Kolom,
15/06/2003

Menyikapi Keragaman Pemahaman Islam

Oleh Lukman Abdurrahman, MIS

Perbedaan pemahaman dalam Islam sebaiknya disikapi dengan tasaamuh. Sikap ini ada baiknya kita belajar dari para imam mujtahid yang tak perlu diragukan kepakarannya dalam mengantisipasi terjadinya keragaman pemahaman agama.  Sebagai contoh, Imam Syafi’i berkata, “Apabila hadits itu sahih, itulah madzhabku dan buanglah pendapatku yang timbul dari ijtihadku”.

15/06/2003 00:28 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Bagaimanapun juga, Jaringan Islam Liberal merupakan firqah yang menyempal dari manhaj yang haq.  JIL bathil dan sesat lagi menyesatkan. Manhaj yang benar dalam menyikapi kebenaran ialah berpulang kepada Kitabullah dan sunnah Rasul yang mulia dan merujuk kepada manhaj atau pemahaman para sahabat ra. Tidak dengan pemikiran-pemikiran busuk seperti yang dilontarkan oleh Lukman Abdurrahman cs. Oleh karena itu, insaf woy insaf ......

#1. Dikirim oleh Hendriansyah, SSi  pada  07/07   10:08 AM

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah & Maha Penyayang.

Apa yang menyatukan kita sebenarnya, ialah: asyhadualla ilaahailallah asyhaduanna muhammadarrasulullah.

Saudaraku sebeda apapun kita, kita telah disatukan dengan kalimat tauhid dan pengakuan kita sebagai pengikut Muhammad. Mau apapun paradigmanya: salafi, HT, JT, Islib (dll) sekalipun, insyallah semua diawali dengan niat karena pengbdian kita kepada Allah. Bukankah semua itu tergantung niat?

Walaupun kita mengakui ada semacam istilah “ketertipuan orang yang ikhlas” karena mungkin parsial dalam mengambil kesimpulan. jika ada perbedaan diantara kita tentang konsep Islam yang ideal marilah kita berdialog dengan argumen yang bertanggung jawab, bukan dengan mengkafir-kafirkan. sebeda apapun kita, kita masih tetap bersujud dengan tulus hanya pada Nya. Masalah sesat atau tidak sesat itu adalah hak preogatif Allah. Kita masih tetap bersama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Semoga Allah semakin dekat dengan hati-hati kita.
——-

#2. Dikirim oleh tulus jatmiko  pada  23/07   02:07 AM

Pluralisme adalah suatu keniscayaan yang harus diakuai, sejarah membuktikan keragaman sudah mulai muncul sejak jaman sahabat dengan berbagai pendapatnya, maka muncul istilah syi’ah , khawarij, jabaria, qodariah dll, dibidang hukum mncul berbagi mazhab mulai dari maliki, safi’i dan lainnya. kondisi itu muncul dan takmungkin dibendung, sekarang saat nya untuk bersifat arif, menyikapi pluralisme sebagai ladang persatuan dengan memberikan keleuasaan kepada sikap meraka yang lain yang tidak spendapat dengan kita. tanpa harus kita mengikuti mereka yang berbeda artinya kita membiarkan bukuan berarti setuju tapi tidak ada hak kita untuk menyalahkan atau memvonis. yakinilah prinsip kita tapi biarkan mereka meyakini yang mereka yakini.

#3. Dikirim oleh DARYAMAN  pada  18/03   12:38 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?