Menyortir Aspek Lokalitas, Mengambil Aspek Universalitas Islam
Oleh Muzayyin Ahyar*
“Ulil Abshar Abdalla dalam tulisannya yang sangat kontroversial beberapa tahun lalu di harian Kompas, menyatakan bahwa umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan, tegas Ulil, adalah nilai yang sejalan dengan Islam, bukan berlawanan dengan Islam.
Islam dengan pandangannya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin mendskripsikan keuniversalan Islam tersebut. Allah bukan hanya Tuhan yang diperuntukkan bagi etnis Arab saja, tetapi semua etnis dan suku yang mengakui dzat-Nya dan menjalankan nilai universal yang merupakan the greatest goal dari sebuah praktek yang telah di buat oleh-Nya.”
Komentar
Kata Pak Ulil Allah itu tuhan semua agama. Kalau bgtu saya mau brtanya
_ jd para nabi dan rasul itu diutus Allah untuk apa ?
_ mengapa di salah satu agama allah itu beranak , sdngkan di islam allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan
_mengapa ada dewa , sedangkan di islam itu allah tidak prnah menciptakan dewa
tidak ada yang baru dari pemikiran liberal, pernyataan yg dulu diulang-ulang..
Sebaiknya semua tulisan, opini yang ada disini tidak usah dikomentari ( tidak ada manfaat )
Karena Tuhan Maha besar, mengetahui dan maha maha lainnya. Istilah “diluar Islam” tidak pernah ada karena baik buruk itu ada dan tercakup semua dalam Islam. Universalitas mengandung makna tidak satu halpun yang terlepas dari mata Allah. Apakah ketika seseorang beragama lain atau tidak beragama tidak lagi dilihat oleh Allah dan ditinggalkan begitu saja? tentu saja tidak karena Allah memberi rahmat pada semua orang dan makhluk. Manusia sebagai wakil tuhan tentu harus melakukan hal sama, jika mengakui sebagai ciptaanNya. Memisahkan dari alam atau manusia lain dan membentuk kelompok sektarian, aliran, mazhab, atau apapun namanya sama dengan memisalkan diri dari universalitas sama artinya dengan memisahkan diri dari Allah sendiri.
Dear Mas Rifata,
Dengan segala hormat, cara pandang yang Mas Rifata pakai inilah yang saya sebut sebagai cara pandang yang sangat-sangat sempit. Tidak bisa kita mempelajari agama dan kebudayaan lain dengan basis dalam hati dan pikiran “Punyaku paling benar, saya mau cari tahu tentang yang lain untuk membuktikan yang saya paling benar.”
Dengan simple sekali saya hanya akan menjawab pertanyaan terakhir tentang dewa. Dewa berasal dari bahasa Jawa Kuna Divya, yang berarti cahaya. Ditilik dari ini saja, dewa adalah kata lain untuk malaikat.
Inilah akibat dari kebodohan sistem pembelajaran sejarah di Indonesia yang hanya berfokus pada tanggal-tanggal, bukannya pada esensi sejarah dan sikap apresiatif. Malah menuding, yang ini politheis, yang itu monotheis. Halah!
ingat mas rifata. Kalau anda paham adanya penyimpangan pada agam agama lain, anda tidak akan berkomentar seperti itu
Assalamualaikum nak’ Muzayyin Ahyar
Memang pemikirannya mas Ulil itu luar biasa, cuma aku sarankan jangan main politik lah, sebab kalau sudah berkecipung dalam politik itu akan menjadikan dirinya tidak wise lagi, dan menyebabkan bertambah musuh dan berkurang pengagum nya.
Sejak awal, aku setuju pada pandangan bahwa Allah itu diperuntukan untuk semua etnis, bukan untuk diperebutkan. Apalagi segala sumber kepustakaan agama apapun mudah diunduh di Google yang banyak membantu kita dalam mencari jalan kehidupan yang bijak di dunia ini, yang ternyata ujungujungnya sama, seperti contoh bahwa nabi Ibrahim adalah Bramana India yang berkelana menyebarkan idea baru ke daerah barat. Itu berarti perkembangan baru agama Hindu yang kita kenal saat ini ke agama monoteis, itu sangat logis yang menjelma menjadi ajaran nabi Musa (Taurat), nabi Isa (Injil), dan nabi Muhammad (Quran). Itu terbukti jejaknya terlihat bahwa ritual ‘ibadah haji’ merupakan lanjutan ritual hindu (jailiah), yang dimodifikasi disesuaikan dengan idea/wahyu yang didapat rasulullah.
Semasa kehidupan rasulullah awal di Makkah maupun di Madinah bersama istri pertama Siti Chadidjah memang memberikan ajaran universal agama yang terbaik, entah mengapa setelah ditinggalkan oleh istrinya yang tercinta, kehidupan nabi menjadi berubah banyak, apalagi saat beliau menyebarkan agama dengan jalan perang menundukan masyarakat disekitarnya, yang ditutup-tutupi walaupun secara tersirat dan tersurat dapat dibaca di hadis sahih. Semua itu kita bisa mengerti, bahwa para sejarawan harus menulis issue yang dapat mengangkat pandangan terhadap perkembangan agama Islam dengan baik. Sayangnya ada sebagian umat ketakutan dan mengharamkan kita mengunduh pendapat para cendikiawan mengulas secara jujur walaupun ini akan menggoyahkan iman seseorang dalam memaknai doktrin Islam, sebenarnya itu tidaklah sepenuhnya benar, asal kita berpikiran pemikiran awal yaitu agama kita bersifat universal seperti diajarkan diawal kenabian Muhammad, dengan demikian sebagai umat Islam yang bijak, tidak seharusnya meyakini bahwa Islam oleh golongan tertentu adalah Islam yang paling benar dan mutlak
Perkembangan/ modifikasi doktrin dengan penafsiran baru sesuai jamannya sangatlah diperlukan sehingga nilai universalitas tetap terjaga, dengan demikian sikap toleransi yang pernah dicontohkan oleh rasul menjadi bukti bahwa Islam seharusnya dikembangkan dengan sikap perilaku yang islami.
Wassalam
H. Bebey
JualaN ORang jil masih sama rupanya….
- ngomporin orang untuk merubah Islam dan syariatnya agar sesuai jaman (jaman edan kali…).
- menekankan nilai2 universalitas Islam dari sudut pandang sekuler ala JIL
- mendewakan toleransi (semu).
Hayo kalo ada kasus seperti GKI Yasmin di Bogor jawabnya JIL gimana?
Rahayu :
sangat setuju mas ulil,karena agama bukan sekedar dogma dan doktrin tetapi agama adlh jalan.Biarpun keyakinan kita beda tetapi tujuan kita sama. Telah bnyk saudarah2 kita yg terjebak ole dalil yg mrk sendiri tdk tau maknahnya dan akhirnya saling mengkafirkan golong lain.Alangkah memahami agama dgn budaya kita tanpa menggunakan budaya luar.Islam itu bukan arab dan arab blm tentu islam jadi buat apa ke arab2an mending kita jadi diri sendiri krn kita orang Indonesia ya kita hrs jadi muslim Indonesia bukan meniru orang arab,rahayu
AGOMO AGEMING AJI..begitu para leluhur kita memandang agama dalam serat WEDHATAMA yang penafsirannya kurang lebih bahwa agama merupakan pakaian kehidupan yang bermakna bahwa apa yang kita pakai mungkin akan sesuai dengan kita tapi belum tentu cocok ataupun sesuai dengan orang lain karena pada dasarnya setiap orang akan mempunyai selera yang berbeda dalam berbusana..oleh karena itu tentu tidak bijak apabila kita memaksa orang lain memakai pakaian yang yang kita sukai..apalagi dengan dalih bahwa pakaian kitalah yang paling bagus dalam corak maupun warna dan menakuti orang lain kalau tidak memakai pakaian yang kita pakai akan berakibat fatal dunia dan akherat. Dalam kitab suci AL quran di surat al Baqarah ALLOH swt berfirman “TIDAK ADA PAKSAAN DALAM BERAGAMA"serta didalam surat Al Kafirun"BAGIMU AGAMAMU DAN BAGIKU AGAMAKU.tentu setiap orang mempunyai penafsiran sendiri mengenai dua ayat diatas,tapi setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ALLOH melarang kita memaksa orang lain mengikuti keyakinan kita. Dalam falsafah jawa ada ungkapan"AJINING ROGO SOKO BUSONO,AJINING DIRI SOKO LATHI"yang bermanakna kurang lebih bahwa orang lain akan menghargai kita karena sikap,perilaku ataupun amaliyah kita terhadap kehidupan disekitar kita.apabila kita bisa menebarkan kebaikan dalam setiap langkah maka secara tidak langsung orang lain akan mengapresiasi kita tentu saja mengapresiasi busana(agama)yang kita anut.mari kita berlomba lomba berbuat kebaikan bukan mencari kebenaran,karena kebaikan sifatnya universal tetapi kebenaran bersifat relatif dan tergantung sama ruang dan waktu.Wassalam
yang jelas tetep harus faham siapa kawan dan siapa lawan (al wala’ wa al bara’)..... Rasulullah saw sikapnya, ashiddaa’u alal kuffar ruhamaa’u bainahum….. kafir harbi yang terus berusaha memadamkan cahaya Allah.
Mana ada agama islam untuk orang arab saja..orang mukmin pasti ga ada yg ber kata begitu..ini hanya akal2an ulil cs….AL QURAN saja nga pernah menyebut orang arab…tetapi yang disebut pasti..yaa ayyuhannas(hai semua manusia) atau yaa ayyuuhalladiana aamanu (hai orang yg beriman).Orang2 arab sendiri juga nga merasa agama islam cuma buat mereka…SEMUA MANUSIA DI HADAPAN ALLOH SAMA ..YANG MEMBEDAKAN CUMA IMAN DAN TAQWA..Ngaku islam tapi masih percaya ada tuhan selain ALLOH..ulil..ulill
jaman akhir islam akan terpecah menjadi 72 golongan ini salah satunya….
ulama warosatul ambiya…
untuk yg komentar no#1. jangan dengan berpikir tahu bahwa tuhan hanya satu dan tak beranak, kamu sudah dapat surga. klaim seperti itu hanya membuat kacau dunia. agama ini ada dewa nya makanya msk neraka, agama itu gak mengaku si A sebagai nabi maka harus dibunuh. Si b gak melakukan ritual begini maka disebut kafir. alngkah dangkal nya dan sungguh mengerikan.
wah jadi kacau deh kalau situs jil ini di kembangkan. semua jadi kabur. jadi mutar muter. islam jadi kristen, kristen jadi islam. pemahaman liberal, pluralisme di agungkan. padahal semua
Komentar Masuk (15)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)