Merenungkan Sejarah Alquran
Oleh Luthfi Assyaukanie
Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan untuk mengungkap dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk memahami kitab suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber inspirasi hukum dan moral kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah pijakan bahwa kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian ilmiah juga tidak bertentangan dengan semangat dasar Islam yang mendukung kebenaran dan menjunjung tinggi kebebasan.
Komentar
Ass.Wr.Wb ( jika anda Muslim )
Mohon ma’af sebelumnya, karena saya tidak begitu mengerti maksud sebenarnya dari tulisan anda yang tidak didukung bukti yang jelas, dan lebih bersifat negatif, tanpa memberikan gambaran yang positif.
Apakah harus Allah sendiri yang HARUS menuliskannya untuk anda, supaya anda bisa terhindar dari PIKIRAN NEGATIF terhadap orang yang mencetaknya.
Yang saya tahu saya lebih percaya Al-Qur’an itu sendiri dari pada tulisan anda.
” ITU TIDAK AKAN MERUBAH APAPUN DARI DIRI SAYA “
Salam
Sejarah menunjukan bahwa Mushaf imam yang ditulis Ustman tidak pernah mengalami penambahan atau pengurang walau satu huruf pun sesuai dengan teks Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini terwujud berkat usaha Ustman yang telah menyatukan ummat dalam satu mushaf. Ketika itu Ustman membentuk semacam panitia penulis Al Quran untuk menyalin mushaf yg telah dikumpulkan Abu Bakar as-Shiddig. Tulisan mushaf yg dikumpulkan pada masa Abu Bakar tersebut sama dengan tulisan Al Quran yg ditulis para juru tulis wahyu pada masa Nabi Muhammad SAW. Penulisan mushaf Ustman ini dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit, orang yg telah mengumpulkan Al Quran lewat hafalan pada masa Rosulullah SAW dan menuliskannya untuk Nabi SAW di dikte oleh Nabi SAW sendiri. Dan mushaf Usmant inilah yang dipakai ummat islam hingga sekarang ini
Sebenarnya dg logika sederhana saja, kita bisa tahu bahwa Al Quran tidak akan mungkin mengalami perubahan.Karena bagaimana mungkin terjadi pengubahan atas Al Qur’an sementara ada sekian banyak orang yang menghafal dan mempelajarinya di berbagai tempat yang berbeda?”. Artinya, pengubahan terhadap Al Qur’an hanya mungkin terjadi ketika seluruh orang yang menghafal Al Qur’an yang hidup di berbagai tempat yang berbeda itu sama-sama sepakat untuk melakukan perubahan terhadap Al Qur’an. Dan itu mustahil, karena umat islam tidak akan mungkin sepakat dalam kekufuran (kecuali anda yg telah meragukan kebenaran Al Quran). Maka, jika benar ‘Umar atau ‘Utsman ra telah mengubah Al Qur’an, niscaya para hufadz di kalangan sahabat yang jumlahnya sangat banyak, akan menyadari penyelewengan itu. Jika mereka semua diam atas penyelewengan itu, maka itu mustahil, karena mereka lebih suka mati dalam mempertahankan kemurnian Al Qur’an dari pada hidup dengan membiarkan adanya penyelewengan terhadap Al Qur’an. Maka, penambahan, pengurangan, dan pengubahan terhadap Al Qur’an adalah mustahil, baik untuk masa lalu maupun masa sekarang
Allah berfirman. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)
Untuk Anda yang tertarik mengenai bahasan sejarah Al Qur’an dan keasliannya, silahkan cari buku berjudul
“The History of The Qur’anic Text - From Revelation to Compilation” karangan MM Al A’zami
yang sudah diterjemahkan oleh:
penerbit Gema Insani tahun 2005 dengan judul “Sejarah Teks Al Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi”.
Dibuku tersebut juga dibahas argumen2 terhadap berbagai tuduhan yang dialamatkan ke AL Qur’an..
—-
Catatan buat penulis:
Sepertinya penulis tidak menggali secara langsung dari sumber-sumber sejarah keIslaman yang terkait dengan sejarah Al Qur’an.
Kalau penulis hanya sekedar mengutip tuduhan-tuduhan dari berbagai buku yang dikarang oleh orang yang tidak faham mengenai Islam, ya beginilah jadinya.. Kesimpulannya pasti sama.
Sayang sekali, penulis yang termasuk kategori cendekiawan Islam ternyata hanya mengumpulkan referensi2 orang yang tidak begitu mengerti sejarah Islam dan tidak melakukan studi yang mendalam tentang sumber-sumber historis AL Qur’an.
Kalau memang bukan ahli dibidang historis Al Qur’an, akan lebih bijaksana untuk tidak menuliskan tulisan seperti tulisan diatas.
Yaaahh, mungkin Luthfi Assyaukanie termasuk tipikal orang yang masih muda (pada saat menulis) yang cenderung tergesa-gesa..
Dan sedang gemar-gemarnya membuat karya ilmiah dengan pendekatan referensi tapi sayangnya tidak mendalami referensi yang levelnya lebih dekat ke pokokok permasalahannya yaitu kelahiran Al Qur’an itu sendiri.
Salam Indonesia
Untuk membuat wacana sah-sah saja, saya pernah belajar filsafat di sebuah perguruan Islam, hasilnya tergantung kedewasaan, kebijakan, dan keimanan kita. “Misalnya Allah Maha Kuasa, karena Maha Kuasa Allah menciptakan satu batu yang sangat besar, sehingga ia sendiri tidak mampu mengangkatnya”. Bagaimana kita menyikapi ini??? kedewasaan kita kan?.. Dan studi apapun bila tidak kita sandarkan pada keimanan kepada Allah maka hasilnya akan 0. karena Allah tidak memberikan ilmu kecuali sangat sedikit.
Kalau mau mempelajari ilmu Al-Qur’an dan cabang2nya seperti sejarah, alangkah bijaksana bila kita secara komprehensif mempelajarinya, didukung refensi dan hal-hal yang perlu dalam analisa ilmiah.
Tapi pada suatu saat akan ditemukan (dan dari sebelum tulisan ini) akan terus ditemukan bahwa Al-Qur’an adalah murni dari Allah SWT baik teks dan maknanya. Karena jangankan beberapa surat, ayat, bahkan “alief” tertukar dalam penulisannya dengan “wau” pasti akan diketahui.
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang bertambah iman kepada kitab Allah ini, dengan realitas pemikiran yang terus bermunculan ini.
BEGINI,,SY ITU ORANG BODO,SY GAK NGARTI KATA2 YG ILMIYAH,HANYA SY MAU MEMAKAI AKAL KU SJ..LOGIKA SJ…YG PALING TAU TENTANG ALQUR’AN KAN NB MUHAMMAD KAAAN,,,NAH SEBELUM NB MUHAMMAD WAFAT KAN SEMUA PENGHAFAL ALQUR’AN DI KUMPULKAN AGAR MENGHAFAL ALQUR’AN DI DEPAN NB MUHAMMAD,,YG SALAH DI BENARKAN AGAR BENER GITUKAN,,TERUS DI TULIS DI TEMPAT DIMANA BISA UNTUK DI TULIS,,YG AHIRNYA DI JADIKAN BUKU,,SETELAH JAMAN MODERN DI CETAK SEPERTI SEKARANG INI,,,PER TANYAAN SAYA LEBIH TERJAMIN KE ASLIYAN ALQUR’AN ATAU KE ASLIYAN BEBLE..DIMANA ASLI KITAB INJIL TURAT ASLINYA LENYAB SEJAK NB ISA NAIK KE LANGIT,,KALAU KRISTEN SEJAK TUHAN YESUS DI GREBEK DI TANGKAP DENSUS ROOMA YAHUDI,,OTOMATIS KITABNYA DI RAMPAS,,DI BAKAR,,MUNGKIN TULISAN YG MASIH BERCECERAN ITU YG DIPUNGUTI ORANG ,ATAU KITAB ITU OLEH YAHUDI ROMA DI RUBAH DG SEMAUNYA…TIMBULNYA INJIL YG SEKARANG INI KAN HASIL TULISAN2 DARI ORANG YG GAK MENGENAL YESUS SAMA SEKALI,,KRN RATUSAN TH BARU ADA KITAB ITU,MAKA DLM INJIL BEBLE BANYAK TULISAN2 YG MENJELEK2 KAN NB2 SEBELUMNYA FAN BANYAK TULISAN2 YG TDK PANTAS DITULIS DI KITAB SUCI,,INGAT KITAB SUCI….JG ADA AYAT YG BERTENTANGAN 1 DG YG LAINYA..MEMANG SY AKUI DI BEBLE MASH ADA AYAT2 YG MASIH LAYAK SEBAGAI FIRMAN ALLAH,,TAPI LBH BNYAK YG GK LAYAK SEBAGAI FIRMAN ALLAH….
Semoga siapapun yang duduk di Islam Liberal mendapat Hidayat Allah Subhanahuwataala. Semoga bisa kembali ke Islam yang sesungguhnya sesuai dengan pemahaman sahabat nabi radiallahuanhum, tabiin….
Cobalah kaji buku-buku karangan ulama ahlussunnah waljamaah dan karangan islam liberal….
secara simple akan didapati cara menuliskan :
* Allah
* Muhammad
* Sahabat Nabi
* Ulama
* dst…
bedanya jika ahlussunnah waljamaah memberikan gelar setelah penyebutan kata-kata/kalimat tadi… sedangkan islam liberal insyaAllah tidak pernah didapati…
Jika Ahlussunah menulis lafal Allah akan menjadi Allah ta’ala, atau Allah subhanahu wataala, atau Allah tabarakawataala… maka islam liberal akan menulis dengan Allah (saja), nabi (saja), aisyah (saja) dst….
Saya suka dg jawaban/Komentar Pengamat JIL.
JIL mau mengamandemen Alquran..dr tuliisan bapak luthfi A. Istighfar bapak…..
Allooh menjaga keaslian Qur-aan.
yg tak percaya keaslian Qur-aan,
silahkan cari kitab yg lain, atau bikin sendiri
dan siap masuk neraka kelak.
Saya senang masih ada orang2 yang berfikiran seperti ini. Bukankah Allah memerintahkan kita untuk IQRA dan banyak2 ZIKRA ?
Apapun yg telah dipaparkan oleh YTH.Bpk.Luthfi Assyaukanie (smg nama beliau menjadi suri tauladan bagi diri beliau dan keluarganya, amin) dengan tulisan “MERENUNGKAN SEJARAH ALQUR’AN” sungguh luar biasa…!!! Sehingga menjadikan banyak dampak bagi pembacanya, kagum…, geregetan, celeneh, dsb…
Namun, saya sbg org BODOH dalam hal ini, baik krn pendidikan, dsb. apalagi dibandingkan dg Bpk Luthfi, tentulan tdk sebanding…iya kali…he…he…he…
BEGINI…saya tertarik cuma dg satu kata dari judul tulisan di atas saja…“MERENUNGKAN…”.
Saya cuma bertanya pada diri saya sendiri, APA BETUL SAYA TELAH MERENUNG..(contoh AL-QUR’AN)??! Apa cuma mengkhayal utk memelintir pemikiran ummat tentang al’qur’an sehingga RAGU atau GUNDAH GULANA??? atau cuma berpikir dan memikirkan utk merubah keyakinan ummat…??!
Akh…tentunya TIDAK la yauwww…
semoga tidak… Saya yakin semua yg pasang identitas agama di KTP : Islam, tidaklah demikian…amien..ya rabba’alamien…
Banyak musuh musuh Islam berusaha merangkai sebuah cerita mengenai sejarah Al Qur’an yang sengaja dicari cari dan dikutip dari penggalan penggalan kalimat pada buku buku yang katanya ditulis oleh umat Islam, Tetapi sayangnya kutipan yang sering dipakai bukan dari sumber sejarah yang seharusnya.
Setelah mencermati dari sudut pandang alquran menurut sunnah rasulNya secara seksama, Sangatlah jelas terlihat bahwa nama nama tokoh yang dirujuk sebagai referensi dalam setiap cerita sejarah penulisan Al Qur’an yang dicantumkan adalah nama- nama rekayasa atau pun pendapat rekayasa yang seakan orang orang tersebut atau statement atau dalil tersebut membenarkan dan mengetahui persis tentang sejarah Al Qur’an secara ilmiah dan shahih.
Ada diantaranya yang menyebutkan sumber sumber kutipan dari judul buku buku yang ditulis umat Islam, namun nama tokoh yang dimaksud tidak ada dalam sejarah Islam, Ada juga yang namanya benar benar nama seorang tokoh Ulama Islam, tapi ulama tersebut tidak pernah mempunyai pendapat hasil penelitian seperti itu, bahkan ada pendapat pendapat yang ditulis secara keliru / sengaja dikelirukan dengan menulis penggalan kalimat yang dikurangi / ditambah dengan maksud mengaburkan makna dari sejarah Al Qur’an itu yang sebenarnya, Juga bahkan ada diantaranya yang mengklaim bahwa apa yang dituliskan itu didasari dari hadist – hadist, Padahal hadist hadist tersebut adalah hadist palsu yang pasti bukan dari Nabi apalagi dari Allah, namun hal tersebut tidak lain bertujuan hanya untuk menyesatkan dan memperbodoh umat Islam….!!!
Yang lebih terasa mencolok, Banyak sekali dalam tulisan mempunyai tujuan utama untuk membentuk opini umat Islam agar meragukan keotentikan Al Qur’an dengan menyebut nama-nama tokoh / sahabat rasul seraya merujuk dan mengutip Kitab-Kitab Palsu karangan manusia yang dengan kebodohan dan dibarengi oleh doktrin ulama palsu sehingga kitab- kitab ( diluar Al Qur’an ) tersebut sangat mereka cintai dan imani dengan maksud justru untuk menandingi Al Qur’an sebagai satu-satunya sumber rujukan tershahih, Tentu hal tersebut dibuat agar manusia mengikutinya….
Al-Quran merupakan kitab suci dari Allah yang menjadi pedoman bagi para muttaqin, dimana redaksi maupun susunannya tidak pernah berubah dan tetap terpelihara sepanjang zaman. Dari awal dan akhir turunnya al-Quran, hingga saat ini.
Yang ingin ditekankan disini ialah Acuan prinsip dasar sebuah penelitian adalah Jika orang Ingin Mengetahui Sesuatu secara benar, Maka ia harus mencari dari Sumber yang tepat dan benar”, maka satu-satunya Acuan untuk mengetahui sejarah Al Qur an yang benar dan pasti, juga tidak terdistorsi sedikitpun, maka kita harus meneliti pada sumbernya yang tepat. Yaitu Al Qur an itu sendiri menurut sunnah rasulNya. Dengan begitu, maka mudah mudahan kita mendapatkan sebuah kebenaran yang haqiqi.
Banyak para penulis sejarah alquran, menulis dengan tanpa keterangan yang mengacu dari alquran itu sendiri. Seperti contoh:
karya tulis Professor Hossein Modarresi dari Princeton University, New Jersey, Amerika.
Beliau meneliti hasil karya ulama-ulama kuno mulai dari kumpulan hadis Bukhari Sahih (816 M – 870 M), Muslim Sahih (828 M – 883 M), Tirmidhi Sunan (824 M – 892 M), Ibn Maja Sunan (824 M – 887) dan Abu Dawud Sunan (817 M – 889 M) hingga era Suyuthi (1445 M – 1505 M).
Sangat lucu dan tidak `ilmiah kalau ada seorang professor atau siapapun meneliti sejarah alquran dengan mengacu pada ulama-ulama kuno, Sementara sejarah yang ingin ia tulis (dalam hal ini alquran), telah memberikan penjelasan akan sejarah dirinya sendiri.
Ibarat ia meneliti sebuah pertumbuhan pohon mangga yang ada dihadapannya, maka ia menelitinya dengan membedah sebutir jagung ditempat lain dengan meninggalkan pohon mangga tersebut. Lucu dan tidak ilmiah sekali bukan??
Penelitian cara professor tersebut diatas tidaklah bisa di terima,
Karena alquran sendiri sepanjang sejarah ia turun, tidak pernah menjelaskan bahwa seluruh ayat-ayatnya dinukilkan atau diriwayatkan secara mutawatir baik harus dinilai berdasarkan perawinya maupun berdasarkan kesepakatan dan pengesahan fatwa para sahabat dari dulu ataupun para ulama kuno hingga kini, atau bahkan pengesahannya dilakukan oleh nenek moyang juga seluruh kebanyakan manusia dimuka bumi.
Sangat mengejutkan, sekaligus mengecewakan…. Seorang yg mengaku ‘cendekiawan muslim’ lebih suka mengutip pendapat para orientalis dalam menilai Al Quranul Karim…. Jelas pendapat ini sangat fatal dan membahayakan, karena menyamakan Al Quran dengan Bibel yg telah banyak diubah oleh tangan manusia.. Apa dasar Anda mengatakan bahwa ayat2 Al Quran telah banyak mengalami editing, penambahan/pengurangan, salah cetak, dsbnya…??
Apakah janji Allah untuk menjaga Al Quran adalah janji palsu..?
“Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks—dan apalagi teks-teks suci—selalu bersifat “repressive, violent, and authoritarian.” Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.”..
Berarti Al Quran juga dianggap represif, kejam dan otoriter..??? Bertobatlah….
Ass. Sayang tidak dikemukakan referensi yang jelas untuk menilai tulisan ini. Sumber-sumber bacaan artikel ini sangat penting sekali. Atau, yang paling baik, tunjukkan ayat-ayat yang telah berubah dari jaman ke jaman. Bukan kesimpulan-kesimpulan saja. Terimakasih.
assalamualikum,
membaca tulisan bung luthfie saya tidak terlalu kaget, beberapa yang dipaparkan beliau masih masuk akal,sebenarnya saya bukan dari kaum intelektual yang bisa membahas ini terlalu mendalam, namun ingin saya garis bawahi,tulisan bung luthfi bukan maksud untuk kemajuan atau pun untuk mengembangkan islam itu sendiri, tapi justru ingin merusak keyakinan, ingin memudarkan rasa keimanan kaum muslimin yang rata-rata tidak bisa menerima , tidak siap untuk menerima informasi sebebas itu…saya yakin dan percaya..jika pemikiran seperti yang ditulis bung luthfi tersebar luas, akan terjadi pengikisan iman pada banyak kaum muslimin, karena quran tidak mereka percayai, agama lain juga mereka tidak percaya, akhirnya tak ada lagi panduan hidup yang bisa mereka pegang, ujung-ujungnya…sudah dapat dipastikan perbuatan-perbuatan yang selama ini merugikan orang lain yang tak mau mereka lakukan karena keimanan islamnya, akhirnya mereka mau melakukannya, karena doktrin hari akhirat sebagai tempat dibalasnya perbuatan baik dan buruk sudah tidak mereka percayai akan terjadi….akhirnya dunia akan .......(renugkan sendiri akan menjadi apa)
membaca tulisan bung luthfi saya tidak terkejut, karena beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menemui tulisan yang senada dengan itu, hanya saja yang amat saya sayangkan, tulisan bung luthfi intinya hanya mengarah,membentuk opini agar kitab suci Al-Quran diragukan kebenarannya, dengan dalih untuk mempelajari lebih dalam tentang keasliannya yang apad akhirnya alquran akan ditinggalkan umatnya, bisa dibayangkan apa jadinya dunia ini jika sekian banyak muslim yang masih berpegang pada norma-norma yang terkandung dalam alquran dan mereka tak lagi mempercayainya, pasti lah akan tercipta masyarakat yang tak bermoral, karena islam tidak lagi mereka imani, sementara agama lain tidak juga mereka yakini…maka berhasillah tujuan sekelompok orang yang pada mulanya mereka hanya ingin menjauhkan umat islam dari islamnya , tapi justru membentuk masyarakat yang kacau…sekian terima kasih..
“Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas?”
Merupakan salah satu cara Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam mengalihkan keyakinan muslim saat ini. Telah muncul baru Aliran Islam lagi di belahan dunia. dan mereka tak akan berhenti untuk terus berevolusi membentuk aliran2 baru yang tentunya SESAT.
“Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas. “
Apa yang perlu dikhatirkan…?
“fakta diatas…”
Fakta yang mana…?
“fakta sejarah yang saya tulis”
la wong referensi saja tidak jelas, ko malah .....
Cong, akal lu boleh mononjol… tapi klo tonjolanmu hanya sebatas itu, anak SD mah juga bisa.
“Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas?”
Merupakan salah satu cara Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam mengalihkan keyakinan muslim saat ini. Telah muncul baru Aliran Islam lagi di belahan dunia. dan mereka tak akan berhenti untuk terus berevolusi membentuk aliran2 baru yang tentunya SESAT.
“Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas. “
Apa yang perlu dikhatirkan…?
“fakta diatas…”
Fakta yang mana…?
“fakta sejarah yang saya tulis”
la wong referensi saja tidak jelas, ko malah .....
Cong, akal lu boleh mononjol… tapi klo tonjolanmu hanya sebatas itu, anak SD mah juga bisa.
Komentar Masuk (38)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)