Merangkul Yang Lain
Oleh Albertus Patty
Celakanya, di saat terjadi politik labelisasi atas dasar agama yang memilah dan cenderung melakukan pembedaan terhadap manusia, agama justru tampil sebagai pemberi legitimasi. Labelisasi tidak pernah berhenti pada dirinya sendiri. Buku Clash of Civilization-nya Samuel Huntington mengingatkan bahwa politik labelisasi dan labelisasi agama sering menjadi kekuatan yang secara berkelindan menjadi biang pencipta kekerasan dan teror di seantero dunia.
Komentar
Tuhan mengatakan kujadikan kamu berkaum dan bergolong-golongan agar kamu bisa saling kenal mengenal. Pernah saya berjalan di tengah Manhattan New York yang sibuk, secara tak disengaja bertemu serombongan kecil keturunan cina yang berbahasa Jawa. Saya yang asal NTT kemudian menegur mereka dalam bahasa Indonesia dan kitapun menjadi sangat akrab. Minoritas bisa cepat saling kenal di negeri orang. Kalau pertemuan itu terjadi di Pasar Tanah Abang mungkin saja kita bisa menjadi dua kelompok yang bermusuhan atau bersaing.
Di Toronto Canada saya pernah bertemu seorang kulit hitam dari Uganda. Saya memberi salam asalamualaikum dan dia jawab dgn fasih. Karena itu saya tanya arah kiblat. Dia cepat sekali membantu saya untuk salat karena kebetulan seagama.
Bertemu dengan orang sesama profesi, bisa jadi teman. Begitu juga saat bertemu orang yang memiliki hobi sama. Cina di Indonesia bisa cepat sekali mendapat kerja dan mendapat posisi bagus karena bantuan teman2 cinanya yang kebetulan di Indonesia lebih beruntung karena sukses berusaha dan berbisnis. Minoritas akan membantu sesama minoritas. Itu indahnya berkelompok agar bisa saling menolong.
Meski demikian negatifnya juga tidak kurang seperti rasialisme yang masih diderita orang kulit hitam di Amerika atau orang Tibet di Cina. Bahkan seandainya Obama jadi Presiden di US sekalipun, orang kulit hitam di sana malah makin khawatir kalau itu dianggap petunjuk rasialisme di negeri adidaya ini telah selesai.
Hukum yang Utama adalah hukum CINTA KASIH.
Sudah saatnya seluruh umat manusia memandang manusia lain sebagai CIPTAAN Tuhan yang harus dicintai, dimana hanya Tuhan-lah yang boleh memanggil / mengambil / memusnahkan CiptaaNya itu.
Pandangan bahwa manusia lain adalah musuh dari kepentingannya, kelompoknya, sukunya, bahkan musuh dari agamanya adalah jauh dari tujuan PENCIPTAAN itu sendiri.
Bumi yang damai akan tercipta dari CINTA KASIH.
Tapi bisakah Bumi yang damai itu bisa terwujud, selama masih ada manusia yang “merasa” mendapat dukungan Tuhan dalam hal menyakiti manusia lain ??
saatnya umat beragama kembali ke masa depan.bahwa masa depan umat manusia tidak membutuhkan labelisasi yang sempit.agama yang dominan pada lebelisasi di masa depan akan ditinggalkan oleh umat manusia.
agama masa depan adalah agama yang kembali kepada Kesejatian Manusia.Kesejatian Manusia adalah “rasa”;karena manusia adalah “rasa”.
contoh “rasa” adalah bahwa ketika kita tidak disakiti, maka jangan menyakiti orang lain.kalo dicubit sakit, maka jangan mencubit.mengambil istilah Cluter bahwa agama telah membajak moralitas.
JAYALAH AGAMA YANG KEMBALI KEPADA KESEJATIAN MANUSIA
Islam, kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan beragam nama agama yang ada di belahan dunia lain merupakan hasil dari evolusi pencitraan sebuah kebaikan dan keterbukaan.
Namun layaknya Dinosaurus yang tak mampu bertahan hidup akibat perubahan ekosistem begitu pula halnya dengan kebaikan dan keterbukaan nyaris punah akibat ke egoan ideologi individu, yang mengakibatkan Agama dan Tuhan hanya dijadikan sebagai patokan pembenaran untuk menyakiti manusia lain, merusak, atau pun menghancurkan sebuah negara atas nama Tuhan dan Agama.
Pertanyaannya sekarang: Apakah di masa depan Tuhan dan Agama masih akan memiliki status seperti ini atau akan muncul lagi suatu objek pembenaran untuk melakukan pengrusakan di muka bumi selain Tuhan&Agama;?
menurut saya, labelisasi adalah salah satu insting primitif manusia. disadari atau tidak pasti kita akan membuat labelisasi itu sendiri. tidak ada orang yang bisa hidup tanpanya.
Perbedaan suku, agama, dan ras adalah fakta, karena ia kodrat. Manusia tak bisa mengelak dengan perbedaan yang diciptakan oleh Yang Kuasa, yang kita sapa dengan bermacam nama itu. Tapi dia akan menjadi persoalan, kalau kemudian perbedaan itu kemudian menjadi alasan untuk meniggikan dan merendahkan derajat, dan lebih tidak masuk akal lagi kalau hanya karena perbedaan itu kemudian dikaitkan dengan benar -salah, berdosa tidak berdosa. Di Tanah saya Minahasa, orang Islam, Kristen, Cina, Papua, Jawa, Makasar dan lain sebagainya hingga sekarang ini bisa hidup berdampingan secara damai. Hubungan-hubungan itu terjadi karena antara lain adalah kepentingan berdagangan untuk melanjutkan hidup. Tapi memang, hubungan itu kemudian tidak menghilangkan perbedaan yang ada. Misalnya, orang Gorontalo, tetap akan dihargai sebagai orang Gorontalo, begitu seterusnya. Perbedaan ini menjadi rawan ketika ada politisasi dari negara. Ini terjadi karena negara kita Indonesia, masih malu-malu untuk melakukan sekularisasi dalam pengertian memisahkan urusan politik negara dan urusan keyakinan orang.
Dan, soal hubungan antara yang berbeda itu masih terjalin dengan baik meski apadanya hingga sekarang, saya pikir karena adanya padangan hidup yang terbuka dari budaya Minahasa.
Kecenderungan para Politisi membedakan warna partai berdasarkan agama adalah sesuatu yang syah, tetapi untuk kultur indonesia ideologi “Agama” bukanlah solusi yang bijak dikarenakan Indonesia sebagai negara multikultur. Ujug-ujug para politisi saat ini malah mencoba menggabungkan ideologi Agama dengan Nasionalisme demi menarik simpati publik. Pertanyaannya “Apakah Nasionalisme yang dimasukkan dalam ADRT Partai saat ini masih bermakna sama seperti Nasionalisme yang dulu sudah dibangun oleh para pendiri bangsa ini?”
Sudah saatnya kita tidak lagi melihat perbedaan sebagai suatu perselisihan suara hati,Lebih baik tidak memiliki LABEL daripada harus hidup dalam kecurigaan.HIDUP NASIONALISME!!
Pemikiran yang sungguh bagus dari bp. Albertus. Saya setuju dng pemikiran bahwa agama seharusnya membebaskan (bukan membebaskan dari hal arbitrer), dimana agama sebagai pembimbing pribadi untuk menemukan Allah juga secara pribadi. Terbuka sekali pemikiran saya atas bagian tulisan Allah suku, mungkin kenyataannya, kebanyakan umat beragama berpikir dalam koridor kesukuan (cluster) sehingga sulit untuk mendapatkan esensi keTauhidan. Semoga semakin banyak orang yg keluar dari spektrum cluster ini. Wassalam.
bumi tidak akan pernah damai selagi ada manusia baik beragama atau tidak. jadi masalahnya bukan di agama.
Alloh, memang telah menciptakan umat manusia dalam perbedaan-perbedaan. Perbedaan yang pertama adalah: pria dan wanita. Bisakah label ini disatukan? Jawabnya bisa: bersatu dalam label : “manusia”. Tetapi tetap bisa dibedakan karena memang sudah dari sononya (dari Alloh) menciptakan keterbedaan itu, dengan peran sosial yang memang berbeda. Haruskah disatukan? Tentu saja tidak bisa.
Demikian dengan bangsa-bangsa yang ada: China, Arab, Amerika, Asia, etc, memang sudah tercipta dengan perbedaan-perbedaan. Label-nya pun sudah berbeda. Jadi tidak mungkin disatupadukan label tersebut dan dihilangkan label tersebut sebagaimana paham Labelisme oleh penulis. Itulah kuasa Alloh. Demikian juga dalam konteks beragama.
Pokok persoalannya adalah, bagaimana dengan berbagai perbedaan tersebut tetap muncul kesadaran bahwa “perbedaan itu sudah kodrati dari Sang Pencipta dan harus disikapi dengan saling menghormati BUKAN harus DISATUKAN”. Konteks ini yang paling penting. Seandainya masing-masing bisa SALING MENGHORMATI apa yang ada di masing-masing perbedaan (alias masing-masing label)tersebut, toh…pasti KEDAMAIAN, CINTA KASIH akan terwujud.
Jadi intinya BUKAN penghapusan LABEL-nya (paham ini tidak logik), dan penyatuan paham LABEL….tetapi bagaimana masing-masing LABEL tersebut bersikap terhadap LABEL lainnya.
Allah telah menciptakan kita dalam berbagai suku dan bangsa, agar kita saling mengenal dan kasih sayang. Namun yang mulia di sisi Allah hanya orang yang bertakwa kepadaNYA. Masalah labelisasi saya pikir itu perlu,sebagai indikator dalam menjalani kehidupan. Seperti ada label haram dan halal dalam makanan dan minuman. Manfaatnya agar kita dapat berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan tersebut. Demikian juga dengan label agama,itu sangat penting, agar kita mempunyai jati diri dan status keagamaan kita. Coba di bayangkan apa bila kita mempunyai hanya satu nama agama, dan ketika orang menanya apa agamamu. Lalu apa kita jawab?
Yang terpenting sebenarnya bukan labelisasinya,tapi Tuhannya yang tetap satu yaitu ALLAH SWT.
Labelisasi=Instink Primitif?
Dhanz benar. Ketika ia menyampaikan bahwa labelisasi adalah instink primitif mereka—para kaum primitif—tidak pernah berpikir bahwa manu-
sia dilahirkan tanpa bisa memilih lebar sempaitnya mata, hitam-puthnya kulit tubuh, serta
panjang pendeknya-hidung. Karena itu beruntunglahlah kita yang telah memiliki Pancasila sebagai Dasar Negara—apabila kita benar-benar berminat untuk menghayati butir-butirnya dalam pengamalan kesehariannya. Tanpa merasa sok Pancasilais mari kita renungkan bersama terutama saudara-saudara kita yang masih berpikir primitif.
Syukur-syukur kita mau dan mampu berpikir sebagai seorang kosmopolit di era global ini.
<hasan_baraja52@yahoo.co.id>
betul sekali, Islam tidak megajarkan yang demikian itu, meyakiti kafir dimmi adalah musuh Nabi SAW, kalau kafir harbi….tidak melawannya adalah bodong binti pengecut
as salamualaikum,
Kita tidak pernah memilih dilahirkan dengan labelisasi apapun baik ras, gender atau kekayaan. tidak ada yang membedakan kita kecuali ketakwaan kita kepada Allah yang telah menciptakan kita..kepada Allah yang menciptakan kita…kepada Allah yang MENCIPTAKAN kita
Tolong tonton sekali lagi film MISSION Robert de Niro dengan teliti dan cermat. Bukan pengijil yang membinasakan suku Indian Guarani, ya kan? Tlng koreksi artikelnya. terimakasih
Komentar Masuk (15)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)