Merawat Agama dengan Penafsiran
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
“Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). Tradisi intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi tekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang seperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, bukan dead religion, agama yang mati, agama yang telah menjadi mumi.”
Komentar
‘membaca’ untuk suatu peneguhan keyakinan yang sudah diyakini berfungsi sebagai perisai terhadap realita yang mengikis keyakinan yang sudah dipeluk. tetapi membaca yang mengikis keyakinan yang sudah dipeluk menjadi panah-panah tajam yang menciptakan realitas yang semakin jauh dari keyakinan yang sudah diyakini
“Membaca” adalah untuk menumbuhkan iman
Iman yg bertumbuh mendatangkan perubahan
Perubahan baca lama “terbaca” baru, Hidup!
Salam Damai!
Iya, tapi syarat2 menjadi mufassir itu kan banyak sekali, Lil.. Gak bisa asal2an kaya’ orang2 JIL yg bingung-membingungkan itu kalau menafsirkan ayat2 al-Quran itu, haha..!
Ulil ingin rasanya saya mengikuti AJARAN anda yang membawa sesuatu yang BARU dan KEREN ABIS yang membawa pembaharuan dalam AGAMA, seperti yang anda katakan AGAMA YANG HIDUP bukan agama yang mati,
Agama yang akan berbeda dengan syariat aslinya sepertinya dalam pandangan anda AGAMA itu seperti KUE yang selalu berubah mengikuti keinginan konsumen apakah rasa coklat untuk tahun ini apakah agama itu rasa nanas untuk tahun depan, dan bagaimana agama itu untuk 10 tahun kedepan apa perlu diberikan sedikit keju dalam adonanya,
Saya jadi bingun sendiri, tetapi ulil orang yang hebat yang tahan bingung mungkin karena syaraf2 keimanannya sudah kusut tak MUSTAQIM lagi.
Ingin rasanya saya ikut agama yang mengikuti hawa nafsu manusia supaya saya bebas bermaksiat, tampa rasa takut, tetapi siapa yang menjamin saya tidak disiksa oleh Allah.
Apakah Ulil bisa menjamin saya dihadapan Allah jika saya mengikuti cara beragama dia ? .....
mungkin teman anda itu memang selalu sial. tapi nabi kan tak mungkin mendapat kutukan dengan kesialan-seperti yang anda tulis di paragraf akhir-seperti yang mungkin teman anda ketemui.
Yang jelas saya mengagumi pola pikir anak2 JIL. Mereka menempatkan ketuhanan dan kemanusiaan di atas agama itu sendiri.
Apalah artinya mengaku orang taat. Apalah artinya mengaku hapal di luar kepala semua ayat dari A sampai Z, kalau itu semua tidak berguna bagi sesama manusia dan juga peradaban manusia. Malah pada akhirnya justru mempermalukan Tuhan itu sendiri.
JIL berusaha tampil di depan dalam hal menampilkan islam sebagai agama yang tak perlu ditakuti, seperti stereotip dunia internasional selama ini. Bahwa tidak semua orang islam itu barbar, anti demokrasi, tukang kawin, tukang gebug perempuan atau tukang mengkafirkan orang lain.
Tapi ada islam yang humanis, demokratis, monogami, cinta damai dan bersedia bersahabat dengan siapa saja umat manusia di muka bumi ini, tanpa menggolongkan manusia sebagai kafir atau tidak.
Semoga JIL tetap tampil terdepan dalam hal islam toleran di Indonesia. Amin
agama adlh sumber ajaran akn kbeneran hdp,mulailah belajar agama krn lecintaan akan kebenaran hdp utk mnjd manusia yg smkin menyempurnakan kemanusiaannya.penafsiran adalh keunggulan manusia hsl cipta,rasa&karsa; dlm mnjalani hdp yg itu semua adlh anugrah dr YANG KUASA!
agama itu pencerahan bagi umatnya.memberdayakan umatnya ,cerdasspritualnya,emosinya,intlektualnya dll.saya sependapat dengan ulil.meski saya non muslim.tulisan beliau sangat inspiratif.universal.tidak menghakimi agama lain.menempatkan ajaran agama yang benar dan akal sehat.dengan rendah hati. salam buat anda.teruslah menulis.salam
Menafsirkan Al-Qur’an secara tekstual memang penting, tapi jauh lebih penting lagi jika menafsirkankannya secara kontekstual. Kita tidak hidup di abad ke-7, dan bukan hidup di tengah masyarakat padang pasir (ruang dan waktunya, sudah pasti berbeda). Sudah selayaknya kita menghargai dan menghormati para alim-ulama terdahulu, baik dari Timur-Tengah maupun Nusantara, tetepai bukan berarti kita harus selalu mengafirmasi ‘penafsiran’ mereka tentang Al-Quran. Sehebat-hebatnya ulama, mereka tetap manusia, Ilmu pengetahuan mereka terbatas oleh ruang dan waktu. Menurut saya, karena zaman terus berubah - suka atau tidak, mau tidak mau- kalau islam tidak ingin dianggap agama pra-sejarah yang tercerabut dari kehidupan kekinian, harus tumbuh pemikiran-pemikiran baru yang tidak sekedar mengafirmasi penafsiran ulama zaman baheula. Islamlib, dengan segala pemikiran barunya yang mendobrak pemikiran puritan yang kaku, patut mendapat apresiasi.
Sudah selayaknya kita menghargai dan menghormati para alim-ulama terdahulu, baik yang berasal dari Timur Tengah maupun Nusantara, tapi bukan berarti bahwa kita harus selalu mengafirmasi ‘penafsiran’ mereka tentang Al-Quran, karena sehebat-hebatnya ulama, mereka tetap saja manusia ( Ilmu pengetahuan mereka
Ulil adalah seorang manusia yang menafsirkan Ajaran islam dengan penuh nafsu bathil, dan sesungguhnya syaithan sangat menyukai orang2 seperti ulil. Semoga Allah SWT melaknat para pemuja syaithan pluralisme…!!!
Yg pasti bhw agama harus cinta damai, toleran dan bersahabat dengan sapapun juga. Baca surat Al-Kasas 77. salah satu petikannya kira-kra begni: berbuat baiklah kepada semua orang seperti Allah berbuat baik kepada mu. Disini tdk ada tapal batas agama, suku dan status sosial. Ayat ini msh kontekstual sekarang ini. Islam ini saya yakin Rahmatan Lil Aalamin ” Wamaa arsalnaaka Rahmatan Lil aalaamin. Walaupun kita jg tdk dapat menutup mata, ada umatnya yang membajak Islam sehingga wajahnya menjadi beringas dan tdk toleran bahkan merusak islam itu sendiri. Karena itu perlu transformasi dan pembaruan ke arah yg lebih positif.
Ini hari puasa, saya menghimbau bagi mereka yang apriori dengan JIL, tdak usah berkomentarlah, tuwas menambah dosa aja kamu. Kamu cukup membaca, mencoba menalar dengan jernih, kalau tidak cocok kerena keterbatasanmu ya udahlah….perbedaan itu bukan dosa kan? Apa salahnya sih membaca ulang sejarah masa lalu dengan perspektif masa depan?
Bagi saya agama adalah ritual, ia adalah pengalaman. Agama berarti kalau kita konsisten menjalankan ritual peribadatan seperti shalat dll.
Pada masa lalu Agama mungkin adalah solusi, tetapi di masa kini solusi agama sudah tergantikan oleh pendidikan, hukum dan sistem demokrasi.
Sekarang yang tertinggal dari Islam adalah ritual seperti shalat, puasa dll. yang berfungsi memberikan pengalaman dekat dengan Allah.
Sedangkan aturan hukum Islam sudah tidak relevan lagi. Siapa yang masih bisa mentolerir perlakuan manusia sebagai objek jual-beli seperti dalam hukum perbudakan yg diakomodasi Islam?
@baca tulisan Taufiq Bogor : Apakah Ulil bisa menjamin saya dihadapan Allah jika saya mengikuti cara beragama dia ? .....
Menjalankan agama koq minta jaminan orang lain, taro kata gak ikutan Ulil juga, gak ada yang mau jamin cara beragama sampeyan kang. Makanya manusia dikasih akal-pikiran, tujuannya spy bisa bilih dan mengambil keputusan. Sesudahnya… tanggung sewang2an alias dewek-dewek.
senagn sekali membaca ulasan bang Ulil..saya doakan kesehatan dan keberkahan buat bang Ulil sekeluarga. teruslah berkaya bang and anak anak muda JIL (walau saya bukan anggota JIL)
mas ulil tolong jangan mempelajari agama dengan kacamata fisafat…
Selamat jam segini,..
Saya coba baca dengan cermat,..mana gagasannya ?
Mana yg jadi gagasannya dari paparan diatas.
Saudara2 ku seaqidah,
sesungguhnya apa yang diuraikan saudara Ulil itu hanya di lihat dari satu sudut pandang, yaitu dari sudut pandang lahiriah atau yang nyata saja, namun Ulil kurang memahami dari sudut pandang ruhaniahnya. Disinilah kita bisa pula melihat kedangkalan cara berfikir seorang Ulil Abshar- Abdalla yang bisa menjebak kita dalam pemahamannya yang sesat. Buat saudara2 ku, membaca Al quran itu memotivasi kita untuk selalu setia mendirikan shalat dan motivasi2 lainnya yang merupakan dampak dari membaca Al Quran. Seperti halnya dengan shalat yang memotivasi kita untuk tidak berbuat mungkar. Buat saudara Ulil, terusterang saya bertanya, apakah anda seorang YAHUDI atau KOMUNIS? dari sekian banyak artikel yang anda buat, justru mengarahkan umat pada kesesatan yang nyata. Anda selalu berpedoman pada logika2 untuk menggiring pembaca artikel anda kedalam kesesatan2 ruhaniah. Sekedar saran, mungkin saudara Ulil lebih baik memperdalam ilmu keruhaniannya dulu, karena ilmu logikanya sudah teramat sangat tinggi, hingga dari artikelnya, tergambar bahwa ilmu logika anda sudah lebih tinggi dari ilmu Pencipta anda.
Semoga Allah SWT berkenan memberi petunjuk yang benar kepadamu.
Gagasan yg membingungkan dan hanya membuat keraguan dan kesesatan…Agama itu bukan Filsafat MAS ULIL…!!!
Komentar Masuk (26)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)