12/06/2009

Merebut (Makna) Pancasila Catatan dari Kaki Gunung Slamet

Oleh Trisno S. Sutanto

Satu-satunya jaminan keberadaan kelompok-kelompok ini adalah Pancasila—walau rezim Soeharto telah menodainya. Karena pada rumusan Pancasila yang menghormati kebhinekaan, tetapi sekaligus menjaga persatuan, setiap kelompok diterima dan dihargai, tenggang rasa dicari, dan sikap moderasi diunggulkan. Soalnya adalah mencari celah yang melalui mana tuntutan mendasar itu dapat timbul ke permukaan.

12/06/2009 12:16 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pancasila dan uud 45 adalah thogut, syariat islam lah yang akan memebawa kemslahatan bagi seluruh umat manusia

#1. Dikirim oleh pejuang perkasa  pada  13/06   04:08 AM

1 Juni merupakan momentum lahirnya Pancasila secara formal-struktural bernegara. Publik secara kolektif mempercayai jika kata Pancasila itu dimunculkan oleh Soekarno. Tapi bagi mereka yang melek sejarah tentu akan kembali mengkritik, apakah benar iden tentang Pancasila itu murni dari Soekarno. Atau peran historis Soekarno hanya melakukan semacam eklektisisme konsepsi saja. Karena lima sila itupun juga diidekan oleh Soepomo dan Yamin. Karena yang berpidato terakhir 1 Juni adalah Soekarno, maka kongklusi ada pada beliau.
Menarik di sini adalah Pancasila yang sekakn-akan malu untuk dimunculkan kembali di ranah publik pasca reformasi ini. Bukan karena Pancasila tidak lagi relevan sebagai pijakan yuridis dan kultural bangsa. Tapi lebih kepada nuansa politis rezim yang berkuasa. Entah kenapa, sepertinya sekarang pemerintah terkesan malu-malu dan ragu untuk memasyarakatkan kembali Pancasila secara kultural khususnya. Memang dalam berbagai pidato dan momen resmi kenegaraan, kata Pancasila disebut. Termasuk dalam ajang kampanye Pilpres sekarang. Tapi budaya politik para elit masih mencirikan belum berpancasila secara kultural. Pancasila substansinya masih menjadi komoditas politik sekarang, yang sebenarnya sudah kurang laku dijual. Belum lagi penterjemahan roh Pancasila dalam setiap regulasi formal, menyangkut perlingdungan kelompok minorits, penanaman modal asing, perekonomian termasuk pendidikan yang minus Pancasil, tapi plus orientasi ekonomi pasar.

#2. Dikirim oleh Satriwan Salim  pada  13/06   08:16 AM

Kalau saya perhatikan bangsa Indonesia dan Amerika adalah masarakat yang plural,yang terdiri dari bermacam suku, budaya,bahasa dan agama.

Amerika dapat hidup rukun dan damai karena pemerintahannya bukan pemerintahan agama kristen yang majoritas, tapi sistem Secular-Demokrasi yg sesuai dgn al quran QS.4:59.dimana pemerintah tidak ikut campur masalah agama masing2, dan malah memberikan pelindungan bagi setiap umat utk menjalankan keyakinan agamanya masing2.

Coba bayangkan,kalau ALLAH memerintahkan dl Bible atau al Quran, pemerintahan haruslah pemerintahan agama, apa yang akan terjadi adalah diskriminasi,unjustice dan tidak ada kemerdekaan menjalankan agama masing2, kecuali agama yang berkuasa.Benar bukan?

Jadi masarakat Amerika dan Indonesia yg terdiri dari bermacam agama dan suku, sebaiknya pemerintahan yang NETRAL kepada setiap agama, yaitu pemerintahan Secular demokrasi ala Amerika, bukan ala eropah,karena di eropah masih ada diskriminasi karena agama. Benar bukan?

Setiap warga negara mempunayi hak yang sama didepan hukum Amerika, Ham adalah salah satu dasar hukum Amerika.Ditambah adanya undang2 anti diskriminasi

jadi sistem secular Demokrasi tanpa adanya undang2 diskriminasi,justice for all,maka majoritas akan menjadi tyrany terhadapat monoritas,seperti terjadi di negara2 timur Tengah dan Indonesia zaman Sukarno dan Suharto.

Panca sila haruslah di lengkapi dengan undang2 anti dikriminasi dan justice for all. barulah bangsa Indonesia yang plural ini benar2 terjamin HAK Azazinya.

salam

#3. Dikirim oleh alatif  pada  14/06   03:14 AM

Pancasila memang telah menjadi komitmen bersama dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Namun harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Perlu dicarikan cara bersama agar tidak terjadi pemisahan warga hanya karena berbeda agamanya. Misalnya dalam praktek pertemuan bersama antar warga yang majemuk, salam yang khas masing masing agama agar dipinggirkan dan digantikan dengan yang bersifat umum dan dapat diterima oleh semuanya. Bentuknya seperti apa? mari kita gali bersama…

#4. Dikirim oleh Purdi  pada  14/06   12:51 PM

Analisis yang melibatkan data memang pasti afdol. Seperti yang sudah dipaparkan data yang menjadi latar belakang penulisan tidak terbantahkan, seandainya pun ada itu masalah sudat pandang.

Konsep Pancasila sebenarnya juga tidak hebat-hebat amat, namun menampilkan konsep Pancasila di dalam kebhinekaan adalah ide yang hebat. Rumusan dalam Pancasila yang mengakui satu Tuhan dalam berbagai sudut pandang agama, tentang solidaritas, tentang pentingnya persatuan negara dan bangsa yang berdaulat, rumusan kerakyatan sebagai argumen untuk mencapai kemakmuran yang “sempurna”.

Konsep yang “biasa-biasa” ini akankah menjadi sebuah identitas Bangsa Indonesia seutuhnya. Saya katakan “biasa-biasa” saja karena memang semestinya bangsa ini menyadarinya. Bukanlah hal yang luar biasa untuk sila pertama bagi orang beragam, bukankan sudah seharusnya bagi orang yang mempercayai Tuhan untuk menghargai dan menyayangi sesama manusia dalam menciptakan keharmonisan bernegara dan berbangsa , untuk sila-sila selanjutnya.

Intinya rumusan Pancasila adalah manifestasi bahwa hubungan antar manusia bersifat universal bagi semua orang beragama yang ber-Tuhan satu.

Kalau disebut sebagai “hari kelahiran” Pancasila artinya hanya hari lahir sebuah kata “PANCASILA”, bisa saja dilahirkan dengan kata yang lain.
===
....jika memang ada hari lahir, maka kemungkinan ada juga hari kematiannya! Lagi pula, pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 lalu bukanlah peristiwa yang melahirkan Pancasila, tetapi “merumuskan” kelima sila yang, kata Soekarno sendiri, “digali dari khasanah bumi nusantara” dan diterima sebagai dasar negara merdeka yang akan dibentuk itu.
===

Kalau saya kutip “digali dari kahasanah bumi nusantara”, kata Soekarno, ini merupakan pernyataan politik sebagai penyatu “nusantara”, perkataan itu mempunyai nilai “magis” dalam semangat ingin merdeka dalam kesatuan dan persatuan “nusantara”. pernyataan politik inilah yang menurut saya hebat.

Sayangnya ide, hanyalah ide, menyoal realisasi ide banyak distorsi karena faktor kepentingan politik, katakan seperti jaman ORBA. Kita ingat di era 80-an atap-atap rumah ditulisi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), bahkan pada tiap tahun ajaran baru ada program yang bernama “Penataran P4”, untuk murid baru atau mahasiswa baru. Yang isinya seperti lagu “Nina Bobo”

Lalu sekarang ke mana “penataran-penataran” itu? Apakah sudah tidak efektif lagi sebagai “media dakwah” Pancasila? Atau sudah tidak perlu “ditatar” lagi, karena setiap yang lahir setelah rezim ORBA runtuh sudah otomatis panya “sertifikat penataran P4”?
Jadi seberapa pentingkah Pancasila sebagai idaentitas dan landasan bernegara bangsa?

Salam seratus kali lebih hangat dari sebelumnya.

#5. Dikirim oleh Aloysius ST  pada  16/06   09:18 AM

Keterangan mengenai agama di KTP ada baiknya dihilangkan saja, saya termasuk orang yang merasa terganggu dengan pencantuman itu. Bagi orang-orang yang beragama mestinya perlu dipahami juga bahwa beragama atau tidaknya seseorang mestinya dinilai dari prilakunya. Karena segala doktrin dan ritual itu hanya jalan menuju keberagamaan.

#6. Dikirim oleh Muhammad Affip  pada  16/06   01:49 PM

assalamu’alaikum.
wahai saudaraku semua yang merasa ummat Islam dan umat yang lainnya. Kita semua harus menyadari bahwa Allah lah Sang Maha Pencipta, Pemelihara sekaligus Sang Penghancur karena Allah lah Yang Maha Kuasa melakukan sesuatu.
Allah adalah Sang Penguasa ato Raja dari segala yang mengaku sebagai raja2 kecil spt presiden, ratu atau apapun namanya.Kita harus sadar bahwa tidak ada satu kekuatan dan kekuasaan di dunia ini yang mampu mengungguli kekuasaan Sang Maha Kuasa yaitu Allah.
Allah menciptakan alam ini tidaklah dengan sembrono atau asal2an tapi penuh dengan perhitungan dgn tingkat akurasi 100%. tidak ada satupun yang luput dari perhitungan Allah. Sedangkan perhitungan manuasia hanya sebatas sak wasangka atau persangkaan/perkiraan belaka artinya bisa salah, itu harus kita sadari.
Untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan alam semesta maka Allah memberikan/menurunkan aturan sebagai bahan acuan manusia untuk mengelola alam ini agar tetap berada pada jalur yang benar dan tidak terjadi kerusakan2 akibat kebodohan manusia. Aturan tersebut ada yang kauniyah dan kauliyah. keduanya adalah aturan yang harus dijaga dan dita’ati oleh seluruh manusia, dan segala aturan yang ada yg dibuat oleh manusia semuanya harus mengacu pada kedua ayat tersebut.
Adapun Pancasila adalah aturan yang dibuat oleh manusia, artinya tiak luput dari kekurangan dan kesalahan dan jika ada yang mengatakan bhw Pancasila itu sakti itu hanya boong belaka. sejak dulu sampe sekarang pancasila itu tidak bisa berbuat apa2. tapi manusia yang sedang berkuasalah yang dengan segala kekurangannya menafsirkan pancasila dari sudut pandang keilmuannya yang terbatas shg akibatnya dapat kita rasakan sejak indonesia merdeka sampe sekarang rakyat indonesia tidak bisa memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia secara optimal.padahal Allah memberikan sumber daya alam itu kepada Indonesia agar bisa dinikmati dan dimanfaatkan sebesar-besarnya u/ kepentingan seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk para penguasa, pengusaha dan pemilik modal lainnya saja.Itu semua terjadi karena rakyat Indonesia yang sebagian besar terdiri dari Ummat Islam menjadikan aturan atau Din Islam hanya sebagai alat ritual semata dan tidak memberlakukannya secara kaffah pada seluruh aktivitas kehidupan seperti bersosial, berbudaya, berteknologi, bernegara. Untuk aktivitas selain ibadah mahdoh orang lebih percaya dan lebih ta’at kepada aturan buatan manusia dari pada terhadap Din Islam sebagai produk yang Maha Sempurna dan Maha Pencipta yaitu Allah SWT.
Oleh karenanya sadarlah wahai seluruh umat manusia untuk kembali kepada aturan yang Maha Sempurna dan tiada ada keraguan akan isinya yaitu Al-Qur’an dan Assunah yang nyata.

#7. Dikirim oleh galang persada  pada  26/06   11:40 AM

pancasila dan khomsatul arkan adalah perpaduan yg unik bagi umat islam yg msh dlm kejahiliahan jilid II,dan bangsa yg mentah ini.
Pancasila adalah suatu sistem yg mengantarkan kita pada kebebasan dunia dan akhirat,coba anda lihat sila satu TUHAN YANG MAHA SATU merupakan syahadah tauhid dg symbol bintang yg jika di jelaskan adalah syahadah rosul.
SILA DUA KEADILAN = SHOLAT yg fungsinya adalah mencegah ketidak adilan,symbol mohon maaf seharusnya mizan/timbangan.
SILA TIGA persatuan yg terwujud krn ekonomi yg merata symbol /eknomi indonesia yg pas ya padi dan kapas lalu hasilnya di buat zakat.
SILA KE EMPAT TENTANG KEPEMIMPINAN /DEMOKRASI dan syaratnya hikmat kebijaksanaan =puasa spt kata orang bijak neh’’derita membuat kita berfikir,berfikir membuat kita bijak dan kebijakan membuat hdp lbh bermakna’’makanya tuh yg perutnya gede2 banyak2 puasa.
DAN KELIMA BEBAS,BEBAS..BEBEBAS finansial..etc.

#8. Dikirim oleh ashabul mustadhafafien  pada  12/07   11:11 AM

PANCASILA, lima pedoman yang luar biasa dimiliki bangsa kita, aku bangga dengan itu sebagai bangsa Indonesia yang memiliki pedoman itu, akan tetapi sayang sekali saat ini sila sila dari Pancasila itu sendiri semakin kabur dalam pelaksanaannya. bangsa yang sudah kenal kebhinekaan dalam seluruh aspek kehidupan sejak jaman dahulu saat ini semakin sering berita aliran sesat sebagai pemicu untuk alasan seseorang atau kelompok untuk memaksakan kehendak, tanpa menyadari kenapa semakin hari semakin banyak aliran - aliran berketuhanan di Indonesia, dan para aparatur yang seharusnya sebagai pengawal peraturan tampaknya semakin kebingungan untuk berdiri tegak sebagai pengawal peraturan malah mengikuti kelompok yang lebih besar untuk ikut membongkarnya. ayo kawan bangsa kita adalah bangsa besar renungkan dan temukan pedoman hidup yang telah dimiliki bangsa kita sungguh - sungguh kita akan dibimbing menjadi manusia yang mulia.

#9. Dikirim oleh pratala  pada  13/02   12:21 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?