Merayakan Natal di Rumah Eyang
Oleh Lies Marcoes Natsir
“Saya membiarkan proses pengenalan anak-anak saya pada agama lain melalui cara yang wajar seperti ini. Saya tidak ingin membangun prasangka seperti saya mendapatkannya di waktu kecil. Anak-anak saya tumbuh dalam komunitas yang plural dan terbuka. Mereka akan memiliki pergaulan yang lebih luas dari saya. Menjadi terbuka dan toleran sangatlah penting bagi mereka.”
Komentar
Luar biasa, saya terharu membaca tulisan ini, selamat berbahagia
Orang yang imannya tebal tidak pernah takut walaupun menjadi minoritas sekalipun. Ini yg kurang dimiliki oleh sebagian umat Islam sbg mayoritas di Indonesia.
Sangat menyentuh. Semoga semakin banyak orang tua yang membesarkan anak seperti cara Ibu Lies. Pelangi indah karena berbeda warna. Hidup itu indah dengan perbedaan. Hormat buat Ibu Lies.
Kalau saja semua orang islam seperti anda, niscaya dunia ini akan lebih aman, tentram dan damai. Masalahnya ada “beberapa” orang islam yang sikapnya sangat bertolak belakang dengan anda. Sebagai orang non muslim saya sering bingung dan tidak mengerti akan sikap “beberapa” orang islam yang pengetahuannya sebatas kafir, surga neraka, jihad, dll. Kenapa sikap reaktif dan keras seperti “beberapa” orang islam itu relatif jarang (bahkan hampir tidak pernah) saya temukan di umat-umat agama lainnya?
sudah seharusnya seorang yang mengaku muslim mencontoh apa yang dicontohkan rosul dalam ibadah maupun muamalah….cara bertoleransipun seharusnya rosul sebagai panutan, yang anda lakukan dalam ber"toleransi” apakah termasuk yang dicontohkan rosul???
Keren.
Rasanya banyak orang yang seperti anda.
Cuma pada ngumpet semua.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membenci agama lain, dalam memeluk islam pun tidak ada pemaksaan….لاإكراه في الدين itulah yang ada dalam islam, keinginan masuk haruslah didasrkan pada hari nurani untuk mengakui tentang ke-esaan Allah, bukan karena intimidasi dari seseorang, sekelompok kaum, sehingga dengan begitu dalam diri umat muslim akan terdorong untuk melaksanakan ajaran agama dengan ihlas.
Islam juga mengajarkan rasa toleransi antar umat beragama, menghormati ibadah mereka, akan tetapi itu bukan kita berarti mengikuti kegiatan keagamaan mereka, karena itu sudah melanggar aqidah yang kita pegang.
mengajarkan rasa hormat terhadap agama lain kepada anak sangat bagun, hal itu dapat menumbuhkan rasa untuk saling tengganga rasa antar agama, akan tetapi jika yang kita mengajarkan itu dengan mengikuti budaya atau ibadah mereka, maka itu adalah kesalahan, karena dengan demikian kita telah merusak aqidah anak kita, dengan menyamakan islam dengan agama lain.
kemudian tadi anda menyebutkan bahwa semua kegiatan yang dilakukan oleh agama ataupun suku adalah sebagai wujud syukur mereka terhadap yang menciptakan…saya kira jika kita ingin mengucapakan terima kasih kepada orang karen telah memberi kita hadiah maka kita harus mengetahui siapa yang memberi hadiah itu…begitu juga ketika kita ingin mensyukuri nikmat tuhan.. maka tuhan yang harusnya mendapatkan kesyukuran kita adalah Allah..anda kan orang islam..lalu kenapa anda malah bersyukur kepada selain Allah atas nikmat yang nada dapatkan..aneh.
Saya, seorang katolik dan pengagum mendiang Gus Dur. Salut atas tulisan ini serta berbagai upaya dan perjuangan teman-teman di islamlib.com untuk mensyiarkan sesuatu demi Indonesia yang lebih baik dan damai. Saya dari dulu sangat ingin dan bertekad untuk mengambil posisi seperti teman-teman di islamlib.Semoga semua niat baik kita diberkati. Amin
Sungguh indah….menghirup udara bebas, merdeka tanpa Ada prasangka buruk.
Saya hanya bingung, sebenarnya anda itu beragama apa sich? Logikannya banyak klub sepak bola, tapi masing2 orang pasti lebih cocok dan fans kepada salah satu klub dan membelanya mati2 an. Banyak pilihan hoby, tetapi pasti orang akan memilih dan menyukai satu kegiatan. Banyak Lelaki, tetapi seorang wanita pasti akan merasa kagum dan mencintai salah satu diantara mereka, kecuali seorang PELACUR!!!
Lulusan IAIN mana kang kalo bleh saya tahu?
kalau begitu berikan saja langsung kebebasan dia memilih agama yang lain hehehe
Banyak orang yang mempunyai otak yang membaca tulisan ini, tapi sedikit yang punya akal. Banyak orang yang punya hati membaca tulisan ini, tapi hatinya sangat bebal dan batil. Banyak orang punya mata membaca tulisan ini, tapi sebenarnya mereka itu buta. Banyak orang punya kuping membaca tulisan ini, tapi sebenarnya mereka tuli. Banyak orang punya kulit membaca tulisan ini, tapi sebenarnya mereka sudah mati rasa.
Banyak orang yang sudah faham tentang agamanya membaca tulisan ini, tapi sebenarnya pemahamannya hanya sementara karena mereka mau mengagungkan dirinya dan tujuannya hanya supaya dianggap saleh dan bukan untuk beroleh keselamatan. Mengapa begitu: karena pada nyatanya, banyak yang membaca tulisan ini yang memberi komentar dengan mengambil hak dan kuasa Tuhan, namun tidak sedikitpun meniru sifat Tuhan. Asmaul Husnanya dimana? Sifat Menghakiminya sangat menonjol, tapi pertimbangannya diabaikan. Iya Allah….. Iya Rabbi….... Ampunilah mereka yang sudah semena-mena menghujat penulis tulisan ini.
kita maklumi saja orang yang bisanya cuma menghujat, merasa dirinya suci, paling benar. orang2 seperti ini belum sampai pada “maqomnya”
Komentar Masuk (14)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)