terbebebas dari dosa mencuri kan mas ?Demi Tuhan saya ingin mas Ulil menjawab ini. Supaya saya dapat keyakinan, saya orang awam. Kalau mas Ulil bisa memberi ketenangan saya, saya bersyukur.
III. Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.
Memang mas, saya kadang agak ragu, karena saya tidak pernah mendengar dan melihat Rasul secara langsung. Cuma cerita-cerita sejarah saja. Alquran bagi saya cuma sejarah. Yang penting menghayati nilai-nilai universal yang dikandungnya. Rasul tidak lebih hanya sekedar tokoh sejarah saja, saya setuju. Itu juga yang menyebabkan saya enggan untuk Sholawat-sholawat. Apa hubungannya saya menyebut-nyebut Rasul ? Masa sih dengan menyebut Rasul saja saya dapat syafaat (katanya), dapat pertolongan di hari perhitungan ? kan tidak mungkin kan mas ? orang cuman menyebut saja kan ringan ? kenapa ganjarannya begitu besar ? Tapi saya juga masih bingung mas, soalnya waktu saya ke gereja, saya juga disuruh menyebut-nyebut Yesus. Sama temen2 budha, saya disuruh menyebut-nyebut Budha.
Saya yakin kalau pandangan Mas Ulil benar karena teman2 kristiani ternyata menyembah Tuhan Allah, cuman Tuhan Yesus juga dipujanya. Makanya saya ikut mereka pada waktu pengakuan dosa, tidak perlu susah-susah sholat Jum’at atau tahajut ?
Mohon mas Ulil, meneguhkan hati saya karena Demi Tuhan saya gelisah .
Saya sangat menghargai jawaban mas Ulil karena dapat menjawab kegelisahan dan kegundahan saya selama ini. Saya menemukan kedamaian di Islam Liberal.
Salam
Mochammad .(JavaScript must be enabled to view this email address)
KETIKA harian Kompas (18/11/2002) menurunkan tulisan Ulil Abshar Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, saya menduga bakal muncul banyak reaksi. Benar. HP saya dibanjiri komentar reaktif beberapa orang atas artikel itu. Semuanya bernada “mempertanyakan”.
Tulisan itu bernada “teror”. Saya nyaris yakin, saat menulis, di depan Ulil ada bayangan orang-orang berjubah dan berjenggot, membawa pedang yang di bayangan Ulil terus meneriakinya agar dia juga berpakaian dan berjenggot seperti mereka jika tidak mau masuk neraka.
Dari awal tulisan, nada geram sudah tercium. Selanjutnya, Ulil seperti hanya ingin membuat geram mereka yang membayanginya. Mereka yang ia sebut sebagai orang-orang yang memiliki kecenderungan “me-monumen-kan” Islam. Maka diulang-ulangnya kalimat yang mirip-atau sengaja diambil dari-ungkapan-ungkapan kebanyakan orientalis Barat yang paling dibenci oleh mereka yang “membayangi Ulil” itu.
Bila dugaan saya benar, inilah kesalahan pertama Ulil. Tulisan itu mestinya bukan di Kompas yang umumnya tidak dibaca oleh mereka yang ingin dibuatnya geram. Pembaca Kompas-wallahua’lam-umumnya mereka yang masih mau menyisakan perhatian dan waktu untuk membaca atau mendengar pendapat orang lain. Melihat nada tulisannya, Ulil jelas hanya menujukan kepada mereka yang ia sendiri sepertinya sudah yakin tidak akan mau “mendengarkan”-nya. Akibat salah memilih media, tulisan itu justru lebih membuat bingung mereka yang selama ini tidak bertipe sebagaimana sasarannya. Mereka yang selama ini menyikapi artikel sebagai penuangan pikiran-bukan untuk hal lain, seperti men-“teror” orang-akan bertanya-tanya, apa maunya Ulil?
Kesalahan kedua, sekali lagi bila dugaan saya itu benar: Ulil menulis dengan geram! Kegeraman, sebagaimana sikap-sikap athifie lainnya, bisa mengacaukan pikiran yang jernih; bisa membuat orang bersikap berlebihan; membuat orang tidak bisa berlaku adil, jejeg. Sikap yang justru dia sendiri serukan sebagai sesuatu yang mesti diutamakan. Itu sebabnya hakim yang sedang geram tidak boleh memutuskan hukuman. Ulil pasti sudah hafal mahfuzhat yang berbunyi “Kaifa yastiqiemudzillu wal ‘uudu a’waj?”, “Bagaimana bayangan bisa lurus bila tongkat yang menimbulkan bayangan, bengkok?” Ya bagaimana kita akan meluruskan kalau kita sendiri kacau?
KESALAHAN lain yang mestinya tidak boleh terjadi dari seorang intelektual ialah menggunakan kemampuannya untuk atau mencampurnya dengan urusan “nafsu”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Inna akhwafa maa akhaafu ‘alaa ummatie: asyirku billah. Alaa inni laa aquulu ta’buduuna watsanan walaa qamaran walaa syamsan; walaakin al-a’maal lighairillahi wa syahwatin khafiyyah.” Au kamaa qaala Rasulullah SAW. “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku ialah menyekutukan Allah. Ingat, aku tidak berkata kalian akan menyembah berhala, rembulan, atau matahari; tapi yang kumaksud: amal-amal yang dilakukan bukan karena Allah dan adanya kepentingan yang tersamar.
Amar makruf nahi munkar yang populer itu, hakikatnya adalah manifestasi dari kasih-sayang. Maka, ada dawuh, “Amar makruf nahi munkar, hendaklah dilakukan secara makruf dan tidak boleh dilakukan secara munkar.” Untuk dapat ber-amar-makruf-nahi-munkar secara benar, menurut saya, harus didahului kasih sayang. Orang yang tidak mempunyai rasa kasih sayang, sulit dibayangkan dapat melakukan amar makruf nahi munkar. Dengan kata lain, amar makruf nahi munkar adalah istilah lain dari rahmatan lil‘alamien. Wallahu a’lam.
Semua orang tahu, semangat yang berlebihan kadang menyeret orang kepada perbuatan bodoh. Apalagi, bila tidak disertai pemahaman yang cukup atas apa yang disemangati. Ulil sudah tahu, bahkan tampak sudah menjadi “obsesi”-nya, banyak di antara kaum beragama yang terlalu bersemangat dan tidak disertai pemahaman cukup atas agamanya, justru terbukti lebih banyak merugikan, terutama bagi citra agama itu sendiri. Maka sudah semestinya Ulil tidak bersikap sama. Terlalu bersemangat dalam “memerangi” apa yang dianggapnya “musuh Islam”, sehingga justru mengaburkan pikiran jernih yang ingin dikemukakan.
Kesalahan terakhir-mudah-mudahan benar-benar terakhir-Ulil menulis itu pada bulan suci Ramadhan, dimana seharusnya umat Islam menyerap kasih sayang Ilahi bagi merahmati sesama.
Sengaja saya tidak menanggapi isi atau materi tulisan, karena seperti dikemukakan di atas, saya tidak melihat tulisan Ulil kali ini dimaksudkan untuk mengutarakan pikiran, bahkan wacana sekali pun. Saya yakin kalau membaca lagi tulisannya, dia akan menyesal, minimal agak menyesal, atau saya mengharapkan begitu.[]
A. Mustofa Bisri, Mertua Ulil Abshar Abdalla
Saya adalah umat Kristiani.
Saya sangat setuju dengan kolom mas Ullil yang ditulis di KOMPAS (18/11/2002 ).
Saya tahu bahwa itu akan menimbulkan reaksi keras dari umat Islam terutama yang golongan radikal. Tetapi terus terang saja, akhir akhir ini dengan gelombang kekerasan di Bali , Makassar tulisan dari Mas Ullil dapat menyegarkan kita semua. Saya setuju bahwa agama adalah “baju” yang masing masing berlomba lomba ke arah yang sama menuju penyempurnaan terus menerus demi kemajuan umat manusia secara keseluruhan.
Gelombang kekerasan di tanah air harus kita hentikan bersama, dan semoga kita tetap “eling ” bahwa hakekatnya adalah satu bangsa, tidak ada gunanya saling menyerang satu sama lain.
Gesit MP, .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Mengamati Pergeseran Iman
Puji syukur kepada Allah SWT. Sholawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah bersalah yang telah diutus Allah dengan membawa agama Islam (berupa hukum dan tata aturan) untuk menuntun umat manusia kepada cara hidup yang benar yang meliputi cara hidup individu, bermasyarakat dan bernegara.
Sesungguhnya isu yang diangkat saudara Ulil bukanlah suatu hal yang baru, bahkan sudah ada sebelum saya dan saudara Ulil terlahir. Artinya itu bukanlah murni pikiran saudara Ulil dan para ulamapun sejak dulu sudah menjelaskan secara rinci dan jelas. Namun saya tidak menganggap perlu untuk menukilnya dalam tanggapan yang ringkas ini, bagi saya ada hal yang lebih penting dari itu semua yaitu berpelukan denga saudara Ulil mengajaknya kembali membenarkan keimanan untuk keselamatan dalam keabadaian.
Dalam tulisan ini pertama-tama saya mengingatkan saudara Ulil bahwa nikmat Allah terbesar yang dianugerahkan kepada hambaNya adalah keimanan yang dititipkan kesetiap kalbu hambaNya. Seorang hamba yang melakukan perbuatan kemaksiatan selagi ia dengan kesungguhan hati mempercayai bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusanNya maka tidaklah ia akan abadi selamanya disiksa dalam api neraka. Ya …. keabadaian didalam neraka yang sunggguh mengerikan.
Kepada saudara Ulil saya ingin menyampaikan berikut ini :
1. Bertolak dari kepercayaan saya bahwa saudara Ulil adalah termasuk orang yang dengan tulus percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusanNya terpanggil saya untuk bertanya sekaligus mengajak saudara Ulil merenungkan kembali tulisan saudara. Hal itu semata-mata karena saya ingin antara saya dengan saudara Ulil tetap sebagai saudara seiman dan kelak diakhirat masih dianggap oleh Allah sebagai pembela agamaNya dan dianggap sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Bukankah ini puncak harapan kita saudara Ulil sebagai imbalan dari kerja keras kita di dunia ini? Demi Allah, saya tidak ingin ada musibah yang menimpa keimanan saudara Ulil.
Saudara Ulil… di saat Anda menulis, sejauh mana Anda memberi kesempatan kepada hati anda untuk meresapinya. Kemudian sejauh mana kepercayaan anda kepada Allah dan sampai dimana kepercayaan anda kepada Nabi Muhammad sebagai penyampai pesan-pesan-Nya. Percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja tidak cukup untuk menjamin keselamatan anda dan saya sendiri, lebih jauh dari itu harus dibarengi ketulusan hati kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yahudi yang ada di sekitar Nabi disaat itupun adalah sangat mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dengan seyakin-yakinnya (lihat Qur’an Al-baqoroh ayat 146), tapi karena tidak ada ketulusan di dalam hatinya dan dicumbuinya mereka oleh akal kedengkeian, dan kecongkakan mereka, maka merekapun menolak untuk pasrah dan menginsyafi kenyataan itu. Dan akhirnya merekapun tidak tergolong dalam orang-orang yang selamat. Jika anda percaya kepada Allah lalu anda tidak mempercayai akan adanya hukum Allah, lalu hukum siapa yang Anda percayai dan untuk apa Rasulullah diutus? Dan apa yang anda maksudkan tentang islam? Apa bedanya islam itu ada atau tidak ada ? Toh manusia juga akan menciptakan hukum oleh mereka sendiri untuk mereka berdasarkan kesepakatan seperti yang anda yakini itu? Saudara Ulil …. apa yang anda inginkan dengan pengingkaran anda terhadap hukum Allah. Anda ingin meniadakan hukum zakat karena pengambilan zakat menjamah hak pribadi seseorang? Anda ingin menghapus shalat karena kesibukan saat ini menuntut untuk meniadakannya? Atau anda ingin meniadakan tata cara pernikahan yang harus dibarengi dengan syarat-syarat sesuai hukum Allah hingga cukup dengan suka sama suka dan berdasarkan kesepakatan dua sejolipun boleh berbuat apa saja? Atau anda igin memperkenankan seorang sauadara menikah dengan saudarinya ataua seorang ibu dengan anaknya atau poliandri ingin anda gulirkan asalkan sang suami menyetujui? Aastagfirullah ‘aladziiim….. Saudara Ulil… hukum Allah harus ada dan harus diimani yang disampaikan melalui wahyu yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits lalu penjabarannya pun diserahkan kepada hambaNya sebagai kemurahan dari Allah tanda kasih-Nya. Dari penjabaran itu semua ada nilainya dihadapan Allah. Bahkan disaat salahpun Allah masih memberi penghargaan dengan satu pahala dan yang benar dua pahala. Jika anda pakar hukum Islam anda boleh mengingkari sebagaian penjabaran para pakar hukum sebelum anda.
Tapi yaitu syaratnya Anda juga pakar dalam hukum Islam. Dan untuk menjadi pakar hukum islampun harus mempercayai seratus persen akan adanya hukum islam itu sendiri. Saya mohon dengan sangat agar anda jangan terlalu jauh dari sirathal mustaqim. Jika ada satu saja dari hamba Allah yang mendengar perkataan anda lalu berkeyakinan bahwa hukum Allah itu tidak ada, apa yang akan anda katakan sebagai pertanggungjawaban anda kelak dihadapan Allah SWT.
2. Tentang Nabi Muhammad SAW saya mengajak saudara Ulil untuk menanyakan kembali hati kecil anda tentang hubungan anda, kepercayaan anda dan ketulusan anda kepada Nabi Muhammad SAW seorang Nabi sempurna yang harus anda cintai, yang harus anda patuhi yang anda tidak bisa mengatakan tidak disaat beliau mengatakan ya dan anda tidak bisa mengatakan ya ketika beliau mengatakan tidak (Lihat Qur’an An-nisa ayat 65). Nabi Muhammad memang seorang manusia tapi anda melihatnya tidak boleh berhenti sampai disini, tapi anda harus meyakini juga bahwa Ia mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Ya … wahyu yang hanya diturunkan kepada seorang nabi bukan kepada saya atau anda atau manusia abad ini yang paling anda kagumi sekalipun. Nabi Muhammad adalah manusia tapi Ia tidak pernah bersalah. Adakah seorang mukmin yang tulus dan mengerti tentang fungsi kenabianNya tidak sependapat dengan ini ? Ucapan anda bahwa nabi Muhammad pun banyak bersalah adalah suatu hal yang amat besar, apakah saudara ulil menyadarai perkataan itu ? Darimana anda bisa mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu juga punya banyak kesalahan seperti saya dan anda? Apa tolok ukur anda, apakah kesepakatan manusia lagi yang akan anda jadikan standar? Apa yang anda inginkan dari itu semua? Agar umat Islam meninggalkan Nabinya, dan hukum-hukumnya, lalu beralih kepada kesepakatan mereka sendiri? Inti permasalahan ini adalah sama dengan yang sebelumnya yaitu menjauhi dan meninggalkan Islam.
Akhir dari tulisan saya ini, saya mohon kepada Allah agar menjaga iman saya dan iman saudara Ulil dan kaum muslimin semuanya.
Yahya Zainul Maarif Jamzuri
Mahasiswa program pascasarjana UNIV Al-Ahgaff Yaman
Email: .(JavaScript must be enabled to view this email address), .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Assalamu’alaikum wr. wb
Membaca tulisan Mas Ulil Abshar Abdalla (islamlib.com), tampak sekali pikiran-pikiran sekuler dan rancu banyak termuat di dalamnya. Entah bagaimana dan di mana metodologi Mas Ulil dkk belajar tentang Islam.
Meminjam kemauan Mas Ulil -bahwa pemikiran Anda ingin tampil beda dengan pandangan yang dominan berkembang-maka tolak ukur saya adalah pandangan dominan tersebut. Saya coba mengklasifikasikan bait-bait alinea tulisan Anda dalam 3 kategori sbb; bertentangan dengan pandangan dominan masuk class 1; terlihat sepakat class 2; dan tak jelas perlu dikritisi class 3. Secara akumulasi hasilnya sbb: Class 1 sebanyak 30, class 2 sebanyak 9, class 3 sebanyak 6. Jadi yang bertentangan dengan pemikiran dominan ada 30, yang masih sesuai sebanyak 9 dan yang tak jelas ada 6.
Saya lontarkan sebagian pandangan kontroversial Mas Ulil.
Logika paling gampang untuk melihat betapa jauhnya fikiran ma Ulil yaitu, dengan melihat kesimpulan Anda bahwa semua agama sama. Pandangan dominan saya mengatakan bagaimana bisa dikatakan sama, bila Islam memandang Allah itu Ahad, tak ada sekutu bagi-Nya. sementara agama lain memandang Tuhan itu terdiri atas 3, banyak, bahkan komunisme memandang tak ada Tuhan. Apakah Tuhan berbohong kepada umat-Nya ? atau Ia sedang memberi teka-teki pada manusia akan jumlahnya?
Lalu bagaimana mungkin disatu agama Allah-Tuhan dalam tafsiran Mas Ulil-mengatakan sungguh kafir mereka yang mengatakan Isa itu anak Allah, Uzair itu anak Allah, Sementara Yahudi dan Nasrani menganggap mereka anak Allah. Mengapa mengapa tuhanmenurunkan firman-Nya yang berbeda? berhongkah jugakah Dia ? dan tega nian Dia sehingga hambanya saling berperang.
Pandangan lain yang bertentangan, pemahaman anda bahwa dalam berislam yang penting isi dari pada bentuk, sehingga Anda menyarankan menganti jilbab dengan berpakaian rok mini model Amerika karena essensinya jilbab adalah berpakaian dan jilbab, Anda tafsirkan mengurung akan wanita serta produck budaya arab. Bila pikiran Anda benar ada pertanyaan dihati kecil saya yang berpandangan dominan, apakah Mas Ulil berfikir bangsa Arab tak berpakaian saat itu, sehingga Rosul menyuruh mereka memakai jilbab? Atau kenapa wanita-wanita Islam di Iran, Turki, Etophia, Bosnia bahkan Amerika banyak yang memakai mereka toh bukan orang Arab? Apakah mereka meniru budaya arab atau meniru budaya islam? Begitu labilkah suatu kebenaran nilainya dan betapa mudahnya berubah hanya karena factor geografis dan atau budaya ? lalu apakah minyak yang banyak ditemukan dinegara arab dan terbukti kebenaran objektifnya sebagai bahan bakar dengan sendirinya menjadi bagian budaya arab. Saya yakin orang asutralia atau amerika juga memakai minyak bukan air sebagai bahan bakar kendaraan mereka, sebagai mana banyaknya dipakai dinegara arab.
Jadi bila mengaminkan jalan pikiran Mas Ulil tersebut maka umat Islam tak perlu sholat, karena esensi sholat adalah mengingat Allah dan ini cukup diganti dengan “eling” kepada-Nya; tak perlu juga bayar zakat cukup dengan mandi saja, karena esensinya zakat adalah membersihkan diri seperti halnya istinja.
Belum lagi fikirian Mas Ulil yang memandang Islam sebagai agama kontekstual sehingga nilainya perlu diterjemahkan kedalam konteks Arab, Melayu, Indonesia, propinsi, kelurahan, mungkin sampai RT ?
pandangan dominan saya mengatakan, akan semakin sulit rasanya keadilan-sebagai nilai yang diperjuangkan islam dalam tafsiran anda- ditegakan, dan bisa rusak nilai agama dan kebenaran lainnya bila semua yang telah jelas bentuknya dikembalikan lagi kepada essensi.
Saya hanya memberikan sebagian kecil esensial contoh betapa jauhnya penyimpangan fikiran Anda dan kawan-kawan Anda di Islam liberal, dari pemikiran dominan. Mungkin Mas Ulil lupa bahwa pemikiran dominan yang berkembang saat ini adalah produk panjang dari para ulama dan mujtahid termasyur islam pada zamannya. Dalam bahasa sederhana penyimpangan pikiran Mas Ulil bisa pula diartikan sesat. Maka categori class di atas bisa pula diartikan kepada arti sebagai berikut: membawa fikiran sekuler, rancu bahan sesat (Class 1), terlihat atk sesat (Class 2), dan tak jelas dan perlu dikritisasi lebih jauh akan kesesatannya (Class3). Wajar bila saya termasuk yang berkesimpulan fikiran Mas Ulil dan Jaringan Islam Liberal yang antum banguan jauh kepada kesesatan daripada pembaharuan. Masih banyak waktu buat Anda untuk bertaubat..
wassalam,
.(JavaScript must be enabled to view this email address)
ibaraki ken 305-0046, Japan
Saya hanya ingin mengomentari pandangan anda tentang jilbab. Menurut anda, inti jilbab adalah mengenakan yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Anda bisa lihat sendiri pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh dan memperlihatkan sebagian besar bagian tubuh wanita sedang menjadi trend saat ini. menurut anda, bila pakaian seperti itu yang menjadi public decency, apakah berarti jilbab adalah pakaian seperti itu? Saya sendiri tidak mengenakan jilbab, tetapi pendapat anda sangat mengejutkan saya. bagaimana dengan daerah seperti Bali jaman dahulu yang menganggap memperlihatkan bagian dada wanita hal biasa? bagaimana dengan di Irian? Kalau begitu, jilbab pada masa ini adalah pakaian yang memperlihatkan pusar dan lengan, sementara di masa yang akan datang entah seperti apa lagi bentuknya.
Kalau ide seperti ini yang dipopulerkan, menurut anda apak yang akan terjadi nantinya? Ingat, hal-hal yang berbau negatif akan lebih cepat diserap masyarakat daripada hal-hal positif. terlebih pada masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih “peniru”.
Silahkan berpikir lagi….
Herika Rainathami, .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Assalamu’alaikum
Selamat pagi,
Tidak ada yang orisinil dan tidak ada yang baru dari seluruh pemikiran yang disampaikan Pak Ulil. Bahwa ada orang Islam yang tidak setuju jilbab dan jenggot, bahwa ada yang tidak setuju larangan kawin antar agama, bahwa ada yang berpendapat semua agama benar, pemikiran-pemikiran itu sudah lama muncul. Bahkan pemikiran bahwa semua agama benar telah ada sejak masa klasik dengan konsep wihdatul adyan.
Pak Ulil berhak menyampaikan hal itu, tapi harus disampaikan dengan cara bijaksana, dengan hikmah. Saya yakin yang dipentingkan disini adalah apa yang ingin disampaikan bisa dipahami orang, bukan “yang penting sudah disampaikan”.
Saya menangkap kesan ada kekurangan dalam “hikmah” dalam penyampaian Pak Ulil ini.
wassalam
Hurip Santoso, .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Itu lah yang dimaksud dengan Ulil. Bahwa Kepantasan Jilbab adalah sesuai dengan kepantasan umum disuatu daerah. Jadi bila suatu daerah ciri has berpakaian dengan menggunakan koteka atau yang terlihat alat kelaminnya, Ulil akan senang sekali karena dia dapat melihat tanpa berdosa… Sebenarnya dia senang atau bahkan hobi melihat orang tanpa pakaian.. Jadi untuk melegalkan dari segi agama dia maka disebutlah kepantasan Umum..
Coba saja kalo Krisdayanti berpakaian hanya sampai dibawah Buah dadanya, pasti Ulil akan mengatakan, “Loh itu khan sesuai dengan kepantasan umum”.. Jadi saya tidak berdosa untuk melihatnya…
Saya salut kpd bung Ulil yg berani mengambil risiko untuk mendobrak keortodokan umat. Saya hidup di Bali yang mana Islam merupakan minoritas, dan saya juga punya keluarga dari multi etnis dan agama. Saya sering mendengar ceramah dari da’i/ustad yg isinya sedikit-2 mengkafirkan yg lain, serta selalu menyebut musuh-2 Islam. Seolah-olah Islam ini banyak musuhnya dan yg lainnya perlu dilenyapkan. Dengan membaca artikel Bung Ulil (yg juga dibaca oleh kawan-2 yg beragama lain) saya jagi bertambah bangga dengan Islam, dan teman-2 non muslim bertambah paham bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Sebelumnya mereka (non muslim) sangat sinis melihat Islam setelah peristiwa Bom Bali, apalagi melihat sikap mereka (pelaku) yg tiada beban dan merasa tdk berdosa melakukan teror. Apabila ada kesempatan mohon Bung Ulil datang ke Bali untuk bertemu tokok-2 agama di Bali. Saya salut Bung, dan teruskan perjuanganmu membangun Islam yang rahmatan lil alamin.
Sebelum mengagumi Bung Ulil, saya juga pengagum berat Kiai Mustofa melalui berbagai tulisannya. Rasanya secara substansial antara keduanya banyak terdapat persamaan tentang Islam yaitu sebagai penyejuk, pemikir yang cerdas sekaligus pendobrak kekolotan para ulama dalam mengaktualisasikan Islam di negara yang plural ini. Saya sangat awam tentang Islam meskipun saya beragama Islam. Namun saya sangat sedih apabila melihat tokoh-2 Islam, Ulama yang dalam setiap bicaranya selalu membuat Islam yang menakutkan, bahkan selalu menyinggung umat non islam. Saya berasal dari keluarga multi etnis dan agama, dan selama ini tidak ada seorangpun dari keluarga saya yg non muslim mempunyai itikad atau perilaku yg memusuhi islam. Bahkan kalau mau jujur justur mereka yg lebih santun dan sosial dlm kehidupan sehari-harinya. Harapan saya semoga Kiai Mustofa memberikan dukungan moral kepada Bung Ulil dengan sedikit menghaluskan (ikut mengedit) kata-2 atau kalimatnya yang dianggap membikin geram org lain.
Tadinya saya agak-agak tertarik sama Islam liberal
Saya juga punya pemikiran bahwa nilai-nilai kebaikan itu universal, semua agama mengajarkan kebaikan.
Tapi setelah saya baca website-nya Islam liberal dan tulisannya Ulil Abshar Abdalla, dia bilang semua agama itu benar . . . nah ini saya gak setuju.
Cuma saya setuju kalau Islam itu universal, kebenaran itu bisa saja ditemui dimana saja, tidak hanya di orang Islam, Tapi tentu saja tidak membuat semua agama itu benar.
Contohnya adanya Tuhan . . . pengakuan tentang adanya kekuatan serbamaha yang mengatur alam semesta . . ini di semua agama ada. . . tapi ini menurut saya tidak berarti semua agama jadi benar.
Islam kan BUKAN ajaran yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad. Islam . . agama tauhid monoteisme adalah ajaran agama sejak manusia mulai ada, mulai dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Soleh . . . . .Isa, dan terakhir Nabi Muhammad SAW. Dan jumlah nabi pun total keseluruhannya ada 124.000 Nabi. Nabi Muhammad adalah sebagai penutup, penyempurna ajaran Islam.
Jadi . . bisa jadi agama-agama, aliran-aliran kepercayaan di dunia ini mempunyai unsur kebenaran . . . bisa jadi itu pada awalnya, dikenalkan oleh para nabi-nabi yang jumlahnya 124.000 tersebut kemudian akhirnya menjadi tidak murni dan menyimpang.
Entitas serba maha yang mengatur alam semesta dalam Islam disebut “Allah”, lalu bahasa Indonesianya “Tuhan” . . bahasa Inggrisnya “God” . . terus orang Indian menyebutnya “The Great Spirit” . . . terus orang Hindu ” Sang Hyang Widhi” . . .
Barangkali sebutan-sebutan itu merujuk pada entitas yang sama. Tetapi agama-agama berbeda-beda menggambarkan sifat dari entitas tersebut. Seperti contohnya di Islam ada konsep Tauhid, di Kristen ada konsep Trinitas, di Hindu ada konsep Trimurti.
Jadi bagaimana mungkin semua agama benar ? konsepnya saja sudah sangat berbeda. Kalau nilai-nilai kebaikan sih agak universal, disemua agama ada. Tapi konsep Tuhannya berbeda-beda.
Jadi setuju-setuju saja kalau antar umat beragama bisa bekerja sama mewujudkan nilai-nilai kebaikan yang universal. Tapi saya tidak setuju kalau semua agama itu benar atau sama.
Dengan membenarkan semua agama, menurut saya Jaringan Islam Liberal itu sudah melenceng dari Islam, alias sesat.
kepada saudara yahya zainul ma`arif yang menanggapi tulisan saudara ulil melalui tulisannya yang berjudul MENGAMATI PERGESERAN IMAN ,saya melihat di sini tulisan saudara yang terkesan membabi buta dan terkesan merasa benar sendiri,terlepas dari siapapun saudara atau dengan pemanis kata apapun tapi yang jelas saya melihat tulisan anda bak “orang buta di tengah malam mendengar suara minta tolong” tanpa tau siapa,dari arah mana,apa memang benar orang tersebut dalam kesulitan,si buta terus berjalan meski tak bertongkat sekalipun.
saran saya,terlepas saya setuju atau tidak dengan tulisan saudara ulil tapi yang pasti menurut hemat saya sebaiknya saudara yahya membaca kembali tulisan yang di buat oleh saudara ulil,tentunya dengan ke`arifan dan pemahaman kata yang baik ,atau mungkin dengan latar belakang anda yang seorang pasca sarjana salah satu universitas timur tengah anda sudah kehilangan bahasa indonesia anda.
terima kasih
pemerhati islam jalanan
Tanpa memandang perlu adanya sebuah kesepakatan secara jelas antara saya dengan konsep yang dimiliki oleh OM Ulil. ketika mengamati setiap realita yang ada di dunia dari waktu ke waktu, ada beberapa hal yang secara kontinu senantiasa dilimpahkan oleh Allah SWT kepada hambaNya di muka bumi ini, seperti rizki, rahmat, ampunan, berkah, hidayah, dan sejenisnya. Sebelumnya perlu kita pahami dulu adanya sebuah batasan yang ada dalam diri manusia, (kalau bis ada yang patas, maka manusia adalah bastas = bebas terbatas) dimana batasan inilah yang ditetapkan oleh Allah didalam sunnahNya. Al Quran pun memberikan batasan dalam hal pemikiran manusia, memang ada hal yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh manusia, dan saya rasa hal tersebut memang bukan termasuk urusan manusia, seperti ruh misalnya. Setelah mengenal batas inilah barulah kita diperbolehkan untuk bergerak bebas sesuai batas yang ada. perlu dipahami pula bahwa ada kebebasan yang memang merupakan perintah langsung dari Allah, semisal kebebasan untuk memikirkan tanda-tanda yang diberikan oleh Allah melalui setiap fenomena di alam semesta. Tatkala kita memahami batasan dan kebebasan maka sebagai hamba Allah kita akan mampu berlari secepat kilat melewati sirathal mustakim. karena sebenarnya Allahlah yang kita tuju melalui pengabdian kita di dunia, sebagai khalifah fil ardh yang membawa rahmatan lil alamin. Yang jelas, kereta api agar bisa berjalan dengan sempurna haruslah mengikuti rel yang telah diatur, dan agar selamat jangan samapi terjadi bentrok dengan kereta api atau hal yang lain. Sudah jelas di dalam Al-Quran : janganlah mengolok-olok suatu kaum…..dst. karena buntutnya bisa panjang, marilah kita saling menghargai, menghormati dan toleransi terhadap setiap pemikiran seseorang tanpa melupakan proses dakwah, saya rasa anda-anda sekalian sudah cukup cerdas. Semoga keIslaman bagi kita semua. Amiin
Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang dipakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.
Ada periode di mana umat beragama menganggap, “baju” bersifat mutlak dan segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi, pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini.
——-
Salam kenal Bpk..tulisan Bpk bagus dan ilmiah sekali.Saya setuju sekali.Dalam pembelajaran Saya banyak persamaan argumen.Yaitu ‘islam bukan agama tetapi Diin’ yakni ilmu pengetahuan ‘Huwa’ sendiri sealam semesta baik itu hasil produk manusia yang boleh bisa jadi terdiri dari agama,kimia,fisika,iptek,dll.Islam bukan juga diturunkan oleh nabi Muhammad tetapi sebelum beliau ada islam sudah ada.Dan ‘agama’ bagi Saya adalah jalan arah sikap yang disebut ilmu pengetahuan sebagai pedoman hidup.Hukum ‘Huwa’ benar sekali sudah digantikan oleh hukum manusia yang bernama ‘aturan ini itu dsb’ dalam arti penyesuaian ‘sosial dalam bermasyarakat,bernegara,tempat,dsb.Nabi Muhammad dalam perkataanya sendiri dalam hadist: ‘janganlah kamu memuliakan Saya berlebihan…(bukhari 503) menjadi bukti menyikapi nabi Muhammad janganlah berlebihan,bagi Saya beliau adalah tokoh terkemuka yang jenius dan Saya hormati.Mengakui Saya islam Saya tidak berani tetapi Saya adalah muslim,karena istilah hakikat nama islam Saya pahami.Tentang berjilbab adalah wajib bagi Saya tidak wajib kenapa ya?Karena kalau ada cewek pakai jilbab mau mandi jilbabnya dilepas ya batallah wajib itu he he he,banyak kasus istilah yang belum dipahami umat muslim yang masih bersandar menurut alquran,hadist,imam2,menurut ini dan itu dll dan tidak menurut ‘Diri’ yang dapat membuktikan-nya sendiri demi ke- benaran.Alquran bagi Saya sangat tinggi kandungannya karena pemahaman-nya membutuh-kan pemikiran yang tinggi karena bukan kulit tekstualnya saja,tetapi maksud2 hakiki yang ada didalamnya perlu dipahami umat muslim.(Asalamualaikum..)
@Ulil: Maju Terus, Pantang Mundur, Perjuanganmu tidak akan sia-sia..!
mas Ulil :
1. sy pikir agak geli dengan tulisan anda, pada saat orang2 barat banyak apresiasi dengan wanita berjilbab anda sendiri kebingungan untuk menghalangi orang berjilbab.
2. saran saya buat agama baru saja, agar pikiran-pikiran anda pisah diterapkan pada komunitas anda. agar dapat dibuktikan mana yang asli dan palsu.
Komentar Masuk (30)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)