Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab
Oleh Husein Ja’far Al Hadar*
“...sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).”
Komentar
terima kasih atas tulisannya….
karena telah menambah ilmu pengetahuan tentang syiah n sunni… yang sebenarnya mereka itu ternyata sama-sama Islam…
persatuan, bersatulah, dan damai
tulisan yang menarik…menambah ilmu pengetahuan…
smoga persatuan dan kesatuan terjalin…
hingga damai…damai…damai…
Assalamu’alaikum wr wb
Sesungguhnya ALLAH telah memerintahkan Rasul atau kita semua untuk membela HAK2 gol Moritas dari perbuatan penindasan karena agama,suku dll.
ALLAH SAID;
[QS 4:75] Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah(tertindas) baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah)yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.
75] And why should ye not fight in the cause of Allah and of those who, being weak, are ill-treated (and oppressed)? Men, women, and children, whose cry is: “Our Lord! rescue us from this town, whose people are oppressors; and raise for us from thee one who will protect; and raise for us from thee one who will help!
Artinya siapa2 yang membiarkan orang2 terindas artinya mereka sudah termasuk gol.Zolim atau penindas.
Mari kita komitment kpd ALLAH ditahun 2012 ini, untuk membela klompok minoritas yang masih tertindas yaitu; Ahmadiyah,Kristen ,Syiah dll.
Mentaati perintah ALLAH itu artinya kita telah menegakan HAM di RI ini.
Wassalamu’alaikum wrwb
Sekedar Gagasan
Jika kita mau mengkaji ulang dengan bijaksana …
Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah harapan dan cita-cita luhur dari pendiri bangsa Indonesia sebagai tujuan akhir dari perjalanan bangsa inonesia, yang sebenarnya itu juga adalah harapan dan cita-cita dari seluruh Negara didunia. Jadi itu bukanlah jalan itu sendiri atau “ cara “ sehingga banyak orang yang hanya mensaktikan atau mengkultus-kultuskannya
Kalaulah sebelumnya oleh tokoh-tokoh tertentu , dalam upaya pencapaian tujuan pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dibebankan diatas pundak TNI dan POLRI yang selama ini berupaya untuk mewujudkannya dengan bersimbah darah mereka dan rakyat, jelas terbukti itu tidak efektif dan beradab, bahkan terlalu banyak menimbulkan korban, walaupun ada hasilnya meski dalam ketertekanan, namun demikian itu juga perlu dalam situasi dan kondisi tertentu, meski bukan prioritas, demikian juga yang diupayakan oleh para pemikir dan penyair selama ini ternyata hanyalah sebuah wacana dan hiburan belaka. Namun cita-cita dan harapan bangsa yang ingin dicapai secara adil dan beradab, belumlah sepenuhnya terwujud secara nyata dan berkesinambungan.
Sebenarnya masih ada jalan atau cara lain yang dapat ditempuh yaitu dengan memfasilitasi dan mendorong Agama-Agama yang ada agar memotifasi para tokoh-tokoh Agama tersebut dan pengikutnya untuk sadar dan kembali konsentrasi dan focus pada tujuan mereka beragama sesuai yang disampaikan dan diajarkan oleh para pencetus Agama yang mereka anut sebagai konsekwensi logis dari tujuan mereka beragama dan setiap dana atau fasilitas yang diberikan pada mereka harus dipertanggung jawabkan secara riil, dan mengawasi dengan ketat dana yang disuguhkan “ dihidangkan” kepada atau melalui mereka ! sampai tingkat yang paling rendah melebihi instansi-instansi atau lembaga-lembaga lain, bahkan sampai ketempat ibadah yang terkecil sekalipun karena mereka adalah sebagai rujukan dan contoh riil dari aplikasi keberagamaan yang berbasis vertical dan horizontal “ sosial “. karena sampai saat ini terbukti tidak setiap orang yang mengaku menganut Agama tertentu mencerminkan tujuan luhur dan suci dari Agama yang mereka ikuti, meskipun terkesan mereka mengikuti ritual-ritual dari Agama yang mereka anut dengan tekun, tak jarang justru mereka menjadi contoh yang buruk bagi orang lain dalam hal kebajikan sosial dilingkungannya.
Kita semua bisa dan berhak mempertanyakan dan menggugat setiap tokoh-tokoh Agama, meski apapun julukan, gelar dan kedudukan mereka , dengan pertanyaan “ Apakah mereka beragama untuk mencari nafkah , harta dan kedudukan atau sebuah pengabdian ikhlas guna mencari nilai-nilai kebajikan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari guna untuk kemaslahatan bagi sesama ? atau Apakah upaya yang mereka usahakan selama ini telah banyak menghasilkan orang-orang yang “ Sadar Agama” ? karena terbukti sebahagian mereka ada yang telah mengambil upah materi , didepan, dari Negara, dll atau uang sedekah orang!
Tentu harusnya berbeda cara pandang dan cara kerja serta motifasi dari orang-orang yang mengabdi pada Agama dan mengabdi pada Negara. Jelas, Bagi orang-orang yang mengabdi pada Negara jika mereka tidak diberi upah atau imbalan yang sesuai, jelas tidak semua mereka mau mengabdi dengan rela, bahkan kebanyakan mereka tidak pernah merasa cukup dan mencuri dengan berbagai cara yang elegant,
Sekedar Gagasan
Jika kita mau mengkaji ulang dengan bijaksana …
Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah harapan dan cita-cita luhur dari pendiri bangsa Indonesia sebagai tujuan akhir dari perjalanan bangsa inonesia, yang sebenarnya itu juga adalah harapan dan cita-cita dari seluruh Negara didunia. Jadi itu bukanlah jalan itu sendiri atau “ cara “ sehingga banyak orang yang hanya mensaktikan atau mengkultus-kultuskannya
Kalaulah sebelumnya oleh tokoh-tokoh tertentu , dalam upaya pencapaian tujuan pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dibebankan diatas pundak TNI dan POLRI yang selama ini berupaya untuk mewujudkannya dengan bersimbah darah mereka dan rakyat, jelas terbukti itu tidak efektif dan beradab, bahkan terlalu banyak menimbulkan korban, walaupun ada hasilnya meski dalam ketertekanan, namun demikian itu juga perlu dalam situasi dan kondisi tertentu, meski bukan prioritas, demikian juga yang diupayakan oleh para pemikir dan penyair selama ini ternyata hanyalah sebuah wacana dan hiburan belaka. Namun cita-cita dan harapan bangsa yang ingin dicapai secara adil dan beradab, belumlah sepenuhnya terwujud secara nyata dan berkesinambungan.
Sebenarnya masih ada jalan atau cara lain yang dapat ditempuh yaitu dengan memfasilitasi dan mendorong Agama-Agama yang ada agar memotifasi para tokoh-tokoh Agama tersebut dan pengikutnya untuk sadar dan kembali konsentrasi dan focus pada tujuan mereka beragama sesuai yang disampaikan dan diajarkan oleh para pencetus Agama yang mereka anut sebagai konsekwensi logis dari tujuan mereka beragama dan setiap dana atau fasilitas yang diberikan pada mereka harus dipertanggung jawabkan secara riil, dan mengawasi dengan ketat dana yang disuguhkan “ dihidangkan” kepada atau melalui mereka ! sampai tingkat yang paling rendah melebihi instansi-instansi atau lembaga-lembaga lain, bahkan sampai ketempat ibadah yang terkecil sekalipun karena mereka adalah sebagai rujukan dan contoh riil dari aplikasi keberagamaan yang berbasis vertical dan horizontal “ sosial “. karena sampai saat ini terbukti tidak setiap orang yang mengaku menganut Agama tertentu mencerminkan tujuan luhur dan suci dari Agama yang mereka ikuti, meskipun terkesan mereka mengikuti ritual-ritual dari Agama yang mereka anut dengan tekun, tak jarang justru mereka menjadi contoh yang buruk bagi orang lain dalam hal kebajikan sosial dilingkungannya.
Kita semua bisa dan berhak mempertanyakan dan menggugat setiap tokoh-tokoh Agama, meski apapun julukan, gelar dan kedudukan mereka , dengan pertanyaan “ Apakah mereka beragama untuk mencari nafkah , harta dan kedudukan atau sebuah pengabdian ikhlas guna mencari nilai-nilai kebajikan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari guna untuk kemaslahatan bagi sesama ? atau Apakah upaya yang mereka usahakan selama ini telah banyak menghasilkan orang-orang yang “ Sadar Agama” ? karena terbukti sebahagian mereka ada yang telah mengambil upah materi , didepan, dari Negara, dll atau uang sedekah orang!
Tentu harusnya berbeda cara pandang dan cara kerja serta motifasi dari orang-orang yang mengabdi pada Agama dan mengabdi pada Negara. Jelas, Bagi orang-orang yang mengabdi pada Negara jika mereka tidak diberi upah atau imbalan yang sesuai, jelas tidak semua mereka mau mengabdi dengan rela, bahkan kebanyakan mereka tidak pernah merasa cukup dan mencuri dengan berbagai cara yang elegant,
Tetapi terbukti dengan orang-orang yang mengabdi dan berbakti pada Agama dengan tulus ikhlas, sebahagian mereka nyata dengan rela mengeluarkan pikiran, waktu, tenaga bahkan uang atau nyawa sekalipun demi untuk mengamalkan perintah-perintah dalam Agamanya tanpa mengharapkan imbalan dari sesamanya.
Jika abdi Negara mencari upah dari hasil kerjanya, itu wajar! Dan merekapun diminta pertanggung jawaban atas upah yang mereka terima dan hasil dari kerja mereka tentu akan dievaluasi, tetapi abdi Agama, mereka seharusnya mencari nilai-nilai kebajikan serta kerelaan dari yang mereka abdi dan sembah selama ini, dan dipastikan mereka tidak akan miskin dengan berusaha dengan usaha-usaha positif sebagaimana yang dilakukan orang lain. sebagai tanggungjawab dan rasa syukur mereka atas ilmu-ilmu agama yang mereka miliki , yaitu dengan amalan ikhlas Memberi kepada sesama bukan Peminta-minta ! “Pengemis mulia atau Pedagang nasehat dan doa-doa” ! kecuali mereka sendiripun sebenarnya selama ini dalam keadaan ragu dengan Keadilan, pertolongan dan KasihSayang dari yang mereka abdi dan sembah selama ini !
Dan dalam sejarah kitab-kitab suci samawi , tidak satupun dari “para pencetus agama” yaitu para Nabi dan Rasul yang meminta upah materi pada sesamanya untuk menopang kehidupan mereka, ketika menyampaikan risalah dan ajaran-ajaran mereka, bahkan mereka memberi dan berkorban bagi kabajikan dan kemaslahatan sesama, sebagai contoh nyata ! sehingga mereka tidak diminta pertanggungjawaban dalam penyampaian ajaran mereka baik didunia dan akhirat demikian jugalah sifat dan prilaku orang-orang yang mendapat petunjuk diantara pengikut mereka.
Dan diharapkan dari pengikut-pengikut Agama yang telah sadar dan tercerahkan oleh kemurnian ajaran Agamanya inilah yang dapat mewujudkan dengan nyata “ cita-cita dan harapan” dari leluhur pendiri bangsa Indonesia dan kita semua secara adil dan beradab dan penuh rasa persaudaraan antar sesama, yaitu makna yang tercakup dalam Pancasila, dan lain-lain, dengan karakter “ Jujur, Kasihsayang, Adil dan Beradab serta Bertanggungjawab ! orang-orang yang digembleng dengan karakter yang diproduksi dari pencerahan Agama inilah yang akan memperbaiki segala system dalam ketatanegaraan, seperti pendidikan, perekonomian, peradilan, dll.
Jelas ! dalam perjalanan setiap Agama “ Sang pencetus Agama” itu sendiripun ternyata dalam hidupnya tidak sanggup membuat setiap orang pada jamannya mengikuti apa yang diajarkannya ! jadi apakah kita sanggup, dengan memaksakan kehendak atau dengan kedustaan dan iming-iming ?
jadi jelas konsep QS: “ Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku “ (Mari ! kita buktikan Agama mana yang dapat lebih membawa tokoh-tokoh dan pengikut Agama tersebut menuju kebajikan dan keselamatan baik didunia dan akhirat dan Agama mana yang membawa umatnya menuju kehancuran moral dan prilaku = “ Akhlak” dan kehidupan ? ) dengan satu tekad bulat “ dalam bingkai 4 pilar berbangsa ” yaitu urusan kebajikan dalam kehidupan dunia dan kebernegaraan kita bersaudara dan saling membahu dan tolong menolong dan mencerahkan. Dan urusan akidah dan ibadah maka itu urusan masing-masing Agama dan marilah kita saling intropeksi kedalam dan buktikan dalam perlombaan berbuat kebajikan secara nyata , bukan kerusakan dalam berbagai hal ! Dalam dan demi waktu yang terbatas ini !!!
NB: gagasan ini tidak bermaksud merendahkan atau menghina siapapun, tetapi ada ungkapan “ Kebenaran itu pahit dan getir awalnya namun manis buahnya sebaliknya kepalsuan itu manis awalnya tetapi pahit dan getir akhirnya “ , nah, Jika apa yang selama ini dilakukan itu lebih baik atau ada gagasan yang lebih baik, maka lupakanlah semua ini !
Banda Aceh, January 2012
Oleh : Muhammad Dharmawan
Aliran Syiah sudah lama hidup di Indonesia, bahwa di NU sendiri beberapa mazhab/alirannya berkaitan dengan aliran Syiah seperti pujian pujian pada Ali dan Hasan Husein. Disini perlunya ulama/umat belajar sejarah dengan berbagai macam versi. Bisa juga dimungkinkan konflik ini sengaja diciptakan untuk dibesarkan-seperti juga terhadap Ahmadiyah-dan menjadi isu nasional. Di dunia Internasional konflik sunni-Syiah juga akan terus disulut. Salah satu alasannya mungkin untuk melegimasi serangan AS ke Iran yang telah disiapkan jauh jauh hari…Wallahu’alam.
Assalamu\‘alaikum wrwb
Masarakat Islam di dimana saja berada,baik di Indonesia,maupun di negara2 majoritas Islam di luar negeri tidak bisa hidup damai-harmoni seperti
umat budha,sinto dan umat Kristen dan Yahudi.
Dalam umat islam ada klompok yang nakal,jahat dan tidak menerima perbedaan2 dalam menaafsiran ayat2 ALLAH. Jadi masih masarakat anak2 atau primitif.
Selagi pemerintah belum mempunyai undang2 anti diskriminasi karena agama,suku dan gender,selama itu pula pemerintah tidak sanggup menghentikan klompok Islam yang jahat dan nakal ini.
Dan selaam itu pula bangsa Indonesia tidak mendapat rahmat dari ALLAH.
Bagaiman bisa mendapat rahmat dari ALLAH,kalau dlm satu keluarga besar masih terdapat penindasan dan pembunuhan.
Pemerintah dan masarakat banyak masih membiarkan klompok yang nakal itu untuk berbuat zolim kepada klompok yang minoritas atau lemah.
Sedangkan ALLAH memerintahkan kepada pemerintah,ulama2 dan masarakat untuk membantu klompok yang tertindas, jangan di biarkan saja.
Kalau dibiarkan dan berpangku tangan saja, maka orang yang berpangku tangan itu adalah termasuk gol.Penindas juga.
Klompok penindas ini makin membesar setiap tahunnya.Kalau sudah besar,ormas2 yang besar seperti NU,Muhammadiyah dan Kristen akan menjadi korban berikutnya,seperti negara Pakistan.Dimana Taliban sangat berkuasa dan kuat.
ALLAH SAID;
[QS 4:75] Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah(tertindas) baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: \“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah)yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!\”.
Semoga ayat ALLAH ini benar2 dapat kita taati dan mari membuat komitment untuk membantu klompok tertindas.
Wassalamu\‘alaikum wrwb
Masarakat amerika dirahmati oleh ALLAH dengan kedamaian dan kesejahteraan, karena tidak ada penindasan2 krn agama,suku dan gender.Silakan buka website saya ini;
Pengalaman saya tinggal di majoritas Kristen Amerika.
http://muslimbertaqwa.blogspot.com/
keragaman dalam bermazhab tidak perlu direspon, artinya biarkan terjadi perbedaan sebanyak-banyaknya. konsep yang kita gunakan dlam perbedaan itu bermazhab itu adalah mengunakan pendekatan akhlak, artinya biarkan kita berbeda tapi kita saling menghargai, menghormati dan mentoleransi sesama kita. ok
Pointer dalam buku tersebut bahwa syiah sama dengan ahlu sunnah dan sebaliknya tidaklah konsisten terhadap pointer lain dalam buku tersebut, al-Syi’ah Hum Ahlus Sunnah, hal. 161 yang menyatakan, “Dan tidak membutuhkan pengenalan lagi bahwa madhab al-Nawashib adalah madhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan al-Mutawwil adalah pembela madhab Al Nawashib, dia itu sendiri yang bergelar muhyis sunnah (pengidup sunnah), maka pahamilah.” Al-Nawasib diartikan sebagai kelompok yang memusuhi Ali r.a dan ahlul bait, dan al-Mutawwil diartikan sebagai tokoh utama al-Nawasib. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa sunnah-syiah sama sedangkan ia meyakini dan menjuluki ahlu sunnah sbg musuh? Syiah dan Ahlu sunnah sama hanyalah propaganda.
Komentar Masuk (10)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)